HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.4 Kompetensi Sosial sebagai Pendidik
Membina salah satu cabang olahraga melalui
ekstrakuerikuler atau klub pengembangan diri 71 5 4 5
Rutin menyelenggarakan pertandingan atau
perlombaan olahraga antar kelas 55 19 6
6
Terlibat aktif dalam penyelenggaraan
pertandingan atau perlombaan olahraga di sekolah 64 8 8 7
Mengikuti pertandingan atau perlombaan olahraga
antar sekolah 74 3 3
8 Mampu mengoperasikan komputer 46 15 19
9 Mengenal internet 48 7 25
10 Aktif dalam kegiatan MGMP 43 16 21
11 Aktif olahraga di luar jam kerja 61 1 18
4.1.4 Kompetensi Sosial sebagai Pendidik
Kompetensi sosial juga menjadi tuntutan bagi guru Penjasorkes karena kompetensi tersebut sangat diperlukan dalam hal berkomunikasi dan bergaul secara efektif. Secara riil kompetensi sosial guru Penjasorkes dapat dilihat dari cara bersosialisasinya, bekerjasama, mengkomunikasikan gagasan atau ide-ide baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru non Penjasorkes menunjukkan bahwa tingkat kompetensi sosial Guru Penjasorkes di SMA Se-kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan tergolong tinggi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada:
60
Tabel 4.7 Tingkat Kompetensi Sosial Guru Penjasorkes
No Interval kompetensi Kriteria Frekuensi
1 77,79 - 100 Baik 54
2 55,57 - 77,78 Sedang 25
3 33,33 - 55,56 Kurang 1
Jumlah 80
Lebih jelasnya Tingkat Kompetensi Sosial Guru Penjasorkes tersebut dapat disajikan secara grafis pada diagram batang berikut ini:
Gambar 5 Persepsi Guru pada Tingkat Kompetensi Sosial Guru Penjasorkes. Memperlihatkan bahwa 67,5% guru memandang bahwa guru Penjasorkes memiliki kompetensi sosial tinggi, hanya 31,25% yang memandang cukup dan 1,25% dalam kategori kurang kompeten.
Tabel 4.8 Kompetensi sosial guru Penjasorkes
No Persepsi Ya Tidak Tidak
tahu 1 Bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekolah 75 1 4 2 Bekerjasama dengan baik dengan teman sejawat 76 1 3 3
Mengkomunikasikan ide dengan kalimat yang
jelas 66 3 11
4
Memiliki permasalahan dengan orang tua peserta
didik terkait dengan kedudukannya sebagai guru 29 35 16
5
Memiliki permasalahan dengan masyarakat sekitar sekolah terkait dengan kedudukannya
sebagai guru 29 34 17
6 Terlibat aktif dalam kegiatan sosial di sekolah 64 4 12
Secara umum keempat kompetensi yaitu kompetensi kperibadian, pedagogik, profesional dan sosial tergolong baik, kompetensi kepribadian menduduki urutan tertinggi dengan rata-rata 92,29% lalu 85,42% pada kompetensi pedagogik diikuti kompetensi profesional sebesar 86,44%, dan kompetensi sosial 85,83% Lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram batang berikut
Gambar 6 Rata-rata Tingkat Kompetensi Guru Penjasorkes Menurut Persepsi Guru Non Penjasorkes di SMA Se-kecamatan Gubug Kabupaten
62
4.2 Pembahasan
Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah mata pelajaran yang merupakan bagian dari pendidikan keseluruhan yang dalam proses pembelajarannya mengutamakan aktivitas jasmani dan kebiasaan hidup sehat menuju pada pertumbuhan dengan pengembangan jasmani, mental, sosial dan emosional yang selaras, serasi dan seimbang. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan direncanakan sedemikian rupa untuk mencapai perkembangan total dari peserta didik yang mencakup bukan saja perkembangan fisik, intelegensi, emosi, dan sosial, akan tetapi menyangkut juga aspek moral dan spiritual, karena didalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan sangat memperhatikan landasan-landasan kesehatan dan kematangan.
Keberhasilan dari pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan salah satunya ditentukan oleh kinerja dari guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan itu sendiri dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru SMA Se-Kecamatan Gubug terhadap kinerja guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan telah masuk dalam kategori baik. Hal ini ditunjukkan dari : 1) persepsi guru pada Tingkat Kompetensi Kepribadian Guru Penjasorkes telah masuk dalam kategori baik, 2) persepsi guru pada Tingkat Kompetensi Pedagogik Guru Penjasorkes termasuk kategori baik, 3) persepsi guru pada Tingkat Kompetensi Profesional Guru Penjasorkes masuk dalam ketegori baik dan 4) persepsi guru
pada Tingkat Kompetensi Sosial Guru Penjasorkes masuk dalam ketegori baik.di karenakan Guru SMA Se Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan berbasik Olahraga dan mempunyai gelar sarjana yang terdiri dari berikut ini:
Tabel 1. Daftar Nama Sekolah dan Jumlah Guru Penjasorkes dan Guru Non Penjasorkes
No Nama Sekolah Jumlah Guru
Non Penjas
Jumlah Guru Penjas
1 SMA N 1 Gubug 30 3
2 SMA Muhammadiyah Gubug 30 3
3 SMK Keluarga Gubug 20 2
Jumlah Total 80 8
Persepsi merupakan suatu penafsiran suatu obyek, peristiwa atau informasi yang dilandasi oleh pengalaman hidup seseorang yang melakukan penafsiran itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persepsi adalah hasil pikiran seseorang dari situasi tertentu. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu merupakan proses berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya. Stimulus yang diteruskan ke pusat susunan saraf yaitu otak, dan terjadilah proses psikologis, sehingga individu mengalami persepsi.
Persepsi guru non penjasorkes di SMA Se-Kecamatan Gubug terhadap kinerja guru penjasorkes yang telah baik tersebut menunjukkan bahwa guru-guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SMA Se-Kecamatan Gubug tersebut telah mampu melaksanakan tugas dan tangungjawabnya secara baik. Lebih rinci baiknya persepsi guru SMA Se-Kecamatan Gubug terhadap kinerja
64
guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan tersebut dapat dilihat dari persepsi guru pada tiap-tiap aspek kinerja guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang meliputi aspek Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial sebagai berikut:
4.2.1 Kompetensi Kepribadian
Tingkat Kompetensi Kepribadian memperlihatkan bahwa mayoritas guru memandang bahwa guru Penjasorkes dalam kesehariannya menunjukkan disiplin kerja, bertindak sesuai dengan norma, tata tertib dan komitmen dengan yang telah disepakati, sopan dalam bertutur, berperilaku, berpenampilan tepat sesuai dengan kondisi, disegani oleh peserta didik, berwibawa dan komitmen sebagai umat beragama. Tingginya kompetensi kepribadian tersebut banyak faktor pembentuknya antara lain: budaya sekolah yang kuat untuk komitmen menjaga kedisiplinan, bertindak sesuai norma, menjaga kesopanan dan beraklak mulia sesuai denga agama dan kepercayaan yang diyakini. Di samping itu para guru juga berusaha menjaga image atau citra yang diberikan masyarakat bahwa guru merupakan pekerjaan yang mulia, sehingga melekat pada diri guru untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
4.2.2 Kompetensi Pedagogik.
Tingkat Kompetensi Pedagogik tersebut memperlihatkan bahwa guru Penjasorkes membawa peserta didik bersemangat saat pembelajaran Penjas berlangsung, memberikan hukuman secara fisik sesuai dengan karakteristik olahraga. Pelajaran yang diampu banyak diminati oleh siswa. Berkaitan dengan perencanaan pembelajaran guru Penjasorkes melaksanakan kewajibannya dalam
menyusun dan mengembangkan silabus dan RPP, memiliki inisiatif untuk merancang. Guru Penjasorkes juga mengembangkan media atau sarana belajar sederhana untuk kepentingan proses belajar mengajar, sedangkan berkaitan dengan evaluasi hasil belajar berusaha tepat waktu dalam menyelenggarakan evaluasi belajar. Dalam hal mengembangkan peserta didik guru Penjasorkes berusaha membuka diri untuk menjali keakraban peserta didik dan bertindak bijaksana dan mendidik dalam mengatasi kenakalan peserta didik.