HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan Pertambangan di Indonesia
3. Koefisien Determinasi (Uji Goodness of Fit)
Pengukuran besarnya persentase kebenaran dari uji regresi dapat dilihat melalui nilai koefisien determinasi multiple R2 (koefisien determinan mengukur proporsi dari variasi yang dapat dijelaskan oleh variabel independen). Apabila nilai R2 suatu regresi (mendekati satu), maka semakin baik regresi tersebut dan semakin mendekati nol, maka variabel independen secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan variabel dependen. Adjusted R Square ini digunakan untuk melihat berapa besar pengaruh faktor- faktor yang ditimbulkan oleh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.
Tabel 4.9
sumber: hasil olahan SPSS, 2014
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa kolom Variables Removed kosong. Hal ini berarti variabel investment opportunity set (PER), kebijakan hutang (DER), dan kepemilikan institusional tidak ada yang dikeluarkan dari persamaan. Setelah diketahui bahwa seluruh variabel dimasukkan dalam analisis persamaan, selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis koefisien korelasi dan koefisien determinasi. Tabel 4.10 menunjukkan tipe hubungan antarvariabel:
Tabel 4.10
Hubungan Antarvariabel
Nilai Interpretasi
0,0 – 0,19 Sangat Tidak Erat
0,2 – 0,39 Tidak Erat
0,4 – 0,59 Cukup Erat
0,6 – 0,79 Erat
0,8 – 0,99 Sangat Erat Sumber: (Situmorang dan Lufti, 2012:155)
Variables Entered/Removedb Model Variables Entered Variables Removed Method 1 LN_KI, LN_PER, LN_DERa . Enter
a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: LN_PBV
Tabel 4.11
Hasil Uji Koefisien Determinasi
sumber: hasil olahan SPSS, 2014
Tabel 4.11 menunjukkan nilai R sebesar 0,535 atau 53,5%. Hal ini berarti bahwa hubungan antara variabel dependen (nilai perusahaan) dengan variabel dependennya (investment opportunity set, kebijakan hutang, dan kepemilikan institusional) adalah cukup erat. Tabel 4.11 menunjukkan bahwa nilai
Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,247 yang berarti 24,7% nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen, yakni
investment opportunity set, kebijakan hutang, dan kepemilikan institusional, sedangkan sisanya 75,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Standard Error of Estimated digunakan untuk mengukur variabel dari nilai yang diprediksi. Standard Error of Estimated disebut juga standar deviasi. Standard Error of Estimated dalam penelitian ini adalah 0,67827. Standar deviasi yang semakin kecil mengindikasikan bahwa model semakin baik. Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .535a .286 .247 .67827
a. Predictors: (Constant), LN_KI, LN_PER, LN_DER b. Dependent Variable: LN_PBV
4.3 Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan investment opportunity set (IOS), kebijakan hutang, dan kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan pertambangan. Secara parsial, investment opportunity set (IOS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasnawati (2005) yang mengatakan bahwa set peluang investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Perusahaan adalah kombinasi antara nilai aktiva riil dengan peluang investasi yang mungkin dilakukan di masa yang akan datang. Price earning ratio
(PER) adalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk memprediksi seberapa besar kesempatan investasi perusahaan di masa mendatang dengan pertimbangan operasional perusahaan pada saat ini. Hal ini dilakukan dengan menghitung berapa kali investor harus menanamkan dananya untuk setiap laba persaham yang ingin diperoleh (Tandelilin, 2010:375).
Pengaruh kesempatan investasi terhadap nilai perusahaan merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan investasi itu sendiri. Hal ini dapat meliputi pemilihan proyek atau kebijakan lainnya di masa depan, seperti menciptakan produk baru, penggantian mesin yang lebih efisien, pengembangan research & development, dan merger dengan perusahaan lain (Myers, 1977).
Peluang investasi yang cukup besar yang dimiliki oleh perusahaan pertambangan di masa mendatang dengan pertimbangan aktiva yang dimiliki saat ini mengindikasikan bahwa perusahaan akan terus mengalami perkembangan
sehingga ada kemungkinan bahwa profitabilitas perusahaan akan terus mengalami peningkatan. Hal ini disambut baik oleh pasar dengan mengapresiasi saham perusahaan pertambangan di atas nilai bukunya, yang berarti bahwa nilai perusahaan meningkat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan hutang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amirya (2008) yang menyimpulkan bahwa hutang berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, namun tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukirni (2012) serta Rustendi dan Jimmi (2008) yang menyatakan sebaliknya.
Pecking order theory mengemukakan bahwa perusahaan cenderung mengutamakan pendanaan aktivitas perusahaan dari bagian internal perusahaan (Sadalia, 2007:136). Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi bahkan menghilangkan biaya yang muncul akibat pendanaan dari pihak eksternal perusahaan. Hal inilah yang terjadi pada perusahaan pertambangan terbuka di Bursa Efek Indonesia dimana perusahaan lebih memilih untuk mendanai aktivitasnya terutama dengan memanfaatkan dana yang tersedia dalam perusahaan.
Teori yang dikemukakan Myers dan Majluf (1984) menyatakan bahwa perusahaan yang profitable cenderung lebih memilih untuk menggunakan dana internal untuk membiayai perusahaan, yakni dari laba ditahan dan arus kas dari penyusutan dibandingkan dengan menggunakan hutang. Hal ini dilakukan bukan semata-mata untuk mencapai target rasio hutang yang rendah, tetapi karena
perusahaan memang membutuhkan dana eksternal yang rendah karena memiliki dana yang cukup yang berasal dari bagian internal perusahaan.
Jika perusahaan memiliki dana yang cukup, tetapi membuat kebijakan untuk menerbitkan hutang, malah akan meningkatkan pengeluaran perusahaan berkenaan dengan biaya penerbitan sekuritas, sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi berkurang. Artinya, pengorbanan yang dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Hal tersebut menyebabkan sentimen negatif dari pasar sehingga nilai perusahaan pertambangan menjadi turun.
Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sujoko dan Soebiantoro (2007) yang menyatakan hal yang sama, namun tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sukirni (2012), Nuraina (2012), Tarjo (2008), dan Clay (2001) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Institusi sebagai lembaga formal secara teori dinilai sebagai badan yang dapat menengahi konflik keagenan antara pemegang saham individual dengan manajemen perusahaan. Namun dalam perusahaan pertambangan terbuka di Bursa Efek Indonesia justru terjadi sebaliknya.
Perusahaan pertambangan termasuk dalam kelompok industri dengan jumlah pemegang saham institusional yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan pemegang saham institusional memiliki kekuatan yang cukup besar untuk melakukan pengawasan terhadap perusahaan. Namun terkadang perusahaan yang memiliki persentase pemegang saham institusional yang tinggi justru akan
menurunkan nilai perusahaan. Hal ini terjadi karena pemegang saham institusi terlalu ikut campur dalam masalah-masalah perusahaan yang sebenarnya sudah berada di luar perannya sebagai pengawas (Hitt et al., 2002:105).
Selain itu, tingkat pengawasan aktif yang dapat dilakukan para investor institusional terhadap keputusan perusahaan diragukan karena biasanya pemegang saham institusi memiliki portofolio yang memuat lebih dari satu perusahaan besar tempat mereka menanamkan modal. Hal ini memberikan sinyal bahwa sangat sulit bagi sebuah institusi untuk dapat mengendalikan semua perusahaan dalam portofolionya dengan baik. Pada akhirnya, pemegang saham institusi hanya akan berfokus pada perusahaan dimana ia menanamkan saham dengan jumlah kepemilikan terbesar (Hitt et al., 2002:106).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN