• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompetensi yang diharapkan

Dalam dokumen Materi Pelatihan Pekerti. (Halaman 191-195)

MODEL PEMBELAJARAN YANG MEMBERDAYAKAN

A. Kompetensi yang diharapkan

Melalui sajian materi ini, peserta pelatihan diharapkan berkembang kompetensinya dalam hal:

1. Peserta memiliki pengetahuan yang memadai tentang latar belakang perlunya model pembelajaran yang memberdayakan. 2. Peserta memiliki pemahaman terhadap konsep model

pembelajaran yang memberdayakan.

3. Peserta memahami dan mampu menerapkan model pembelajaran yang memberdayakan.

4. Peserta memiliki pengetahuan yang memadai dalam memilih sistem penilaian model pembelajaran yang memberdayakan.

B. Indikator

Atas dasar kompetensi tersebut di atas, indikator keberhasilan dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Peserta dapat menjelaskan latar belakang perlunya model pembelajaran yang memberdayakan

2. Peserta dapat menjelaskan pengertian model pembelajaran yang memberdayakan

3. Peserta dapat menyebutkan langkah-langkah penerapan model pembelajaran yang memberdayakan

4. Peserta dapat menerapkan model pembelajaran yang memberdayakan

C. Pendahuluan

Pada saat terjadi krisis multidemensi yang diawali dengan krisis ekonomi pada tahun 1997, Soedijarto (2003) mengajukan pertanyaan mendasar sebagai berikut; “Apa yang salah dengan

Dr. Haryanto

pendidikan sehingga setelah lebih dari setengah abad merdeka pendidikan nasional belum mampu berfungsi menunjang tumbuhnya bangsa yang cerdas, yang demokratis, menjunjung tinggi HAM dan memajukan kesejahteraan rakyat?” Pertanyaan tersebut sebagai sebuah pertanyaan reflektif yang mengharapkan pendidikan berperan sebagai kunci penyelesaian persoalan bangsa. Sayangnya pertanyaan tersebut direspon secara ‘keliru’ sehingga potret pendidikan kita sampai saat ini masih terlihat carut-marut.

Pendidikan kita masih belum berhasil menciptakan sumber daya manusia yang handal apalagi menciptakan kualitas bangsa. Keruwetan semakin tampak dengan banyaknya pernyataan (gagasan) dari birokrat, praktisi, akademisi dan bahkan dari politisi yang bersifat instan dan tanpa konsep. Belum ada formula yang berhasil diciptakan untuk mengatasi keruwetan tersebut, karena banyak yang tidak menyadari bahwa untuk mengurai keruwetan itu harus menemukan ujung pangkalnya. Dari manakah ujung pangkalnya? Tidak terlalu mudah menjawab pertanyaan ini, tetapi setidaknya jika kita berani melakukan refleksi terhadap praksis pendidikan kita di dalam kelas kemudian kita lakukan perbaikan, tentu dapat menjadi bahan pembenahan untuk mengurai benang kusut pendidikan kita.

Telah menjadi tradisi di kelas-kelas kita bahwa para dosen kita dalam merancang proses pembelajaran belum mampu menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan potensi mahasiswa berkembang secara optimal. Apa yang terjadi di kelas-kelas tidak lebih dari latihan- latihan skolastik, seperti mengenal, membandingkan, melatih, dan menghapal, yakni kemampuan kognitif yang sangat elementer, di tingkat paling rendah. Proses pembelajaran lebih banyak mengembangkan belahan otak kiri yang cenderung berpikirkonvergen,

dan jarang sekali menyentuh wilayah belahan otak kanan yang cenderung berpikirdivergen.

Proses pembelajaran mestinya dirancang agar mahasiswa mampu berpikir alternatif. Pendekatan pembelajaran yang digunakan tidak hanya behavioristik, tetapi pendekatan konstruktivistik juga diperlukan agar mahasiswa terangsang untuk terus belajar (belajar aktif, kreatif, belajar menemukan, belajar memecahkan masalah, belajar menyelidiki, belajar menghayati, dan belajar yang menyenangkan, Soedijarto, 1998).

Sistem penilaian yang selama ini digunakan juga tidak memungkinkan mahasiswa untuk berkembangnya daya kreatifnya. Sistem evaluasi yang digunakan hanya menggunakan tes bentuk obyektif (kebenaran hanya satu), dan jarang dalam bentuk menyusun laporan eksperimen, menyusun laporan pengamatan, menyusun laporan wawancara, atau dalam bentuk tes uraian.

Sistem evaluasi yang demikian itu cenderung melahirkan praktik pendidikan yang tujuannya hanyalah membiasakan peserta didik berlatih menjawab pertanyaan dalam bentuk obyektif (Soedijarto, 1993). Sehingga proses pembelajaran yang menuntut kemampuan menyelidik, kemampuan menemukan masalah, memilih cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi, kebiasaan bekerja keras, tekun dan teratur, tidak mungkin dapat terwujud.

Kritik lain yang sering dikemukakan oleh para pengamat pendidikan pada sekolah kita adalah masih dominannya peran dosen dalam proses pembelajaran di kelas. Penggunaan metode ceramah menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Proses komunikasi dalam pembelajaran terjadi hanya searah (dosen – mahasiswa), sehingga

Dr. Haryanto

berdampak pada tidak optimalnya pengembangan potensi mahasiswa baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengeliminasi persoalan tersebut, namun dalam banyak bukti yang dapat dilihat di lapangan masih saja ditemui persoalan yang sama di berbagai sekolah. Dosen menjadi satu-satunya sumber belajar yang dominan di dalam kelas. Tanpa kehadiran dosen proses pembelajaran sulit terjadi. Pada hal sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah cukup kaya dan potensial untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.

Pemanfaatan dinding kelas misalnya, dalam banyak kasus terbukti belum dikelola dan atau dimanfaatkan secara optimal sebagai media informasi. Bahkan telah menjadi fenomena umum, dinding ruangan dibiarkan kosong, tanpa ada media seperti diagram, serial poster, foto, atau karya mahasiswa (baik gambar maupun karya sastra). Jika terdapat gambar dapat dipastikan bahwa gambar/foto tersebut adalah foto presiden, wakil presiden, burung garuda, dan papan statistik mahasiswa yang tidak memiliki kontribusi langsung terhadap proses pembelajaran.

Bentuk komunikasi searah dalam proses pembelajaran juga berdampak pada rendahnya inisiatif mahasiswa untuk berpartisipasi langsung dalam proses pembelajaran. Ketika dosen selesai menjelaskan suatu topik, biasanya dosen bertanya; “Apakah ada pertanyaan?” Tanpa diberi komando biasanya seluruh mahasiswa akan “terdiam”. Kemudian dosen melanjutkan pertanyaannya; “Apakah kalian sudah jelas dengan apa yang kita bicarakan?” Biasanya mahasiswa saling tengok kanan-kiri sebagai bukti kebingungan atas pertanyaan dosen tersebut dan juga sebagai bukti bahwa sebenarnya mahasiswa belum begitu jelas dengan apa yang telah dibicarakan. Hal

ini sebagai sebuah ironi, sebab ketika seorang mahasiswa belum begitu jelas dengan apa yang dibicarakan dalam kelas mestinya segera mengajukan pertanyaan kepada dosen, namun kenyataannya ketika diberi kesempatan untuk bertanya tak satupun mahasiswa mengajukan pertanyaan. Ini adalah gambaran keseharian kelas-kelas kita di sekolah. Anak terbiasa pasif tidak ada inisiatif untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Keberanian mahasiswa untuk bertanya, mengajukan pendapat, berdiskusi sepertinya telah ‘terpasung’ oleh tradisi dosen yang mendominasi kelas.

Ketidakberanian mahasiswauntuk bertanya, mengajukan pendapat, dan berdiskusi di dalam kelas perlu dicarikan solusinya agar proses belajar di kelas lebih bermakna bagi mahasiswa. Peningkatan aktivitas belajar mahasiswa di dalam kelas diharapkan mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.

Dalam dokumen Materi Pelatihan Pekerti. (Halaman 191-195)