• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Tafsir Al-Kassyaf

4. Komentar para Ulama terhadap Tafsir Al-Kassyaf

Dikalangan para ulama, tafsir Al-Kassyaf sangat terkenal karena kepiawaian al-Zamakhsyari dalam mengungkapkan kemukjizatan Al-Qur‟an, terutama mengenai keindahan balaghahnya. Mereka mengatakan bahwa tafsir inilah yang pertama kali menyingkap kemukjizatan Al-Qur‟an secara sempurna. Namun, tiada gading yang tak retak. Disamping mempunyai kelebihan, tafsir Al-Kassyaf juga mempunyai kelemahan dan kekurangan. Berikut ini beberapa penilaian terhadap tafsir Al-Kassyaf.

Setelah melakukan penelitian terhadap dua tafsir, yaitu tafsir Ibn Atiyyah dan tafsir al-Zamakhsyari, Busykual berkesimpulan: Tafsir Ibn Atiyyah banyak mengambil sumber dari naql, lebih luas cakupannya dan lebih bersih. Sedangkan

32Muhammad Husain al-Zahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, (Beirut: Darl Fikr, 1976), 442

33Subhi Al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur‟an, terj, Tim Pustaka Firdaus (Jakarta:

Pustaka Firdaus, 1996), 390

tafsir Al-Zamakhsyari lebih ringkas dan lebih mendalam. Hanya saja al-Zamakhsyari sering menggunakan kata-katayang sukar dan banyak menggunakan syair, sehingga mempersulit pembaca dalam memahaminya, dan sering menyerang Mazhab lain. Hal ini terjadi karena ia berusaha membela Mazhabnya, Mazhab Mu‟tazilah. Semoga ia mendapat pengampunan dari Allah Swt.34

Selanjutnya Haidar al-Harawi menilai bahwa tafsir al-Kasyaf merupakan kitab tafsir yang sangat tinggi nilainya. Tafsir-tafsir sesudahnya tiada satupun yang dapat menandinginya, baik dalam keindahan maupun kedalamannya.

Kalaupun ada maka penyusunannya hanya mengutip apa adanya, tanpa mengutip sedikitpun baik susunan kata maupun kalimatnya.

Tafsir al-Kassyaf sangat terkenal diberbagai negara dan menaburkan makna dan kandungan Al-Qur‟an dalam setiap kalbu insan, bagaikan matahari disiang hari menyinari seluruh daratan matahari. Namun bukan berarti bahwa al-Kasyaf adalah sempurna tanpa kekurangan. Menurut Haidar, kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam tafsir al-Kasyaf antara lain:

1. Sering melakukan penyimpangan makna lafadz tanpa dipikirkan lebih mendalam, dan menafsirkan ayat dengan panjang lebar, seakan-akan untuk menutupi kelemahannya, serta penuh dengan pemikiran Mu‟tazilah.

2. Kurang menghormati ulama-ulama lainnya, sehingga al-Razi ketika menafsirkan Qs al-Maidah 54 menunjukkan kepada penyusun al-Kasyaf, karena al-Zamakhsyari sering melontarkan celaan kepada para ulama yang dicintai oleh Allah Swt.

3. Terlalu banyak menghadirkan syair-syair dan peribahasa yang penuh dengan kejenakaan, yang jauh dari tuntunan syariat.

4. Sering menyebut Ahl al-Sunnah wa al-Jama‟ah dengan sebutan yang tidak sopan. Bahkan kadang-kadang mengkafirkan mereka dengan

34Sa‟ad Abdul Wahid, “Zamakhsyari dan tafsir al-Kasyaf” dalam M Amin Abdullah Dkk, Rekontruksi Metodologi Ilmu-ilmu Keislaman, (Yokyakarta: Suka Press, 2003), 275

sindiran. Ini adalah suatu perilaku yang tidak layak disandang oleh seorang ulama yang baik.35

Ibnu Khaldun memberikan penilaian terhadap tafsir Al-Kasyaf, ketika membahas pentingnya lughah, i‟rab, dan balaghah dalam memahami Al-Qur‟an, Ibn Khaldun mengatakan bahwa diantara tafsir yang baik dan paling mampu mengungkapkan makna Al-Qur‟an dengan pendekatan bahasa dan balaghah adalah tfsir al-Kasyaf. Hanya saja penyusunannya bermazhab Mu‟tazilah dalam masalah aqidah. Dengan balaghah ia membela Mazhabnya dalam menafsirkan Al-Qur‟an. Karena itu sebagian ulama menantangnya dengan balaghah dalam pengertian Ahl al-Sunnah wa al-Jama‟ah, bukan menurut pengertian Mu‟tazilah.36

Dari penelaian Ibn Khaldun diatas penulis memberikan kesimpulan bahwa tafsir Al-Kasyaf juga tergolong kedalam tafsir yang memiliki perang penting dalam keilmuan terutama di bidang tafsir, hanya saja penulis tafsir tersebut melaukan sesuatu yang sangat berlebihan kepada aliran yang Ia anut yakni Mu‟tazilah, sehingga penafsiran beliau kelihatan seperti pemikiran para tokoh Mutazilah.

Al-Sawi berpendapat bahwa al-Zamakhsyari adalah seorang ulama Mu‟tazilah yang sangat fanatik dalam membela faham Mu‟tazilah, sehingga penafsiran-penafsirannya sangat dipengaruhi oleh faham-faham Mu‟tazilah. Oleh karena itu, tafsirnya seakan-akan menyampaikan pemikiran-pemikiran mutazilah melalui tulisan dalam tafsirnya dan hanya melakukan pembelaan terhadap Mazhab Mu‟tazilah saja.37

Hal inilah yang menjadi alasan utama Al-Zamakhsyari menuai ragam kritikan yang pedas terutama dari kalangan Ahlus-Sunnah wal Jamaah dikarenakan pemikiran-pemikiran yang beliau tuangkan melalui tafsirnya.

Meskipun demikian Al-Zamakhsyari tidak memperdulikan kritikan tersebut, Ia

35Muhammad Husain al-Zahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, (Beirut: Darl Fikr, 1976), 149

36 Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th,), 492

37 Mustafa al-Sawi al-Juwaini, Manhaj al-Zamakhsyari, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th,), 149

sangat konsisten dalam mempertahankan pendapatnya. Sehingga tafsir Al-Kasyaf juga memperoleh predikat di mata para mufassir lainnya.

Seoranag tokoh dunia barat terkemuka, yang bernama Ignaz Al-Goldziher dalam bukunya Mazahib al-Tafsir al-Islami, Goldziher mengatakan bahwa tafsir al-Kasyaf sangat baik, bahkan menurutnya tafsir ini merupakan tafsir yang sangat lengkap terutama mengenai khazanah keilmuan, hanya saja pembelaan yang dilakukan oleh Al-Zamkhsyari terhadap kamu Mu‟tazilah sangat berlebihan.38 Hal inilah yang menjadikan Al-Zamakhsyari banyak di anggap oleh kalangan ulama Sunni fanatisme.

Dari beberapa penilaian atau kritikan yang diberikan oleh para ulama terhadap tafsir Kasyaf, maka jelaslah bagaimanapun piawainya Al-Zamakhsyari dalam menjelaskan penafsirannya, Ia tak pernah luput dari kekurangan dan kelemahan sebagai seorang mufassir. Menurut penulis banyaknya kritikan yang dilayangkan kepada kitab tafsirnya dikarenakan Ia adalah seorang Mu‟tazilah, pemikiran-pemikiran beliaupun tidak jauh berbeda dengan para tokoh Mu‟tazilah. Kaum Sunni dan para tokoh ulama umum lainnya sangat mewaspadai pemikiran-pemikiran Mu‟tazilah.

38 Ignaz Goldziher, Mazahib Tafsir al-Islami, terj. kedalam bahasa Arab oleh Abd Halim an-Najjar, (Beirut: Dar al-Iqra, 1983), 141

29 A. Apakah Syafa’at itu ada?

Syafaat merupakan salah satu prinsip (ushul) dalam islam, kebenaran dan keotentikan mengenai keberadaann syafaat tersebut tidak akan terbantah lagi, karena berbagai hujjah baik itu ayat-ayat atau hadis-hadis telah menyebutkan tentang kebenarannya. Para ulama dan para mufassir sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW, adalah salah seorang pemberi syafaat. Pendapat ini mereka sandarkan pada firman Allah SWT yang berbunyi:











“Dan kelak Tuhanmu akan memberikan karunianya kepadamu, lalu (hati)kamu menjadi puas” (QS. Al-Dhuha; 93:5).1



























“Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu kepada tempat yang terpuji”

(QS. Al-Isra; 17:79).2

Kedua ayat tersebut di atas ditafsirkan dengan syafaat. Maqamam mahmudan (tempat yang terpuji) adalah maqam syafaat,3dan yang di anugerahkan Allah kepada Nabi saw. Itu adalah hak untuk memberikan syafaat, sehingga hal itu membuat hati beliau menjadi puas. Jadi dapat penulis simpulkan bahwa syafaat itu ada dan Nabi Muhammad adalah salah satu satu sumber pemberian syafaat.

1Tim Penterjemah Al-Quran, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, 592

2Ibid., 290

3 Ja‟far Subhani. Pro dan Kontra mengenai Syafaa, (Bandung; Pustaka Hidayah, 2011), 11

Kesimpulan atas kedua ayat tersebut tergantung pada kajian masalah syafaat,dalil-dalilnya, dan definisinya. Maka sangat relevan bila di sini saya mengkaji masalah syafaat secara tuntas. Kendati tujuan utamanya adalah untuk mengetahui salah satu sifat Nabi saw sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat kelak. Untuk itu saya katakan, bahwa umat islam sepakat bahwa syafaat merupakan salah satu ushul (prinsip, ajaran pokok) Islam yang disebutkan oleh Al-Qur‟an dan dijelaskan oleh Sunnah Nabawiyah dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para imam yang suci, tanpa ada seorangpun yang menentangnya, sekalipun terdapat perbedaan pendapat mengenai artikulasi dan kekhususan-kekhususannya.

Kaum Sunni berpendapat bahwa pada Hari Kiamat Rasulullah saw, akan memberikan syafaat kepada sekelompok umatnya yang melakukan dosa besar.

Sementara Mu‟tazilah mengatakan, bahwa syafaat Rasulullah saw tersebut diberikan kepada orang-orang yang taat, bukan kepada pelaku maksiat,dan bahwa sanya beliau tidak akan memberikan syafaatnya kepada orang-orang yang berhak untuk disiksa di antara seluruh makhluk.4

Para ulama berbeda pendapat tentang pemberian syafaat yang di lakukan oleh Nabi saw. Mu‟tazilah dan para pengikut-pengikutnya berpendapat bahwa syafaat Nabi diberikan kepada Ahli Surga agar Allah menaikkan derajat mereka, sedangkan kelompok Sunni dan lainnya mengatakan, bahwa syafaat Nabi di berikan kepada para pelaku dosa besar dan ahli maksiat di kalangan orang-orang Mukmin yang agamanya di ridhai oleh Allah, untuk digugurkan siksanya.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa syafaat itu memanglah ada dan tidak bisa diragukan lagi mengenai keberadaannya, karena banyak sekali penjelasan ayat-ayat Al-Qur‟an, As-Sunnah, dan argumentasi para ulama mengenai keberadaan syafaat tersebut. Bahkan kaum Mutazilah pun mengakui keberadaannya, hanya saja mereka berbeda dalam hal kedudukan atau pemberian syafaat tersebut.

4 Al-Syaikh Al-Mufid. Awail Al- Maqalat, (Beireut Lebanon; Darl Al-Fikr, 1990) 14-15

Pada persoalan itu pulalah terdapat perbedaan pendapat di kalangan mereka, tentang arti syafaat. Yakni, tentang apakah syafaat itu berarti memohon ditambahkannya manfaat bagi kaum muslimin yang berhak atas pahala, sebagaimana yang di anut oleh Mu‟tazilah, ataukah sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok yang selain mereka5 digugurkannya siksa bagi orang-orang yang fasik di kalangan umat Islam.

Dengan demikian, akar perbedaannya adalah sama, yang sesekali dikaitkan dengan siapa yang diberikan syafaat apakah hanya orang-orang taat, ataukah para pelaku maksiat dan para pendosa dan pada kali lainnya dikaitkan dengan makna syafaat itu sendiri apakah ia berarti memohon tambahan manfaat atas pahala, ataukah pengguguran dosa. Jadi perbedaan yang terjadi menurut penulis adalah tentang pemberian syafaat itu sendiri ditujukan kepada siapa.

Terhadap masalah yang manapun persoalan ini dikaitkan, yang jelas syafaat itu merupakan masalah yang telah disepakati oleh para ulama kaum Muslimin.

Untuk itu, tidak ada salahnya bila di sini saya kutipkan beberapa pendapat para ulama tentang dibenarkannya (adanya) syafaat, sehingga pembaca dapat memikirkan persoalan ini dengan jernih dan dapat menilai tentang perbedaan yang terjadi dalam memahami ayat-ayat yang mengkaji dan membahas syafaat tersebut sehiingga dapat menemukan titik terangnya.

Abu Manshur bin Muhammad bin Muhammad Al-Maturidi Al-Samarqandi (w. 333 H.) dalam tafsirnya mengisyaratkan tentang adanya syafaat yang dikabulkan oleh Allah (al-Syafa‟ah al-Maqbulah). Beliau berdalil dengan firman Allah yang berbunyi: “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah” (QS. Al-Anbiys; 21:48). Dan pada bagian sebelumnya beliau juga mengemukan firman Allah yang berbunyi: “Dan tidak diterima syafaat darinya” (QS. Al-Baqarah; 2:48). Dari kedua ayat tersebut beliau kemudian menyimpulkan bahwa, kendatipun ayat yang pertama menafikan

5 Al-Allammah Al-Hilli. Kasyaf Al-Murad, (Beirut Lebanon; Darl Al-Fikr, tt), 262

syafaat, namun tetap dinyatakan adanya syafaat yang diterima seperti syafaat yang di isyaratkan oleh ayat ini (ayat kedua).6

Tajul Islam Abu Bakar Al-Kalabadzi (w.380 H.) sepakat pula dengan pendapat yang mengatakan bahwa, mengakui adanya syafaat berdasarkan ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah dan riwayat-ayat-riwayat-ayat yang disampaikan oleh Nabi saw. Hukumnya adalah wajib,7 karena adanya firman Allah yang berbunyi,

“Dan kelak Tuhanmu akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas” (QS. Al-Dhuha; 93:5), dan “Mudah-mudahan Allah mengangkat kamu kepada tempat yang terpuji” (QS. Al-Isra; 17:79), serta “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai-Nya” (QS. Al-Anbiya;21:28). Sementara itu Nabi saw mengatakan, “Syafaatku adalah untuk pelaku-pelaku dosa besar di antara umatku”8

Al-Qadhi Iyadh mengatakan, “Madzhab Ahlus Sunnah menyatakan kebenaran adanya syafaat secara rasional, dan wajib adanya berdasarkan wahyu yang sharih dan hadis yang bisa di percaya. Riwayat-riwayat yang secara keseluruhan derajatnya sampai kepada tingkat mutawattir membenarkan adanya syafaat pada Hari Kiamat bagi orang-orang Mukmin pelaku dosa. Pendapat ini juga di sepakati oleh ulama salaf yang shaleh dari kalangan Ahlus Sunnah sesudah mereka. Namun pendapat ini di tolak mentah oleh orang-orang Khawarij dan sebagian orang Mutazilah.9 Dalam syarh Al-Aqa‟id Al-Nasafiyyah, al-Taftazani memperkuat pendapat Al-Qadhi Iyadh dengan tanpa ragu-ragu membenarkan adanya syafaat.

Filosof besar Al-Alammah Thabathaba‟i mengatakan, “Ayat-ayat yang berbicara seputar syafaat ada yang menetapkan kekhususan syafaat hanya bagi Allah SWT. Sedangkan yang lainnya memiliki arti yang lebih umum yang

6 Lihat tafsir Al-Maturidi yang lebih dikenal dengan nama Ta‟wilat Ahl Al-Sunnah, 148

7Lihat Abu Bakar Al-Kalabadzi. Al-Ta‟arruf li Madzhab Ahl Al-Tasawuf, di-tahqiq oleh Dr.

Abdul Halim Mahmud, 54-55

8Sebuah Riwayat dalam Kitab, Kanzul Ummal, juz 14 (dari Ibnu Umar, dari Ka‟ab bin Ajarah), 398

9 Lihat Al-Qadhi Iyadh, Bihar Al-Anwar, jilid VIII, (Beirut; Darl Haq, tt), 62

mencakup selain Allah berdasarkan izin Allah dan ridha-Nya. Ayat-ayat tersebut tidak diragukan lagi menetapkan adanya syafaat. Sesudah itu Al-Alammah Thabathaba‟i mengemukakan bentuk pengkompromian ayat-ayat tersebut, yang penjelasannya dapat pembaca ikuti sendiri dalam tafsirnya ketika beliau membahas ayat-ayat tersebut.10

Syaikh Muhammad Jawad Al-Balaghi mengatakan, “syafaat dari satu sisi dinafikan oleh Al-Qur‟an, yaitu syafaat untuk kaum musyrikin, atau syafaat yang mereka duga bisa mereka minta dari sesembahan-sesembahan yang mereka pertuhankan disamping Allah. Atau syafaat dari orang-orang yang mereka patuhi secara mutlak seperti yang disebutkan dalam Surah Yasin ayat 22, Surah Al-Mu‟min ayat 18, Surat Al-mudatsir ayat 48, dan Surah Al-Zumar ayat 18. Akan tetapi ditetapkan juga tentag adanya syafaat berdasarkan pengecualian, bahkan melalui penegasan yang kuat lantaran pentingnya penafian mutlak dari sekelompok orang, Allah berfirman, “Kecuali dengan izin-Nya”, “Kecuali sesudah diberikannya izin”, dan “Kecuali kepada orang-orang yang telah memperoleh ridha-Nya”11

Al-Fattal Al-Naisaburi, salah seorang ulama kita yang hidup pada abad ke enam Hijriah, mengatakan bahwa tidak ada perbedaan di kalangan kaum Muslimin tentang adanya syafaat. Hanya saja kaum Mu‟tazilah mengatakan, bahwa tujuan syafaat adalah menambah pahala dan derajat, sedangkan menurut kami, adalah menggugurkan mudharat dan siksa.12 Dari uraian ini jelas bahwa syafaat itu benarlah adanya, hanya saja dalam hal mendeskripsikan atau menjelaskan syafaat itu sendiri dikalangan ulama banyak yang berbeda pendapat.

Itulah sejumlah kecil dari sekian banyaknya pendapat para ulama yang bisa saya nukilkan dikarenakan dhaifnya diri penulis dalam menelaah dan menganalisa, agar pembaca dapat menelaah secara obyektif pendapat-pendapat

10 Al-Alammah Muhammad Husain Thabathaba‟i, Tafsir Al-Mizan, jilid I, (Lebanon; Darl Ihya, tt), 206

11 Muhammad Jawad Al-Balaghi, Ala‟ Al-Rahman, jilid I, (Bandung; Pustaka Amani, 2009), 62

12 Al-Fattal Al-Naisaburi, Raudat Al-Wa‟izhim, (Beirut; Darl Al-Fikr, tt) 406

para ulama dari berbagai aliran yang berbeda tentang masalah penting ini. Semua itu merupakan teks-teks dan pernyataan-pernyataan yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Dan penulis menyimpulkan bahwa syafaat itu ada dan kebenarannya tidak diragukan lagi.

B. Eksistensisyafaat dalam tafsir Mafatihul Ghaib 1. Ayat yang menguraikan tentang syafaat



























“Pada hari itu tidak berguna Syafa‟at, kecuali dari orang-orang yang telah diberikan izin kepadanya oleh Allah yang maha pemurah, dan perkataan yang telah di ridhainya” (QS.Thaha; 20: 109.) 13









































Dan takutlah kamu pada hari kiamat, ketika tidak seorangpun dapat membela orang lain sedikitpun. Sedangkan Syafa‟at dan tebusan apapun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan di tolong (QS Al-Baqarah;

2:48).14







































Dan takutlah kamu pada hari kiamat, ketika tidak seorangpun dapat membela orang lain sedikitpun. Sedangkan Syafa‟at dan tebusan apapun

13Ibid., 317

14Tim penterjemah dan Pentafsir Al-Quran, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, (Jakarta; Penerbit Lentera Abadi, 2010), 7

darinya tidak diterima dan mereka tidak akan di tolong (QS Al-Baqarah;

2:123).15













































“Wahai orang-orang yang beriman, belanjakan sebagian dari rezekimu yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang suatu hari yang pada waktu itu tidak ada lagi jual-beli, tidak pula ada persahabatan yang akrab, dan tidak pula ada syafa‟at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS Al-Baqarah; 2:254).16















































“Barang siapa yang memberikan pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian pahalanya. Dan barang siapa yang memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari dosanya. Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

(QS. An-Nisa; 4, 85).17















































































15Tim penterjemah, Al-Qur‟an dan Tafsirnya,19

16 Tim penterjemah, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, 42

17Ibid., 91

“Tidakkah mereka hanya menanti-nanti bukti kebenaran (Al-Qur‟an) itu.

Pada hari bukti kebenaran itu tiba, orang-orang sebelum itu mengabaikannya berkata, sungguh Rasul-rasul tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami di kemnalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu. Mereka sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri dan apa-apa yang mereka adakan dulu telah hilang lenyap dari mereka. (QS.

Al-A‟raf; 7:53).18

Dokumen terkait