BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Kompetensi Pengelola Program P2 TB Paru
Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut (Wibowo, 2008).
Ruky (2003) mengutip pendapat Spencer & Spencer dari kelompok konsultan Hay &
Mac Ber bahwa kompetensi adalah “an underlying characteristic of an individual that is casually related to criterion – referenced effective and/or superior performance in a job or situation” (karakteristik dasar seseorang yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak, membuat generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi, serta bertahan cukup lama dalam diri manusia)
Menurut Boyatzis (Thoha, 2008), kompetensi didefenisikan sebagai
“kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang diisyaratkan oleh pekerja dalam suatu organisasi sehingga orang tersebut mampu mencapai hasil yang diharapkan Kompetensi adalah kemampuan dan karakter yang harus dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugasnya secara profesional, efektif dan efisien (Depkes, 2008).
Ada lima karakteristik dasar yang mempengaruhi kompetensi seseorang, menurut Spencer dan Spencer (Thoha, 2008), yaitu:
1) Motive, adalah konsistensi berfikir mengenai sesuatu yang diinginkan dan dikehendaki oleh seseorang, sehingga menyebabkan suatu kejadian. Motif tingkah
laku seperti mengendalikan, mengarahkan, membimbing dan memilih untuk menghadapi kejadian atau tujuan tertentu.
2) Traits, adalah naluri yang secara konsisten dapat memberikan respon yang cepat dan tepat terhadap keadaan atau informasi yang diterima, atau karakteristik fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap informasi atau situasi tertentu.
3) Self concept, adalah sikap perilaku, sistem nilai atau persepi diri atau imajinasi seseorang yang dianut dan dipercayai dapat menguatkan dan meyakinkan sesuai dengan harapannya, serta dapat menuntun menjadi individu yang efektif diberbagai lingkungan kerja, jika keyakinan tersebut didukung rasa percaya diri yang besar.
4) Knowledge, yaitu sekumpulan informasi dan pengetahuan yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu.
5) Skill, adalah kemampuan untuk mengerjakan atau menyelesaikan tugas – tugasfisik atau mental tertentu secara nyata dilakukan.
Menurut Thoha (2008), kompetensi ada 3 (tiga) jenis yaitu : (1) kompetensi teknis yang lebih menekankan kepada pencapaian efektifitas kerja, (2) kompetensi perilaku (konsep diri, ciri diri dan motif individu), yang lebih menekankan kepada perilaku produktif yang harus dimiliki dan diperagakan oleh petugas agar dapat berprestasi, dan (3) kompetensi pengetahuan dan keterampilan individu yang lebih ditujukan kepada pelatihan dan pendidikan. Pendidikan dan Pelatihan berdasarkan kompetensi merupakan spesifikasi dari pengetahuan dan keterampilan serta
penerapan dari pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam suatu pekerjaan atau perusahaan atau lintas industri, sesuai dengan standar kinerja yang disyaratkan.
2.5.1 Pengetahuan (Knowledge)
Menurut Mustopadidjaja (2008), pengetahuan adalah informasi yang dimiliki oleh seseorang dalam suatu bidang tertentu dan keterampilan adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu baik mental ataupun fisik. Pengetahuan dan keterampilan sesungguhnya yang mendasari pencapaian produktivitas, pengetahuan dan keterampilan termasuk faktor pembentuk kemampuan. Apabila seseorang mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang tinggi akan memiliki kemampuan (ability) yang tinggi pula sehingga akan membentuk kompetensi seorang pegawai/pekerja (Sulistiyani & Rosidah, 2003). Pengetahuan merupakan informasi yang dimiliki oleh seseorang, dan pengetahuan adalah komponen utama kompetensi yang mudah diperoleh dan mudah diidentifikasikan (Thoha, 2008). Sulistiyani dan Rosidah (2003) mengemukakan bahwa konsep pengetahuan lebih berorientasi kepada intelejensi, daya pikir dan penguasaan ilmu serta luas sempitnya wawasan yang dimiliki oleh seseorang. Dengan demikian pengetahuan adalah merupakan akumulasi hasil proses pendidikan baik yang diperoleh secara formal maupun informal yang memberikan kontribusi kepada seseorang didalam pemecahan masalah, daya cipta, termasuk dalam melakukan atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Dengan pengetahuan yang luas dan pendidikan yang tinggi, seorang pegawai diharapkan mampu melakukan pekerjaan dengan baik dan produktif. Notoatmodjo (2008) berpendapat bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Menurut Roger (1974) dalam Notoatmodjo (2007) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru atau berperilaku baru, maka dalam diri orang tersebut telah terjadi proses yang berurutan yaitu : (1) Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus atau objek. (2) Interest yaitu merasa tertarik terhadap suatu stimulus. (3) Evaluation yaitu menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut terhadap dirinya. (4) Trial dimana subjek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. (5) Adoption yaitu dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :
1) Tahu (know), dapat diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) tehadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
2) Memahami (comprehension), suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau mengerti harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang telah dipelajari.
3) Aplikasi (application), kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
4) Analisis (analysis), suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja; dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya.
5) Sintesis (synthesis), suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, merencanakan,
meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi (evaluation), kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2.5.2 Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang sifatnya masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu, dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Menurut Notoatmodjo (2008) bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi baru merupakan “pre-disposisi” tindakan atau perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi yang sifatnya masih tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka dan tingkah laku yang terbuka.
Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2008) menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen pokok, yakni : (1) Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. (2) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek. (3) Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam
penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan berfikir, keyakinan dan emosional memegang peranan yang sangat penting. Sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu : 1) Menerima (Receiving), diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2) Merespons (Responding), memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, berarti orang tersebut telah menerima ide.
3) Menghargai (Valuing), mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggungjawab (Responsible), bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
2.5.3 Keterampilan atau Tindakan (Practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behaviour).
Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain. Ada empat tingkatan dalam praktik atau tindakan, yakni :
1) Persepsi (Perception), mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil merupakan praktik tingkat pertama.
2) Respon terpimpin (Guided Respons), dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah indikator praktik tingkat dua.
3) Mekanisme (Mechanism), apabila seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.
4) Adaptasi (adaptation), adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recal). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. Keterampilan adalah kemampuan dan penguasaan teknis operasional mengenai bidang tertentu yang bersifat kekaryaan, berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan atau menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis yang diperoleh melalui proses belajar dan berlatih. Dengan keterampilan yang dimiliki seorang pegawai diharapkan mampu menyelesaikan pekerjaan secara produktif. (Sulistiyani dan Rosidah, 2003).
. Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek.
2.6. Uraian Tugas Pengelola Program Tuberkulosis Paru
Petugas pengelola program TB paru adalah petugas yang bertangungjawab dan mengkoordinir seluruh kegiatan dari mulai perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam program TB di Puskesmas. Adapun Tugas Pokok dan Fungsi Petugas Program TB paru di Puskesmas yaitu : (Depkes RI, 2009)
a. Menemukan Penderita
Adapun tugas pokok petugas pengelola program penanggulangan TB paru, antara lain
1. Memberikan penyuluhan tentang TBC kepada masyarakat umum 2. Menjaring suspek (penderita tersangka) TBC
3. Mengumpul dahak dan mengisi buku daftar suspek Form Tb 06 4. Membuat sediaan hapus dahak
5. Mengirim sediaan hapus dahak ke laboratorium 6. Menegakkan diagnosis TB sesuai protap
7. Membuat klasifikasi penderita 8. Mengisi kartu penderita
9. Memeriksa kontak terutama kontak dengan penderita TB BTA (+)
10. Memantau jumlah suspek yang diperiksa dan jumlah penderita TBC yang ditemukan.
b. Memberikan Pengobatan
1. Menetapkan jenis paduan obat
2. Memberi obat tahap intensip dan tahap lanjutan
3. Mencatat pemberian obat tersebut dalam kartu penderita (form TB 01) 4. Menentukan PMO (bersama penderita)
5. Memberi KIE (penyuluhan) kepada penderita, keluarga dan PMO 6. Memantau keteraturan berobat
7. Melakukan pemeriksaan dahak ulang untuk follow-up pengobatan
8. Mengenal efek samping obat dan komplikasi lainnya serta cara penanganannya
9. Menentukan hasil pengobatan dan mencatatnya di kartu penderita c. Penanganan Logistik
1. Menjamin ketersediaan OAT di puskesmas
2. Menjamin tersedianya bahan pelengkap lainnya (formolir, reagens, dll) 3. Jaga mutu pelaksanaan semua kegiatan a s/d c
Tenaga pelaksana teknis laboratorium puskesmas adalah 1 (satu) orang Pembantu analis atau lulusan SMA yang sudah diangkat menjadi pegawai negeri di puskesmas yang bersangkutan yang mempunyai minat di laboratorium, kemudian dilatih khusus dibidang labortorium. Apabila tidak memungkinkan dapat dilakukan pelatihan dengan sistem modul, atau dengan training yang terpogram.
Adapun Tugas dan tanggung jawab tenaga pelaksana teknis laboratorium puskesmas, antara lain:
1. Melaksanakan pelayanan laboratorium sesuai dengan pola kerja dan prosedur kerja yang ditetapkan.
2. Menjaga kebersihan dan kerapihan ruang tunggu loket penerimaan spesimen, ruang kerja sepanjang hari.
3. Mengatur penyediaan alat tulis, formulir untuk penerimaan pasien.
4. Mengatur penyediaan peralatan untuk pengambilan atau pengumpulan spesimen, seperti pot sputum, spuit, lanset, kapas, alkohol, tabung reaksi, kaca obyek dan lain-lain.
5. Mengatur penyediaan peralatan untuk pemeriksaan, seperti pipet, reagen, lampu spirtus dan formulir-formulir hasil.
6. Melayani pasien, mencatat identitas dan permintaan pemeriksaan yang diperlukan.
7. Mengambil/mengumpulkan spesimen sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan yang diminta.
8. Menangani pesimen sesuai dengan kebuuhan pemeriksaan.
9. Melakukan pemeriksaan dengan baik dan benar sesuai dengan prosedur kerja serta menjaga mutu hasil pemeriksaannya.
10. Mencatat hasil pemeriksaan, dan mengontrol dan mencek hasil pemeriksaan.
11. Bersama-sama penanggung jawab laboratorium, berusaha mencari dan memecahkan persoalan-persoalan apabila ada hasil pemeriksaan yang kurang baik.
12. Melaksanakan dan mencatat penyerahan hasil pemeriksaan.
13. Menangani, mengemas dan mengirimkan spesimen rujukan lengkap dengan serut pengantar/berita acara.
14. Mengambil dan mencatat hasil pemeriksaan spesimen rujukan dan menyampaikannya kepada yang berwenang atau berkepentingan.
15. Menjaga keamanan kerja maupun lingkungan kerja.
16. Meningkatkan pelayanan melalui peningkatkan kecepatan kerja tanpa meninggalkan ketelitian dan keamanan.
17. Membimbing dan mengawasi tugas pembantu laboratorium.
18. Merawat dan memelihara peralatan laboratorium sesuai dengan petunjuk yang digariskan.
19. Melaporkan hal-hal yang menyangkut pemeriksaan laboratorium yang perlu segera dilaporkan kepada penanggung jawab laboratorium.
20. Menyusun usulan kebutuhan laboratorium untuk diajukan kepada penanggung jawab laboratorium.
21. Membantu membuat reagen untuk keperluan laboratorium puskesmas.
Sedangkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan didalam gedung antara lain: (a) terhadap spesimen yang dapat diperiksa sendiri, meliputi kegiatan, (b) Penerimaan pasien, (c) Pengambilan/pengumpulan spesimen, (c) penanganan spesimen, (d) Pencatatan hasil pemeriksaan, (e) Pengecekan/pengontrolan hasil pemeriksaan, (f) Penyampaian hasil pemeriksaan terhadap spesimen yang harus dirujuk, meliputi :(1) Pengambilan/pengumpulan spesimen, (2) Penanganan spesimen, (3) Pengemasan spesimen, (4) Pengiriman spesimen, (5) Pengambilan hasil pemeriksaan, (6) Pencatatan hasil pemeriksaan, (7) Penyampaian hasil pemeriksaan. Sedangkan kegiatan di luar gedung puskesmas, meliputi (1) kegiatan di pos-pos pelayanan lain
dalam wilayah puskesmas yang bersangkutan (puskesmas pembatu posyandu). Dapat dilakukan bersama perawat/bidan, meliputi : (a) Melakukan tes screening HB, (b) Melakukan pengambilan spesimen yang kemudian dikirim ke laboratorium puskesmas, (2) Memberikan penyuluhan sehubungan dengan laboratorium dan (3) kegiatan dilapangan dalam rangka program kesehatan lain, dapat dilakukan oleh tenaga laboratorium bersama petugas lain dalam kegiatan bersangkutan.
Sesuai dengan pedoman Penanggulangan TB Paru, setiap petugas pengelola program TB paru perlu ditingkatkan kualitas sumber daya manusianya.
Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. Proses ini meliputi kegiatan penyediaan tenaga, pembinaan (pelatihan, supervisi, kalakarya/on the job training), dan kesinambungan (sustainability). Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan, pengetahuan dan sikap (dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB, dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. Didalam bab ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas, tidak hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam penanggulangan TB (Depkes RI, 2009).
Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana. Pada Unit Pelayanan Kesehatan UPK) puskesmas yang terdiri dari (1) Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana Mandiri: kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter, 1 perawat/petugas TB, dan 1 tenaga laboratorium, (2) Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugas TB, dan (3) Puskesmas Pembantu: kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1 perawat/petugas TB. Sedangkan jenis pelatihan yang wajib dalam program TB, terdiri dari : (1) Pendidikan/pelatihan sebelum bertugas (pre service training), dengan memasukkan materi program penanggulangan tuberkulosis strategi DOTS`dalam pembelajaran/kurikulum Institusi pendidikan tenaga kesehatan. (Fakultas Kedokteran, Fakultas Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Farmasi dan lain-lain), (2) Pelatihan dalam tugas (in service training), Dapat berupa aspek klinis maupun aspek manajemen program Pelatihan dasar program TB (initial training in basic DOTS implementation),dan Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training): pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan program yang lebih tinggi (Depkes RI, 2009).
Penelitian kualitatif yang dilakukan Sahat P Manalu H dan Friskarini K (2009) di Kabupaten Tangerang Banten, menjelaskan bahwa petugas kesehatan sangat berperan terhadap keberhasilan penanggulangan TB Paru, dalam bentuk penyuluhan, pendataan kasus TB Paru, serta membangun kerjasama melalui lintas
sektor seperti kecamatan, kelurahan tentang stratgei pendekatan dengan masyarakat dalam penanggulangan TB Paru.
Penelitian Samsuarsyah (2006) tentang Komitmen dan kinerja petugas Pengelola TB- paru pada puskesmas Di Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan, menjelaskan bahwa komitmen petugas pengelola TB paru sangat berpengaruh terhadap hasil kerja penanggulangan TB Paru.
Penelitian Tirtana Tanggab B (2011), di Wilayah Jawa Tengah, menjelaskan bahwa keteraturan dan lama berobat pasien Tuberkulosis Paru dengan Resistensi Obat Tuberkulosis berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan.
2.7. Landasan Teori
Menurut Anderson dan Newman (1968) dalam Sarwono (2004), bahwa salah satu faktor penting yang mempengaruhi pelayanan kesehatan adalah faktor petugas kesehatan, mencakup karakteristik petugas kesehatan dan kompetensi petugas kesehatan, termasuk didalam pelayanan imunisasi.
Menurut Ilyas (2006) yang mengutip pendapat Gibson (1987) beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja petugas adalah kemampuan, ketrampilan, latar belakang pendidikan, motivasi kerja, sikap dan kepribadian, dukungan organisasi berupa kompensasi, kebijakan, insentif, gaya kepemimpinan dan desain pekerjaan.
Menurut Hasibuan (2004) yang mengutip pendapat Keith dan Davis bahwa kinerja pegawai atau petugas diberbagai instansi sangat dipengaruhi oleh kompetensi (kemampuan dan ketrampilan) dan motivasi. Ada 3 (tiga) komponen variabel yang
mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja yaitu variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis. Ketiga variabel tersebut mempengaruhi perilaku kerja yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja adalah yang berkaitan dengan tugas-tugas pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran suatu jabatan atau tugas.
Kinerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat prestasi kerja petugas pengelola program TB paru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam program penanggulangan TB paru.
Menurut Wibowo (2008), kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap.
Menurut Thoha (2008), kompetensi ada 3 (tiga) jenis yaitu : (1) kompetensi teknis, lebih menekankan kepada pencapaian efektifitas kerja, (2) kompetensi perilaku (konsep diri, ciri diri dan motif individu), yang lebih menekankan kepada perilaku produktif yang harus dimiliki dan diperagakan oleh petugas agar dapat berprestasi, dan (3) kompetensi pengetahuan dan keterampilan individu, yang lebih ditujukan kepada pelatihan dan pendidikan.
Menurut G.R Terry dalam Hasibuan (2006) berpendapat bahwa koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.
Koordinasi berhubungan dengan tugas untuk menyatukan usaha agar berhasil dalam mencapai tujuan organisasi, adanya disparitas masing-masing tugas dalam
organisasi cenderung timbul kekuasaan memisahkan diri dari tujuan organisasi secara keseluruhan, maka dengan adanya koordinasi akan terdapat keselarasan aktivitas diantara unit-unit atau bagian-bagian organisasi untuk mencapai tujuan organisasi (Hasibuan, 2006).
Koordinasi adalah perwujudan kerjasama, saling membantu, menghargai serta menggambarkan penghayatan tugas fungsi dan kewenangan masing-masing unsur dalam organisasi. Artinya dengan adanya koordinasi maka akan berdampak terhadap efektivitas kerja dan prestasi kerja (Malthis, 2004).
Koordinasi dalam penelitian ini adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pengelola program TB paru dalam mensingkronkan dan menyelaraskan seluruh konsep dan kegiatan yang dilakukan dalam upaya penanggulangan TB paru di wilayah kerja puskesmas, baik koordinasi lintas program di puskesmas misalnya koordinasi dengan program penyuluhan kesehatan dan program kesehatan lingkungan, koordinasi dengan pimpinan misalnya memberikan laporan dan meminta arahan dari pimpinan puskemas terkait dengan penanggulangan TB paru , maupun koordinasi lintas sektoral misalnya bekerja sama dengan perangkat desa dalam pelacakan dan penemuan kasus.
2.8. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian KOORDINASI
KOMPETENSI
Kinerja Pengelola Program Penganggulangan TB Paru
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian survai analitik dengan pendekatan eksplanatory research yang dimaksudkan untuk menjelaskan pengaruh koordinasi dan kompetensi pengelola program terhadap kinerja pengelola program TB paru di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Binjai.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Binjai yang meliputi 8 (delapan) puskesmas induk dan 18 (delapan belas puskesmas pembantu) dengan pertimbangan masih terdapat masalah penyakit menular khususnya penyakit Tuberkulosis Paru yang diindikasikan dari tingginya angka insidens dan prevalensi rate kasus TB paru, serta rendahnya cakupan penemuan kasus, kemudian dilihat dari aspek petugas kesehatan, belum seluruhnya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan TB Paru dan dari aspek manajemen, masih minim koordinasi yang dilakukan pengelola program dengan lintas program lain dan lintas sektoral dalam penanggulangan TB Paru.
Penelitian ini dilakukan mulai dari pengesahan judul penelitian sampai, konsultasi dan riset lapangan sampai pada penyusunan laporan penelitian membutuhkan waktu 6 (enam) bulan terhitung bulan Januari s/d Juni 2013.
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh unsur petugas kesehatan yang terlibat dalam program penanggulangan TB paru Puskesmas (Tim TB) di wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Binjai yang terdiri dari 2 (dua) Puskesmas Rujukan Mikroskopis terdiri dari 1 orang dokter umum, 1 orang perawat dan 1 orang petugas laboratorium dan jumlah seluruhnya sebanyak 6 orang. 6 (enam) Puskesmas Satelit
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh unsur petugas kesehatan yang terlibat dalam program penanggulangan TB paru Puskesmas (Tim TB) di wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Binjai yang terdiri dari 2 (dua) Puskesmas Rujukan Mikroskopis terdiri dari 1 orang dokter umum, 1 orang perawat dan 1 orang petugas laboratorium dan jumlah seluruhnya sebanyak 6 orang. 6 (enam) Puskesmas Satelit