BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
5.4. Pembahasan Hasil Penelitian
5.4.5. Komitmen Organisasi Memoderasi Pengaruh
Hipotesis ke 5 menyatakan bahwa komitmen organisasi memoderasi pengaruh perencanaan anggaran terhadap penyerapan anggaran belanja. Hasil pengujian moderasi menunjukkan nilai p value dan koefisien jalur memenuhi syarat yang ditentukan sehingga Hipotesis diterima. Artinya, pengelola anggaran percaya bahwa ketika komitmen organisasi ditingkatkan maka pengaruh perencanaan anggaran terhadap penyerapan anggaran belanja OPD juga akan semakin meningkat.
Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Usman & Paranoan (2014);
Sukandani & Istikhoroh (2016); Wiratno & Putri (2016); Rivito & Mulyani (2019); Putri & Novita (2020); Sari, et al. (2019); yang menemukan bahwa komitmen organisasi memoderasi hubungan antara perencanaan anggaran dengan penyerapan anggaran. Namun temuan ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya, yaitu Dewi et al (2017); Sirin, Indarto, Saddewisasi (2020) yang menemukan bahwa komitmen organisasi tidak mampu memoderasi pengaruh perencanaan anggaran terhadap penyerapan anggaran. Adanya penetapan sasaran ataupun tujuan yang tertuang dalam perencanaan anggaran OPD dengan didukung komitmen organisasi yang tinggi dimana setiap pegawai akan lebih mementingkan kepentingan organisasi diatas kepentingan individu dan berusaha keras untuk
mencapai sasaran yang telah ditetapkan maka akan berimplikasi pada meningkatnya penyerapan anggaran OPD. Hasil penelitian ini mendukung teori kontingensi dalam konteks tingkat penyerapan anggaran belanja OPD. Komitmen Organisasi sebagai variabel kontingensi dapat memoderasi pengaruh perencanaan anggaran terhadap penyerapan anggaran belanja OPD. Semakin baik komitmen individu terhadap organisasi didukung proses perencanaan anggaran yang baik maka akan mampu meningkatkan penyerapan anggaran belanja OPD. Komitmen organisasi yang kuat akan mendorong anggota organisasi berusaha keras mencapai tujuan. Pengelola anggaran yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi akan menggunakan informasi yang dimiliki untuk membuat anggaran menjadi relatif cepat dan akan berdampak pada tanggung jawab terhadap penyusunan anggaran (Andriyani & Putri, 2019).
5.4.6. Komitmen Organisasi Memoderasi Pengaruh Pelaksanaan Anggaran terhadap Tingkat Penyerapan Anggaran.
Hipotesis ke 6 menyatakan bahwa komitmen organisasi memoderasi pengaruh pelaksanaan anggaran terhadap penyerapan anggaran belanja. Hasil pengujian moderasi menunjukkan nilai p value dan koefisien jalur memenuhi syarat yang ditentukan sehingga Hipotesis ke 6 diterima. Artinya, pengelola anggaran percaya bahwa ketika komitmen organisasi ditingkatkan maka pengaruh pelaksanaan anggaran terhadap penyerapan anggaran belanja OPD juga akan semakin meningkat. Hasil penelitian ini mendukung teori kontingensi dalam konteks penyerapan anggaran belanja OPD. Komitmen organisasi sebagai variabel
kontingensi dapat memoderasi pengaruh pelaksanaan anggaran terhadap penyerapan anggaran belanja OPD. Semakin baik komitmen individu terhadap organisasi didukung pelaksanaan anggaran yang baik maka akan mampu meningkatkan penyerapan anggaran belanja OPD.
5.4.7. Komitmen Organisasi Memoderasi Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap Penyerapan Anggaran Belanja.
Komitmen organisasi merupakan suatu tingkat keyakinan sejauh mana pegawai memihak pada suatu organisasi tertentu yang tujuannya berniat untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi. Komitmen organisasi merupakan dorongan dari dalam diri individu untuk berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan organisasi. Komitmen organisasi yang kuat ditandai dengan menerima tujuan dan nilai organisasi dan melakukan upaya untuk kepentingan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai yang memiliki komitmen yang tinggi akan beranjak untuk mengejar tujuan organisasi, sedangkan pegawai yang memiliki komitmen organisasi yang rendah akan mengejar tujuan pribadi (Angle dan Perry, 1981).
Hipotesis ke 7 menyatakan bahwa komitmen organisasi dapat memoderasi pengaruh kompetensi sumber daya manusia terhadap penyerapan anggaran belanja. Hasil pengujian menunjukkan nilai p value dan koefisien jalur tidak memenuhi syarat yang ditentukan sehingga Hipotesis ditolak. Artinya, komitmen organisasi tidak dapat memoderasi hubungan antara kualitas sumber daya manusia dengan tingkat penyerapan anggaran.
Hasil empiris penelitian ini tidak mendukung penelitian Arthana et al.
(2015); Dewi et al (2017) yang membuktikan bahwa komitmen organisasi mampu memperkuat pengaruh kompetensi pegawai terhadap kinerja penyerapan anggaran. Hasil dari penelitian ini tidak mendukung teori kontingensi dalam konteks penyerapan anggaran belanja OPD. Komitmen organisasi tidak dapat memoderasi pengaruh kompetensi sumber daya manusia terhadap penyerapan anggaran belanja OPD kemungkinan disebabkan kondisi di instansi pemerintahan yang cenderung birokratis mengharuskan pagu serapan anggaran yang sudah ditetapkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran OPD harus tetap dilaksanakan meskipun instansi tersebut tidak memiliki kesiapan baik dari sumber daya yang dimiliki atau komitmen organisasi yang dapat mendukung tingkat penyerapan anggaran. Hal ini dapat dilihat dari penempatan sumber daya manusia sebagai pengelola keuangan daerah seringkali tidak sesuai dengan tingkat pendidikan pegawai. Pengelolaan keuangan daerah membutuhkan pegawai – pegawai dengan pengetahuan mengenai manajemen keuangan sektor publik, namun seringkali pegawai dengan latar belakang yang berbeda mengisi posisi sebagai pengelola keuangan daerah. Minner mengungkapkan salah satu faktor yang mempengaruhi komitmen pegawai terhadap organisasi adalah faktor personal yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja (Sopiah, 2008). Mutasi pegawai yang cukup sering dilakukan, pengelola anggaran dituntut untuk tetap berkomitmen pada organisasi perangkat daerah yang baru sesuai penempatan, sehingga tidak jarang para pengelola keuangan kurang memiliki komitmen terhadap organisasi.
Mowday mengemukakan bahwa faktor – faktor pembentuk komitmen organisasi
akan berbeda bagi pegawai yang baru bekerja setelah menjalani masa kerja yang cukup lama, serta bagi pegawai yang bekerja dalam tahapan yang lama dan menganggap organisasi sudah menjadi bagian dalam hidupnya (Sopiah, 2008).
Hasil empiris penelitian ini mendukung penelitian Sari, et al. (2019) dan Sirin, Indarto, Saddewisasi (2020); yang menemukan komitmen organisasi tidak memoderasi pengaruh kompetensi sumber daya manusia terhadap penyerapan anggaran. Komitmen organisasi pada dasarnya akan dapat terlaksana dengan baik apabila para aparatur penyelenggara pemerintahan daerah bersinergi dan konsisten terhadap pakta integritas untuk mencapai target kinerja yang telah disepakati bersama kepala daerah yang menjadi acuan dalam mewujudkan visi dan misi dari SKPD (Nuri, 2017).
5.4.8. Komitmen Organisasi Memoderasi Pengaruh Proses Pengadaan Barang dan Jasa terhadap Penyerapan Anggaran Belanja.
Komitmen organisasi merupakan suatu tingkat keyakinan sejauh mana pegawai memihak pada suatu organisasi tertentu yang tujuannya berniat untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi. Komitmen organisasi merupakan dorongan dari dalam diri individu untuk berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan organisasi. Komitmen organisasi yang kuat ditandai dengan menerima tujuan dan nilai organisasi dan melakukan upaya untuk kepentingan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa pegawai yang memiliki komitmen yang tinggi akan beranjak untuk mengejar tujuan organisasi, sedangkan pegawai yang memiliki komitmen organisasi yang rendah akan mengejar tujuan pribadi (Angle dan Perry, 1981).
Hipotesis ke 8 menyatakan bahwa komitmen organisasi memoderasi pengaruh proses pengadaan barang dan jasa terhadap penyerapan anggaran belanja. Hasil pengujian menunjukkan nilai p value dan koefisien jalur memenuhi syarat yang ditentukan sehingga Hipotesis ke 8 diterima. Artinya komitmen organisasi dapat memoderasi pengaruh proses pengadaan barang dan jasa terhadap penyerapan anggaran belanja.
Hasil dari penelitian ini mendukung teori kontingensi dalam konteks