BAB II LANDASAN TEORI
UJI HIPOTESIS 5.Uji F
8. Koefisien Korelasi
Tabel 5.10, dan 5.11 menunjukkan korelasi atau hubungan antar variabel. Tabel tersebut menyajikan ukuran dari derajat keeratan hubungan antara variabel EPS dan DPS terhadap harga pasar saham, serta besarnya pengaruh EPS dan DPS terhadap harga pasar saham. Koefisien korelasi EPS dan DPS sebesar 0,656. Koefisien determinasi (R-Square) adalah 0,430. Artinya 43% besarnya harga pasar saham dipengaruhi oleh besarnya EPS dan DPS, sedangkan sisanya sebesar 57% dipengaruhi oleh faktor lain.
Tabel 5.9 Prediksi Harga Saham dalam Persamaan Regresi Menggunakan Casewise Diagnostics
Casewise Diagnosticsa Case Number Nama Std. Residual Closing Price Predicted Value Residual 1 Ace Hardware Indonesia Tbk .115 2950 2766.03 183.966 2 ADARO ENERGY Tbk .197 2550 2234.32 315.683 3 AKR Corporindo Tbk -.097 1730 1884.51 -154.515 4 Asahimas Flat Glass Tbk 1.868 5800 2810.86 2989.143 5 Aneka Tambang (Persero) Tbk -.376 2450 3051.30 -601.300 6 Asuransi Ramayana Tbk -1.058 1040 2733.09 -1693.085 7 Bank Central Asia Tbk 1.697 6400 3684.63 2715.369 8 Bank Negara Indonesia Tbk .587 3875 2936.62 938.375 9 Bank Nusantara Parahyangan Tbk -.496 1230 2023.73 -793.727 10 Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk -.468 1640 2388.69 -748.689 11 Bank Danamon Indonesia Tbk 1.175 5700 3819.79 1880.212
12 Bank Pembangunan Daerah Jawa
Barat dan Banten Tbk -.917 1450 2917.85 -1467.849 13 Bank Mandiri (Persero) Tbk 1.706 6500 3770.40 2729.599 14 Berlina Tbk -1.091 1600 3344.87 -1744.874 15 Bumi Resources Tbk .287 3025 2565.38 459.617 16 Charoen Pokphand Indonesia Tbk -.197 1840 2155.20 -315.197 17 Citra Tubindo Tbk -1.568 2500 5008.95 -2508.955 18 Darya-Varia Laboratoria Tbk -.753 1170 2374.92 -1204.917 19 Elang Mahkota Teknologi Tbk -.504 1220 2026.81 -806.814 20 Enseval Putra Megatrading Tbk -.479 1150 1916.88 -766.876 21 XL Axiata Tbk. Tbk 1.070 5300 3588.71 1711.295 22 Fajar Surya Wisesa Tbk .151 2875 2633.40 241.603 23 Gajah Tunggal Tbk .215 2300 1955.60 344.399 24 Hexindo Adiperkasa Tbk 1.305 7150 5061.70 2088.298 25 Harum Energy Tbk 1.831 9000 6070.20 2929.803
26 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk .557 4675 3783.44 891.558
27 Sumi Indo Kabel Tbk -.547 1200 2074.50 -874.502 28 International Nickel Indonesia Tbk .663 4875 3813.69 1061.312
Tabel 5.9 Prediksi Harga Saham dalam Persamaan Regresi Menggunakan Casewise Diagnostics (lanjutan)
29 Indofood Sukses Makmur Tbk .511 4875 4057.81 817.188 30 Indika Energy Tbk .997 4725 3129.80 1595.195 31 Intraco Penta Tbk -.204 2450 2776.70 -326.701 32 Indosat Tbk 1.563 5400 2899.11 2500.891 33 Jasa Marga Tbk -.159 3425 3679.37 -254.374 34 Resource Alam Indonesia Tbk .633 3700 2687.11 1012.890 35 Kalbe Farma Tbk .111 3250 3073.15 176.850 36 Krakatau Steel (Persero) Tbk -.479 1200 1966.41 -766.412 37 Lippo General Insurance Tbk -1.565 1160 3664.50 -2504.503 38 Matahari Department Store Tbk Tbk .238 2550 2169.55 380.449 39 Modern Internasional Tbk .179 2325 2039.11 285.894 40 Medco Energi Internasional Tbk .318 3375 2865.79 509.214 41 Metropolitan Kentjana Tbk -.722 2800 3955.27 -1155.274 42 Matahari Putra Prima Tbk -3.089 1490 6431.91 -4941.911 43 Panin Sekuritas Tbk -1.225 1150 3109.30 -1959.298 44 Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk .072 4425 4309.93 115.065 45 Plaza Indonesia Realty Tbk .083 1990 1857.34 132.663 46 Pudjiadi & Sons Tbk -.745 1630 2821.38 -1191.376 47 Nippon Indosari Corpindo Tbk .228 2650 2285.24 364.762 48 Supreme Cable Manufacturing
Corporation Tbk -.853 1950 3314.34 -1364.336 49 Surya Citra Media Tbk -2.048 3550 6825.77 -3275.774 50 SMART Tbk .443 5000 4291.23 708.767 51 Holcim Indonesia Tbk .004 2250 2243.12 6.880 52 Semen Gresik (Persero) Tbk 2.201 9450 5928.17 3521.827 53 Sinar Mas Multiartha Tbk .012 1800 1780.52 19.483 54 Sona Topas Tourism Industry Tbk -1.127 1600 3402.41 -1802.412 55 Sumi Indo Kabel Tbk. -.547 1200 2074.50 -874.502 56 PT Tower Bersama Infrastructure
Tbk .122 2500 2304.19 195.814 57 Mandom Indonesia Tbk -.219 7200 7549.81 -349.807
Tabel 5.9 Prediksi Harga Saham dalam Persamaan Regresi Menggunakan Casewise Diagnostics (lanjutan)
58 Timah (Persero) Tbk -.446 2750 3463.85 -713.849 59 Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk .652 3000 1957.35 1042.646 60 Telekomunikasi Indonesia (Persero)
Tbk .708 7950 6817.55 1132.454 61 Tempo Scan Pacific Tbk -.523 1710 2547.33 -837.334 a. Dependent Variable: Closing Price
Tabel 5.10 Hasil Uji Korelasi Menggunakan Korelasi Pearson
Correlations
Closing Price EPS DPS
Pearson Correlation ClosingPrice 1.000 .396 .654
EPS .396 1.000 .665
DPS .654 .665 1.000
Sig. (1-tailed) ClosingPrice . .001 .000
EPS .001 . .000
DPS .000 .000 .
N ClosingPrice 61 61 61
EPS 61 61 61
DPS 61 61 61
Tabel 5.11 Model Summary EPS dan DPS
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .656a .430 .410 1599.868
a. Predictors: (Constant), DPS, EPS b. Dependent Variable: Closing Price
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa secara simultan EPS dan DPS berpengaruh terhadap harga saham. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Madichah (2005). Besarnya nilai EPS dan DPS dapat mempengaruhi pandangan investor dalam menilai kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba bersih dan laba yang dapat dibagikan kepada pemegang sahamnya. Investor biasanya cenderung memilih perusahaan yang mempunyai nilai EPS dan DPS tinggi daripada yang bernilai rendah. Menurut Tjiptono dan Darmaji (2011), tingginya nilai EPS dan DPS mengakibatkan jumlah permintaan saham meningkat, maka harga saham akan naik. Harga pasar saham ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa (Jogiyanto, 2007: 125).
Menurut persamaan regresi diketahui bahwa nilai koefisien EPS bernilai negatif (b1 pada X1). Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi EPS maka harga saham justru akan turun. Hasil uji ini tidak sesuai dengan teori Jogiyanto (2007), Husnan (2003), dan peneliti-peneliti terdahulu seperti Burhanuddin (2008), Chang, Yahn Shir Chen, Chi Wei Su, dan Ya Wen Chang (2008), Indriana (2009), serta Yurico (2008) yang menyatakan bahwa pengaruh EPS selalu positif, di mana semakin tinggi EPS maka harga saham juga akan meningkat. Terjadinya hubungan terbalik antara EPS dan harga saham dalam penelitian ini bisa saja terjadi karena beberapa faktor-faktor pendukung lain yang menyebabkan harga saham
turun. Kondisi seperti ini mencerminkan bahwa perusahaan sedang kurang sehat dalam keuangannya. Hal tersebut membuat investor tidak berani untuk menginvestasikan dananya pada perusahaan yang mengalami kondisi demikian, maka permintaan akan saham menurun dan penawaran akan harga sahampun menjadi rendah.
Para investor hendaknya mempertimbangkan faktor lain dalam keputusan investasinya. Menurut Anoraga (2001: 88-89), terdapat banyak informasi yang dibutuhkan oleh investor dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal. Jenis informasi tersebut meliputi faktor fundamental, faktor teknis, dan faktor lingkungan. Faktor fundamental merupakan informasi yang berkaitan dengan keadaan perusahaan, kondisi umum industri yang sejenis, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi dan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Faktor teknis mencerminkan kondisi perdagangan efek, fluktuasi kurs, dan volume transaksi. Informasi tentang kondisi ekonomi, politik, dan keamanan negara sangat penting untuk menentukan kapan suatu efek harus dibeli, dijual, atau ditukar dengan efek lain agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Informasi ini dapat mempengaruhi prospek perusahaan serta perkembangan perdagangan efeknya, baik secara fundamental maupun secara teknikal. Oleh karena itu para investor hendaknya berlaku cermat dalam menetapkan keputusannya saat membeli salah satu saham perusahaan yang diminatinya.
66
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa:
1. Earning per share (EPS) berpengaruh terhadap harga pasar saham
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI.
2. Dividend per share (DPS) berpengaruh terhadap harga pasar saham
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI.
EPS dan DPS mempengaruhi harga pasar saham pada tahun 2010. Berdasarkan penelitian ini, pengaruh dari koefisien negatif variabel EPS menimbulkan perbedaan hasil analisis antara fakta dan teori yang bersangkutan sehingga pada tahun 2010 variabel ini tidak bisa dijadikan tolok ukur investor dalam membuat keputusan investasinya, sedangkan DPS dapat mencerminkan kondisi dari perusahaan yang dapat dijadikan tolok ukur yang baik bagi investor dalam membuat keputusan investasinya sehingga hal tersebut akan mempengaruhi permintaan terhadap saham perusahaan tertentu yang pada akhirnya akan mempengaruhi harga saham.