BAB III : SINERGITAS INSTRUMEN ANTI PENCUCIAN UANG
A. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui Pelaksanaan
8. Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan
Mengingat badan pelaksana (implementing agency) pembangunan instrumen anti pencucian uang cukup banyak, diperlukan koordinasi yang efektif dan berkesinambungan. Oleh karena itu, melalui Keputusan Presiden No.1 Tahun 2004 tanggal 5 Januari 2004 dibentuk Koordinasi nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.154 Untuk meningkatkan koordinasi antar lembaga terkait dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, dibentuk Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.155
154
Yunus Husein, loc. cit. 155
Ibid.
Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang diatur dengan Peraturan Presiden. Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No.1 Tahun 2004 tanggal tetap menjalankan tugas, fungsi, dan wewenangnya sampai dibentuk Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang berdasarkan Undang-Undang ini.
Untuk menunjang efektifnya pelaksanaan instrumen anti pencucian uang di Indonesia, pemerintah Republik Indonesia membentuk Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Komite TPPU) yang diketuai oleh Menko Politik, Hukum dan Keamanan dengan wakil Menko Perekonomian dan Kepala PPATK sebagai Sekretaris Komite.156
Susunan Keanggotaan Komite TPPU157
156
Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
157
Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
:
Ketua : Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan; Wakil Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;
Sekretaris : Kepala PPATK
Anggota : 1. Menteri Luar Negeri;
2. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia; 3. Menteri Keuangan;
4. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; 5. Jaksa Agung Republik Indonesia;
7. Gubernur Bank Indonesia. Tugas Komite TPPU158
1. Mengkoordinasikan upaya penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;
:
2. Memberikan rekomendasi kepada Presiden mengenai arah dan kebijakan penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang secara Nasional;
3. Mengevaluasi pelaksanaan penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;
4. Melaporkan perkembangan penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang kepada presiden.
Dalam melaksanakan tugasnya, Komite TPPU dibantu oleh Tim Kerja yang terdiri dari159
1. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (sebagai Ketua). :
2. Deputi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Bidang Keamanan Nasional (sebagai Wakil Ketua).
3. Deputi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional.
4. Direktorat Jenderal Multilateral Politik Sosial Keamanan-Departemen Luar Negeri,
158
Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
159
Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
5. Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum-Departemen Kehakiman dan HAM.
6. Direktur Bea dan Cukai-Departemen Keuangan, Direktur Jenderal Pajak-Departemen Keuangan.
7. Direktur Jenderal Lembaga Keuangan-Departemen Keuangan. 8. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Departemen Keuangan.
9. Kepala Badan Reserse Kriminal-Kepolisian Negara Republik Indonesia. 10.Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum.
11.Deputi Kepala Badan Intelijen Bidang Pengamanan. 12.Deputi Gubernur Bidang Perbankan Bank Indonesia.
Disamping Tim Kerja ada dibentuk juga Tim Teknis. Tim Teknis dibentuk berdasarkan Keputusan Menko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Tim Teknis bertugas melaksanakan keputusan dan rekomendasi Tim Kerja.160
Penanggulangan tindak pidan korupsi memang memerlukan koordinasi yang baik diantara instansi yang terkait dengan instrumen anti pencucian uang dan lembaga pemberantasan korupsi. Koordinasi yang baik dapat mempermudah penelusuran asal-usul harta kekayaan yang diduga berasal dari tindak pidana lain, yang kemungkinan akan berujung kepada tindak pidana korupsi sebagai predicate crime dari tindak pidana pencucian uang yang terjadi. Kerjasama dan koordinasi dalam upaya pengungkapan kedua kejahatan yang saling berhubungan tersebut dilakukan secara konsisten dan hingga tuntas, sehingga aktor utama dari tindak
160
Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
pidana tersebut dapat ditemukan dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.161
B. Peran Strategis dan Perkembangan Instrumen Anti Pencucian Uang dalam Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi
Penegakan hukum terhadap tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana korupsi tentu memerlukan sinergitas dan peran strategis dari instrumen anti pencucian uang yang lebih komprehensif. Masing-masing institusi sesuai dengan wewenangnya secara simultan harus dapat melaksanakan perannya dengan baik guna mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang dari hasil korupsi.162
Sistem penegakan hukum sebagaimana telah disinggung di atas, instrumen anti pencucian uang hadir dengan paradigma baru, semula orientasi tindak pidana pada umumnya adalah mengejar pelaku pidana, sedangkan pada masa sekarang orientasinya adalah lebih mengejar pada hasil tindak pidananya.
163
161
Retno Kusumaningtyas, Strategi Penanggulangan Korupsi melalui Perumusan
Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, dapat dilihat dari:
Mengingat tindak pidana pencucian uang termasuk transnational organized crime, serta korupsi yang melibatkan harta kekayaan yang umumnya dalam jumlah besar, untuk efektifitas pencegahan dan pemberantasannya diperlukan koordinasi ataupun sinergitas bukan hanya dalam tingkat nasional tetapi juga internasional, bukan hanya oleh satu lembaga tertentu melainkan bagaimana instrumen anti
162
Marwan Efendy, Op. cit, hal. 48. 163
pencucian uang itu sendiri dapat disinergikan dan dikoorsinasikan untuk kemudahan penindakannya. Kemudahan-kemudahan tersebut telah diberikan dalam undang-undang pencucian uang antara lain secara khusus diatur mengenai pengecualian dari ketentuan rahasia bank dan kerahasiaan transaksi keuangan lainnya, prinsip mengenal nasabah, azas pembuktian terbalik, serta penyitaan dan perampasan aset hasil korupsi.164
Instrumen anti pencucian uang dalam fungsi dan perannya untuk melakukan optimalisasi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, dalam perkembangannya terus melakukan suatu evaluasi, revolusi terhadap kinerja instrumen anti pencucian uang tersebut seperti halnya penerapan prinsip mengenal nasabah, azas pembuktian terbalik bagi pelaku korupsi, dan penyitaan dan perampasan aset hasil korupsi sebagaimana tertuang di dalam misi baru instrumen anti pencucian.165