A. Kerangka Teoritis 1. Pengembangan
5. Komik Pembelajaran
Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehinnga membentuk jalinan cerita. Komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Pada dasarnya, format komik ditentukan oleh faktor ekonomis. Artinya, tidak membuang kertas tidak terlalu banyak. Karena setelah selesai dicetak , dijilid jadi buku komik, akhirnya dipotong tepinya supaya rata. Maka harus dihitung secara detail jangan sampai banyak kertas dibuang. (Koendoro, 2007: 10).
18 Komik terdiri dari beberapa jenis. Menurut Ignas (2014: 29), pembagian komik berdasarkan jenis cerita dibagi menjadi empat macam diantaranya,
1. Komik edukasi. Komik jenis ini memberikan andil yang cukup besar dalam ranah intelektual dan artistik seni. Keragaman gambar dan cerita pada komik menjadikannya sebagai alat atau media untuk menyampaiakan pesan yang beragam.
2. Komik promosi (komik iklan). Komik mampu menumbuhkan imajinasi yang selaras dengan dunia anak.
3. Komik wayang adalah komik yang mengisahkan tentang cerita wayang.
4. Komik silat, komik yang berisi tema tema silat yang didominasi adegan pertarungan atau laga.
Penjelasan Ignas tentang jenis komik dapat disimpulkan bahwa komik terdiri dari beberapa jenis antara lain : komik edukasi, komik promosi, komik wayang, dan komik silat.
Pada awalnya, komik justru dimulai daricomic stripada dibeberapa koran atau majalah dimasa lalu, dan seiring dengan perkembangannya, maka komik tidak lagi dibuat secaracomic stripdan untuk temanya sudah tidak cenderung ke hal lucu lagi, akan tetapi lebih meluas ke tema lainnya, mulai dari aksi sampai fiksi ilmiah. Seiring perkembangannya, komik yang tadinya khusus untuk lelucon dan cenderung untuk segmentasi anak-anak mulai bertransformasi menjadi konsumsi remaja dan dewasa, namanya diberbagai negara lain juga berubah dari komik menjadi Grafik Novel. Gumelar (2009:2)
Langkah-langkah dalam pembuatan komik Menurut Koendoro (2007:107) yaitu dengan cara menyusun konsep cerita yang kemudian dituliskan dalam bentuk sinopsis atau langsung ke scenario terlebih dahulu,
19 kemudian membentuk sket atau pola gambar selanjutnya prosestoning, yaitu hasil gambar akhir yang diteruskan dengan memberikan nuansa, bisa hitam putih bisa pula warna.
Berdasarkan penjelasan Gumelar dan Koendoro di atas dapat disimpulkan bahwa komik mulanya merupakancomic stip yang kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk memulai pembuatan komik diperlukan adanya konsep cerita yang dituliskan dalam bentuk sinopsis dan selanjutnya dari sinopsis yang ada dibentuklah sket atau pola gambar, kemudian tahap terakhir adalahtoning, yaitu hasil gambar akhir dengan memberikan nuasa pada komik tersebut.
Komik agar tampil menarik harus memperhatikan mengenai gambar dan teks, serta isi cerita. Pembuatan komik Menurut Cloud (2007:1) perlu memperhatikan beberapa hal dalam proses pembuatan komik yaitu tentang detail gambar dan teks serta kompossisi keduanya. Dengan memastikan komik yang dibuat mudah dibaca dan cerita yang dibuat tidak terlalu monoton atau datar maka komik akan menarik. Membuat variasi atau penggabungan dari beberapa kondisi perlu dilakukan agar si pembaca tidak cepat merasa bosan.
Berdasarkan penjelasan Cloud di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembuatan komik agar terlihat menarik dan pembaca tidak merasa bosan dengan cerita yang menoton maka ada bebarapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu tentang detail gambar dan teks serta komposisi keduanya.
20 6. Besaran dan Satuan
a. Besaran
Pada saat melakukan kegiatan pengukuran suatu benda seperti beras memiliki massa sebesar 15 kg. Dari kegiatan tersebut massa dapat dikatakan sebagai besaran, dan kilogram dapat dikatakan sebagai satuan. Menurut Sugiyarto (2008:4), besaran dan satuan adalah:
Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka disebut besaran, sedangkan pembanding dalam suatu
pengukuran disebut satuan
Dari pendapat Sugiyarto di atas tentang besaran dan satuan dapat disimpulkan bahwa besaran merupakan sesuatu yang dapat diukur atau dihitung dan mempunyai nilai yang dapat dinyatakan dengan angka.
Dalam fisika besaran digolongkan menjadi dua yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Menurut Sugiyarto (2008:4), pengertian besaran pokok dan besaran turunan adalah:
Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah
didefinisikan terlebih dahulu.Besaran turunan adalah besaran yang satuannya diperoleh dari besaran pokok.
Menurut Puspita (2009:5), pengertian besaran pokok dan besaran turunan adalah :
Besaran pokok adalah besaran yang menjadi dasar atau pangkal untuk menyusun besaran lain dan terdiri dari satu satuan.
Sedangkan besaran turunan adalah besaran yang satuannya diperoleh dari gabungan satuan-satuan pokok. Sehingga, besaran turunan memiliki lebih dari satu satuan.
21 Berdasarkan pendapat Sugiyarto dan Puspita tentang besaran pokok dan besaran turunan di atas dapat disimpulkan bahwa besaran pokok adalah suatu besaran yang satuannya sudah ditetapkan secara
internasional. Sedangkan besaran turunan adalah suatu besaran yang satuannya diperoleh dari besaran pokok.
Berdasarkan hasil konferensi umum pada tahun 1960 memutuskan tujuh besaran pokok seperti tercantum pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Besaran Pokok
No Besaran Satuan Simbol
1 Panjang Meter m
2 Massa Kilogram kg
3 Waktu Detik s
4 Kuat arus listrik Ampere A
5 Suhu Kelvin K
6 Intensitas cahaya Candela cd
7 Banyak zat Mol mol
(Sugiyarto,2008:5)
Adapun contoh dari besaran turunan seperti tercantum pada Tabel 2.3 Tabel 2.3 Besaran Turunan
No Besaran Satuan Simbol
1 Kecepatan m/s
-2 Luas m2
-3 Volume m3
-4 Gaya kg.ms-2 N
22
b. Satuan
Menurut Sugiyarto (2008:4), satuan adalah pembanding dalam suatu pengukuran. Sedangkan menurut Puspita (2009:10), satuan adalah istilah yang menunjukkan banyaknya (kuantitas) suatu besaran.
Berdasarkan pendapat Sugiyarto dan Puspita di atas dapat disimpulkan bahwa satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk menyatakan nilai besaran dan dapat membandingkan sesuatu dengan angka tertentu.
Satuan dapat digolongkan menjadi dua yaitu satuan tidak baku dan satuan baku atau Sistem Internasional (SI). Satuan sebagai hasil pengukuran yang berbeda dan hanya digunakan di wilayah tertentu disebut satuan tidak baku contohnya mengukur lantai dengan langkah dan meteran, karena ukuran langkah setiap orang berbeda maka hasil mengukur yang diperoleh pun berbeda. Tapi, tidak demikian dengan hasil mengukur yang menggunakan meteran. Setiap orang akan mendapat angka yang sama.
Untuk memenuhi kebutuhan tentang adanya kesamaan hasil pengukuran, para ahli padaConference Generate des Poids el Measure (CGPM)menyeragamkan sistem sataun yang dikenal sebagai Sistem Internasional (SI). SI dikenal juga dengan sebutan sistem metrik yang terbagi menjadi dua, yaitu sistem CGS dan MKS.
23 Tabel 2.4 Satuan Berdasarkan Sistem Metrik
Sistem Metrik Panjang Massa Waktu
MKS m kg s
CGS Cm g s
(Puspita, 2009:3) Dalam SI, untuk mengubah dari satuan CGS ke satuan MKS atau sebaliknya, dapat dilakukan dengan cara konversi yang salah satu caranya adalah menggunakan tangga konversi seperti ditampilkan pada Gambar 2.1
Gambar 2.1 Tangga Konversi Satuan Besaran Panjang Sumber: (Sugiyarto,2008:7)
c. Pengukuran
Untuk mengetahui apakah badan kita sehat atau tidak tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu berapa besarnya suhu badan kita. Sepatu dan pakaian yang kita gunakan mempunyai ukuran tertentu. Dari kegiatan di atas merupakan salah satu kegiatan pengukuran. Menurut Sugiyarto (2008:3), pengertian pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan.
24 Berdasarkan pendapat Sugiyarto di atas, pengukuran merupakan suatu kegiatan mengukur suatu benda agar mendapat nilai dari pengukuran benda tersebut pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Contoh lainnya dalam pengukuran adalah mengukur berat badan dengan menggunakan timbangan badan, mengukur panjang meja dengan menggunakan meteran atau mistar, dan lain-lain.
d. Alat Ukur
Menurut Sugiyarto (2008:8), Alat ukur digunakan dalam kegiatan pengukuran. Mengukur dapat dilakukan dengan satuan tidak baku dan satuan baku.
1) Mengukur Panjang
Mengukur panjang dengan satuan tidak baku dapat menggunakan beberapa alat, contohnya: depa, kaki, jengkal, hasta dan lain-lain. Sedangkan mengukur panjang dengan satuan baku dapat
menggunakan alat, contohnya: mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup.
2) Mengukur waktu
Mengukur waktu dengan satuan tidak baku dapat menggunakan beberapa alat, contohnya jam pasir. Sedangkan mengukur waktu dengan satuan baku dapat menggunakan alat, contohnya jam dan stopwatch.
25 3) Mengukur Massa
Mengukur massa dengan satuan tidak baku dapat menggunakan beberapa alat, contohnya tempurung batok kelapa, gelas, dan lain-lain. Sedangkan mengukur massa dengan satuan baku dapat
menggunakan alat, contohnya neraca (neraca pasar, neraca analitis, neraca berlengan, dan neraca O’Hauss.
26