Negara yang paling banyak diuntungkan oleh pandangan rasis Darwin adalah tanah air Darwin sendiri, Inggris. Di tahun-tahun ketika Darwin mengemukakan teorinya, Inggris Raya tengah mendirikan imperium kolonialis nomor satu di dunia.
Seluruh sumber kekayaan alam dari India hingga Amerika Latin dikeruk oleh Impe-rium Inggris. Orang „kulit putih‰ ini sedang menjarah dunia untuk kepentingannya sendiri.
Dipelopori oleh Inggris, tentunya tidak ada negara kolonialis yang mau dianggap sebagai „penjarah‰, dan tercatat dalam sejarah dengan julukan semacam ini.
Karenanya, mereka mencari alasan untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar. Salah satu alasan yang mungkin adalah dengan menampilkan rakyat terjajah sebagai „masyarakat primitif‰ atau „makhluk mirip binatang‰. Dengan cara seperti ini, mereka yang dibantai dan diperlakukan dengan tidak manusiawi dapat dipandang bukan sebagai manusia, melainkan makhluk separuh manusia separuh binatang. Dengan demikian, perlakuan buruk terhadap mereka tidak dapat dikatakan sebagai bentuk kejahatan.
Sesungguhnya, alasan yang dicari-cari seperti ini bukanlah barang baru.
Tersebarnya kolonialisme di dunia telah bermula sejak abad ke-15 dan ke-16. Pernyataan bahwa sejumlah ras memiliki sebagian sifat binatang pertama kali dikemukakan oleh Christopher Columbus dalam penjelajahannya ke benua Amerika. Menurut pernyataan ini, penduduk asli Amerika bukanlah manusia, akan tetapi sejenis binatang yang telah berkembang. Oleh karenanya, mereka dapat dijadikan pelayan bagi para penjajah Spanyol.
Meskipun Columbus digambarkan dalam sejumlah film tentang penemuan benua Amerika sebagai orang yang memiliki rasa persahabatan dan kemanusiaan terhadap penduduk asli, kenyataan membuktikan bahwa Columbus tidak menganggap para penduduk asli tersebut sebagai manusia.19
Christopher Columbus adalah yang pertama kali melakukan pembantaian besar-besaran. Columbus mendirikan daerah jajahan Spanyol di wilayah-wilayah yang ia temukan, dan memperbudak penduduk pribumi. Ia bertanggung jawab atas dimulainya perdagangan budak. Para „penjajah‰ Spanyol menyaksikan kebijakan penindasan dan pemerasan yang dijalankan Columbus, dan melanjutkan hal yang sama.
Akibatnya, pembantaian yang dilakukan mencapai batas yang sulit dipercaya.
Misalnya, penduduk sebuah pulau yang pada saat pertama kali dikunjungi
Colum-PEMBANT PEMBANT PEMBANT PEMBANT
PEMBANTAIAN PENDUDUK AIAN PENDUDUK AIAN PENDUDUK AIAN PENDUDUK AIAN PENDUDUK ASLI ASLI ASLI ASLI ASLI AMERIKAAMERIKAAMERIKAAMERIKAAMERIKA Penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus menandai awal pembantaian biadab terhadap penduduk asli benua tersebut.
bus berjumlah 200.000, setelah 20 tahun berkurang menjadi 50.000, dan pada tahun 1540 hanya 1.000 orang yang masih tersisa. Saat seorang penjajah Spanyol terkenal, Cortes, menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Meksiko di bulan Februari 1519, keseluruhan penduduk aslinya berjumlah 25 juta, namun di tahun 1605 jumlah ini berkurang menjadi 1 juta. Di Pulau Hispaniola, jumlah penduduk yang tadinya 7-8 juta pada tahun 1492, menjadi 4 juta jiwa pada tahun 1496, dan hanya tersisa 125 orang pada tahun 1570. Berdasarkan angka para sejarawan, dalam waktu kurang dari seabad setelah Columbus pertama kali menginjakkan kakinya di benua tersebut, 95 juta manusia dibantai oleh para penjajah.
95 juta manusia dibantai oleh para penjajah.
95 juta manusia dibantai oleh para penjajah.
95 juta manusia dibantai oleh para penjajah.
95 juta manusia dibantai oleh para penjajah. Ketika Columbus menemukan Amerika, 30 juta penduduk asli mendiami benua tersebut. Akibat pembantaian yang terjadi di masa lalu dan masa kini, mereka telah menjadi ras punah dan kurang dari 2 juta orang saja yang masih tersisa.
Yang menyebabkan pembantaian tersebut mencapai tingkat yang sungguh sangat biadab ini adalah anggapan bahwa para penduduk asli tersebut bukanlah manusia sejati, melainkan binatang.
Namun, pernyataan para penjajah ini tidak mendapat dukungan luas. Di Eropa pada saat itu, kebenaran bahwa semua manusia diciptakan sama oleh Tuhan dan bahwa mereka semua adalah keturunan dari satu nenek moyang yang sama – yakni Nabi Adam – diterima sedemikian luas oleh masyarakat sehingga Gereja Katolik secara khusus menyatakan penentangannya terhadap penyerangan dan penjarahan tersebut.
Yang terkenal di antaranya adalah pernyataan uskup Chiapas, Bartolome da las Casas, yang menginjakkan kakinya di Dunia Baru bersama Columbus. Ia mengatakan bahwa setiap penduduk asli adalah „manusia sejati‰ sebagai jawaban terhadap pernyataan para penjajah bahwa mereka termasuk „sejenis binatang‰. Paus Paulus III mengutuk perlakuan biadab terhadap warga pribumi dalam Pernyataan Paus pada tahun 1537, dan menyatakan bahwa penduduk asli tersebut termasuk manusia sejati yang mampu menjadi orang yang taat beragama.20
Namun keadaannya berubah di abad ke-19. Seiring dengan tersebarnya filsafat kaum materialis dan semakin jauhnya masyarakat dari agama, kenyataan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan mulai diingkari. Sebagaimana telah disinggung pada halaman-halaman sebelumnya, hal ini terjadi bersamaan dengan kemunculan rasisme.
Dengan kebangkitan filsafat Darwinis-materialis pada abad ke-19, rasisme tumbuh semakin kuat, dan ini memberikan dukungan besar bagi sistem imperialisme Eropa.
James Joll, yang menghabiskan waktunya bertahun-tahun sebagai profesor sejarah di sejumlah universitas seperti Oxford, Standford dan Harvard, dalam bukunya yang menjadi rujukan Europe Since 1870 yang kini masih digunakan sebagai buku pegangan di universitas, menguraikan hubungan ideologis antara Darwinisme, imperialisme dan rasisme:
Kumpulan pemikiran paling berpengaruh yang mengilhami gagasan imperialisme adalah yang secara garis besar dapat digolongkan sebagai ÂDarwinisme sosialÊ, dan yang melihat hubungan antar negara sebagai pertarungan abadi untuk
memperta-Ratu Victoria dan Cortes, tokoh utama asal Spanyol yang bertanggung jawab dalam pembantaian di benua Amerika.
hankan hidup di mana sejumlah ras dianggap Âlebih unggulÊ dari yang lain dalam proses evolusi di mana yang kuat senantiasa menonjolkan diri mereka sendiri.
Charles Darwin, seorang naturalis Inggris yang bukunya The Origin of Species, terbit pada tahun 1859, dan The Descent of Man, yang menyusul pada tahun 1871, telah memunculkan perdebatan yang mempengaruhi berbagai cabang pemikiran di Eropa...
Gagasan Darwin, dan sejumlah tokoh semasanya seperti filsuf Inggris Herbert Spencer,...
dengan cepat diterapkan pada bidang-bidang yang sangat jauh berbeda dari hal-hal ilmiah yang lebih berhubungan... Unsur Darwinisme yang terlihat paling mungkin diterapkan untuk pengembangan masyarakat adalah kepercayaan bahwa jumlah penduduk yang melebihi sarana pendukungnya mengharuskan adanya perjuangan untuk mempertahankan hidup secara terus-menerus di mana yang terkuat atau yang paling layaklah yang menang. Dari sini, para pemikir sosial mendapatkan kemudahan untuk memberi pengertian moral pada istilah „paling layak‰, sehingga jenis atau ras yang akan bertahan hidup adalah mereka yang secara moral memang berhak untuk tetap hidup.
Oleh karenanya, doktrin tentang seleksi alam dapat dengan mudah diselaraskan dengan rangkaian pemikiran lain yang dibangun oleh penulis Prancis, Count Joseph-Arthur Gobineau, yang menerbitkan karya berjudul An Essay on the Inequality of Human Races pada tahun 1853. Gobineau menegaskan bahwa unsur terpenting bagi kemajuan adalah ras; dan ras-ras yang akan tetap unggul adalah mereka yang berhasil mempertahankan kemurnian rasnya secara utuh. Di antara ras-ras ini, menurut Gobineau, adalah ras Arya yang paling mampu bertahan hidup... Adalah.. Houston Chamberlain yang berperan dalam mengembangkan sebagian gagasan ini selangkah lebih jauh... Hitler sendiri mengagumi sang pengarang (Chamberlain) hingga mengunjunginya pada saat kematiannya di tahun 192721
Sebagaimana telah diuraikan, terdapat kaitan ideologis yang menghubungkan Darwin dengan para pemikir rasis dan imperialis, dan bahkan dengan Hitler.
Darwinisme adalah landasan ideologis imperialisme, yang menenggelamkan dunia ke dalam kubangan darah pada abad ke-19, dan juga Nazisme, yang melakukan hal yang sama di abad ke-20.
Inggris Raya zaman Victoria juga mendapatkan apa yang disebut dengan „pijakan ilmiah‰-nya dari Darwinisme. Inggris Raya mengeruk keuntungan besar dari penjajahan, dan, tanpa merasa bersalah, menimpakan penderitaan terhadap orang-orang yang dijajahnya demi keuntungannya sendiri. Satu contoh politik kotor yang dilakukan imperialisme Inggris adalah „Perang Opium‰ terhadap Cina. Inggris Raya menyelundupkan opium yang ditanamnya di India ke Cina sejak perempatan pertama
abad ke-19. Penyelundupan opium ini dipercepat sejalan dengan waktu untuk membayar kerugian perdagangan luar negerinya. Masuknya obat bius ini ke negara tersebut juga mengakibatkan lemahnya kendali Cina atas wilayah kekuasaanya sendiri.
Kehancuran masyarakat dalam waktu singkat mencapai tingkat yang parah.
Pelarangan opium, yang diberlakukan pemerintah Cina setelah ketidakpastian yang lama, memicu Perang Opium (1838-1842). Tidak diragukan lagi, perang ini menjadikan negara bangkrut. Cina dipaksa menyerah akibat ketidakcakapan tentaranya setiap kali berhadapan dengan pasukan asing dan diharuskannya mengabulkan permintaan mereka yang terus bertambah. Orang-orang Barat perlahan membentuk pusat-pusat pemukiman di dalam wilayah kekuasaan Cina sejak tahun 1842. Mereka merampas wilayah-wilayah pelabuhan utama dari tangan Cina, menyewakan lahan-lahan mereka, dan mengharuskan negara tersebut membuka diri terhadap dunia luar dengan cara yang paling mendatangkan keuntungan bagi mereka sendiri. Akibat dari ini
S
alah satu bukti menarik betapa teori evolusi memberikan inspirasi bagi imperialisme Inggris adalah skandal manusia Piltdown.Pada tahun 1912, sebuah tengkorak aneh ditemukan di daerah Piltdown, Inggris.
Charles Dawson, ilmuwan yang menemu-kannya, beserta timnya mengumumkan bahwa tengkorak tersebut berasal dari makhluk separuh kera separuh manusia.
Arthur Keith, ahli anatomi evolusionis terkemuka memeriksa fosil tersebut dan membenarkan temuannya.
Namun, Dawson dan Keith menegaskan satu hal penting. Otak fosil tersebut berukuran sama dengan otak manusia modern. Akan tetapi tulang rahangnya memiliki ciri mirip kera.
Tiba-tiba otak manusia Piltdown menjadi kebanggaan masyarakat Inggris. Karena ditemukan di Inggris, tengkorak ini pastilah nenek moyang bangsa Inggris. Menurut masyarakat Inggris, volume otak yang lebih besar menandakan bahwa mereka telah berevolusi lebih dahulu sebelum ras-ras lain, dan, oleh karenanya, mereka lebih unggul.
Piltdown Inggris bahkan memberi gelar kesatria kepada Arthur Keith untuk penemuannya.
Ahli paleontologi evolusionis terkenal, Don Johanson, menjelaskan kaitan antara manusia Piltdown dan imperialisme Inggris:
Penemuan Piltdown sangat Eurosentris.
Tidak hanya otaknya yang memiliki
„keunggulan‰, tapi bangsa Inggris juga memiliki keunggulan.*
Inspirasi yang didapatkan Inggris dari penemuan manusia Piltdown berlangsung hanya hingga tahun 1953, ketika Kenneth Oakley, ilmuwan yang memeriksa ulang fosil tersebut dengan lebih teliti, mengungkapnya sebagai pemalsuan terbesar abad ke-20. Fosil tersebut dibuat dengan merekatkan rahang orang utan pada tengkorak manusia.
*Don Johnson, In Search of Human Origins,