yan tcrtck;rn h;nganyil, karcna pcngaruh ~· t]ght mon~~y policy.
Tight money policy yang bertujuan menekan Jan menj i-nakkan lnflasi terse hut,
tcrnyata hllsilnya kurnng mcma<lai,
Inflasi t.-ihun 1989 scbcsar 5,7%
mcningkat mcnja<l~ 9,5%
da-la111 t;d1u11 l~~u. Ccl.J.rakuu Me11tcri SumLl.rlin kcJuu, rncmung
me-red:ll\1111
i:i:iu de
vnlwt~)l, Lnpi.di
~;ls.Llaiu tolah rneuyuLuLkun
melonjaknya tingkat suku brmga pinjaman di atas rata-rata se besar 30 % • Hal ini disebabkan perbankan mengalami tekanan terha<lap likuiditasnya.
Rentctan sclanjutnya ac.lalah tertutupnya pasilitas kr~
dit untuk pengusaha kelas menengah dan kelas bawah.
Sementa-_ ra
ituPemerintah mengeluarkan lagi Paket Februari 1991
(Pa~tr.i) yang bcrtujuan w1tuk lebih mengendalikan dan memantapkan pcrtumbuhan perb~rnkan, karena pcrkembangan perbankan dinilai te 1 ah b
er
langs un g san gat
cep at. ...Akibat Paktri ini dw1ia perbankan semakin konservatif untuk menjaga likuiditasnya, terutama kewajiban menjaga CAR
(f.api
tal adequacy ratio). Dan dalam rangka menj aga likuiditas
perbankan ini, Pcmerintah menurunkan
NOP
offshore loan dari 25 % menj a<li 20 % • Kebij aksanaan ini telah merangsang per -bankan rnencari offshore loan yang menghasilkan belasan mil-yar Jolar yang kcmudian Pcmerintah mcnyatakan kckhawatiran-"sangat besar" terhadap offshore loan.
Fraksi Pcrsatuan Pembangunan mcnghargai kebijaksanaan pengenc.laliun offshore loan ini,, karena akibatnya <lapat mele mahkan posisi Neraca Pembayaran clan Cadangan. Devisa. Begitu pula hirnbauan Pcmcrintah kcpa<la perbankan w1tuk ncnurnnkan su ku bunga pinjaman, fraks~ Persatuan Pembangunan menyambut baik, bahkan f.raksi Persatuan PembangW1an menyampaikan
kepa-. da Pemerintah kepa-. kepa-. kepa-. kepa-. kepa-. kepa-. kepa-. kepa-. kepa-. kepa-. kepa-.
da Pc111L!ri11Lalt, \J~tl1wa daL1m pengerahau dana Jau
pcngc11Jalitm,-'.'";('rt ;1 JH'llJ•.er;1h:111 perkrcdi.tan pcrnnnn Pcmerintah masih tetap
Si dang Dewan yang kami muliakan.
TIT. Hllll
Tf:NT/\NGPERB/\NK/\N
Dalam mcmbicarakan Hancangan Undang-w1<lang tcntang Per bankan yanp, sckarang ini dibahas, ada baiknya kita lihat Un-dang-tmdang Nomor 14 Tahw1 1967 tentang Pokok-pokok Perbankan yang masih berlaku sekarang ini. Jelasnya undang-undang
itu telah ticlak
lagimemaclai dengan era deregulasi
yangtelah
ja-uh ini. Ha 1 ini <lap at di men gert i sepenuhnya, menp;inga t un -dang-undang itu lahir pada awal .Orde Baru, pada masa perekon.9_mian masih <lalam ancang-ancang memasuki tahap rehabilitasi se belum dimulainya Pelita
I.
Presi<lcn Soclwrto Jalam Pidpto Kenegaraan <li <lepan Si-dang Par ipurna UPR- RI pada bul an Agust us 19 8 9 menj amin, b ahwa kebijaksanaan deregulasi yang dilakukan
oleh pemerintah
tetap . akan ucrpcgang pa<la ketcatuan-kcteutuan UUD 19,IS. 13ctapapun-undang-undang Nomor 14
Tahw1
1967 sudah ketinggalan j aman, n~mun cJalam pcnjelasan atas un<lang-undang tersebut terkaridWlg miss.i yang a111at pcnting. 1Jala111 l>utir 1 <lari Penjelasan Umum (huruf A ),antara lain tertulis "Pengaturan kembali tata perba!.!_
Lun Ji Indonesia, Haj ib dilandaskan patla pernbinaan. sistem
ckonomi
Indonesiaberdasarkan Pancasila,
yang menjamin ber-langsungnya demokrasi ekonomi. . . ''. Dalain bagian lain c.lari penjclasan umum ~tu ditekankan pula, bahwa pengaturan t~ta perbankan
perlu <lilandaskan pa<la. upaya "
memobilisasikan-dan mernperkcrnbw1gkan •....•.••
<lan 111empcrkc111bangkan seluruh potensi nusional yang bergerak ..
Ji uidaug pcrl>~111kau L>erJasarkan
azas-azas
Jemokrasi Ekouomi''·13agia11 pcnting c.lari undang-un<lang ini perlu <liambil alih dan dirnasukkan ke dalam RUU Perbankan yang sedang diba -has DPR Jan bahkan perlu ditempatkan di bagian yang strategis, misalnya dalam pasal-pasal awal yang mengemukakan tuj uan dari missi sistem perbankan nasional. Di samping
itu,
ada hal pen ting dalarn Undang-w1dang Nomor14 Tahun 1967 itu yang perlu
memperoleh perhatian untuk diperbaiki, yakni prinsip agunan yang <lipcg~rng sccara kaku. Patia Pasal 24 ayat (1) tersebut misalnya, <lisebutkan, bahwaBank Umum
tidak memberikan kredit tan pa jam in an kepada s i apapun j uga. Oleh karena it u, ket i ka Presiden Soeharto mengharapkan agar pemberian kredit dipede-s
aan jau
gan t crpak
u p atla a g unan,s
ulit
<lap at di1 ak sanakan oleh
dunia perbankan.Sementara itu, Rancangan Undang.-undang yang baru tidak terlihat meng3cu pac1a j ih1a yang ter}can<lung dalam buti r 32, h~
ruf D, Bab IV G13IIN Tahun 1988_, yang bc.rbunyi : "kebij aksanaan pcrkreclitan untuk koperasi serta pengusaha golongan ekonomi -1 cm.ah t c rm a s u k ya n g L> e r us ah a <l i s c k t o r in f o rm a 1 <l u n t r a <l i s i o -nal perlu <lilanjutkan clan clisempurnakan dengan meningkatkan kemudahan untuk memperoleh kredit secara memadai serta diarah kan untuk mcnumbuhkan kcmampuan, <laya suing, dan pro<luktivi - ...
tasnya dalam rangka lebih menggerakkan pertumbuhan ekonomi d~
ri bawah, serta mcnuorong pemerataan pembangw1an clan hasil-ha silnya.
Prinsip
clasaryang
berkaitan dengan Jemokrasi ekonomi di sektor Perbankan scperti termaktub dalamGBHN
perlupula
melandasi uadang-undang
yung
baruitu nantL
Jiwa dan semµ1_1gat <lari . . . . • .
.Jiw;i d;111 sc111:1ni'.;1t d:iri :q>~l Y'11i,1, tcrtcra di1L1111 hut·i r (} dan
l>u-t i r 1 4 h u r u f B pa J a Bab I I I , s e rt a b u t i r ... but i r 1 7 , 2 0 , 2 8 d an 32 huruf A dan pada Bab IV GBIIN Tahun 1988 perlu dipertimban_g_
kan untuk dimasukkan dalam RUU yang sedang dibahas di DPR itu, pr ins i p -p r in s i p pcm c rat a an , pen in g k at an p rod u
kt
iv it as , p e r 1 u ..w ~ 1111 L t' '. l L1 111 p :i L : 111 k l' r
J
11 , !~ L a I J 11_ .l L u ~ ,p
c 111 l h ak
u 11 J..,, u p u Juk
u p e 11 L 1 uli
an nasional, semun tercermin dalam butir-butir GBHN tersebut di at as. Karena i tu ' materi-materi GBHN tersebut perlu diakomo dir dalam RUU Perbankan ini. Bagaimana tanggapan Pemerintah?Suatu hal yang membedakan RUU tentang Perbankan dengan Undang-un<lang Nomor 14 Tahun 1967 adalah, bahwa RUU yang se-dang dibahas DPR ini bukan Unse-dang-unse-dang Pokok, UndangW1 -dang Nomor 14 Tahun 1967 adalah Undang-undang Pokok, yang da-ripadanya harus diturunkan llildang-tmdang lain yang lebih rin-ci. Misalnya, berJasarkan Undang .. -undang Nomor 14 TAhun 1967 itu telah dilahirkan Undang-unJang Nomor J3 Tahun 1968 tentang Uauk fndoncs.ia, Uiu.lang-un<lung Noinor 17 'l'ahun 1968 tc.ntang llNI 1946, Undang-undang Nomor 18 tentang ·Bank Dagang Negara dan s~
bagainya.
Karena RUU tent ang Per!Jankan i tu bukan undangundang -pokok, maka segala sesuatu tentang perbankan mestinya sudah secara final di atur di dalanmya. Itu artinya segala sesuatu
• yang berkaitan Jengan llank Indonesia juga harus secara leng-kap diatur Ji JaL111mya. Kenyataan RUU hanya menyebut secara sumir fungsi Bank Indonesia dalam rangka pengawasan.
Ki ta mcmiliki Undang-unJang ten tang Bank Indonesi~, y~
itu Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968. Tetapi undang~undang
itu dibuat berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1967 ten--tang Pokok- p okok Pe rb ankan t acli. Undan g-w1dang pokok it u sen di ri sud ah akan dig anti dengan RUU yang sekarang ini. Kalau
Undang-undang . . . • .
... '
Undan;-unclang Pokoknya su<lah dianggap ketinggalan zaman, ap~
Lq: i_ ! . r n d u k 1111 d : rn f~ -u n d : 111 f. y : 111 l ! d i l ;i h i r k an d a r i p ~1 d a 11 y a . Lo g i I?_
nya U1~Ja11g-un<lang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Indone.sia
juga harus diganti.
lJan karcna ti<lnk a<la undangundang Po-d : 1 ll
n
1111 d : 111 J '. t t~ 11 1 · 1111 J '. H i 1 ll kl.
Jl d ll JI u si
tli t
LI d.l
uj
ll k t I Jl ! j llt
u dengau !WU tcutang Perlrnnkan yang sekarang ini. Kami, tanggapan Pemerintah ?pnko t
mo
honSauclara Pimpinan, clan Sidang yang kami muliakan.
Sementara itu, dalam
RUU
yang ·telah diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat itu disebutkan,bahwa sejumlah peraturan
perundangundangan tidak akan berlaku lagi dengan disahkan -nya RUU i tu ·menj adi undang-undang nan ti (dengan tenggang wak
tu satu L1hun) . .
Peraturan Perun<langan-un<langan tennaksuu a<la
lah Peraturan Pernerintah Pengganti Undang-undang tentang Bank Pembangunan Indonesia, Un<lang-undang tentang BNI 1946, lh1J.nn_g_dang tent ang
B~mk Dagang Negara,U11dang-w1dang
tenta.ngBank Bwni Daya,
Undang-undang tentang Bank Tabungan Negara, Undang-undang tentang Bank Rak-yat InJonesia, clan Ua<laug-w1c.l~mg tcntang Bank Ekspor I11q)Qr Indonesia.Itu artinya, Undang-undang tentang Bank Indonesia ma-sih akc:n tetap berlaku. Tentu pertanyaan adalah, apakah missi, fungsi, dan tugas pokok Bank In<lonesia dimasa depan nanti mE:_
: ; i I 1 : 1 L; 1 11 : ; : 1 m: 1 :; v l' c r Li y '1 u g J i r urn us k an p ad a l:. uh w l l ~ u 8 • P u J a -hal inJuknya, yakni Undang-unclang Nomor 14 Tahun 196 7 suaah diganti , karena kurang dapat menampung dinamika sektor per-bankan pa<la era deregulasi ini. FRaksi Persatuan Pembangun-an berpen<lapat, bahwa mis~i Bank Indonesia harus dipertegas,
<lirumuskan kembali, c.lengan tetap rnengacu pac.la peranan negara Jalam mcngcndalikan perekonomian nas~onal seperti
di-k~henc.laki oleh konstitusi.
Dalam era Perbankan . . . .
ll;tli1111 t•1·:1 1tt·1IJ:111l,:111 y:1111~ 1m'JIJ~n11d:1lk11n pudu lllL'k:111l!;i11u p:i~;ar, kcJuduk<.111 Hauk luJoues.ia justru harus leuih kuat . .Kurcna me-kanisine pasar t i<lak akan mengacuhkan apa · saj a, termasuk ke-p t' 11 t i. 11
r. :
111 JI : 1 s i o 11 ;1 J . Md~ n 11 i. s 111 c p : 1 s n r 1 w nya
p u uy
a s n t u m i s s :i , ya kn i a 1ok3 s i s u 111 IJ c r - s u mb e r s e car a e f i s i en , t i <l ak a k an per d ~ l i dc:ugan kcpcuLiugLI11 nasiouul.t ii
It '?
JJagaimana tanggapau
p_eml!ri11
Si <l~rn g De wan yang be rb ahagi a.
Sebenarnya kondisi perbankan kita dewasa ini belum
si-ap benar untuk bekerja dalam mekanisme pasar yang penuh de-ngan berbagai kon<lisi seperti yang berkaitan dede-ngan struktur clnna, tingknt bunga, CAR (.Capital Adequacy Ratio), dan seba ..gainya masih mcnunjukkan kelemahan.
Bank In<lone s i a ha rus puny a pos is i kuat un t uk "rnengat ur"
atau mcmbina sektor perbankan, Barangkali gebrakan-gebrakan MoJel Sumarlin Japat Jiuntisjpasi ·w1tuk tidak datang dari D~
partcmcn Kcu.-rngau, tctapi Jiatasi dcllgan kewenangan yang ada pada Bank Indonesia, misalnya. Untuk itu perlu tugas dan w~
wenang Bank Indonesia pada masa mendatang, mohon dapat dije-laskan olch Pemerintah pada kesempatan menj awab Pemandangan Um um in i nan ti ?
Si<lang Ue\.,..an yang mulia.
IWU tentang Perbankan yang baru, hanya mengenal dua j~
nis bank, yakni Bank Umum dan Bank Perkxeditan Rakyat atau -BPR. Se<langkan Undang-undang Noinor 14 Tahun 1967 tentang Po kok-pokok Perbankan mcngenal 3 (tiga) jenis bank, yaitu bank Umum, Bank Pernbangunan dan BPR.,
Dengan 111enghilangkan j en is Bank Pembangw1an menimbul kan pertanyaan, ba1ik umwn rnanakah yang· akan ber.fungs i seba -gai Bank yang bernafaskan dan berjiwa agent
of
dey~lopmen.Karen a Bank ... · .. ·.' .. , .. , .
- ~5
-Karena Bank Umum ukan bekerj a berdasarkan mekanisnle pasar, Ke padanya sulit <libebankan tugas-tugas pemerataan, karena
ka-lau ini Jilakukan akan tertinggal oleh bank-bank lain yang orientasiuya keuntungan. Ataukah beban ini. akan diserahkan kepac.la 13;.ink Uu1urn Eks Pernerintah, Lalu Bank Swasta terbebas d a r i k e Ha j i b an s e p e rt ~ it u . Har a p pen j e 1 as an
P
e1n er int ah ?S.ementara itu, ~UU Perbankatl- ini rnenyebutkan, bahwaBPR sebagai baJan perkreditan W1tuk golongan ekonomi lemah, ini seolah-olah 11H~mbebaskan Bank-bank umum untuk menolong "si l~
mah''. PaJahal BPR omzetnya sangat kecil, dan bunganya
ting-gi. Persoalan-pcrsoalan seperti itu dapat dijawab dengan m~nyatakan "toh bisa diatur", seperti tentang 20 % kredit un-tuk KUK misalnya. Itu benar, tetapi dasar falsafah, missi, clan tugas pokok w1tuk dapat melakukan upaya-upaya dalam ran.&, ka pemerataan seperti itu harus tertera dalam pasal-pasal
d!
ri w1<la11g-un<lang itu sendiri. Bagaimana tanggapan Pemeriff
-tah
?Khusus mengenai terhadap BPR yang merupakan garis de-pas inJustri pcrb~:m.kan yang bertebaran di pedesaan di selu_ -ruh penjuru tanah air, Fraksi Persatuan Pembangunan menilai sangat positif. Untuk lebih rneningkatkan kemampuan profesi--o a _a l l t ~ s 111 c r c k a , p c r 1 u J i p i k i r k n.n 1 c b i h m c n J a 1 am 1 u g i t u t un -an pcrl inJungan dun pengeinbangannya sedemikian rupa sehingga .daya j uang, day a saing dan daya manfaat b".lgi perj uangan eko-nomi masyarakat bawah/rnenengah terutama di peclesaan mcnjadi sangat ucsar artinya.
Dalam