BAB IV HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Kolokasi
Salah satu jenis makna yang dibahas dalam semantik adalah makna kolokasi. Makna kolokasi adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama Leech dalam Pateda (2010:110). Kata-kata seperti garam, gula, ikan, sayur, terong, tomat, kata-kata ini berhubungan dengan lingkungan dapur. Sementara, kata-kata seperti gergaji, gurdi, ketam, pahat, prang, tukul, berhubungan dengan lingkungan tukang kayu. Kalau seseorang menyebut kata-kata daftar gaji, kertas, lem, tinta stensil, maka bayangan kita adalah kantor atau sekolah. Selain itu, ada juga yang sama maknanya tetapi tidak cocok untuk lingkungan tertentu. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat kata berpulang ke Rahmatullah, kembali ke alam baka, mampus, mati, meninggal, tewas, wafat yang pemakainnya tidak cocok utuk semua manusia. Palmer dalam Mansoer(2010:110) menyebutkan ada tiga keterbatasan kata jika dihubungkan dengan makna kolokasi yaitu :
a. Makna dibatasi oleh unsur yang membentuk kata atau urutan kata, misalnya urutan kata sapi belang yang pembatasnya adalah kata belang, sebab yang namanya sapi di dunia ini banyak, tetapi yang dimaksud hanya sapibelang dan
kalau seseorang berkata “sapi belang itu,” maka yang dimaksud lebih terbatas lagi.
b. Makna kolokasi dibatasi oleh tingkat kecocokan kata, misalnya kata cantik hanya dapat digunakan untuk gadis, dan tidak digunakan untuk pemuda serta kata wafat dahulu hanya digunakan untuk pejabat, kini digunakan pula untuk orang yang dihormati sedangkan kata wafat tidak cocok digunakan untuk pencuri.
c. Makna kolokasi dibatasi oleh ketepatan, misalnya sudut siku-siku pasti 90 derajat.
Menurut Aminuddin (2011:110) makna kolokasi adalah asosiasi hubungan makna kata yang satu dengan yang lain yang masing-masingnya memiliki hubungan ciri yang relatif tetap. Kata pandangan berhubungan dengan mata, bibir, dengan senyum, serta kata menyalak memiliki hubungan dengan anjing. Pada dasarnya mengabstrasikan ciri hubungan makna kata yang satu dengan lainnya, pada dasarnya juga tidak sederhana. Kata anjing, misalnya memiliki hubungan dengan kata binatang, bentuk, umpatan, menggigit, dan sebagainya. Begitu pula kata bibir, dalam perluasannya tidak hanya mengacu pada organ fisis manusia, tetapi juga mengacu pada tepi jurang, rayuan, pembicaraan maupun mulut botol sehingga asosiasi hubungan kesejajaran ciri maknanya dengan makna dalam kata yang lain menjadi rumit.
Menurut Chaer (2013:112) kolokasi berasal dari bahasa Latin colloco yang memiliki arti ada di tempat yang sama dengan menunjuk kepada hubungan sintagmatik yang terjadi antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal. Misalnya, pada kalimat Tiang layar perahu nelayan itu patah dihantam badai, lalu perahu itu
digulung ombak, dan tenggelam beserta isinya, terdapat kata-kata layar, perahu, nelayan, badai, ombak, dan tenggelam yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi satu tempat atau lingkungan. Jadi, kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada bersama dalam satu tempat atau satu lingkungan. Kata-kata layar, perahu, badai, ombak, dan tenggelam merupakan berada dalam satu lingkungan, yaitu dalam pembicaraan mengenai laut. Contoh lain, kata-kata lahar, lereng, puncak, curam, dan lembah berada dalam lingkungan mengenai pegunungan. Kata-kata garam, gula, kunyit, lada, daging, sayur, dan bumbu berkolokasi dalam pembicaraan tentang dapur. Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kolokasi merupakan penggunaan beberapa kata dalam lingkungan yang sama serta memiliki arti pada tempat yang sama dengan menunjuk hubungan secara sintagmatik antar kata dan unsur leksikal.
D. Hiponim
Menurut Verhaar (2001:396) hiponim merupakan hubungan antara yang lebih kecil (secara ekstensional) dan yang lebih besar (secara ekstensional juga). Ungkapan biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain. Dapat dijadikan contoh misalnya kata tongkol adalah hiponim terhadap ikan sebab makna tongkol berada atau termasuk dalam makna kata ikan. Tongkol memang ikan tetapi ikan bukan hanya tongkol melainkan juga termasuk bandeng, tenggiri, hiu, paus, teri dan sebagainya. Kalau diskemakan menjadi :
Ikan
Relasi antara dua buah kata yang besinonim, berantonim, dan berhomonim bersifat dua arah maka relasi antara dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah. Jadi, kata tongkol berhiponim terhadap kata ikan, tetapi kata ikan tidak berhiponim terhadap kata tongkol, sebab makna ikan meliputi seluruh jenis ikan. Dalam hal ini relasi antara ikan dengantongkol (atau jenis ikan lainnya) disebut hipernimi. Kesimpulannya, kalau tongkol berhiponim terhadap ikan, maka ikan berhipernim terhadap tongkol.
Chaer (2013:100) menjelaskan bahwa konsep hiponim dan hipernim mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial berada di atasnya. Umpamanya kata ikan yang merupakan hipernimi terhadap kata tongkol, bandeng, tenggiri, hiu, paus, dan teri akan menjadi hiponimi terhadap kata binatang karena yang termasuk binatang bukan hanya ikan, tetapi juga kucing, monyet, singa, dan sebagainya. Menurut Depdiknas (2012:99) hiponim adalah bentuk yang maknanya terangkum dalam hipernim, atau subordinatnya, atau superordinatnya, yang mempunyai makna yang lebih luas. Kata mawar, melati, cempaka, misalny, masing-masing disebut hiponim terhadap bunga yang menjadi hipernim atau superordinatnya. Di dalam terjemahan, hipernim atau superordinat pada umumnya tidak disalin dengan salah satu hiponimnya, kecuali jika dalam bahasa Indonesia tidak terdapat istilah superordinatnya.
Menurut Djajasudarma (2008:48) hiponim yaitu hubungan makna yang mengandung pengertian hierarki. Hubungan hiponim dekat dengan sinonim, karena sebuah kata yang memiliki semua komponen makna kata lainnya, tetapi tidak
sebaliknya maka perhubungan itu disebut hiponim. Kata warna meliputi semua warna, dapat dikatakan sebagai superordinat dari hijau, merah, kuning, dan biru. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hiponim merupakan ungkapan yang maknanya dianggap bagian dari makna suatu ungkapan lain yang relasinya bersifat searah, serta kata yang berada di bawah makna kata lain. Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan hiponim merupakan hubungan makna yang bersifat atas bawah dan terdapat sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya.
E. Iklan
Menurut Klepper dalam Mulyana (2005:63) iklan disejajarkan dengan konsep advertising. Kata advertising sendiri berasal dari bahasa Latin ad-vere yang berarti menyampaikan pikiran dan gagasan kepada pihak lain. Sementara Wahyudi dalam Mulyana(2005:63) menyatakan bahwa advetrtising adalah setiap penyampaian informasi tentang barang atau jasa dengan menggunakan media non-personal yang dibayar. Menurut Mulyana (2005:64) iklan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yang pertama iklan perniagaan dan iklan pemberitahuan. Sementara menurut Kasali dalam Mulyana(2005:64) iklan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : iklan baris, iklan display, dan iklan suplemen. Iklan baris berisi pesan-pesan komersial yang berhubungan dengan kebutuhan pihak pengiklan, misalnya lowongan pekerjaan, kehilangan, jual-beli kendaraan bermotor, dan sebagainya. Iklan display lebih bervariasi, dan biasanya memiliki jangkauan yang lebih luas. Iklan suplemen menyajikan informasi persuasif yang dikemas secara lebih formal. Berdasarkan
pembagian iklan di atas dapat disimpulkan bahwa iklan merupakan penyampaian pikiran, informasi, dan gagasan tentang barang atau jasa kepada pihak lain.
F. Implikasi Kolokasi dan Hiponim dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA
Menurut Arifin (2013:1) kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Pada dasarnya kurikulum bersifat dinamis, artinya kurikulum dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman baik dari ilmu pengetahuan, kecerdasan peserta didik, kultur, sistem nilai, serta kebutuhan masyarakat. Kurikulum pada hakikatnya ilmu tentang tentang proses mencerdaskan anak bangsa, serta untuk mencapai tujuan pendidikan. Implikasi kurikulum tentunya tidak hanya terdiri dari atas sejumlah mata pelajaran, kegiatan dan pengalaman belajar di dalam sekolah, tetapi meliputi semua kegiatan belajar mengajar yang terjadi di luar sekolah atas tanggung jawab sekolah..Kegiatan belajar di sekolah meliputi menyimak, bertanya, diskusi, melakukan demonstrasi, belajar di perpustakaan, melakukan eksperimen di laboratorium, olahraga, kesenian, dan lain-lain. Implikasi pembelajaran Bahasa Indonesia tentunya dilakukan pembelajaran di dalam sekolah, karena berhubungan dengan kegiatan menyimak, menulis, bertanya, diskusi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kegiatan menyimak, menulis, bertanya dan diskusi pada pembelajaran Bahasa Indonesia diimplikasikan melalui media iklan “Otomotif” yang kemudian dikembangkan menjadi paragraf eksposisi sesuai dengan KI dan KD pada Kurikulum 2013. Hamalik (2008:3) menyebutkan bahwa kurikulum
dapat dipandang dari dua sisi yang berbeda, yaitu menurut pandangan lama dan pandangan baru.
1. Pandangan Lama (Tradisional)
Pandangan lama, atau sering disebut pandangan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah. Menurut Hamalik (2008: 3) pengertian tersebut mempunyai implikasi sebagai berikut:
a. Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran. Mata pelajaran sendiri pada hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang di masa lampau. Berbagai pengalaman tersebut dipilih, dianalisis, serta disusun secara sistematis dan logis, sehingga muncul mata pelajaran seperti sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat, dan sebagainya.
b. Mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga penyampaian mata pelajaran pada siswa akan membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berpikir.
c. Mata pelajaran menggambarkan kebudayaan masa lampau memperoleh ijazah. d. Adanya aspek keharusan bagi setiap siswa untuk mempelajari mata pelajaran
yang sama.
e. Sistem penyampaian yang digunakan oleh guru adalah sistem penuangan (imposisi).
f. Tujuan mempelajari mata pelajaran adalah untuk memperoleh ijazah.
2. Pandangan Baru (Modern)
Dalam Pandangan baru (modern) menurut Romine dalam Hamalik, (2008:4) kurikulum diartikan semua program yang diselenggarakan, kegiatan, dan pengalaman yang siswa miliki di bawah arahan sekolah, baik di kelas atau tidak. Dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Tafsiran tentang kurikulum bersifat luas karena kurikulum bukan hanya terdiri atas mata pelajaran, tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah.
b. Adanya kegiatan di luar kelas (ekstrakurikuler) sudah tercakup dalam pengertian kurikulum. Oleh karena itu, tidak ada pemisahan antara intra dan ekstra kurikulum.
c. Pelaksanaan kurikulum tidak hanya dibatasi pada keempat dinding kelas saja, melainkan dilaksanakan baik di dalam maupun di luar kelas, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
d. Sistem penyampaian yang dipergunakan oleh guru disesuaikan dengan kegiatan atau pengalaman yang akan disampaikan. Oleh karena itu, guru harus mengadakan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang bervariasi sesuai dengan kondisi siswa. e. Tujuan pendidikan bukanlah untuk menyampaikan mata pelajaran atau bidang
pengetahuan yang tersusun, melainkan pembentukan anak dan belajar cara hidup di dalam masyarakat.
Pembelajaran di sekolah saat ini tentunya sudah menggunakan pembelajaran yang baru (modern) yaitu kurikulum 2013 yang baru diterapkan oleh pemerintah untuk mengantikan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jika dilihat dari Kurikulum 2013 di SMA, kurikulum yang ada tentunya bertujuan untuk melatih sekolah lebih mandiri dan kreatif dalam mengembangkan pembelajaran yang akan di implikasikan
ke dalam proses kegiatan belajar mengajar. Selain itu pembelajaran di SMA juga harus mengutamakan siswa untuk aktif dan berpikir kritis terhadap sesuatu yang ada dalam lingkungan pendidikan pada khususnya dan masyarakat (sosial) pada umumnya. Menurut Herbart dalam Hamalik (2008: 25) pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian pengetahuan, yang dilaksanakan dengan menggunakan metode imposisi, dengan cara menuangkan pengetahuan kepada siswa.
Penggunaan pembelajaran tentunya membuat sebuah rancangan yang akan digunakan pada kegiatan pembelajaran seperti silabus, satuan pembelajaran, atau rencana pembelajaran. Pengembangan silabus dalan kurikulum 2013 dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum, baik ditingkat pusat maupun wilayah. Progam pembelajaran kurikulum 2013 pada tingkatan sekolah hanya menyusun dan mengembangkan rencana pembelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA harus sesuai dengan silabus yang sudah disusun, hanya penyampaian pembelajaran yang diubah yaitu data maupun materi yang sesuai pada tiap-tiap karakteristik tiap kelas. Pembelajaran Bahasa Indonesia dibagi mejadi dua yaitu keterampilan berbahasa dan pengetahuan tentang bahasa.
Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yang harus menguasai keterampilan berbahasa dan pengetahuan tentang bahasa, tentunya dapat diterapkan melalui media surat kabar sebagai media informasi yang kaitannya dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA yaitu pada silabus SMA kelas X semester 1, dengan Kompetensi Inti : 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya, 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli ( toleransi, gotong royong ), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan jangkauan pergaulan dan keberadaannya, 3.
Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya, tentang ilmu pengetahuan, teknologi seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata, 4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret ( menggunakan, mengurai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang atau teori. Kompetensi Dasar : 1.1 Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam mengolah, menalar, dan menyajikan informasi lisan dan tulis melalui eksposisi, 1.2 Memproduksi eksposisi baik melalui lisan maupun tulisan
Dalam pembelajaran menulis paragraf sesuai dengan gagasan dan sistematis paragraf eksposisi, tentunya siswa dituntut untuk mengembangkan paragraf yang objeknya berasal dari berbagai sumber, antara lain iklan penjualan mobil pada surat kabar. Dalam hal ini iklan “Otomotif” tidak hanya bermanfaat untuk mengembangkan paragraf, tetapi juga dapat menambah pengetahuan siswa tentang penggunaan bahasa dalam surat kabar serta dapat menambah pengetahuan tentang kolokasi dan hiponim karena secara tidak langsung di dalam iklan penjualan terdapat makna kolokasi dan hiponim. Iklan “Otomotif” yang digunakan sebagai media pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting, karena di dalam iklan tersebut siswa dapat mengambil cara penulisan dalam iklan. Kata yang terdapat di dalam iklan banyak terdapat singkatan-singkatan yang mungkin belum bisa dipahami siswa, oleh karena itu selain digunakan sebagai media pembelajaran guru diharuskan untuk menjelaskan singkatan-singkatan yang terdapat pada iklan “Otomotif”.
3. Iklan “Otomotif”
Iklan merupakan pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang/jasa yang dijual, dipasang di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau ditempat umum KBBI (2007:421). Iklan dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu pada masyarakat baik melalui media elektronik maupun non elektronik. Media elektronik berupa televisi, internet dan radio, sedangkan media non elektronik bisa mencakup majalah, surat kabar, maupun media massa lainnya. Otomotif merupakan hubungan dengan sesuatu yang berputar dengan sendirinya (sepeda motor, mobil dsb) KBBI (2007:805). Jadi dapat disimpulkan bahwa iklan otomotif merupakan pemberitahuan mengenai barang berupa sepeda motor dan mobil di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang mengkaji kolokasi dan hiponim pada rubrik iklan “Otomotif” dalam surat kabar Suara Merdeka dan implikasinya pada pembelajaran di SMA, merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa kata-kata tertulis yang diarahkan untuk memperoleh deskripsi yang objektif dan akurat tentang penggunaan bahasa dalam wacana iklan “Otomotif” pada surat kabar Suara Merdeka. Untuk itu data penelitian dikumpulkan, disusun, diklasifikasi, lalu diimplementasi yang akhirnya diperoleh suatu hasil penelitian. Selanjutnya, hasil penelitian tersebut diimplikasikan pada pembelajaran bahasa Indonesia di SMA sesuai dengan Kompetensi Inti: 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya, 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli ( toleransi, gotong royong ), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan jangkauan pergaulan dan keberadaannya, 3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya, tentang ilmu pengetahuan, teknologi seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata, 4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret ( menggunakan, mengurai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang atau teori dan Kompetensi Dasar : 1.1 Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam mengolah,
menalar, dan menyajikan informasi lisan dan tulis melalui eksposisi, 1.2 Memproduksi eksposisi baik melalui lisan maupun tulisan. Jenis penelitian ini sejalan dengan pendapat Sugiyono (2013:1), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti objek pada kondisi yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen). Dalam hal ini peneliti adalah instrumen kunci, teknik penyediaan data bersifat induktif, dilakukan secara triangulasi (gabungan), dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Penelitian kualitatif menurut Moleong (2013:6) adalah penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
B. Data
Data dalam penelitian berupa kata-kata bermakna kolokasi dan memiliki struktur leksikal berupa hiponim dalam rubrik iklan “Otomotif” surat kabar Suara Merdeka periode Mei 2014.
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh, Arikunto(2010:172). Sumber data dalam penelitian ini adalah rubrik iklan “Otomotif” dalam surat kabar Suara Merdeka periode Mei 2014 yang terbit pada setiap hari sabtu. Iklan “Otomotif” yang terbit pada hari sabtu paling banyak memuat iklan penjualan mobil. Adapun iklan “Otomotif” yang menjadi sumber data tercantum pada tabel 1.
Tabel 1. Sumber Data NO Merk Mobil Jumlah Iklan Sabtu 3 Mei Sabtu 10 Mei Sabtu 17 Mei Sabtu 24 Mei Sabtu 31 Mei Jumlah 1 Toyota 55 67 83 67 58 330 2 Honda 32 35 38 31 43 179 3 Daihatsu 31 24 42 26 25 148 4 Suzuki 18 22 30 35 23 128 5 Nissan 14 15 13 11 15 68 6 Mitsubishi 10 10 20 14 8 62 7 Izusu 11 9 16 12 10 58 8 BMW 10 5 4 3 4 26 9 Kia 3 6 6 4 4 23 10 Mazda 3 2 3 1 2 11 11 Marcedez 2 4 2 1 1 10 12 Hyundai 4 3 - 2 1 10 13 Timor 1 1 3 1 2 8 14 Ford 1 2 2 1 1 7 15 Jeep 1 - 2 1 - 4 16 Hino 1 2 - 1 - 4 17 Opel - 1 1 1 - 3 18 Chevrolet 1 1 - - - 2 19 Fuso - - 1 1 - 2 20 Volks Wagen - - - 1 - 1 21 Proton - 1 - - - 1 22 Peugeot - - - - 1 1 D. Metode Penelitian
1. Tahap Penyediaan Data
Menurut Sudaryanto (1993:11), dalam tahap penyediaan data sekurang-kurangnya ada tiga kegiatan: (a) mengumpulkan yang ditandai dengan pencatatan, (b) pemilihan dan pemilah-milahan dengan membuang yang tidak diperlukan, (c) penataan menurut tipe atau jenis apa yang telah dicatat, dipilih, dan dipilah-pilahkan itu. Metode yang digunakan dalam penyediaan data yaitu metode kepustakaan, dengan teknik baca catat yang disebut juga dengan catatan ekstrak (intisari),
maksudnya mencatat kata demi kata intisari (ekstrak) teks (nash) yang dibaca. Dengan demikian, penulis mengumpulkan data dengan membaca rubrik iklan “Otomotif” surat kabar Suara Merdeka, kemudian mencatat kata-kata yang mengandung kolokasi dan hiponim, kemudian memilah data dan mengklasifikasikan kata berdasarkan penggolongnya. Penerapan metode kepustakaan ini sesuai dengan pendapat Mestika (2008:54) tentang metode kepustakaan yaitu metode yang mengambil catatan dari bacaan pustaka dan terdiri dari lima macam jenis isi catatan dalam penelitiannya yaitu (1) ekstrak kata demi kata, (2) ringkasan, (3) referensi, (4) deskriptif, dan (5) reflektif.
2. Tahap Analisis Data
Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan metode padan karena alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian bahasa yang bersangkutan, Sudaryanto (1993:13). Jenis metode padan yang diambil oleh penelitiyaitu metode padan referensial, karena sumber penelitian yang digunakan berupa kata benda dan kata kerja yang menunjuk atau menyatakan benda-benda. Contoh penggunaan metode pada pada penelitian ini.
No Merk Mobil
Kolokasi
Tahun Warna Tipe Kondisi Harga Transmisi Plat
1 Kijang 2001 Biru LX bagus 65 jt H
Pada tabel kolokasi di atas terdapat informasi penjualan mobil yang memuat informasi tahun, warna, tipe, kondisi, harga, transmisi dan plat. Tiap informasi penjualan merujuk pada merk mobil Kijang. Jika berbicara tahun, warna, tipe, kondisi, harga dan plat, maka pemikiran kita langsung tertuju pada kendaraan (mobil)
dan yang lebih khusus tinggal merujuk atau menyatakan merk mobil. Informasi untuk mengetahui merk mobil tersebut tentunya harus ada informasi yang khusus, seperti tipe LX. Tipe tersebut merupakan tipe yang khusus hanya dimiliki oleh merk mobil Kijang dan tidak dimiliki oleh merk mobil lain.
Sedangkan metode agih menurut Sudaryanto (1993:15) adalah metode yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri. Metode ini digunakan peneliti untuk memperoleh bukti akurat apakah kata-kata yang tercantum dalam iklan “Otomotif” tersebut memang benar-benar sebagai kolokasi atau sebagai hiponim. Untuk menganalisis rubrik iklan “Otomotif” tersebut peneliti menggunakan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL), teknik perluas, teknik baca markah, dan teknik balik. Teknik dasar analisis data yang digunakan adalah teknik Bagi Unsur Langsung (BUL). Disebut demikian karena cara yang digunakan pada awal kerja analisis adalah membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur; dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud. Adapun alat penggerak bagi alat penentu atau pirantinya ialah daya bagi yang bersifat intuitif, yang tentu saja intuisi kebahasaan, yang dimiliki. Adapun alat penentunya adalah jeda, baik jeda yang silabik atau sandi maupun yang sintaktik atau ruas. Contoh penggunaan taknik Bagi Unsur Langsung (BUL) pada data yang akan dibahas.
(3) Panther LS Turbo 07 (H) Htm Istw
Dengan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL) data (3) dibagi menjadi, (a) Panther (b) LS Turbo, (c) 07, (d) H, (e) Htm, (f) Istw.
Selanjutnya, data yang akan dianalisis dengan teknik perluas.Menurut Sudaryanto (1993:37) teknik perluas dilaksanakn dengan memperluas satuan lingual
yang bersangkutan ke kanan atau ke kiri dgn menggunakan unsur tertentu di antara