Koherensi dan kohesi diperlukan dalam mempelajari sebuah wacana, seperti yang dijelaskan Trask (1999: 79) “Two fundamental terms in the study of discourse are cohesion and coherence”. Sebuah wacana memiliki koherensi dan kohesi antar kalimatnya yang berfungsi untuk menghubungkan kalimat-kalimat agar saling berkaitan sehingga dapat memberikan makna yang jelas.
Analisis kohesi dan koherensi disusun karena bila keduanya diterapkan dalam sebuah wacana makna wacana tersebut akan jelas, dan menambahkan keindahan bahasa didalamnya. Dalam hal ini, kohesi melihat hubungan atau ikatan wacana
sedangkan koherensi melihat keutuhan makna yang disampaikan sebuah wacana. Penjelasan lebih jauh mengenai koherensi dan kohesi akan diuraikan pada poin selanjutnya.
2.3.1 Koherensi
Koherensi dan kohesi mendukung suatu teks agar memiliki kesesuaian antar kalimat. Koherensi dapat dikatakan sebagai eksternal aspek, wacana dilihat dari keterkaitannya dengan penonton, pendengar atau pembaca seperti sifatnya wacana yang membentuk perilaku bahasa yang efektif dalam kaitanya dengan tujuan-tujuan komunikatif. Trask (1999: 39) memberikan definisi mengenai koherensi yaitu “Coherence is the degree to which a piece of discourse „makes sense‟”. Wacana yang baik adalah wacana yang dapat mudah dimengerti oleh pendengar atau pembaca. Menurut Schmidt antara koherensi dan kohesi berkaitan erat. Pendapat mengenai pengertian koherensi menunjukan adanya kelogisan dalam susunan kalimat. Schmidt (1995: 41&125) menjelaskan“Coherence is synonym for cohesion, but it relates more to the order and consistency of ideas and statements and it means that all parts of a piece of writing are clearly related to one another in a logical sequence”.
Dapat disimpulkan dari dua definisi tersebut, bahwa wacana lebih mudah dipahami apabila serangkaian kalimatnya memiliki kohesi dan koherensi. Kohesi berfungsi agar kalimat-kalimat yang terdapat pada sebuah wacana saling berkaitan dan memiliki kepaduan. Disisi lain, koherensi berfungsi agar makna pada suatu
wacana tersebut jelas dan masuk akal, atau bisa dikatakan bahwa serangkaian kalimat tersebut memiliki makna yang logis dan dapat dimengerti oleh pembaca atau pendengar.
2.3.2 Kohesi
Kohesi atau kepaduan dalam suatu wacana mutlak diperlukan agar teks yang disajikan memiliki hubungan yang saling berkaitan secara logis dan sistematis. Kohesi pada dasarnya mengacu kepada bentuk struktur tulisan. Kohesi berfungsi menyambungkan sumber-sumber yang tidak terstruktur di dalam wacana seperti yang diungkapkan Halliday (1985: 288) kohesi adalah “The non-structural resources for discourse are what referred to by the term cohesion”.
Pendapat lain terkait pengertian kohesi diutarakan juga oleh Schmidt (1995: 125) “Cohesion means that different parts of some stick together”. Unsur-unsur dalam wacana saling mengikat sehingga memberikan makna yang saling berkaitan. Sejalan dengan pengertian sebelumnya, Halliday dan Hasan (1976: 299) mengungkapkan definisi mengenai kohesi yaitu “Cohesion expresses the continuity that exist one part of the text and another”. Kohesi menunjukkan kelancaran antara kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam suatu teks.
Menurut Trask (1999: 40) “Cohesion is the presence in a discourse of explicit linguistic links which provide structure”. Kohesi menjadikan kalimat dalam setiap wacana memiliki kepaduan dan struktur yang mudah dipahami, setiap alur dalam
kalimatnya memiliki makna yang saling berhubungan. Agar tercapainya tujuan tersebut, dibutuhkan adanya perangkat kohesi. Piranti kohesi terdiri dari gramatikal dan leksikalisasi. Gramatikal seperti referensi, konjungsi, elipsis dan substitusi, dan alat leksikalisasi seperti pengulangan, sinonim, antonim, hiponimi dan meronimi. Pada penelitian ini, penulis hanya memfokuskan pada salah satu piranti kohesi yaitu pengulangan. Repetition dapat menjadikan wacana menjadi kohesif dan koheren.
Contoh :
18) The boys climbed the trees, the trees weren‟t too tall for them.
Contoh 18) merupakan kohesi karena setiap kalimat memiliki makna yang saling berhubungan. Kalimat pertama menerangkan the boys yang memanjat the trees lalu kalimat selanjutnya menerangkan the tree yang tidak terlalu tinggi bagi mereka. Dengan kata lain, repetition ini menjadi salah satu cara untuk membuat kalimat menjadi kohesif.
2.4 Repetition
Halliday dan Hasan (1976: 278) mendefinisikan repetition adalah penyebutan kembali satu unit leksikal yang sama yang telah disebutkan sebelumnya, repetition kata, frasa atau klausa. Tidak berbeda dengan Halliday dan Hasan, Keraf (1994: 127-129) mendefinisikan repetition yaitu pengulangan satuan lingual bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Berdasarkan tempat satuan lingua yang diulang dalam
baris, klausa atau kalimat. Repitition pada umumnya sangat berperan penting dan banyak ditemukan pada lagu, puisi, ketika perkataan dari lirik lagu sering diulang maka dapat disebut repetition.
Contoh :
19) We promise we will win the exhibition.
Dalam contoh kalimat 19) terdapat repetition kata we promise yang merupakan bagian dari repetition. Repetition merupakan penekanan kata untuk meyakinkan sesuatu agar lebih jelas.
Menurut Johnstone (1991: 11) “That Repetition is thereby a central process through which language is created in discourse”, dan dia pun menambahkan (1994: 4) “The underlying structural principle in text in which repetition is a discourse structuring device”. Dengan kata lain, repetition adalah hal inti yang mendasar dalam teks dimana repetition tersebut adalah perangkat dalam pembentukan struktur wacana.
Menurut McArthur repetition adalah dasar komunikasi pada umumnya dan bahasa pada khususnya. “….doing, saying or writing the same thing more than once (..) The reccurence of processes, structures, elements and motifs is fundamental to communication in general and language in particular”. (McArthur, 1992 :861) . Jadi repetition adalah segala sesuatu yang muncul lebih dari sekali dapat dianggap sebagai pengulangan. Dengan demikian repetition merupakan elemen penting yang muncul dalam hal-hal yang ada disekitar kita, seperti percakapan sehari-hari, lagu, dan puisi.
Repetition yang terjadi tidak bisa sembarang mengulangi kata, frasa, klausa atau kalimat. Dalam sebuah wacana bahasa Inggris tentu terkandung content words
dan function words. Namun penggunaan keduanya terkait dengan repetition dan sisi eksternalnya dimana hal tersebut berhubungan dengan makna, content words digunakan dalam repetition dalam wacana karena bila kita telaah lagi dengan hubungan fungsi repetition itu sendiri, content words yang dimana memiliki makna digunakan dalam pengulangan. Meskipun tidak memungkiri penggunaan function words karena repetition itu sendiri memiliki fungsi masing-masing.
Menurut Aitchison (1994 : 16) terdapat beberapa jenis repetition seperti : a) Anadiplosis : Starting a clause or phrase with the word or phrase that ended the
preceding unit. Maksud pernyataan ini bahwa jenis repetition ini terjadi pada awal klausa atau frasa dengan kata atau frasa yang berakhir pada unit sebelumnya. b) Anaphora : The repetition of a word or group at the beginning of successive
clauses or phrases. Artinya, bahwa jenis repetition ini adalah pengulangan kata atau kumpulan kata pada klausa atau frasa yang berturut-turut pada awal kalimat. c) Episthrope : Ending a series of phrases or clauses with the same word or words.
Jenis ini adalah kebalikan dari Anaphora, jenis repetition adalah jenis repetition kata atau kumpulan kata pada akhir frasa atau klausa.
d) Isocolon : A series similiarly structured phrases. Maksud pernyataan ini adalah bahwa Isocolon adalah jenis repetition yang memiliki kesamaan pada struktur frasa.
e) Ploche : The repetition of the same word in a short span of text. Artinya, repetition kata yang sama dalam satu teks.
f) Polyptoton : The repetition of a word, but in a different form. (i.e the repetition of a stem, with a difference in affixes). Repetition jenis ini adalah jenis pengulangan
kata dengan bentuk yang berbeda (pengulangan sebuah asal suku kata dengan perbedaan dalam afiks)
g) Polysyndeton : Employing many conjunctions between clauses, often slowing the tempo or rhythm. Maksudnya, jenis ini menggunakan banyak konjungsi diantara klausa, sering dipakai untuk memperlambat tempo dan ritme.
Dari ketujuh repetition menurut Aitchison (1994) sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, akan diuraikan lebih rinci pada poin 2.4.1 sampai dengan 2.4.7. oleh berbagai sumber yaitu Preminger dan Brogan (1993), James Jashinki (2001), Avery (2001), Duke (2004), Hunter (2006), Brett Zimmerman (2005), Moran dan Holder (2007), Farnsworth (2010) dan Fahnstock (2011).
2.4.1 Anadiplosis
Menurut Preminger dan Brogan (1993: 39) menyebutkan bahwa anadiplosis adalah bentuk pengulangan kata yang menghubungkan dua frasa, klausa, baris, atau bait dengan mengulangi kata di akhir yang pertama pada awal kedua. “Anadiplosis is a figure of word repetition that links two phrases, clauses, lines, or stanzas by repeating the word at the end of the first one at the beginning of the second”. (1993: 69).
Hal serupa diungkapkan oleh James Jashinki (2001: 543) bahwa “Anadisplosis is when a word at or near the clause or sentence is used to begin the following clause or sentence”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa ketika sebuah kata atau dekat akhir suatu kalimat yang digunakan untuk memulai klausa atau kalimat selanjutnya. Contohnya:
20) Comfort it is for man to have a wife. Wife chast, and wise, and lowly all her life.
21) Suffering breeds character. Character breeds faith, in the end.
Contoh 20) kata wife berakhir di kalimat sebelumnya dan di sambung dengan kata wife di awal kalimat. Sama halnya dengan contoh 20), contoh 21) terdapat repetition yaitu kata character. Pada kalimat pertama kata character ditulis di akhir kalimat dan pada kalimat selanjutnya kata character ditulis pada awal kalimat.
Menurut Brett Zimmerman (2005: 111) bahwa “Anadiplosis can express emotion” dan menurut Ward Farnworth (2010: 58) bahwa “Anadiplosis is a helpful tool for describing an ascent”.
Jadi anadiplosis ialah pengulangan kata yang menghubungkan frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, yang terjadi di bagian akhir kalimat dan diulang di awal kalimat selanjutnya. Anadiplosis juga adalah sebuah pengulangan yang berguna untuk menggambarkan sebuah penekanan dan juga dapat mengekspresikan emosi.
2.4.2 Anaphora
Anaphora adalah pengulangan kata yang sama atau kata-kata pada awal frasa, klausa, atau kalimat berturut-turut. Hal ini diungkapkan oleh Levin (1986: 114) bahwa “The anaphora is beginning of successive clauses with the same word or group of words”. Anaphora disebut juga ephanaphora karena memiliki pengertianyang sama seperti yang diungkapkan oleh Preminger dan Brogan (1993:
73) bahwa “Also epanaphora, the repetition of the same word or words at the beginning of successive phrases, clauses, sentences, or lines”.
Contoh :
22) Ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country.
Contoh di atas merupakan anaphora karena kata ask terdapat pada dua kalimat dan diulang pada awal kalimat berturut-turut.
Menurut Moran dan Holder (2007: 287) repetition ini diulang pada awal dua kalimat atau lebih secara berturut-turut. “Specific type of repetition word, phrase, or clause repeated at the beginning of two more sentences in row”.
Kebalikan dari anaphora ialah epistrophe. Jika anaphora ialah repetition kata pada awal frasa, klausa, atau kalimat. Epistrophe ialah repetition kata pada akhir kalimat, seperti yang diungkapkan oleh Preminger dan Brogan (1993: 73) bahwa “The opposite of anaphora is epistrophe which repeats words at the ends of clauses, lines or stanzas”.
Contoh :
23) Sweet Portia,
If you did know to I whom I gave the ring If you did know whom I gave the ring
And would conceive for what I gave the ring And how unwillingly I left the ring.
Pada contoh 23) terdapat dua jenis repetition yaitu anaphora dan epistrophe. Repetition kata the ring terdapat pada akhir kalimat yang diulang sebanyak tiga kali
termasuk jenis epistrophe. Berbeda dengan anaphora yang diulang diawal kalimat seperti pada klausa if you did know yang telah dijelaskan pada poin 2.4.2
2.4.3 Epistrophe
Jenis repetition Epistrohpe adalah kebalikan dari anaphora. Bila anaphora adalah repetition yang terjadi pada awal frasa, klausa, atau kalimat. Maka, epistrophe adalah jenis repetition yang terjadi di akhir frasa, klausa, atau kalimat. Seperti yang diungkapkan Preminger dan Brogan (1993: 73) bahwa “The opposite of anaphora is epistrophe which repeats words at the ends of clauses, lines or stanzas”
Menurut Duke (2004: 283) bahwa “In contrast to anaphora, epistrophe involves “like-sentence endings”. Each sentence in a series ends with the same word or phrase”. Dalam kutipan di atas menerangkan bahwa epistrophe adalah lawan dari anaphora, epistrophe adalah jenis repetition pada akhir kalimat.
Hunter (2006: 90) menyebutkan bahwa contoh yang dikenal sebagai epistrophe didefinisikan sebagai repetition kata yang sama pada akhir kalimat atau klausa yang berurutan. Oleh karena itu, kebalikan dari anaphora dimana awal kalimat adalah sama.
“The figure known as Epistrophe is defined as the repetition of the same word(s) at the end of successive sentences or clauses. Thus, it is opposite of Anaphora in which the beginning of sentences is the same”.
Hal serupa dijelaskan oleh Farnsworth (2010: 32) “Epistrophe sometimes also known as antistophe, the repetition of a word or phrase at the end of series of sentences or clauses”.
Contoh :
24) “For no government is better than the men who compose it, and I want the best, and we need the best, and we deserve the best,”
Contoh 24) merupakan jenis epistrophe karena frasa “the best” terdapat pada tiga kalimat berturut-turut pada akhir kalimat. Berbeda dengan anaphora, repetition yang terjadi pada awal kalimat. Dapat disimpulkan bahwa anaphora ialah repetition yang terjadi pada awal frasa, klausa atau kalimat sedangkan epistrophe ialah repetition yang terjadi di akhir frasa, klausa atau kalimat.
2.4.4 Isocolon
Farnsworth (2010: 74) menyebutkan bahwa isocolon adalah salah satu contoh retoris yang paling umum dan penting yaitu penggunaan kalimat berturut-turut, klausa, atau frasa yang sama panjang dan sejajar dan struktur. “Isocolon, one of the most common and important rhetorical figures, is the use of successive senteces, clauses, or phrases similar in length and parallel in structure.” (2010: 74)
Contoh :
25) “Come then : let us to the last, to the battle, to the toil—each to our part, each to our station. Fill the armies, rule the air, pour out the munitions, strangle the U-boats, sweep the mines, plow the land, build the ships, guard the streets, succor the wounded, uplift the downcast and honor the brave.”
Contoh 25) merupakan jenis Isocolon karena frasa “to the last, to the battle, to the toil” dan “fill the armies, rule the air, pour out the munitions, strangle the U-boats” dan seterusnya memiliki struktur yang sejajar yang diulang pada setiap frasanya. Pada data to the last, to the battle, to the toil terdapat kesamaan jumlah kata yaitu terdiri dari tiga buah kata yang menjadikan data tersebut adalah frasa. Frasa to the last, to the battle, to the toil memiliki kesamaan struktur yaitu terdiri dari preposisi dan frasa nomina. Tidak berbeda jauh dengan data tersebut, pada data Fill the armies, rule the air, pour out the munitions, strangle the U-boats … masing-masing memiliki tiga buah kata pula, namun sedikit berbeda dengan data sebelumnya, struktur pada data Fill the armies, rule the air, pour out the munitions, strangle the U-boats … yaitu terdiri dari ajektiva dan frasa nomina.
2.4.5 Ploche
Fahnestock (2011: 133) menyebutkan bahwa ploche melambangkan argumen yang didasarkan pada bentuk yang sama dari sebuah kata yang terus-menerus dalam sebuah argumen, hal tersebut terkadang digolongkan dengan contoh repetition yang ditentukan dimana kata atau frasa akan muncul kembali, misalnya:
26) “I know what‟s going on. I may be from Ohio, but I‟m not from Ohio.” Contoh 26) merupakan jenis ploche karena frasa “from Ohio” muncul pada kalimat kedua yang merupakan bentuk yang sama seperti repetition yang ditentukan dimana kata, frasa, atau klausa muncul kembali dengan makna yang berbeda, setelah adanya intervensi dari satu kata lainnya atau lebih.
2.4.6 Polyptoton
Menurut Avery (2001: 182) bahwa “Polyptoton is a repetition of the same word or root of the word with different grammatical functions or forms.” Ungkapan ini menunjukan bahwa polyptoton adalah repetition kata yang sama atau kata dasar dengan gramatikal yang berbeda fungsi atau bentuk.
Contoh :
27) “I dreamed a dream in times gone by, when hope was high, and life worth living”
Contoh 27) merupakan jenis polyptoton karena pada kalimat pertama, kata “dreamed” menggunakan akhiran –ed dan “dream” adalah kata dasarnya.
2.4.7 Polysyndeton
Baldick (2008: 199) mengungkapkan bahwa “Term for repeated use of conjunctions to link together a succession of words, clauses, or sentences.” Baldick mengungkapkan bahwa pengulangan polysyndeton digunakan untuk mengulang konjungsi yang menghubungkan urutan kata-kata, klausa, atau kalimat.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Farnsworth (2010: 128) bahwa “Polypsyndeton is the repeated use of conjunction.” Farnsworth Ward mengungkapkan bahwa polysyndeton ialah pengulangan penggunaan konjungsi.
Contoh :
28) A generation that uses their own creativity and talent and technologhy Contoh 28) adalah contoh polysyndeton karena adanya pengulangan konjungsi dalam satu kalimat. Konjungsi yang diulang ialah konjungsi and.