Infeksi Bronkopneomoni.
Plebitis.
Decubitus.
Nosokomial.
3. REHABILITASI
Program rehabilitasi.
Rehabilitasi merupakan salah satu faktor yang berperanan untuk prognosis jangka panjang penderita stroke. Pada penderita stroke terjadi metabolisme meningkat, depresi, stasis vena, penurunan kapasitas vital, melambatnya kontraksi gastrointestinal, dan stasis urin. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya komplikasi seperti pneumonia, Deep Venosis Trombosis (DVT), ulkus dekubitus, kolisistisis, dan infeksi saluran kencing.
Imobilisasi juga dapat menyebabkan kontraktur, komplikasi orthopedik dan kelumpuhan oleh karena tekanan. Fisioterapi harus dimulai dalam 2 hari, mulai latihan posisi yang benar dan range of motion. Sebaiknya menegakkan kepala, duduk dan berdiri dilakukan setelah 7 hari serangan stroke akut untuk mencegah komplikasi, misalnya hipotensi postural.
3.1.Tujuan rehabilitasi pada penderita stroke adalah (Chandra,1994) :
Memperbaiki fungsi motoris, pembicaraan dan fungsi lain yang terganggu.
Adaptasi mental dari penderita stroke.
Sedapat mungkin penderita harus dapat melakukan activities of daily living (ADL).
3.2.Prinsip dasar rehabilitasi adalah (Chandra, 1994) :
Mulailah rehabilitasi sedini mungkin.
Harus sistematis.
Miningkat secara bertahap.
Pakailah bentuk rehabilitasi yang spesifik untuk defisit penderita.
3.3.Rehabilitasi penderita stroke (The stroke unit, department of health care in the elderly, 1999) : 3.3.1. Penataan kamar pasien.
Untuk menghindari berkurangnya kepekaan sensorik, pasien harus mendapat rangsangan yang maksimal pada sisi yang lumpuh.
Kamar pasien harus ditata sedemikian rupa sehingga kegiatan dikerjakan pada sisi yang lumpuh.
3.3.2. Berbaring pada sisi yang sakit.
Ranjang : Datar seluruhnya.
Kepala : di atas dengan posisi yang enak.
Badan : Agak, membungkuk, diganjal dengan bantal pada punggung sampai pinggul.
Bahu yang lumpuh : Didorong ke depan dan diputar keluar.
Lengan yang lumpuh :
o Posisi dengan sudut rentang 900dari badan.
o Seluruh lengan disandarkan pada meja kecil beralas bantal disisi ranjang pasien. o Sikut dalam posisi selurus mungkin dan telapak tangan menghadap ke atas.
Tungkai yang lumpuh :
o Posisi pergelangan paha lurus. o Lutut sedikit ditekuk.
Lengan yang sehat diletakkan di atas badan/bantal.
Tungkai dan kaki yang sehat :
o Dalam posisi melangkah, diganjal bantal. o Pergelangan paha dan lutut agak ditekuk.
3.3.3. Berbaring terlentang.
Ranjang : Datar seluruhnya.
Kepala : Di atas bantal, leher tidak tertekuk.
Kedua bahu diganjal dengan bantal.
Lengan yang lumpuh :
o Disandarkan di atas bantal dan agak menjauhi badan. o Sikut diluruskan.
o Pergelangan tangan lurus. o Semua jari diluruskan.
Pinggul yang lumpuh : Posisi lurus dan diganjal dengan bantal.
3.3.4. Berbaring pada sisi yang sehat.
Ranjang : Datar seluruhnya.
Kepala : Dibaringkan dengan nyaman dan lurus dengan badan.
Badan : Agak bersandar ke depan.
Bahu yang lumpuh : Agak didorong ke depan.
Lengan dan tangan yang lumpuh : o Di atas bantal.
o Sudut rentang sekitar 1000dari badan.
Tungkai yang lumpuh :
o Pergelangan paha dan lutut agak ditekuk. o Tungkai dan kaki diganjal dengan bantal.
Lengan yang normal : Diletakkan pada posisi yang menyenangkan pasien.
Tungkai yang normal : Pinggul dan lutut diluruskan.
3.3.5. Berbalik ke samping di ranjang.
Ranjang : Datar seluruhnya.
Pasien : Berbaring dengan kedua lutut ditekuk dan tumit mendekati pinggul.
Untuk memudahkan, kedua lutut pasien dituntun ke bawah dengan posisi di atas tumit.
Tangan yang satunya menuntun panggul agar diangkat ke atas dan memutar ke samping.
Kemudian bahu dimiringkan dengan bantal sampai badan dalam posisi satu garis lurus.
3.3.6. Berbalik ke sisi yang normal. 3.3.6.1. Secara pasif :
Lutut yang lumpuh ditekuk.
Kedua tangan pasien digenggamkan.
Berbalik dibantu pada daerah bahu dan pinggul.
3.3.6.2. Secara aktif :
Pasien tetap menggenggam kedua tangannya.
Pelatih menuntun tungkai yang lumpuh mulai dari daerah pinggul dan sisi luar kaki.
3.3.7. Miring ke sisi yang lumpuh. Secara aktif :
Lengan dan tungkai yang sehat dibalik ke sisi lainnya oleh pasien.
Pada bahu dan lutu yang lumpuh dibantu oleh pelatih.
3.3.8. Duduk di ranjang.
Ranjang :
o Bagian kepala ranjang diusahakan selurus mungkin. o Sebuah bantal diletakkan di bawah punggung pasien.
Kepala : Tidak bersandar, bebas bergerak.
Badan : Tegak.
Pinggul : Ditekuk 900, berat badan dibebankan pada kedua pinggul.
Lengan : Diluruskan ke depan, sikut disandarkan pada meja ranjang pasien (diperbolehkan meletakkan lengan pada bantal).
3.3.9. Dari posisi berbaring ke duduk. 3.3.9.1. Secara pasif :
Pasien dimiringkan ke sisi tubuh yang lumpuh dengan menekuk kedua lututnya.
Pasien menyandar dengan tangan yang sehat di tepi ranjang.
3.3.9.2. Secara aktif :
Pasien berbaring pada sisi yang lumpuh.
Ia menahan tepi ranjang dengan tangannya yang normal.
Pelatih membantu mengarahkan gerakan ini dengan menahan pinggul yang sehat dan menuntun bahu yang sehat kearah bawah.
3.3.10. Menggeser pantat. 3.3.10.1. Secara pasif :
Berat badan pasien dipindahkan dari satu sisi ke lainnya dan sambil melakukan itu, ia menggeser kedua pantatnya.
Pasien tetap merentangkan tangan yang lumpuh k e depan.
3.3.10.2. Secara aktif :
o Pasien tetap merentangkan tangan yang lumpuh ke depan.
3.3.11. Pindah dari kursi ke ranjang dan sebaliknya. 3.3.11.1. Secara pasif :
Pelatih berdiri didepan pasien.
Ia menopang lengan yang lumpuh dan mengapitnya di antara lengan dan badannya serta menuntun pasien mulai dari daerah bahu.
Lutut pasien pada sisi yang lumpuh dijepit diantara kedua lutut pelatih.
Berat badan dipindahkan ke depan melalui kedua kakinya.
Dengan menuntun bahu pasien ke depan dan ke bawah maka pantat pasien terangkat.
Pelatih kemudian meletakkan kedua tangannya di pinggul pasien untuk mempermudah pemindahan berat badan.
Selama melakukan seluruh gerakan tersebut, tungkai yang lumpuh tetap berada dalam jepitan lutut dan kaki pelatih.
3.3.11.2. Secara aktif dengan bantuan :
Untuk memudahkan pasien membungkuk ke depan, letakkan kursi kecil di depannya, pasien dapat menyandarkan kedua tangannya pada kursi itu sambil tetap saling menggenggam seperti halnya ketika berdiri.
Adalah penting untuk menempatkan kedua tumit ke lantai, posisi kedua kaki harus berada di bawah lutut.
Dengan kedua tangan saling menggenggam, rentangkan ke depan dan sandarkan pada kursi.
Angkat pantat dan alihkan berat badan ke bagian depan sehingga posisi kepala akan berada di depan kaki.
Pindah ke kursi atau ranjang.
Pelatih menuntun pemindahan mulai dari pinggul agar prosesnya berjalan lancer.
Pelatih berada di sisi lain, ia membungkukkan pasien, menjepitnya antara kedua sikut dan meletakkan kedua tangannya di bawah pinggul. Satu kaki mencegah pasien agar tidak tergelincir selama proses pemindahan.
3.3.11.3. Secara aktif :
Tanpa bantuan kursi roda.
Pastikan pijakan kaki sudah stabil.
Kedua tangan direntangkan.
Membungkuk.
Pindahkan berat badan ke depan dan angkat pantat.
Membungkuk.
Pindahkan berat badan ke depan dan angkat pantat.
Putar badan kearah kursi roda.
Gerakan dituntun mulai dari kedua bahu.
3.3.12. Berpindah tanpa bantuan.
Badan bersandar ke depan dan raih dengan kedua tangan.
Angkat pantat : Jika bisa, berdiri.
3.3.13. Duduk di kursi roda di belakang meja.
Bantal : Diletakkan pada punggung bawah.
Kedua lengan direntangkan, kedua sikut bersandar pada meja. Perhatikan posisi tangan yang benar.
Kedua kaki diletakkan di atas lantai atau kursi kecil.
3.3.14. Dari posisi duduk ke posisi berdiri.
Letakkan sebuah kursi tanpa sandaran di depan pasien.
Pasien merentangkan tangan yang lumpuh ke depan kemudian membungkukkan badannya sehingga posisi kepala berada di depan kaki sambil mengangkat pantatnya.
Bantuan yang diberikan pelatih : o Berdiri pada sisi yang lumpuh.
o Satu tangan menahan pinggul pasien yang sehat. o Satu tangan lainnya ditaruh di atas lutut yang lumpuh.
3.3.15. Berjalan.
Pelatih berdiri di depan pasien.
Lengan yang lumpuh diletakkan di atas bahu pelatih.
Pelatih meletakkan tangannya di bawah bahu yang lumpuh sambil menopang lengan yang lumpuh.
Tangan pelatih yang lainnya membimbing pemindahan berat badan melalui panggul pasien.
4. Pencegahan stroke sekunder
4.1. Pengendalian faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.
Tidak dapat dirubah.
Dapat dipakai sebagai petanda (marker) stroke pada seseorang.
4.2. Pengendalian faktor risiko yang dapat dimodifikasi (Guideline stroke, 2007). 4.2.1. Hipertensi.
Rekomendasi :
Tekanan darah sistolik < 140 mmHg. Tekanan darah diastolik < 90 mmHg.
Modifikasi gaya hidup : o Kontrol berat badan. o Aktivitas fisik (olahraga). o Hindari minum alkohol.
o Diet mengandung natrium sedang (<2,3 gr/hari).
Bila setelah modifikasi gaya hidup TD masih tetap > 140/90 mmHg tambahkan obat anti hipertensi.
4.2.2. Diabetes mellitus. Rekomendasi :
Mengontrol dan mengendalikan kadar gula darah dengan cara diet, obat anti diabetika oral, insulin, dengan target kadar HbA1C < 7%.
4.2.3. Riwayat TIA (Transient ischemic Attack) atau stroke. Rekomendasi :
Penderita dengan stroke iskemik akut aterotrombotik / TIA atau dengan riwayat stroke aterotrombolitik / TIA sebelumnya pemberian antiplatelet lebih dianjurkan daripada antikoagulan untuk mengurangi resiko berulangnya stroke dan kejadian kardiovaskular lain.
Pasien dengan stroke iskemik / TIA yang tidak mendapatkan antikoagulan harus diberikan antiplatelet seperti aspirin (80-325 mg) atau clopidogrel 75 mg, cilostazol atau terapi ER 200 mg.
Kombinasi aspirin 25 mg dengan dipiridamol ER 200 mg, dan clopidogrel dikatakan aman, dan dikatakan lebih baik.
Penggunaan clopidogrel lebih baik dibandingkan dengan aspirin saja.
Penderita dengan TIA dan unstable angina atau non Q wave myocardial infraction, dapat diberikan clopidogrel 75 mg dan aspirin 75 mg.
Pada stroke iskemik aterotrombotik dan arterial stenosis simptomatik dianjurkan pula dipakai cilostazol 100 mg 2 kali sehari.
Obat lain yang dianjurkan adalah Ticlopidin 250 mg 2 kali sehari.
Penambahan cilostazol 2 x 100 mg pada aspirin dapat mengurangi ukuran stenosis dan tidak meningkatkan insidensi perdarahan.
Penderita dengan iskemik serebrovaskular yang sedang mendapat aspirin, tidak terdapat bukti bahwa peningkatan dosis aspirin memberikan keuntungan lebih. Walaupun antiplatelet alternative sering dipertimbangkan untuk penderita telah dipelajari nonkardioembolik, tidak ada obat tunggal atau kombinasi telah dipelajari dengan baik pada penderita yang telah menerima aspirin.
4.2.4. Dislipidemia.
Karakteristik Rekomendasi
* Evaluasi awal (tidak ada PJK)
- CT <200 mg% & HDL ≥ 35 mg% - Ulangi pemeriksaan CT & HDL dalam 6 bulan - 1 tahun - CT <200 mg% & HDL < 35 mg% - Analisis lipoprotein
- CT 200-239 mg% & HDL ≥ 35 mg% - Modifikasi diet, evaluasi ulang & < 2 faktor resiko PJK 3-6 bulan
- CT 200-239 mg% & HDL < 35 mg% - Analisis lipoprotein atau < 2 faktor resiko PJK
- CT ≥ 240 mg% - Analisis lipoprotein
* Evaluasi LDL
- Tanpa PJK & < 2 faktor resiko PJK - Turunkan LDL < 160 mg% : modifikasi diet selama 6 bulan,
terapi obat-obatan bila LDL ≥ 190 mg% - Tanpa PJK tetapi mempunyai ≥ 2 - Turunkan LDL < 130 mg% :
faktor resiko PJK modifikasi diet selama 6 bulan,
terapi obat-obatan bila LDL ≥ 160 mg% - Dengan PJK atau penyakit - Turunkan LDL < 100 mg%
aterosklerotik lainnya - Diet selama 6-12 minggu, bila
LDL ≥ 130 mg%, berikan obat-obatan Sumber : Guideline stroke, 2007.
Daftar makanan yang dianjurkan dan yang sebaiknya dihindari pada dislipidemia :
Makanan yang dianjurkan Makanan yang sebaiknya
dihindari
Daging/ikan Daging muda, daging ayam tanpa kulit, Daging berlemak, kulit ayam/bebek
ikan laut, batasi udang, cumi, sosis, daging olahan, jeroan, makanan kaleng. dibakar/direbus.
Telur Putih telur boleh bebas. Kuning telur 2 btr/minggu.
Lemak/minyak Gunakan minyak jagung, kacang, Semua minyak/mentega dari binatang, bunga matahari, wijen, zaitun. minyak kelapa.
Susu Susu skim, keju rendah lemak. Susu penuh (full cream), keju tinggi lemak. Kacang-kacangan Kacang, tahu, tempe, kwaci, wijen, Kacang-kacangan kecuali yang disebut
bunga matahari. sebelah kiri.
Nasi, roti Semua jenis nasi dan roti yang tidak Nasi olahan (kebuli, lemak), roti isi,
diolah. pastry.
Sayuran Semua jenis tidak terbatas.
-Buah Bebas Batasi alpokat, kelapa, duren.
Sumber : Hiperlipidemia, buku ajar ilmu penyakit dalam, FKUI, 1998.
4.2.5. Obesitas.
Menurunkan berat badan, dengan target BMI < 25 kg/m2.
Garis lingkar pinggang < 80 cm untuk wanita, dan < 90 cm untuk laki-laki.
Melakukan olahraga teratur.
Melakukan aktivitas fisik yang mempunyai nilai aerobic (jalan cepat, bersepeda, berenang,dll) secara teratur minimal 30 menit, dan minimal tiga kali per minggu.
4.2.6. Menghentikan rokok.
Merokok menyebabkan peninggian koagulabilitas, viskositas darah, meninggikan kadar fibrinogen, mendorong agregasi platelet, meninggikan tekanan darah, meningkatkan hematokrit dan menurunkan HDL dan meningkatkan LDL kolesterol.
Berhenti merokok juga memperbaiki fungsi endotel.
Perokok pasif, resikonya sama dengan perokok pasif.
4.2.7. Hindari minum alkohol dan penyalahgunaan obat.
Penyalah gunaan obat seperti kokain, heroin, fenilpropanolamin dan mengkonsumsi alkohol dalam dosis berlebihan dan jangka panjang (alkohol abuse) akan menyebabkan tekanan darah meningkat, memudahkan terjadinya stroke hemoragik.
4.2.8. Tangani stress dan beristirahat yang cukup.
Istirahat cukup dan tidur teratur antara 6-8 jam sehari.
Mengendalikan stress dengan cara : o Berpikir positif.
o Bersikap ramah.
o Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. o Mensyukuri hidup yang ada.
Tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah.
4.2.9. Faktor resiko lainnya.
Faktor resiko Rekomendasi
Diseksi arteri Warfarin 3-6 bln atau antiplatelet
Setelah 3-6 bln, terapi antiplatelet jangka panjang layak diberikan pada penderita stroke.
Antikoagulan setelah 3-6 bln dipertimbangkan pada penderita dengan iskemik berulang. Penderita dengan kejadian iskemik berulang disamping terapi antitrombolitik
dipertimbangkan untuk terapi endovaskular (stenting).
Penderita yang gagal atau bukan kandidat terapi endovaskular dipertimbangkan untuk terapi pembedahan.
Patent Foramen Terapi antiplatelet dipertimbangkan untuk mencegah kejadian berulang.
Ovale Warfarin digunakan untuk pasien dengan resiko tinggi yang mempunyai indikasi lain untuk antikoagulan oral seperti pada keadaan hiperkoagulasi atau adanya venous trombosis.
Data kurang mencukupi untuk merekomendasikan PFO pada penderita dengan stroke yang pertama kali dengan PFO.
Penutupan PFO dipertimbangkan pada penderita dengan stroke kriptogenik berulang walaupun mendapat terapi medis.
Hiperhomosistein Preparat multivitamin harian standar layak diberikan untuk mengurangi kadar homosistein.
Turunkan sampai < 16 umol/L (berikan asam folat 400 ug/hari, B6 1,7 mg/hari, B12 2,4 mg/hari, diutamakan dalam bentuk sayur, buah-buahan, tumbuhan polong, daging, ikan, beras fortified dan biji-bijian.
Kondisi Hiper- Harus dievaluasi adanya trombosis vena dalam, yang merupakan indikasi untuk koagulasi pemberian terapi antikoagulan, tergantung dari kondisi klinis dan hematologis. Inherited Penderita harus dievaluasi untuk mekanisme alternatif stroke.
trombophilia Bila DVT tidak ditemukan, terapi antikoagulan atau antiplatelet jangka panjang layak diberikan.
Penderita dengan riwayat trombosis berulang dipertimbangkan pemberian antikoagulan jangka panjang.
Antipospolipid - Bila APL antibodi (+) terapi antiplatelet layak diberikan.
antibodi sindrom Penderita stroke dengan kriteria APL antibodi yang sesuai dengan penyakit oklusi vena dan arterial pada multipel organ, aborsi berulang, livedo reticularis, diberikan anti-koagulan oral dengan target INR 2-3.
Sicle cell disease Penderita dewasa dengan SCD dan stroke, direkomendasikan mendapat terapi umum yang dapat diterapkan untuk mengontrol faktor resiko dan penggunaan anti koagulan. Terapi tambahan diberikan termasuk transfusi darah untuk mengurangi HbS dari < 30% hingga 50% dari total Hb, hydroxyurea atau pembedahan bypass.
Cerebral venous Beralasan diberikan UFH atau LMWH walaupun pada keadaan adanya infark hemoragik. sinus trombosis Dilanjutkan terapi dengan antikoagulan oral diberikan selama 3-6 bln, diikuti dengan
terapi antiplatelet.
Kehamilan Pada kehamilan dengan stroke dan resiko tinggi tromboemboli seperti koagulopati atau katub jantung, mekanik dipertimbangkan :
Penyesuaian dosis UFH selama kehamilan, seperti pemberian dosis subkutan setiap 12 jam.
dengan monitoring faktor Xa selama kehamilan; atau UHF atau LMWH hingga minggu ke 13, diikuti warfarin hingga pertengahan trimester ke 3, kemudian UHF atau LMWH diberikan kembali hingga persalinan.
Wanita hamil dengan kondisi resiko lebih rendah dipertimbangkan diterapi dengan UFH atau LMWH pada trimester pertama, diikuti dengan aspirin dosis rendah hingga akhir kehamilan.
Cerebral Penderita dengan ICH, SAH atau SDH, seluruh antikoagulan dan antiplatelet harus hemoragik dihentikan selama periode akut minimal 1-2 minggu setelah perdarahan dan efek
antikoagulan diatasi dengan terapi yang sesuai (seperti vit K, FFP).
Penderita yang memerlukan antikoagulan segera setelah perdarahan serebral, heparin intravena lebih aman daripada antikoagulan oral.
Antikoagulan oral dapat dimulai lagi setelah 3-4 minggu, dengan monitoring ketat dan pengawasan INR pada batas bawah rentang terapi.
Stenosis carotis Endarterektomi karotis pada stenosis karotis simptomatik berat ( >70-99%), sangat direkomendasikan.
Endarterektomi karotis pada stenosis karotis simptomatik berat (50-69%), direkomendasikan selektif.
Endarterektomi karotis pada stenosis karotis simptomatis ringan (<50%) tidak direkomendasikan.
Stenosis karotis asimptomatik berat (>60%), direkomendasikan selektif.
Pada kondisi tidak dapat dilakukan tindakan operasi atau stenosis karotis simptomatik beresiko tinggi maka dapat dilakukan tindakan stenting dan angioplasty karotis.
Kondisi khusus Antikoagulan tidak dilanjutkan pada SAH setelah ruptur aneurysma jelas terjadi. Pasien dengan ICH lobar atau perdarahan mikro dan dicurigai CAA pada MRI memiliki resiko tinggi rekurensi ICH bila antikoagulan dilanjutkan.
Penderita dengan infark hemoragik, antikoagulan dapat dilanjutkan, tergantung pada kondisi-kondisi klinis spesifik dan indikasi yang mendasari untuk terapi antikoagulan.
Sumber : Guideline stroke, 2007.
4.2.10. Penggunaan antikoagulan setelah perdarahan serebral. Rekomendasi :
Penderita dengan ICH, SAH, atau SDH, semua antikoagulan dan antiplatelet harus di stop selama fase akut minimal 2 minggu setelah perdarahan, dan efek antikoagulan harus diterapi dengan agen yang sesuai seperti vit K, FFA.
Penderita yang memerlukan antikoagulan setelah perdarahan serebral, heparin IV lebih aman dibanding antikoagulan oral. Antikoagulan oral dapat dilanjutkan setelah 3-4 minggu, dengan monitoring ketat dan pemantauan INR pada batas bawah dari range terapi.
Kondisi khusus : antikoagulan harus dihentikan setelah adanya SAH sehingga ruptur aneurisma ditegakkan. Pasien dengan ICH lobar atau perdarahan mikro dan dicurigai adanya amiloid angiopati pada MRI dapat beresiko tinggi terjadi ICH bila antikoagulan perlu dilanjutkan. Untuk penderita dengan infark hemoragik, antikoagulan dapat dilanjutkan, tergantung pada skenario klinis spesifik dan indikasi yang mendasari pemberian antikoagulan.
5. Gangguan mental pada stroke
Penderita pasca stroke sering menyandang gejala sisa berupa cacat fisik dan cacat mental. Cacat mental (fungsi luhur) mencakup berbagai fungsi, diantaranya memori, kognitif, berbahasa, praksis, emosi, tingkah laku, berhitung, abstraksi, orientasi, afek (Lumbantobing, Neurogeriatri, 2004).
5.1.Masalah emosional pasca stroke.
Terutama ansietas, frustasi dan depresi.
Tidak jarang juga dijumpai : o Pikiran yang kaku. o Tidak fleksibel.
o Ketergantungan pada orang lain. o Tidak sabar.
o Mudah tersinggung. o Impulsive.
o Kurang memahami masalah.
o Tidak sensitif terhadap perasaan atau pendapat orang lai n. o Persepsi sosial yang buruk.
o Pikiran ingin bunuh diri. o Waham paranoid.
Lesi di lobus frontal kiri mempunyai skor depresi lebih tinggi.
Penderita yang berusia muda mempunyai tingkat depresi yang lebih berat.
Pengobatan yang berhasil dapat dicapai melalui pendekatan rehabilitasi menyeluruh melalui suatu tim.
Obat yang dapat memberikan perbaikan adalah methylphenidate (Ritalin) 10 mg pagi dan siang hari, tanpa diberikan pada sore dan malam hari agar tidak mengganggu tidur.
Dapat juga diberikan Amphetamine, 2 – 5 mg PO, dengan waktu yang sama seperti diatas.
Menurut Rose :
o Depresi yang disebabkan gangguan di hemisfer kanan lebih banyak disertai gejala “endogenous” atau gejala biologik, yang berespon terhadap farmakoterapi.
o Depresi yang disebabkan gangguan di hemisfer kiri ditandai oleh pikiran dan ide yang depresif negatif, yang kurang berespons terhadap farmakoterapi, dapat berespons terhadap psikoterapi.
50 5.2.Esesmen dan penatalaksanaan.
Menelaah masalah emosional pada seorang penderita stroke dapat memberikan beberapa kesulitan, di antaranya :
1. Anamnesa sulit diperoleh bila penderita afasia, kurang menyadari kekurangannya atau adanya “denial”.
2. Mungkin penderita sedang memakan obat yang mengakibatkan waktu reaksi menurun dan menyerupai depresi.
3. Interpretasi gejala vegetative yang didapat pada keadaan depresi dapat dipersulit atau tumpang tindih dengan gejala stroke sendiri, yang dapat menekan nafsu makan, mudah cape, menurunnya hubungan seksual, dengan atau tanpa adanya depresi.
Menurut DSM IV (1994) kriteria esensial bagi sindrom depresi mayor terdiri dari mood (suasana hati) yang dysphorik atau hilangnya minat (interest) atas kenikmatan bagi semua aktivitas yang umum (termasuk aktivitas seksual), dengan kombinasi dari berkurangnya empat dari tujuh gejala berikut :
1. Gangguan nafsu makan dan perubahan berat badan. 2. Gangguan tidur.
3. Retardasi psikomotor atau agitasi. 4. Energy menurun dan rasa lelah (fatique).
5. Menyalahkan diri sendiri, merasa tidak ada harga dirinya atau bersalah. 6. Tidak tegas, mengeluh pelupa dan sulit berkonsentrasi.
7. Pemikiran meninggal atau bunuh diri atau mencoba bunuh diri.
5.3.Terapi
Psikoterapi pada penderita dan keluarga.
Farmakoterapi atau terapi elektrokonvulsif bila depresinya parah.
Periksa defisit kognitif dan mental, sebelum dilakukan psikoterapi.
Memberikan konseling kepada keluarga atau penerangan mengenai keterbatasan serta masalah yang dihadapi penderita.
Pemberian nasehat dan penerangan mengenai hal berikut :
o Gangguan kognitif.
o Mengurangi beban tanggung jawab bila dianggap perlu.
o Memberi perhatian dan kasih sayang.
o Penderita pasca stroke mudah cape, dan mudah teralih perhatiannya oleh suara berisik.
o Penerangan mengenai masalah seksual.
o Motivasi yang kurang, yang harus ditingkatkan.
o Keadaan tidak sabar dan impulsive, yang tidak mudah dimodifikasi dengan argumentasi rasional.
Bila gangguan ringan, maka keadaan depresi, iritabilitas atau ansietas dapat diobati dengan psikoterapi.
Depresi dapat diobati dengan :
o Meningkatkan kegiatan yang menyenangkan.
Ansietas dapat diobati dengan : o Hipnosis sendiri.
Ledakan emosi dapat diobati dengan : o Terapi kombinasi.
o Terapi behavioral. o Terapi relaksasi. o Terapi obat.
Bila perlu diberi medikasi, misalnya obat penenang seperti haloperidol.
Perlu diperhatikan efek samping obat, mengingat penderita stroke umumnya lanjut usia.
Farmakoterapi dan psikoterapi dapat berperan menangani depresi dan dapat bekerja