BAB II. TINJAUAN TEORETIS
C. Kode Etik Guru
Kode etik merupakan pedoman guru dalam menjalankan tugas profesional-nya. Peran guru semakin penting dalam membimbing peserta didik agar dapat menjadi sumber daya manusia yang bekualitas, kompetitif dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dan berat pada masa
69
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan (Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di
sekarang dan yang akan datang. Oleh karena itu sikap dan perilaku guru perlu dipandu suatu peraturan yang boleh atau tidak boleh, pantas atau tidak pantas, sopan atau tidak sopan dalam mengejawantahkan nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putra-putri bangsa.
Kode etik berasal dari dua kata, yaitu kode yang berarti tulisan (kata-kata, tanda) yang dengan persetujuan mempunyai arti atau maksud tertentu, sedangkan etik berarti aturan tata susila, sikap atau akhlak.70 Sedangkan menurut Udin Syaefudin Saud, kode etik keprofesian pada hakikatnya merupakan suatu sistem peraturan atau perangkat prinsip-prinsip keprilakuan yang telah diterima oleh kelompok orang-orang yang tergabung dalam himpunan organisasi keprofesian tertentu.71
Berdasarkan pengertian di atas, maka guru PAI sebagai anggota profesi guru Indonesia dalam menjalankan tugas mengacu pada norma tertentu sebagai pedoman dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan di dalam dan di luar kedinasan. Oleh karena itu guru wajib menjunjung tinggi kode etik baik dalam pergaulan di sekolah maupun di masyarakat.
Sebenarnya kode etik bertujuan menempatkan guru sebagai profesi terhormat, mulia, dan bermartabat yang dilindungi undang-undang. Hal ini dapat dilihat dari fungsi kode etik yakni sebagai seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya dengan peserta didik, orangtua/wali peserta didik, sekolah dan rekan seprofesi,
70
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 309.
71
Udin Syaefudin Saud, Pengembangan Profesi Guru (Cet. III; Bandung: Alfabeta, 2010), h. 78.
organisasi profesi, dan pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika, dan kemanusiaan. Menurut Soetjipto dan Raflis Kosasi, fungsi kode etik adalah sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru dalam menunaikan tugas pengabdiannya sebagai guru, baik di dalam maupun di luar sekolah dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.72
Oleh sebab itu guru Indonesia dalam menjalankan tugas profesionalnya harus berpedoman pada dasar-dasar sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat di sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan.
6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.
8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
9. Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.73 Berdasarkan lingkup isi kode etik yang telah diungkapkan pada garis besarnya mencakup pandangan terhadap posisi, tugas dan tanggung jawab guru, dan rujukan teknis operasionalnya.
72
Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 31-33.
73
Sehubungan dengan hal ini, maka dapat dipahami bahwa guru harus menjadikan kode etik tersebut sebagai pedoman dalam setiap tingkah lakunya. Ini sangat diperlukan karena dengan hal itulah penampilan guru akan terarah dengan baik, dan semakin bertambah baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru yang profesional, utamanya dalam menciptakan suasana belajar yang efektif dan dapat memberi hasil yang optimal.
Pada dasarnya tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan organisasi profesi itu sendiri. Secara umum tujuan kode etik adalah sebagai berikut:
1. Menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya. 3. Pedoman berperilaku.
4. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi. 5. Untuk meningkatkan mutu profesi.
6. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.74
Sementara Soetjipto dan Raflis Kosasi mengemukakan bahwa tujuan kode etik guru secara umum adalah:
1. Untuk Menjunjung Tinggi Martabat Profesi
Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari pihak luar atau masyarakat, agar mereka jangan sampai memandang rendah atau remeh terhadap profesi yang bersangkutan. Oleh karena itu, setiap kode etik suatu profesi akan melarang berbagai bentuk tindak tanduk atau kelakuan anggota profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi terhadap dunia luar.
74
E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Cet. V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 44.
2. Untuk Menjaga dan Memelihara Kesejahteraan para Anggotanya
Yang dimaksud kesejahteraan di sini adalah kesejahteraan lahir (material) maupun kesejahteraan batin (spiritual atau mental). Dalam kesejahteraan lahir para anggota profesi, kode etik umumnya memuat larangan-larangan kepada para anggoatanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kesejahteraan para anggotannya. Dalam hal kesejahteraan batin para anggoata profesi, kode etik umumnya memberikan petunjuk-petunjuk kepada para anggotanya untuk melaksanakan profesinya.
3. Untuk Meningkatkan Pengabdian Para Anggota Profesi
Kode etik ini berkaitan dengan peningkatan kegiatan pengabdian profesi, sehingga bagi para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdiannya dalam melaksanakan tugasnya.
4. Untuk Meningkatkan Mutu Profesi
Dalam rangka meningkatkan mutu profesi kode etik juga memuat norma-norma dan anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pengabdian para anggotanya.
5. Untuk Meningkatkan Mutu Organisasi Profesi
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi, maka diwajibkan kepada setiap anggota untuk secara aktif berpartisipasi dalam membina organisasi profesi dan kegiatan -kegiatan yang dirancang organisasi.75
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan suatu profesi menyusun kode etik adalah untuk menjunjung tinggi martabat profesi, menjaga dan memelihara
75
Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi keguruan (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 30-32.
kesejahteraan para anggotanya, meningkatkan pengabdian anggota profesi, dan meningkatkan mutu profesi serta mutu organisasi profesi.
Dengan demikian guru profesional dalam menjalankan tugas profesinya harus berpegang teguh pada kode etik, sebab kode etik mengatur tentang landasan moral dan tingkah laku guru. Sehubungan dengan itu maka di sini guru wajib memiliki akhlak yang mulia, karena guru utamanya guru pendidikan agama Islam merupakan tokoh yang menjadi panutan, contoh dan teladan, sehingga apa yang disampaikan oleh guru agar selalu diikuti oleh peserta didiknya.
D. Akhlak Peserta Didik