• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNSUR KOHESI GRAMATIKAL

2. Kohesi Leksikal

Dalam cerpen Jannatul Athfal karya Najib Mahfudz ditemukan data-data yang mengandung unsur kohesi leksikal, yang ditunjukkan dengan penggunaan kata, frasa, klausa dan kalimat yang mengandung piranti kohesi gramatikal berupa : Repetisi

(Perulangan Kata) atau Takriir ( ا), Sinonim (Persamaan Kata) atau Taraduf

(ف ا ا), Hiponim (Relasi Kata) atau Syamiil ( م ش ا), Meronim (Bagian Kata) atau

Juz (ء ج ا) dan Antonim (Perlawanan Kata) atau Tadhad ( ض ) dalam data berikut : ا

a) Repetisi (Perulangan Kata) atau at-Takriir ( ا)

Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian

kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam wacana cerpen ditemukan 21 (delapan belas) kata dan frasa yang mengalami repetisi. Berikut uraian mengenai repetisi dalam wacana cerpen tersebut: (244) "Baba (Ayah)..." (S.1)

Dalam (S.1) diatas, kata Ayah mengalami repetisi dalam data berikiut ini : "Kenapa ayah?" (S.10)

"Kenapa begitu ayah?" (S.14) "Saya sudah besar, ayah." (S.16)

"Ayah muslim, Ibu muslim. Oleh karena itu kamu juga muslim." (S.20) "Tidak, ayah." (S.36)

"Apa bedanya, ayah?" (S.45)

"Apa artinya pencipta, ayah?" (S.55) "Bagaimana, ayah?" (S.57)

"Dan bagaimana nabi kita bisa tahu, ayah?" (S.78) "Kenapa demikian, ayah?" (S.82)

"Kenapa demikian, ayah?" (S.84) "Seperti ayah?" (S.89)

Repetisi dalam data-data tersebut dapat terjadi berulang-ulang karena kata “Ayah” merupakan orang tua dari tokoh utama dalam cerita. Panggilan ini dimaksudkan sebagai tindakan persuasif oleh “saya” sebagai salah satu cara untuk mendapatkan respon yang kooperatif dan informasi dari “Ayah” mengenai agama Nadia dan agama yang dianutnya sendiri sebagai seorang muslim dalam cerita tersebut.

(245) "Saya dan teman saya, Nadia, selalu bersama-sama." (S.3)

Dalam (S.3) diatas, kata Saya mengalami repetisi dalam data-data berikut ini : "Tetapi dalam pelajaran agama, saya masuk ke kelas saya dan ia masuk ke kelas yang lain." (S.7)

"Saya sudah besar, ayah." (S.16)

Kata “saya” pada beberapa data tersebut untuk menekankan pada pembaca mengenai pentingnya peran dari tokoh utama dengan karakternya yang kritis dan serba ingin tahu dalam cerita yaitu “Saya” dan efek karakter dari tokoh utama inilah yang menjadi inti permasalahan dalam cerpen pendek.

(246) "Karena kamu muslim dan dia kristiani." (S.13)

Dalam (S.13) diatas, kata muslim mengalami repetisi dalam data berikut ini : "Kenapa saya muslim?" (S.18)

"Ayah muslim, Ibu muslim. Oleh karena itu kamu juga muslim." (S.20)

"Baiklah. Kamu tahu mode, ada yang menyukainya dan ada pula yang sangat membanggakannya. Kamu muslim dan itu mode mutakhir. Oleh karena itu sebaiknya kamu tetap sebagai muslim..." (S.37)

"Setiap agama itu baik, muslim menyembah Allah dan kristiani pun menyembah Allah." (S.42).

Repetisi untuk kata “muslim” tersebut merupakan pengulangan dari beberapa data

karena “muslim” adalah penjelasan mengenai umat islam yang dianut tokoh “saya”. Data menekankan bahwa “muslim” sebagai salah satu umat yang diperbincangkan dalam segala aktivitas dan karakternya.

(247) "Karena kamu muslim dan dia kristiani." (S.13)

"Ayahnya Kristen, Ibunya Kristen. Oleh karena itu Dia juga Kristen?" (S.22) "Tidak, tidak ada kekeliruan dalam hal itu. Tetapi karena kakeknya Nadiya juga Kristiani." (S.24)

"Islam baik. Kristen juga baik." (S.28)

"Apakah perbuatan orang kristiani juga abadi bersama kita?" (S.31)

"Setiap agama itu baik, muslim menyembah Allah dan kristiani pun menyembah Allah." (S.42).

Repetisi untuk kata “kristen” merupakan pengulangan atas pengertian agama yang

diperbandingkan dengan agama islam.

(248) "Setiap agama itu baik, muslim menyembah Allah dan kristiani pun menyembah Allah." (S.42)

Dalam (S.42) diatas, kata Menyembah Allah mengalami repetisi dalam data ini : "Kenapa ia menyembah-Nya di ruangan tertentu dan saya menyembah-Nya di ruangan lain?" (S.43)

"Di sini kita menyembah Allah dengan satu cara dan di sana ia menyembah Allah dengan cara yang berbeda." (S.44)

"Tahun depan atau sebentar lagi kamu pasti tahu. Sekarang kamu sudah tahu bahwa muslim menyembah Allah dan kristiani juga menyembah Allah." (S.46).

Repetisi untuk kata “menyembah Allah” merupakan pengulangan kata yang

memberikan penekanan kepada makna cara penyembahan umat beragama. (249) "Dia pencipta seluruh alam." (S.52)

Dalam (S.53) diatas, kata seluruhnya mengalami repetisi dalam data : "Seluruhnya." (S.53).

"Seluruhnya?" (S.54)

Repetisii untuk kata “seluruhya” merupakan kata yang diulang untuk lebih

menjelaskan dan menekankan lagi bahwa benar Allah adalah pencipta alam semesta. (250) "Para Nabi." (S.75)

Dalam (S.75) diatas, kata seluruhnya mengalami repetisi dalam data : "Para Nabi?" (S.76)

Dalam (S.75) diatas, kata para nabi mengalami repetisi dalam data (S.76). Kata “ para nabi” tersebut merupakan kata yang diulang untuk memberikan efek kejelasan bahwa para nabi yang mengetahui dimana keberadaan Allah.

(251) "Tetapi Nadiya berkata pada saya bahwa Tuhan-nya hidup di bumi." (S.95) Dalam (S.95) diatas, kata “Tuhan” mengalami repetisi dalam data :

"Karena Tuhan melihat segalanya, maka Dia terlihat seperti hidup di mana mana!" (S.96)

Repetisi untuk kata “Tuhan” merupakan pengulangan kata dari hal yang

membicarakan Tuhannya Nadia (kristiani).

(252) "Kalau begitu kakek saya juga masih hidup?" (S.101)

Dalam (S.101) diatas, kata Kakek mengalami repetisi dalam data berikut ini : "Kakek sudah mati." (S.102)

"Kenapa kakek mati?" (S.110)

Repetisi untuk kata “kakek” merupakan pengulangan kata yang memberikan

penekanan bahwa kakeknya tokoh utama berperan pada pernyataan dalam cerita . (253) "Kita mati bila Allah sudah menghendaki" (S.114)

Dalam (S.114) diatas, kata Allah mengalami repetisi dalam data-data berikut ini : "Saya ingin melihat-Nya." (S.66)

"Kenapa Allah menginginkan kita mati?" (S.115)

"Kenapa Allah menginginkan sesuatu yang tidak menyenangkan?" (S.119) "Mati itu menyenangkan jika Allah menghendakinya untuk kita." (S.120) "Karena Allah belum menghendaki." (S.124)

"Lalu, kapan Allah menginginkannya?" (S.125). "Saya ingin selalu bersama Nadiya selamanya."

Repetisi untuk kata “Allah” merupakan kata yang diulang untuk memberikan

penekanan bahwa perannya sentral dalam agama islam yang dianut oleh si tokoh utama. Allah menjadi fokus utama yang ingin diketahui tokoh utama dalam cerita. (254) "Kenapa Allah menginginkan sesuatu yang tidak menyenangkan?" (S.119) Dalam (S.119) diatas, kata menyenangkan mengalami repetisi dalam data ini :

"Mati itu menyenangkan jika Allah menghendakinya untuk kita." (S.121) "Tetapi ayah tadi mengatakan bahwa mati itu tidak menyenangkan." (S.121).

Repetisi untuk kata “menyenangkan” merupakan pengulangan kata yang digunakan

untuk lebih menjelaskan dan meyakinkan bahwa yang dimaksud “menyenangkan” ialah yang sesuai dengan konteks acuannya masing-masing.

(255) "Sakit karena kakek sudah tua." (S.111).

Dalam (S.111) diatas, kata sudah tua mengalami repetisi dalam data ini : "Ayah sudah sakit dan ayah juga sudah tua, kenapa ayah belum mati?" (S.112)

Repetisi untuk kata “sudah tua” merupakan kata yang diulang untuk memberikan penjelasan bahwa kata tersebut berpengaruh khususnya bagi kakek dan ayah.

(256) "Dia hidup tak pernah mati." (S.98)

Dalam (S.98) diatas, kata mati mengalami repetisi dalam data-data berikut ini :

"Tidak, anakku. Mereka hanya mengira bahwa mereka telah membunuh-Nya. Padahal Dia hidup, tidak mati." (S.100)

Repetisi untuk kata “mati” merupakan pengertian ulang akan satu hal yang dapat terjadi jika Allah telah menghendakinya.

(257) "Kakek sudah mati." (S.102)

Dalam (S.102) diatas, kata mati mengalami repetisi dalam data ini : "Tidak, kakek mati dengan sendirinya." (S.104)

"Sakit, kemudian mati." (S.106)

"Tidak, anakku. Mereka hanya mengira bahwa mereka telah membunuh-Nya.

Repetisi untuk kata “ membunuh-Nya” merupakan pengulangan kata yang memberi

keterangan dari suatu keadaan yang dialami oleh Tuhannya nadia dalam cerita. (258) " Kita mati bila Allah sudah menghendaki" (S.114)

Dalam (S.114) diatas, kata kenapa ayah mengalami repetisi dalam data ini : "Kenapa Allah menginginkan kita mati?" (S.115)

Repetisi untuk kata “ mati” merupakan pengulangan kata yang memberi keterangan dari suatu keadaan yang dialami oleh tokoh dalam cerita.

Dalam (S.99) diatas, kata membunuh-Nya mengalami repetisi dalam data ini : "Tidak, anakku. Mereka hanya mengira bahwa mereka telah membunuh-Nya. Padahal Dia hidup, tidak mati." (S.100)

"Apakah orang-orang telah membunuhnya." (S.103) (260) "Kenapa ayah?" (S.10)

Dalam (S.10) diatas, kata kenapa mengalami repetisi dalam data ini : "Kenapa begitu ayah?" (S.14)

"Kenapa saya muslim?" (S.18) "Kalau begitu kenapa?" (S.33)

"Kenapa ia menyembah-Nya di ruangan tertentu dan saya menyembah-Nya di ruangan lain?" (S.43)

"Apakah tidak ada yang pernah melihatnya?" (S.70) "Kenapa demikian, ayah?" (S.82)

"Kenapa demikian, ayah?"(S.84) "Dan kenapa la hidup di atas?" (S.92) "Kenapa kakek mati?" (S.110)

"Ayah sudah sakit dan ayah juga sudah tua, kenapa ayah belum mati?" (S.112) "Kenapa Allah menginginkan kita mati?" (S.115)

"Kenapa Allah menginginkan sesuatu yang tidak menyenangkan?" (S.119) "Kenapa ibu memelototi saya waktu saya berkata ayah akan mati?"(S.123) "Kenapa tidak sekarang, ayah!" (S.127)

"Kenapa kita tidak di sini saja?" (S.129)

Repetisi untuk kata “kenapa ayah” merupakan pengulangan kata yang memberikan penekanan pada beberapa pertanyaan yang diajukan tokoh utama.

(261) "Ya." (S.136)

Dalam (S.136) diatas, kata ya mengalami repetisi dalam data (S.138) dan (S.144). Kata “ya” merupakan pengulangan kata dari beberapa jawaban yang positif.

(262) "Tidak mungkin." (S.67)

"Itu juga tidak mungkin." (S.69)

Repetisi untuk kata “tidak mungkin” merupakan pengulangan kata yang memberikan penekanan pada beberapa pertanyaan yang diajukan tokoh utama dalam cerpen. (263) "Tidakkah lebih baik kamu menunggu besar?" (S.35)

Dalam (S.35) diatas, kata tidak mengalami repetisi dalam data-data berikut ini : "Tidak, tidak ada kekeliruan dalam hal itu. Tetapi karena kakeknya Nadiya juga Kristiani." (S.24)

"Tidak, ayah." (S.36)

"Dia hidup tak pernah mati." (S.98) "Tidak, anakku. ..." (S.100)

Repetisi untuk kata “tidak” merupakan pengulangan kata yang memberikan

pengertian negatif untuk penolakan pernyataan sebelumnya dalam cerita.

(264) "Tidak, tidak ada kekeliruan dalam hal itu. Tetapi karena kakeknya Nadiya juga Kristiani." (S.24)

Dalam (S.24) diatas, kata tidak mengalami repetisi dalam data-data berikut ini : "Tidak, anakku. Itu tidak mungkin..." (S.32)

"Tidak pernah." (S.71)

"Tidak, anakku. Mereka hanya mengira bahwa mereka telah membunuh-Nya. Padahal Dia hidup, tidak mati." (S.100)

"Tidak, kakek mati dengan sendirinya." (S.104) "Tidak, dia akan sembuh. Insya Allah" (S.109) "Tidak, sayang" (S.118)

Repetisi untuk kata “tidak” merupakan pengulangan kata yang memberikan

pengertian negatif untuk penolakan pernyataan sebelumnya dalam cerita. (265) "Tetapi kita kan belum mengerjakan yang terbaik di sini." (S.142)

Dalam (S.142) diatas, kata mengerjakan mengalami repetisi dalam data berikut ini : "Apakah kakek sudah mengerjakannya?" (S.143)

"Apa yang dikerjakannya?"(S.145)

Repetisi untuk pengulangan kata “mengerjakan” dan “dikerjakannya” adalah penekanan kata kerja yang dilakukan oleh subjek yang sifatnya bermanfaat.

(266) "Semoga Allah segera memisahkanmu dari Nadiya" gumamnya. Sebenarnya ini tidak baik, hal itu karena kekhawatirannya. Dia melahap leher ayam itu tanpa rasa kasihan. Dan berkata. (S.39)

Dalam (S.39) diatas, kata “Allah” mengalami repetisi dalam data berikut ini : "Setiap agama itu baik, muslim menyembah Allah dan kristiani pun menyembah Allah." (S.42)

"Tahun depan atau sebentar lagi kamu pasti tahu. Sekarang kamu sudah tahu bahwa muslim menyembah Allah dan kristiani juga menyembah Allah." (S.46)

“Dan Siapa Allah itu Ayah ?” (S.47)

"Ustad membacakan sebuah surah Al Quran, mengajari kami salat dan kami tidak mengerti siapa Allah itu, ayah?" (S.50)

“Setiap agama itu baik, muslim menyembah Allah dan kristiani pun menyembah Allah. (S.61)

"Allah menciptakannya demikian." (S.83) "Tidak, dia akan sembuh. Insya Allah" (S.109) "Kita mati bila Allah sudah menghendaki" (S.114) "Kenapa Allah menginginkan kita mati?" (S.115)

"Kenapa Allah menginginkan sesuatu yang tidak menyenangkan?" (S.119) "Mati itu menyenangkan jika Allah menghendakinya untuk kita." (S.120) "Karena Allah belum menghendaki." (S.124)

"Bersama Allah?" (S.135)

"Kecuali bila Allah menghendaki." (S.153)

"Setiap orang pasti akan mati. Yang berbuat baik akan pergi bersama Allah dan yang berbuat jahat akan pergi ke neraka." (S.155)

Repetisi untuk kata “Allah” merupakan pengulangan kata yang memberikan

pengertian untuk penekanan dan pengenalan tokoh yang sangat penting dalam cerpen. Allah menciptakan dunia dengan segala sifatnya yang mulia. Dia Tuhannya umat

islam yaitu agama yang diyakini oleh tokoh utama dan keluarga besarnya dalam cerpen. Dialah yang memiliki dunia seluas langit dan bumi dan hal ini menjadi pembahasan yang sangat penting dalam cerpen jannatul athfal karya najib mahfuzh.

b) Sinonim (Persamaan Kata) atau al-muraadif (فا ا)

Sinonim atau sinonim dekat (Synonym or near-synonym). Relasi makna yang berupa

sinonim dan sinonim dekat ini ada yang merupakan sinonim penuh dan ada juga yang merupakan sinonim sebagian. Sinonim penuh dalam konteks analisis wacana artinya dua kata/frasa atau lebih dalam wacana yang memiliki makna sama atau hampir sama, dan juga memiliki relasi kohesif. Memiliki relasi kohesif artinya merujuk pada satu unsur acuan yang sama. Sedangkan sinonim sebagian artinya dua kata/frasa atau lebih dalam wacana yang memiliki makna sama atau hampir sama, akan tetapi tidak memiliki relasi kohesif atau tidak merujuk pada satu unsur acuan yang sama (unsur acuannya berbeda). Pada wacana cerpen ini terdapat 2 (dua) pasang kata dan frasa yang bersinonim. Berikut uraian mengenai sinonim dalam wacana cerpen berikut ini : (267) "Kenapa Allah menginginkan sesuatu yang tidak menyenangkan?" (S.119)

"Mati itu menyenangkan jika Allah menghendakinya untuk kita." (S.120) Dalam (S.002) dan (S.021) diatas, kata “ menyenangkan dan menghendakinya”, kedua kata ini memiliki makna yang sama, dan juga merujuk pada hal yang sama yaitu sesuatu hal yang diharapkan Allah akan terjadi sesuai dengan ketentuanNya. (268) "Karena Allah belum menghendaki." (S.124)

"Lalu, kapan Allah menginginkannya?" (S.125)

Dalam (S.022) dan (S.021) diatas, kata “ menghendakinya dan menginginkannya”, kedua kata ini memiliki makna yang sama dan juga merujuk pada hal yang sama yaitu sesuatu hal yang diharapkan Allah akan terjadi kepada hambanya.

c) Hiponim (Relasi Kata) atau asy-Syamiil ( م ) شا

Hiponim merupakan satuan bahasa (kata, frasa, kalimat) yang 70maknanya dianggap

yang mencakupi beberapa unsur atau satuan lingual yang berhiponim itu disebut „hipernim‟ atau „superordinat‟. Hubungan antar unsur bawahan atau antar kata yang menjadi anggota hiponimi disebut „kohiponim‟. Dalam wacana cerpen ditemukan 2 (dua) kelompok kata dan frasa yang memiliki relasi leksikal berupa hiponim. Berikut uraian mengenai hiponim dalam wacana cerpen tersebut.

(269) "Di kelas, di lapangan dan ketika makan..." (S.5)

Dalam (S.1) diatas, kata “ di kelas, di lapangan”, kedua kata ini memiliki pengertian bawahan dari “sekolah”. Kelas dan lapangan terdapat dalam sebuah sekolah yaitu tempat “saya” dan “nadia” belajar.

(270) Dia harus bersabar, harus hati-hati, dan tidak bo-leh menyembunyikan pelajaran yang sangat baru bagi anaknya itu. Dia berkata, (S.19)

Dalam (S.19) diatas, kata “bersabar dan berhati-hati”, kedua hal tersebut merupakan

pengertian bawahan dari sifat “rendah hati”, perbuatan baik itu diwajibkan dalam diri seorang ayah yang memiliki anak super kritis dan serba ingin tahu seperti tokoh utama “saya” agar dapat membimbingnya dalam pola pikirnya sebagai anak-anak.

d) Meronim (Bagian Kata) atau al-Juzun(ء ج ا)

Meronim adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan hubungan

bagian-keseluruhan (part to whole) antar unsur leksikal. Dalam wacana cerpen idak ditemukan hubungan kohesi leksikal meronimi.

e) Antonim (Perlawanan Kata) atau at-Tadhaad ( ض ) ا

Antonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain; atau

satuan lingual yang maknanya berlawanan/beroposisi dengan satuan lingual lain. Dalam wacana cerpen terdapat kohesi leksikal jenis antonimi dalam 6 data. Pasangan-pasangan kata dan frasa yang memiliki relasi semantik berupa antonim berikut ini : (271) "Karena kamu muslim dan dia kristiani." (S.13)

Dalam (S.13) diatas, kata “ muslim dan kristiani”, kedua kata ini merupakan kata yang berlawanan arti. Muslim adalah sebutan bagi umat yang menganut agama islam

sedangkan Kristiani adalah sebutan umat bagi agama Kristen. Kedua agama tersebut hidup berdampingan dengan aktivitas dan karakternya masing-masing.

(272) "Saya sudah besar, ayah." (S.16) "Kamu masih kecil, anakku." (S.17)

Dalam (S.06) dan (S.01) diatas, kata “ sudah besar dan masih kecil”, kedua kata ini merupakan kata yang memiliki arti yang berlawanan secara urutan waktupun dapat terlihat sangat berbeda. Masih kecil adalah kondisi tokoh “saya” sekarang sedangkan sudah besar itu syarat “saya” yang diharapkan ayahnya untuk dapat memahami hal-hal penting mengenai kepercayaan agamanya.

(273) "Apakah saya harus berkata pada Nadiya bahwa modenya adalah mode yang sudah usang sementara mode saya adalah mode yang mutakhir?" Dia cepat memotong. (S.41)

Dalam (S.41) diatas, kata “ mode yang sudah usang dan mode yang mutakhir”, kedua

hal ini memiliki perlawanan arti yang mengaju pada kondisi/keadaan suatu hal yang urgen bagi kedua agama yang dianut.

(274) "Setiap orang pasti akan mati. Yang berbuat baik akan pergi bersama Allah dan yang berbuat jahat akan pergi ke neraka." (S.155)

Dalam (S.155) diatas, kata “ yang berbuat baik pergi bersama Allah dan yang berbuat

jahat akan pergi ke neraka”, kedua hal sangat kontras karena berlawanan makna. Kedua kata menjelaskan sifat dari perbuatan masing-masing.

(275) Anak itu agak tenang kemudian terdiam. Dia merasakan kegalauan dalam dirinya, entah berapa yang benar dan entah berapa yang salah dari jawabannya itu...(S.156)

Dalam (S.156) kata “berapa yang benar dan berapa yang salah”, kedua kata

berlawanan secara makna substansinya.

(292) Dia menoleh ke arah istrinya, ingin tahu apakah yang dikatakan itu serius ataukah hanya sebuah ejekan...(S.164)

Dalam (S.164) diatas, kata “serius dan ejekan”, kedua kata berlawanan makna dari segi sifatnya. Keduanya memiliki hubungan kohesi leksikal berupa antonim.

Dari hasil analisis data, dalam cerpen Jannatul Athfal Karya Najib Mahfudz ditemukan kohesi leksikal sebanyak 33 buah yang terdiri dari repetisi sebanyak 23 buah, sinonim sebanyak 2 buah, hiponim sebanyak 2 buah, tidak terdapat meronim dan antonim sebanyak 6 buah. Apabila dipresentasikan maka dalam kohesi leksikal terdapat sebanyak 23 % repetisi, 6 % sinonim, 6 % hiponim dan 18 % antonim. Adapun, kita dapat mengetahuinya dengan tabel dan diagram sebagai berikut :