KURIKULUM UNIVERSITAS GUNADARMA ERA INDUSTRI 4.0
G. Kompetensi Lulusan SI dan Pemilihan Bahan Kajian
Ketika penetapan profil lulusan selesai ditentukan sebagai outcome sebuah pendidikan, setelah itu langkah selanjutnya yaitu menetapkan dan menentukan apa saja kompetensi yang wajib dimiliki lulusan program studi sebagai output pembelajarannya. Bagaimana menentukan kompetensi lulusan? Maka hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban: “Untuk menjadi sarjana Sistem Informasi lulusan harus mampu melakukan apa saja?” dengan demikian dapat diperoleh daftar kompetensi seorang lulusan dengan tepat dan lengkap. Kompetensi seorang lulusan bisa diperoleh melalui kajian dengan melihat tiga unsur yaitu pertama nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh perguruan tinggi atau bisa dikatakan sebagai university values, kedua visi keilmuan dari program studinya atau scientific vision, dan ketiga dengan melihat kebutuhan masyarakat sebagai pemangku kepentingan atau need assesment.
Universitas Gunadarma menetapkan untuk menjaga dan meningkatkan mutu lulusannya membagi kompetensi menjadi tiga bagian, yaitu kompetensi utama, merupakan mata kuliah kekhususan berdasarkan keahlian yang telah dipelajarinya selama kuliah, kompetensi ini merupakan ciri lulusan sebuah program studi, berikutnya adalah kompetensi pendukung adalah kompetensi tambahan, kompetensi ini dibuat oleh program studi untuk memperkuat kompetensi utama dan kompetensi ini dibuat untuk memberikan dukungan kepada kompetensi utama dan mempunyai ciri pada program studi yang dimaksud, kemudian yang terakhir adalah kompetensi lainnya merupakan kompetensi pendukung agar mahasiswa mempunyai kemampuan lainnya selain kompetensi utama agar dapat leluasa memilih pekerjaannya dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
90 Buku Lulusan Universitas Gunadarma Jurusan Sistem Informasi, Depok:
Universitas Gunadarma, 2018, h. 55
Untuk itu Universitas Gunadarma untuk jurusan Sistem Informasi membagi kelompok mata kuliah kedalam tiga kelompok seperti yang tergambar pada tabel IV.3
Tabel IV.3 Struktur Kurikulum Berdasarkan Kelompok Mata Kuliah & Kompetensi
Berdasarkan tabel IV.3 tergambar bahwa kurikulum Ilmu Komputer terdapat 67%, kurikulum pendukung 23% dan kurikulum lainnya 10%.
Kurikulum berdasarkan mata kuliah terdapat pada tabel IV.3 dibawah ini.
Tabel IV.4 Kurikulum berdasarkan kelompok kompetensi
Pada tabel diatas terlihat pengelompokan mata kuliah berdasarkan kompetensi yang diajarkan, lalu disusun kompetensi sesuai dengan keputusan Kementrian Pendidikan dalam Kepmendiknas No 045/U/200291,
91 Menteri Pendidikan Nasional. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi. Jakarta: t.p, t.tp.
2002
yang mengatur tentang lima elemen kompetensi yaitu elemen landasan kepribadian, penguasaan ilmu, elemen kemampuan berkarya, elemen sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian dan keterampilan, elemen pemahaman berkehidupan dan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahliannya.
Setiap kompetensi kemudian dianalisa apakah mengandung unsur yang telah ditetapkan tersebut dengan cara apabila kompetensi tersebut terdapat elemen landasan kepribadian maka akan dimasukan kedalam pelajaran berupa hidden curriculum92, karena kompetensi kepribadian bersifat softskill, apabila pada kompetensi yang disusun tersebut terdapat penguasaan ilmu maka dimasukan kedalam mata kuliah yang diajarkan sebagai mata kuliah utama, kemudian apabila mengandung kemampuan berkarya maka dimasukan kedalam kerja lapangan atau magang pada sebuah perushaan, apabila terdapat kompetensi sifatnya berupa elemen sikap dan perilaku dalam berkarya maka didalam proses praktek lapangan harus dimasukan sikap dan perilaku kepada sesama karyawan, dan apabila terdapat elemen pemahaman kaidah berkehidupan dan bermasyarakat maka dapat dimasukan kedalam program pengabdian masyarakat.
Unsur tersebut merupakan unsur-unsur yang telah ditetapkan oleh UNESCO berupa learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together dan juga sesuai dengan UU Sistem Pendidikan Nasional.
Peta kaitan bahan kajian dan kompetensi ini secara simultan juga digunakan untuk analisis pembentukan sebuah mata kuliah. Hal ini dapat ditempuh dengan menganalisis keterdekatan bahan kajian serta kemungkinan efektivitas pencapaian kompetensi bila beberapa bahan kajian dipelajari dalam satu mata kuliah, dan dengan strategi atau pendekatan pembelajaran yang tepat.
Merangkai beberapa bahan kajian menjadi suatu mata kuliah dapat melalui beberapa pertimbangan yaitu : adanya keterkaitan yang erat antar bahan kajian yang bila dipelajari secara terintergrasi diperkirakan akan lebih baik hasilnya, adanya pertimbangan konteks keilmuan, artinya mahasiswa akan menguasai suatu makna keilmuan dalam konteks tertentu, adanya metode pembelajaran yang tepat yang menjadikan pencapaian kompetensi lebih efektif dan efisien serta berdampak positif pada mahasiswa bila suatu bahan kajian dipelajari secara komprehensif dan terintegrasi. Dengan demikian pembentukan mata kuliah mempunyai fleksibilitas yang tinggi, sehingga satu program studi sangat dimungkinkan mempunyai jumlah dan jenis mata kuliah yang sangat berbeda, karena dalam hal ini mata kuliah
92 Menurut Sukiman dalam bukunya “Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi” terbitan PT Remaja Rosyda Karya Bandung Hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) adalah hal atau kegiatan yang yang terjadi di sekolah dan ikut memengaruhi perkembangan peserta didik, tetapi tidak diprogramkan dalam kurikulum potensial/ideal
hanyalah bungkus serangkai bahan kajian yang dipilih sendiri oleh sebuah program studi.
Setelah diperoleh perkiraan besarnya sks setiap mata kuliah, maka langkah selanjutnya adalah menyusun mata kuliah tersebut di dalam semester. Penyajian mata kuliah dalam semester ini sering dikenal sebagai struktur kurikulum. Secara teoritis terdapat dua macam pendekatan struktur kurikulum, yaitu pendekatan serial dan pendekatan parallel. Pendekatan serial adalah pendekatan yang menyusun mata kuliah berdasarkan logika atau struktur keilmuannya. Pada pendekatan serial ini, mata kuliah disusun dari yang paling dasar (berdasarkan logika keilmuannya) sampai di semester akhir yang merupakan mata kuliah lanjutan (advanced). Setiap mata kuliah saling berhubungan, dengan ditunjukkan dari adanya mata kuliah pre-requisite (prasyarat). Mata kuliah yang tersaji di semester awal akan menjadi syarat bagi mata kuliah di atasnya.
Kelemahan pada sistem ini adalah ketika menentukan hubungan antar matakuliah yaitu tidak sedikit dosen pengampu yang berbeda untuk matakuliah lanjutan sehingga akan didapati mata kuliah lanjutan tersebut tidak terkonek satu sama lain. Kelemahan inilah yang menyebabkan lulusan dengan model struktur serial ini kurang memiliki kompetensi yang terintegrasi. Sisi lain dari adanya mata kuliah prasyarat sering menjadi penyebab melambatnya kelulusan mahasiswa karena bila salah satu mata kuliah prasyarat tersebut gagal dia harus mengulang di tahun berikutnya.
Sedangkan pendekatan paralel dapat dilihat dari matakuliah-matakuliah pada bidang keilmuan yang berbeda akan tetapi dilaksanakan beriringan/paralel sehingga saling melengkapi dan pada akhir semester akan membentuk sebuah kompetensi kelulusan terintegrasi aygn meliputi kompetensi utama, kompetensi pendukung, dan kompetensi lainnya.
156 BAB V