Belum banyak data yang menggambarkan kemampuan pasti penyandang difabel secara jelas, tetapi ada beberapa tulisan ataupun artikel yang menulis tentang kompentensi yang dimiliki penyandang difable yang sangat mengesankan, seperti contohnya berita yang di tulis di www.detik.com yaitu seorang penyandang difable yang menderita keterbatasan fisik “tuna rungu” Angkie Yudistia diusianya yang masih 25 tahun, Angkie sudah menjadi founder dan CEO (chief executive officer) di perusahaannya. Perusahaan yang didirikan bersama rekannya itu fokus pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difable (Different Ability People).
Irma Suryati penyandang difabel yang sukses. Irma yang mengalami kelumpuhan telah membuktikan bahwa selalu ada celah yang bisa membawa berkah dan peluang. Irma Suryati berhasil membangun usaha kerajinan keset dengan modal kain-kain sisa. Usahanya kini telah mampu mengekspor produknya ke beberapa Negara, Irma Suryati kini memiliki 2.500 pengrajin dan 150 diantaranya adalah penyandang difabel.
Kisah sukses penyandang difabel lainnya yaitu Tarjono Slamet yang mendirikan CV.
Mandiri Craft yang memproduksi aneka macam alat peraga edukatif yang terbuat dari kayu, Tarjono merekrut 25 orang karyawan yang semuanya juga penyandang difabel dari daerah Semarang, Gunung Kidul, Magetan, dan Banyuwangi. Semangat, ketekunan, serta kemandirian Tarjono dalam memberikan kesejahteraan bagi 55 orang karyawannya yang semuanya penyandang difabel, mengantarkan lelaki kelahiran Pekalongan ini sebagai penerima Danamon Award 2010 dan berhasil memajukan usahanya hingga menembus pasar nasional bahkan internasional. Mandiri Craft kini telah menjadi produsen aneka mainan edukatif yang memiliki dua showroom besar yaitu di Jl. Parangtritis km 7,5 dan di Jl.
Parangtritis km 9 Yogyakarta
18
Prestasi yang telah diukir dan dicapai para penyandang difabel tersebut agar menjadi motivasi dan menjadi pembuktian bahwa penyandang difabel itu mempunyai potensi dan kompetensi yang baik jika dikembangkan dan dilakukan pelatihan.
Penyandang disabilitas merupakan pekerja yang baik dan dapat diandalkan. Yaitu dalam makalah ILO tentang “Mempekerjakan Penyandang Disabilitas” di Indonesia menunjukkan perbandingan bahwa pekerja disabilitas lebih baik dari pekerja normal dalam hal :
1. Produktifitas yang lebih baik
2. Tingkat kecelakaan kerja yang lebih rendah dari pekerja normal
3. Kemauan yang lebih kuat untuk mempertahankan pekerjaan, dibandingkan dengan tenaga kerja perusahaan pada umumnya.
Selain itu juga penyandang disabilitas menunjukkan bahwa mereka memiliki sumber keahlian dan bakat yang belum dimanfaatkan, termasuk keahlian teknis, keahlian pemecahan masalah. Selain itu keunggulan dari para pekerja difabel yaitu terabaikan dari segment pasar pekerja dan masih sangat besar.
Keuntungan untuk perusahaan dalam merekrut penyandang disabilitas yaitu:
1. Berkontribusi pada keberagaman 2. Kreativitas
3. Semangat kerja secara keseluruhan
4. Serta meningkatkan reputasi perusahaan dikalangan pekerjanya, di masyarakat, dan dikalangan konsumen.
19
Potensi dari mempekerjakan difabel tersebut kini di manfaatkan oleh PT. Trans Retail Indonesia ( Carrefour ) perusahaan ini adalah perusahaan retail atau supermarket yang mempekerjakan difabel untuk menjadi pegawai, dan PT. Trans Retail Indonesia ( Carrefour ) memberikan pelatihan pada masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus atau penyandang difabel. Peningkatan kompetensi bagi penyandang difabel dilakukan oleh PT. Trans Retail Indonesia dengan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi para penyandang difabel untuk selanjutnya bisa dipekerjakan di gerai-gerai PT. Trans Retail Indonesia. Ini merupakan salah satu cara PT. Trans Retail Indonesia merangkul penyandang difabel untuk bisa mendapatkan kesempatan yang sama dalam mendapatkan pekerjaan seperti masyarakat umumnya.
Total karyawan Trans Retail Indonesia mencapai 15.000 orang. Sesuai dengan UU No.4 tahun 1997 tentang penyandang difabel dan juga Peraturan Pemerintah No.43 tahun 1998 tentang upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang difabel, perusahaan wajib mempekerjakan pekerja difabel sekurang-kurangnya 1% dari total karyawan yang ada di perusahaan. Ditargetkan, dengan peraturan tersebut, akan ada sedikitnya 150 pekerja difabel yang bekerja untuk PT. Trans Retail Indonesia hingga akhir tahun. Nantinya setelah program training selesai dilakukan, para difabel ini akan dipekerjakan sesuai dengan kompetensi dan tingkat pendidikan yang dimiliki "Hari ini kami akan memulai pelatihan batch ke-3 bagi rekan-rekan berkemampuan khusus. Pelatihan selama 1 minggu, nanti ada job training 6 bulan. Saat ini ada 36 orang yang akan bergabung, jadi total difabel yang kami miliki 100 orang. Mudah-mudahan menjadi sesuatu yang positif dan semangat" kata Dian saat acara Penyerahan Tenaga Kerja dalam Program PT. Trans Retail Indonesia Indonesia, Jakarta, Jumat (26/9/2014).
Sementara itu, HRD Operation Trans Retail Carrefour Dyah Yuniarni mengatakan, para pekerja difabel ini akan diberikan pelatihan selama 6 bulan. Jika lolos, maka mereka
20
akan diangkat menjadi karyawan. Langkah positif yang dilakukan oleh PT.Trans Retail Indonesia yang juga menjalankan amanah dari UU yang telah dibuat oleh pemerintah.
Dengan memberikan kesempatan bagi penyandang difabel, maka PT. Trans Retail Indonesia telah memberi kesempatan dan keadilan yang sama kepada penyandang difabel dengan mempekerjakan difabel sebagai pegawai. Walaupun mempekerjakan kaum difabel PT. Trans Retail Indonesia tidak mengurangi standar pelayanannya terhadap konsumen, yaitu dengan memberikan pelatihan terhadap pekerja penyandang difabel sebelum akhirnya ditempatkan menjadi pegawai di gerai-gerai PT. Trans Retail Indonesia. Jika PT. Trans Retail Indonesia terus disiplin menjalankan langkah ini dari generasi ke generasi serta terus-menerus, maka besar kemungkinan perusahaan lain pun akan mengikuti langkah positif tersebut dan akan menjadi corporate culture yang bagus untuk masyarakat indonesia khususnya untuk penyandang difabel.
21 3. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan sifat atau karakteristik dari suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat ini. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah aktual dan peneliti berusaha mendiskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut.
Diharapkan dengan menggunakan penelitian jenis penelitian deskriptif kualitatif ini peneliti dapat memberikan makna yang jelas dan lebih rinci. Peneliti juga ingin memberikan gambaran secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan sifat dari fenomena yang diteliti dalam penelitian ini.
Menurut Singarimbun (1995:4-5) penelitian deskriptif kualitatif dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu. Peneliti mengembangkan konsep dan menghimpun fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa
3.2 Penentuan Subyek dan objek Penelitian a. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian adalah sumber untuk memperoleh keterangan. Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah mereka pekerja difable disekitar daerah Bringin dan lingkungan penulis. Yaitu sebanyak 9 orang penyandang difabel fisik yang sudah bekerja di perusahaan dan beberapa pekerja yang bekerja di tempat yang belum mempekerjakan difabel.
22 b. Obyek Penelitian
Obyek penelitian di dalam tulisan ini yaitu akses kerja pelatihan dan lapangan pekerjaan meliputi: akses kerja yang ada untuk pekerja difable, akses pelatihan difable, dan kesediaan lapangan pekerjaan menerima pekerja difable.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan ini metode pengumpulan data yang digunakan yaitu : a. Wawancara
Di dalam metode ini peneliti melakukan wawancara kepada 9 orang penyandang difabel, memilih 9 penyandang difabel tersebut karena untuk mengetahui kesulitan mereka dalam melamar pekerjaan sampai pengalaman mereka dalam bekerja sekarang, dan 4 perusahaan yang mempekerjakan dan tidak mempekerjakan difabel untuk mengetahui alasan mereka mempekerjakan difabel ataupun tidak mempekerjakan difabel.
b. Studi dokumentasi
Dokumen merupakan rekaman kejadian dimasa lalu yang ditulis maupun dicetak. Dokumen dalam hal ini untuk mendukung penulis dalam hal mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Dalam metode ini peneliti didukung beberapa dokumen pendukung penulis seperti referensi bacaan seperti tulisan ataupun penelitian yang berkaitan dengan pembahasan penulis tentang penyandang difabel.
23
Perempuan 34thn SMP Toko kelontong Mengalami gangguan penglihatan (juling);
pelayan
Tabel 1.3 karakteristik responden dari pihak perusahaan No Nama UKM / PT Bidang Jumlah