• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Tinjauan Teori dan Konsep

1. Kompetensi Guru dalam konteks kebijakan. 22

Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14/2005 Pasal 10 ayat 1 dan

PP No. 19/2005 Pasal 28 ayat 3, menjelaskan bahwa guru wajib memiliki

kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan

profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Dalam kontes

kebijakan tersebut, kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai

kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diwujudkan dalam

bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tangggung jawab yang

dimiliki seseorang untuk memangku jabatan sebagai profesi.

a. Kompetensi pedagogik

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkaitan

dengan pemahaman siswa dan pengelola pembelajaran yang mendidik

dan dialogis. Secara subtansi, kompetensi ini mencakup kemampuan

pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan

pembelajaran, evalusi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Standar pendidikan nasional pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3)

35

mengelolah pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap

siswa, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil

belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai

potensi yang dimilikinya.

Lebih lanjut, dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang

Standar Pendidik dan Kependidikan dikemukakan bahwa kompetensi

pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran

siswa yang sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut.

1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan (kemampuan

mengelola pembelajaran)

Secara pedagogis, kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran

perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini penting karena guru

merupakan seorang manajer dalam pembelajaran, yang bertanggung

jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian perubahan atau

perbaikan program pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut, sedikitnya

terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu menilai kesesuaian

program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan siswa,

meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksankan program,

serta menilai perubahan program.

2) Pemahaman terhadap siswa

Terdapat empat hal yang harus dipahami guru dari siswa, yaitu tingkat

kecerdasan, kreativitas, cacat fisik, dan perkembangan kognitif.

36

Perencanaan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi

pedagogik yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran sedikitnya ada tiga kegiatan, yaitu tiga

identifikasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar dan penyusunan

program pembelajaran.

4) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis

Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara siswa

dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang

lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah

mengondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku

kearah yang lebih baik dan pembentukan kompetensi siswa, umumnya

pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal yaitu pre-tes, proses, dan

post test.

Keharusan guru memiliki kemampuan pedagogik banyak disinggung

dalam Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah Saw. Salah satu firman Allah yang secara tidak langsung menyuruh setiap guru untuk memiliki

kemampuan pedagogik adalah Surah An-Nahl (16) ayat 125:

Terjemahnya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa

37

yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Rasulullah SAW menyuruh guru dan orangtua untuk mengetahui dan

memahami perkembangan anak didiknya. Pengetahuan tersebut

diperlukan agar guru dapat memperlakukan anak didik sesuai dengan

tahap perkembangannya, sehingga guru harus dibekali dengan

kompetensi pedagogik yang baik.

Kompetensi pedagogik adalah guru harus paham terhadap peserta

didik, perancangan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, dengan

pengembangannya, dengan memahami semua aspek potensi peserta

didik, menguasai teori dan strategi belajar serta pembelajarannya, mampu

merancang pembelajaran, menata latar dan melaksanakannya, dan

mampu melakukan pengembangan akademik dan non akademik.26

Didalam ayat ini mengambarkan betapa peserta didik mempunyai sikap

senang, percaya, dan kasih sayang terhadap peserta didiknya. Hal

demikian ini seperti didalam surah An-Najm ayat 8:

ىَّلَّدَتَ ف اَنَد َّمثُ

Terjemahnya:

“Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.”

Jika dilihat dari apa yang ditafsirkan al-Maraghi bahwasanya malaikat

Jibril mendekati dan turun dari atas untuk menyampaikan wahyu kepada

Rasullulah Saw dengan penuh kedekatan. Posisi yang berdekatan inilah

yang membuat proses penyampaianwahyu menjadi sangat jelas sehingga

38

Hal ini dilakukan supaya peserta didik mengetahui identifikasi tujuan

belajar dan mengetahui tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan

sebagai kriteria pencapaian kompetensi, kemudian disusun dalam

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sehingga program

pembelajaran yang mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode,

tehnik, media, dan sumber belajar dan lainnya menjadi jelas. Setelah itu

guru harus menguasai materi ajar yang akan disampaikandan guru

mampu menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang

dipilih. Kemudian guru menata latar (setting) pembelajaran dan guru

mampu melaksanakan pembelajaran yang kondusif. Kemudian guru

merancang dan melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar secara

berkesinambungan dengan berbagai metode, kemudian guru

menganalisis hasil hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk

menentukan tingkat ketuntasan belajar, dan memanfaatkan hasil penilaian

pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara

umum. Hal ini berkaitan dengan apa yang dikatakan didalam Surah

An-Najm Ayat 10:

ٰى َح ْوَأ ا َم ِه ِد ْب َع ٰىَلِإ ٰى َح ْوَأَف

Terjemahnya:

“Lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.”

Didalam ayat 10 Surat An-Najm jika dihubungkan dengan kompetensi

guru adalah setiap guru wajib memahami setiap bahan ajar/materi yang

39

menjadi sangat penting. Karena bahan ajar atau materi yang disampaikan

sangat berguna bagi peserta didik dalam memami setia pembelajaran

yang akan dia dapat.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan dalam pengelolaan

peserta didik. Maka seorang guru harus dilengkapi kemampuan sebagai

berikut :

a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.

b. Pemahaman terhadap peserta didik.

c. Pengembangan kurikulum/silabus.

d. Perancangan pembelajaran.

e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan idialogis

f. Evaluasi hasil belajar; dan Pengembangan peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang mimilikinya.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa kompetensi

yang mutlak harus dimiliki guru. Pengembangan mutlak diperlukan agar

guru dapat melakukan tugasnya dengan baik dan dapat melakukan

perubahan atau perbaikan dalam setiap kegiatan pembelajaran

b. Kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap

dan berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta

didik.

40

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, professional dan

dapat dipertanggung jawabkan, guru harus memiliki kepribadian yang

mantap, stabil, dan dewasa. Hal ini penting, karena banyak masalah

pendidikan yang disebabkan oleh faktor kepribadian guru yang kurang

mantap, kurang stabil, dan kurang dewasa. Kondisi kepribadian yang

demikian sering membuat guru melakukan tindakan tindakan yang kurang

professional, tidak terpuji, bahkan tindakan-tindakan yang tidak senonoh

yang merusak citra dan martabat guru, berbagai kasus yang

disebkan oleh kepribadian guru yang kurang kompeten, kurang stabil

dalam emosi dan berprilaku asusila kepada peserta didiknya. Sering sekali

kita dengar banyak disurat-surat kabar, media cetak, media-media

elektronik dan diberbagai media lainya.

Ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian ini adalah rangsangan

yang sering memancing emosinya, kesetabilan emosi sangat diperkukan

namun tidak semua orang dapat mengontrol emosi terhadap rangsangan

yang menyinggung perasaan, dan memang diakui bahwa tiap orang

mempunyai tempramen yang berbeda dengan orang lain. Untuk keperluan

tersebut, upaya dalam bentuk latihan mental akan sangat berguna. Guru

yang mudah marah akan membuat peserta didik menjadi takut untuk

kegiatan belajar, sebab karena ketakutan itu yang membuat minat mereka

terhadap belajar menjadi terganggu. Baik dalam segi konsentrasinya

maupun dalam segi, mereka akan sangat takut apabila salah, takut

41

2. Disiplin, Arif, dan Berwibawa

Dalam pendidikan, mendisiplinkan peserta didik harus dimulai dengan

kedisiplinan gurunya, arif dan berwibawa. Kita tidak bisa berharap banyak

akan terbentuknya peserta didik yang disiplin dari guru yang tidak disiplin,

kurang arif dan kurang berwibawa. Dalam hal ini disiplin harus ditunjukan

untuk membantu peserta didik menemukan diri; mencegah timbulnya

masalah disiplin, dan berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan

bagi kegiatan pembelajaran, sehingga mereka dapat mentaati segala

peraturan yang telah ditetapkan.49

3. Menjadi Teladan bagi Peserta Didik

Ini sejalan dengan Firman Allah Swt dalam surat Al-Ahzab ayat 21

yang mengatakan:

Terjemahnya:

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Guru merupakan teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang

enganggap dia adalah seorang guru. Terdapat kecendrungan yang besar

menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi

ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa dilakukan oleh guru

akan menjadi sorotan peserta didik serta orang berada disekitar

42

guru. Secara teoritis, menjadi teladan merupakan bagian dari integral

seorang guru, sehingga menjadi guru berarti menerima tanggung jawab

sebagai teladan yang baik.

4. Berakhlak mulia

Guru harus berakhlak mulia, karena guru adalah seorang penasehat

bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak

mempunyai latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberpa hal

yang tidak berharap untuk menasehati orang. Banyak guru cenderung

menganggap bahwa konseling terlalu banyak membicarakan klien,

seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang. dan oleh

karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini. Padahal

menjadi guru tingkat manapun berarti menjadi penasehat dan menjadi

orang kepercayaan yang harus berakhlak mulia, kegiatan pembelajaran

guru meletakanya pada posisi tersebut.

Rasulullah Saw adalah guru bagi seluruh manusia di dunia. Sebagai

guru, maka beliau membekali dirinya dengan akhlak yang mulia. Akhlak

yang mulia ternyata menjadi salah satu faktor yang mendukung

keberhasilan beliau berada dalam melaksanakan tugasnya. Kemuliaan

akhlak Rasulullah Saw. Dinyatakan dalam Surah Al-Qalam (68) ayat 4:

Terjemahnya:

43

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang

mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan

berwibawa, menjadi teladan bagi siswa, dan berakhlak mulia. Berikut

merupakan penjelasan dari poin-poin pengertian kompetensi kepribadian

di atas.

a. Memiliki kepribadian mantap dan stabil

b. Memiliki kepribadian yang dewasa

c. Memiliki kepribadian yang arif

d. Memiliki kepribadian yang berwibawa

e. Menjadi teladan bagi siswa

f. Memiliki akhlak mulia

c. Kompetensi Sosial

Guru merupakan makhluk sosial karena kesehariannya tidak dapat

dipisahkan dari kehidupan bersosial, baik di sekolah maupun di

masyarakat. Kompetensi sosial berkaitan dengan kemampuan pendidik

sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara

efektif dengan siswa, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang

tua/wali siswa, dan masyarakat sekitar.

Usman dalam Suprihatiningrum (2016:112), Kompetensi sosial sangat

perlu dan harus dimiliki seorang guru. Sebab, bagaimana pun juga ketika

proses pendidikan berlangsung, dampaknya akan dirasakan bukan saja

oleh siswa itu sendiri, melainkan juga oleh masyarakat yang menerima

44

memerhatikan tuntutan dan kebutuhan masyarakat sangat perlu

ditingkatkan.

Kompetensi sosial menuntut guru selalu berpenampilan menarik,

berempati, suka bekerjasama, suka menolong, dan memiliki kemampuan

yang baik dalam berkomunikasi. Perintah untuk melakukan komunikasi

dengan baik banyak terdapat dalam Al-Qur’an, antara lain firman-Nya dalam Surah An-Nisa (4) ayat 63:

Terjemahnya:

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka, karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”

Penjelasan ayat di atas bahwa Kompetensi sosial penting untuk

dimiliki oleh seorang guru karena mempengaruhi kualitas pembelajaran

dan motivasi belajar siswa. Hubungan yang akrab antara guru dan siswa

menyebabkan siswa tidak takut atau ragu untuk mengungkapkan

permasalahan belajarnya (Strahan, 2003). Untuk menciptakan kultur

sekolah yang baik, guru juga harus mampu menciptakan suasana kerja

yang baik melalui pergaulan dan komunikasi yang baik dengan

45

Barners (1997) menyatakan bahwa salah satu kegagalan guru dalam

mengajar adalah disebabkan interaksi dan berbagai kekurangan dalam

komunikasi. Sering guru menvisualisasikan ilmu yang ada dalam dirinya

untuk dirinya sendiri, artinya ia tidak memikirkan apakah pola pikir siswa

sama dengan pola pikirnya. Akibatnya, tidak terjalin interaksi yang baik

sehingga terjadilah kegagalan belajar siswa yang berdampak pada

kualitas pembelajaran.

d. Kompetensi profesional

Istilah profesional (professional) berasal dari kata profession

(pekerjaan) yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan. Sebagai

kata benda, profesional berarti orang yang melaksanakan suatu profesi

dengan meenggunakan profesiensi (kemampuan tinggi) sebagai mata

pencaharian (Syah, 2004).

Kompetensi Profesional adalah kemampuan atau keahlian khusus

yang mutlak dimiliki oleh guru dalam bidang keguruan yang dengan

keahlian khusus tersebut mampu melakukan tugas dan fungsinya secara

optimal. Profesionalisme merupakan modal dasar bagi seorang guru untuk

dimiliki dan tertanam dalam prilaku kepribadiannya setiap hari baik di

dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kompetensi profesional menurut setiap guru untuk menguasai materi

yang akan diajarkan, termasuk langkah-langkah yang perlu diambil guru

46

dari itu guru harus ahli dibidangnnya. Pentingnya keahlian dalam suatu

pekerjaan dinyatakan Rasulullah Saw. Melalui sabdanya:

“Apabila suatu pekerjaan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran. (HR. Bukhari).

Keahlian merupakan salah satu syarat mutlak bagi peningkatan

kualitas pendidikan. Oleh karena itu, guru harus berusaha meningkatkan

kemampuan ilmunya agar menguasai ilmu yang diajarkan. Kompetensi

profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran

secara meluas dan mendalam yaitu meliputi konsep, struktur, dan metode

keilmuan teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar yang

ada dalam kurikulum sekolah, penerapan konsep-konsep keilmuan dalam

kehidupan sehari-hari dan kompetensi secara profesional dalam konteks

global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik benar-benar

bermanfaat bagi kehidupannya, dan peserta didik benar-benar dapat

bekerja menggunakan dan mengamalkan ilmu tersebut. Seperti apa yang

terdapat didalam surat An-Najm ayat 5:

ى َوُقْلا ُديِدَش ُهَمهلَع

Terjemahnya:

“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” Ayat di atas menjelaskan bahwa Rasullullah Saw diajarkan oleh malaikat

yang amat kuat dalam setiap menyampaikan wahyu dan mengajarkannya

kepada Rasullullah dan kemudian Rasullullah melihat melihat Jibril

47

didalam kata / هملع allamahu Setelah dianalisis dari Tafsir Misbah, al-Maraghi, Penulis menganalisa bahwa didalam surat an- Najm kata ini

dapat diartikan guru yang kompeten harus mampu menguasai materi

dalam mengajar, kemudian mampu menguasai metode kemudian setelah

itu mengevaluasi hasil pengajaran yang telah diajarkan oleh peserta

didiknya.

Kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan guru dalam

melaksanakan tugasnya sebagai tenaga kependidikan yang meliputi

penguasaan pengetahuan, pengetahuan metodelogi, manajemen dan

sebagainya yang tercermin dalam kinerja pendidikan. Ruang lingkup

kompetensi professional guru:

1. Mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofi,

psikologis, sosiologis, dan sebagainya.

2. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf

perkembangan peserta didik.

3. Mampu menangani dan mengembangkan bidang stuasi yang menjadi

tanggung jawabnya.

4. Mampu menggunakan dan mengembangakan berbagai alat, media,

dan sumber belajar yang relavan.

5. Mampu mengorganisasi dan melaksanakan program pembelajaran.

6. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik.

48

Kompetensi guru profesional menurut pakar pendidikan seperti

Soediarto (Uno, 2007), sebagai seorang guru harus mampu menganalisis,

mendiagnosis situasi pendidikan. Guru yang memiliki kompetensi

profesional perlu menguasai, antara lain (a) disiplin ilmu pengetahuan

sebagai sumber bahan pengajaran; (b) bahan ajar yang diajarkan; (c)

pengetahuan tentang karakteristik siswa.

3. Pengertian Penilaian (Assesment), Pengukuran (Meansurement),

Dokumen terkait