HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Analisis Hasil Peneltian dan Pengujian Hipotesis
5.2.1. Koefisien Determinasi (R 2 )
Dari hasil pengolahan data diporeleh nilai (R2) sebagai berikut:
Tabel 5.4. Nilai Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 0,978 0,956 0,953 0,06179
Sumber: Data Primer Diolah, 2017
Dari Tabel 5.4. diatas dapat dilihat bahwa nilai dari koefisien determinasi (R2) adalah sebesar 0,956 artinya variabel yang digunakan dalam penelitian ini (jumlah pohon, umur tanaman, jumlah pupuk, jumlah pestisida, dan jumlah tenaga kerja) mampu memberi penjelasan terhadap produksi tanaman kopi arabika perkebunan rakyat sebesar 95,6% sedangkan sisanya 4,4% lainnya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan kedalam model estimasi. Hal ini dapat membuktikan bahwa produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi dipengaruhi oleh kelima variabel yang dimasukkan kedalam model estimasi dengan pengaruh sebesar 95,6%.
5.2.2. Uji F
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 5.5. Hasil Analisis Uji F
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig
1 Regression 6,154 5 1,231 322,308 0,000
Residual 0,283 74 0,004
Total 6,436 79
Sumber: Data Primer Diolah, 2017
Dari tabel 5.5. diatas diperoleh nilai F hitung sebesar 322,308, sementara nilai F tabel diperoleh sebesar 2,31. Nilai F hitung yang diperoleh lebih besar dari
nilai F tabel (322,308 > 2,31), artinya secara serempak variabel jumlah tanaman, umur tanaman, tenaga kerja, jumlah pupuk, dan jumlah pestisida berpengaruh nyata terhadap produksi kopi arabika di Kabupaten Dairi. Dari tabel diatas dapat dilihat juga nilai signifikasi sebesar 0,000. Nilai signifikasi yang diperoleh lebih kecil dari α 0,05 (0,000 < 0,05) artinya secara serempak seluruh variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.
5.2.3. Uji t
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 5.6. Hasil Analisis Uji t
No. Variabel Koefisien t hitung t tabel Sig.
1. Konstanta -0,300 -2,153 1,989 0,035
2. Jumlah Tanaman (X1) 0,774 9,687 1,989 0,000
3. Umur Tanaman (X2) 0,196 4,574 1,989 0,000
4. Tenaga Kerja (X3) 0,026 0,651 1,989 0,517
5. Jumlah Pupuk (X4) 0,187 4,014 1,989 0,000
6. Jumlah Pestisida (X5) 0,017 0,792 1,989 0,431
Sumber: Data Primer Diolah, 2017.
Dari Tabel 5.6. diatas dapat diperoleh persamaan sebagai berikut:
Log Y = -0,300 + 0,774 Log X1 + 0,196Log X2 + 0,026Log X3 + 0,187Log X4 + 0,017Log X5 + e
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai t hitung dari variabel jumlah tanaman (X1) adalah sebesar 9,687 dan nilai t tabel adalah sebesar 1,989, dimana nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (9,687 > 1,989), dari tabel diatas juga
dapat dilihat nilai signifikasi dari variabel jumlah tanaman adalah sebesar 0,000 lebih kecil dari α 0,05, maka terima H1 dan tolak H0, artinya secara parsial variabel jumlah tanaman berpengaruh signifikan terhadap produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi. Untuk variabel umur tanaman (X2)diperoleh nilai t hitung sebesar 4,574 dan nilai t tabel adalah sebesar 1,989, dimana nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (4,574 > 1,989) dannilai signifikasi dari variabel umur tanaman adalah sebesar 0,000 lebih kecil dari α 0,05, maka terima H1 dan tolak H0artinya secara parsial variabel umur tanaman berpengaruh signifikan terhadap produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi.
Sementara untuk variabel tenaga kerja (X3) diperoleh nilai t hitung sebesar 0,651 dan nilai t tabel adalah sebesar 1,989, dimana nilai t hitung lebih kecil daripada t tabel (0,651 < 1,989)dannilai signifikasi dari variabel jumlah tenaga kerja adalah sebesar 0,517 lebih besar dari α 0,05, maka terima H0 dan tolak H1artinya secara parsial tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi. Untuk variabel jumlah pupuk (X4) diperoleh nilai t hitung sebesar 4,014 dan nilai t tabel adalah sebesar 1,989, dimana nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (4,014 > 1,989) dannilai signifikasi dari variabel jumlah pupuk adalah sebesar 0,000 lebih kecil dari α 0,05, maka terima H1 dan tolak H0 artinya secara parsial variabel jumlah pupuk berpengaruh signifikan terhadap produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi. Dan untuk variabel jumlah pestisida (X5) diperoleh nilai t hitung sebesar 0,792 dan nilai t tabel adalah sebesar 1,989, dimana nilai t hitung lebih kecil daripada t tabel (0,792 < 1,989) dannilai signifikasi dari variabel
jumlah pestisida adalah sebesar 0,431 lebih besar dari α 0,05, maka terima H0 dan tolak H1 artinya secara parsial variabel jumlah pestisida tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi.
Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa variabel jumlah tanaman (X1), umur tanaman (X2) dan jumlah pupuk (X4) berpengaruh secara signifikan terhadap produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi (Y). Sementara variabel jumlah tenaga kerja (X3), dan jumlah pupuk (X5) tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi (Y). Berikut adalah besar pengaruh dari masing masing variabel independen (X1, X2, X3, X4, dan X5) terhadap variabel dependen (Y).
a. Interpretasi Pengaruh Jumlah Tanaman (X1) terhadap Produksi Kopi Arabika (Y)
Dari persamaan diatas dapat dilihat nilai koefisien dari variabel jumlah tanaman adalah sebesar 0,774 dengan arah pengaruh positif, hal ini menyatakan bahwa apabila variabel jumlah tanaman ditambah sebesar 1% maka akan menyebabkan penambahan produksi tanaman kopi arabika sebesar 0,774%
dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (Cateris Paribus).Hasil penelitian ini menyatakan bahwa semakin banyak jumlah tanaman per satuan luas lahan akan dapat memberikan peningkatan hasil produksi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa rata-rata populasi tanaman kopi arabika per hektar adalah sebanyak 1.418 tanaman per hektar, sedangkan rekomendasi yang dianjurkan oleh dinas pertanian/perkebunan Kabupaten Dairi adalah sebesar 1.600 tanaman per hektar dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m. Dengan demikian terdapat perbedaan jumlah populasi tanaman yang ditanam oleh petani kopi arabika perkebunan rakyat dengan rekomendasi dari dinas pertanian. Salah satu penyebab
hal ini terjadi adalah akibat terbatasnya pengetahuan petani terkait dengan penentuan jarak tanam kopi pada saat penanaman. Kurangnya populasi tanaman kopi menjadi salah satu penyebab rendahnya produksi kopi arabika di Kabupaten Dairi karena pemanfaatna lahan yang belum optimal.
Untuk meningkatkan populasi tanaman per satuan luasnya sangat ditentukan oleh sistem jarak tanam yang digunakan. Rahmat Rukmana (2014), menjelaskan bahwa sistem jarak tanam yang umum digunakan untuk efisiensi penggunaan lahan dapat dilakukan dengan sistem segi empat, sistem pagar, dan sistem pagar ganda. Sistem segi empat dapat menggunakan jarak tanam 2,0 m x 2,5 m dengan populasi 2.000 tanaman per hektar, 2,5 m x 2,5 m dengan jumlah populasi 1.600 tanaman. Sistem pagar dapat dilakukan dengan membuat jarak tanam 1,5 m x 3 m dengan jumlah populasi sebanyak 2.223 tanaman/ha. Kemudian dengan sistem jarak tanam pagar ganda menggunkan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m x 3 m dengan jumlah populasi tanaman sebanyak 2.904 tanaman atau dengan jarak tanam 1,5 m x 1,5 m x 4 m dengan jumlah populasi sebanyak 2.400 tanaman/ ha.
Untuk menentukan pilihan jarak tanam yang sesuai untuk diterapkan dilapanagan dalam rangka meningkatkan populasi tanaman per hektarnya harus disesuaikan dengan kondisi geografis seperti kondisi permukaan lahan, penyinaran, dan tingkat kemiringan lahan. Dengan demikian para petani yang akan melakukan replanting maupun penanaman baru kopi arabika agar memperhatikan sistem jarak tanam yang digunakan untuk meningkatkan populasi tanaman persatuan luas areal lahan.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa lahan sentra produksi kopi arabika di Kabupaten Dairi cenderung memiliki karakteristik
agroklimat yang hampir sama terutama dalam hal kesuburan tanahnya. Dengan demikian semakin banyak jumlah tanaman yang ditanam akan meningkatkan jumlah produksi kopi arabika. Hal ini sesuai dengan teori yaitu jumlah tanaman sebagai salah satu faktor produksi yang mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap usahatani. Tinggi rendahnya produksi dari usahatani antara lain dipengaruhi jumlah tanaman yang digunakan (Yuniarto, 2008). Untuk memperoleh hasil atau output kopi arabika yang seoptimal mungkin, salah satu faktor yang sangat menentukan adalah jumlah tanaman atau populasi tanaman kopi arabika persatuan luas lahan. Skala kenaikan hasil yang dicapai oleh petani adalah skala kenaikan hasil yang semakin meningkat secara proporsional (Idris, 2006).
Dari uraian tersebut diatas dapat diketahui bahwa produksi yang iptimal persatuan luas lahan dapat dicapai dengan menambah jumlah populasi tanaman persatuan luas lahan, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudaryati (2004) yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi kopi secara signifikan adalah luas lahan, jumlah tanaman, dan penggunaan pupuk.Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitain yang dilakukan oleh Isyariansyah, dkk (2015) dengan judul“Analisis Faktor-Faktor Produksi Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Robusta Di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang”.dari hasil penelitian diketahui bahwa jumlah pohon secara parsial berpengaruh nyata terhadap produksi kopi Robusta dengan koefisien regresi 0,549.
b. Interpretasi Pengaruh Umur Tanaman (X2) terhadap Produksi Kopi Arabika (Y)
Dari persamaan diatas dapat dilihat nilai koefisien dari variabel umur tanaman adalah sebesar 0,196 dengan arah pengaruh positif, hal ini menyatakan bahwa apabila variabel umur tanaman bertambah sebesar 1% maka akan menyebabkan penambahan produksi tanaman kopi arabika sebesar 0,196% dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (Cateris Paribus). Hal ini menunjukkan selama tanaman kopi masih dalam umur produktif, pertambahan umur tanaman kopi akan menyebabkan peningkatan produksi kopi arabika. Lain halnya setelah tanaman kopi melampaui batas umur produktif, semkin tua umur tanaman kopi maka akan menyebabkan terjadinya penurunan hasil produksi dan perlu dilakukan replanting. Dari penelitian yang dilakukan dapat dilihat bahwa sebagian besar umur tanaman kopi arabika perkebunan Rakyat di Kabupaten Dairi masih dalam umur produktif, sehingga penambahan umur tanaman menyebabkan peningkatan produksi tanaman kopi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fatma (2011) dengan judul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Di Kabupaten Aceh Tengah dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa umur tanaman, luas lahan, dan jumlah tanaman secara signifikan mempengaruhi produksi kopi. Hal ini hanya berlaku pada masa usia ekonomis produktif yaitu antara 7-15 tahun.
c. Interpretasi Pengaruh Jumlah Tenaga Kerja (X3) terhadap Produksi Kopi Arabika (Y)
Dari persamaan diatas dapat dilihat nilai koefisien dari variabel jumlah tenaga kerja adalah sebesar 0,026 dengan arah pengaruh positif, hal ini
menyatakan bahwa apabila variabel jumlah tanaman ditambah sebesar 1% maka akan menyebabkan penambahan produksi tanaman kopi arabika sebesar 0,026%
dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (Cateris Paribus).Akantetapi dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa variabel jumlah tenaga kerja tidak mempengaruhi secara signifikan produksi kopi arabika perkebunan rakyat di Kabupaten Dairi.Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja dalam satu proses produksi tidak secara langsung meningkatkan produksi kopi arabika. Namun dalam program intensifikasi kopi penambahan tenaga kerja dalam pemeliharan terutama dalam pemangkasan dan pemupukan dapat meningkatkan produksi kopi arabika. Salah satu penyebab variabel tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kopi arabika pertanian rakyat di Kabupaten Dairi adalah karena sebagian besar tenaga kerja yang digunakan (45%) dalam usaha budidaya kopi arabika adalah untuk proses pemanenan, bukan untuk perawatan tanaman kopi. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan dan penambahan jumlah tenaga kerja harus benar-benar diperhitungkan sesuai kebutuhan, sehingga peningkatan produksi dapat tercapai.
d. Interpretasi Pengaruh Jumlah Pupuk (X4) terhadap Produksi Kopi Arabika (Y)
Dari persamaan diatas dapat dilihat nilai koefisien dari variabel jumlah pupuk adalah sebesar 0,187 dengan arah pengaruh positif, hal ini menyatakan bahwa apabila variabel jumlah pupuk ditambah sebesar 1% maka akan menyebabkan penambahan produksi tanaman kopi arabika sebesar 0,187% dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (Cateris Paribus).Hasil ini menjelaskan bahwa peningkatan penggunaan jumlah pupuk dalam suatu proses produksi dapat meningkatkan produksi hasil produksi kopi. Pupuk merupakan
salah satu faktor produksi penting dalam peningkatan produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Gofar N (2015), pupuk merupakan senyawa anorganik maupun organik dan makhluk hidup yang berfungsi dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman. Tanaman membutuhkan unsur hara dalam jumlah cukup dan seimbang untuk dapat tumbuh normal dan optimal. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sudaryati (2004) yang menganalisis faktor-faktor produksi kopi di Kabupaten Tulungagung, dimana dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa penggunaan pupuk berpengaruh nyata terhadap produksi kopi.
Kebutuhan pupuk ditentukan oleh dua faktor yaitu pengambilan haraoleh tanaman dan persediaan unsur hara dalam tanah. Pengambilan unsur hara oleh kegiatan panen satu ton kopi arabika per hektar/ tahun adalah 30 kg nitrogen, 5,1 kg P2O5,
dan 48 kg K2O. Pengambilan tersebut belum termasuk kebutuhan benih untuk pertumbuhan vegetatif yang justru lebih besar jumlahnya.
Pemberian pupuk untuk tanaman kopi arabika disamping pupuk anorganik harus diimbangi dengan pemberian pupuk organik atau pupuk kandang.
Mengingat lahan perkebunan kopi di daerah Kabupaten Dairi adalah lahan yang miskin unsur hara dan sebagian mengandung pasir sehingga sangat dibutuhkan pemberian pupuk kandang antara 5-10 ton/ha/tahun.
Penentuan dosis kebutuhan pupuk tanaman kopi arabika dilakukan dengan cara analisis kandungan unsur hara tanah kering. Rukmana (2014) menjelaskan bahwa untuk meningkatkan produktivitas dan produksi kopi arabika dosis anjuran pupuk anorganik adalah sesuai dengan tabel dibawah ini:
Tabel 5.7. Rekomendasi Penggunaan Pupuk Tanaman Kopi Arabika Umur Jenis dan Dosis Unsur Hara Jenis dan Dosis Pupuk
(tahun) N (g) P2O5 (g) K2O (g) Urea (g) SP 36 (g) KCL (g)
>10 160 80 160 400 200 320
Keterangan : Urea 46% N, SP 36 % : 46 %, P2O5, KCL 60% K2O
Sesuai dengan teori bahwa penggunaan pupuk harus mempunyai prinsip lima tepat untuk berhasil secara efisien dan efektif, yaitu tepat jenis, tepat jumlah, tepat cara, tepat tempat dan tepat waktu. Dengan mengunakan pupuk yang efektif dan efisien, maka kualitas tanah sebagai media tanam kopi akan memberikan zat-zat yang dibutuhkan oleh tanaman untuk menghasilkan produksi buah yang lebih optimal. Hal ini sesuai dengan teori yaitu pupuk sebagai salah satu faktor produksi yang mempunyai kontribusi cukup besar terhadap usaha tani. Besar kecil produksi dari usaha tani antara lain di pengaruhi oleh pupuk yang digunakan (Heru Primantoro, 1989). Untuk memperoleh hasil atau output pertanian, salah satu faktor menentukan adalah pupuk yang digunakan dalam menghasilkan produksi pada tanaman.
Pada saat ini capaian produktivitas kopi arabica di Kabupaten Dairi adalah 12,13 kw/Ha/tahun (data tahun 2015). Sementara produktivitas tertinggi kopi arabica di Sumatera Utara adalah Kabupaten Simalungun sebesar 15,46 kw/ha/tahun, hal ini berarti terdapat kesenjangan (discrepancy) produktivitas antara Kabupaten Simalungun dengan Kabupaten Dairi sebesar 3,33 kw/ha/tahun.
Perbandingan produktivitas dan produksi kopi Arabica antara Kabupaten Simalungun dengan produksi kopi Kabupaten Dairi disebabkan oleh berbagai faktor lain dosis, penggunaan pupuk kandang dan pupuk organik, tingkat pengetahuan, keterampilan, dan ketersediaan modal. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada berikut ini:
Tabel 5.8. Perbandingan Pemberian Pupuk Budidaya Kopi Arabica di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Dairi
Umur Kabupaten Simalungun Kabupaten Diri
Tanaman Urea TSP KCL Pupuk Urea TSP KCL Pupuk (tahun) (kg) (kg) (kg) Kandang (kg) (kg) (kg) Kandang
(Kg) (kg)
1-3 100 50 100 2.000 50 50 - 1.000
4-7 125 100 150 4.000 100 100 50 2.000
8-11 150 125 150 6.000 150 100 75 3.000
12-15 200 150 150 8.000 175 175 100 4.000
>15 300 200 200 10.000 200 200 100 5.500
Sumber : Data primer, 2017
Dari Tabel 5.8 di atas menunjukkan bahwa bahwa pemberian pupuk kopi Arabica mulai dari tanaman belum menghasilkan (TBM) sampai dengan umur
>15 tahun sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan produksi kopi Arabica.
Maka untuk meningkatkan pemberian pupuk anorganik maupun organik sesuai dengan dosis anjuran dengan memenuhi prinsip 5 tepat yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, tepat tempat dan waktu.Sebagai pedoman dan acuan pemberian pupuk anorganik disajikan pada Tabel 5.7 di atas.
Dengan penggunaan pupuk berimbang maka dapat dicapai hasil pemupukan yang efisien dan efektif untuk memberikan pertumbuhan yang optimal baik vegetative maupun produktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Primantoro, H.
(1989) bahwa untuk memperoleh hasil atau output pertanian, salah satu faktor
yang menentukan adalah pupuk yang digunakan dalam menghasilkan produk pada tanaman.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukanoleh Sariani (2017) dengan judul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowadimana diperoleh hasil penelitian bahwa variabel Luas Lahan, Tenaga Kerja, Modal dan Pupuk berpengaruh secara signifikan terhadap produksi kopi di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Goa. e. Interpretasi Pengaruh Jumlah Pestisida (X5) terhadap Produksi Kopi
Arabika (Y)
Dari persamaan diatas dapat dilihat nilai koefisien dari variabel jumlah pestisida adalah sebesar 0,017 dengan arah pengaruh positif, hal ini menyatakan bahwa apabila variabel jumlah pestisida ditambah sebesar 1% maka akan menyebabkan penambahan produksi tanaman kopi arabika sebesar 0,017% dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (Cateris Paribus).Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan pestisida dalam suatu proses produksi tidak secara langsung meningkatkan hasil produksi kopi. Bahkan penggunaan pestisida yang melebihi dosis anjuran dapat menurunkan produktivitas lahan akibat metinya mikroorganisme tanah sebagai dampak dari residu pestisida yang digunakan. Hal ini juga dapat menyebabkan proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme tanah menjadi terhambat. Selain itu penggunaan pestisida dapat juga membunuh agen hayati dan serangga yang berguna untuk proses penyerbukan bunga tanaman kopi.
Penggunaan pestisida khususnya herbisida merupakan alternatif terakhir terakhir dalam pengendalian OPT gulma. Sebaiknya pengendalian gulma dilakukan dengan membabat tanaman penggangu yang juga dapat digunakan
sebagai serasah penutup tanahdan sumber kompos. Untuk mengendalikan hama an penyakit tanaman kopi arabika dianjurkan untuk menggunakan pestisida nabati sehingga terwujud pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan keinginan konsumen kopi di pasar dunia yang menginginkan produk kopi organik.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN