Media untuk mengetahui brand baru Surabaya Suites Hotel:
4.4.3. Komponen Behavior a. Brand Names
Pada penelitian ini terdapat 5 dimensi elemen brand yang akan dibahas, yaitu brand names, URLs, logo & symbols, slogan dan packaging. Pembahasan pertama adalah pembahasan mengenai brand names. Berikut adalah tanggapan responden mengenai sikap terhadap brand baru Surabaya Suites Hotel dalam dimensi brand names pada komponen behavior:
99
Universitas Kristen Petra Tabel 4.25. Deskripsi Tanggapan Responden Dalam Dimensi Brand Names Pada
Komponen Behavior
Pertanyaan Tanggapan Responden Mean Kategori
STS TS N S SS
Memutuskan untuk datang dengan adanya nama brand baru Surabaya Suites Hotel
2 13 33 33 19 3,54 Netral
Sumber: Olahan Peneliti, 2016.
Dari tabel 4.25 diketahui bahwa tanggapan responden terhadap nama brand baru Surabaya Suites Hotel tertinggi menjawab netral dan setuju, yaitu sebanyak 33%. Jawaban tertinggi kedua dari responden adalah sangat setuju sebanyak 19%, disusul oleh tidak setuju sebanyak 13% dan sangat setuju sebanyak 2%. Dengan melakukan perhitungan nilai rata-rata, maka diperoleh nilai rata-rata (mean) sebesar 3,54. Mengacu pada tabel 4.12 mengenai kategori sikap, tanggapan terhadap brand names dapat dikategorikan netral karena nilai berada di antara 2,34 dan 3,67, yaitu 3,54. Sehingga, walaupun 52% responden menjawab setuju, hasil nilai rata-rata terhadap brand names dikategorikan netral. Sikap yang tidak memihak atau netral tetap disebut sikap juga walaupun arahnya tidak positif dan tidak negatif. Dalam penelitian ini, sikap netral dapat dilihat dari jawaban netral atau ragu-ragu melalui kuisioner yang diberikan pada responden (Azwar, 2015, p. 88-89).
Pemilihan brand names pada dasarnya merupakan keputusan yang penting karena seringkali menjadi pusat tema atau pedoman perusahaan. Brand names juga merupakan elemen brand yang dekat dengan konsumen. Maka dari itu, brand names ini merupakan salah satu elemen yang paling sulit dirubah (Keller, 2003, p.181-217).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sikap, yang pertama adalah media. Media memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Pesan-pesan yang dibawa berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
100
Universitas Kristen Petra memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuk suatu arah sikap tertentu. Faktor yang kedua adalah pengalaman pribadi. Apa yang terjadi dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis akan cenderung membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Faktor yang ketiga adalah pengaruh orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang kecenderungannya atau searah dengan sikap orang lain yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang biasanya dianggap penting bagi individu. Di antara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain (Azwar, 2015, p.30-37).
Surabaya Plaza Hotel melakukan rebranding menjadi brand baru yaitu Surabaya Suites Hotel. Hotel ini resmi melakukan rebranding pada tanggal 15 Oktober 2015, termasuk perubahan nama, namun sejak bulan April mereka telah memberikan informasi kepada masyarakat bahwa mereka akan mengganti nama menjadi Surabaya Suites Hotel. Usaha yang dilakukan oleh Surabaya Suites Hotel adalah dengan memberikan informasi dan promosi melalui media seperti media sosial (instagram, twitter, path dan facebook), koran, radio, usaha sales & marketing dalam melakukan sales call dan telemarketing, dsb.
Untuk mendukung analisis, dilakukanlah wawancara singkat kepada beberapa responden. Wawancara pertama dilakukan kepada responden yang menjawab ingin datang ke Surabaya Suites Hotel karena nama brand baru ini. Responden yang bernama Antonius, pria berusia 30 tahun menyatakan bahwa “Sebenarnya saya pernah sih sekali diminta tolong untuk cari referensi hotel,
101
Universitas Kristen Petra terus waktu browsing ketemu Surabaya Suites Hotel. Penasaran aja sih sama Surabaya Suites Hotel, kelihatannya lumayan bagus jadinya ingin datang, terus dulunya juga Surabaya Plaza Hotel, hotel yang cukup populer” (Personal communication, May 27, 2016).
Wawancara kedua dan ketiga dilakukan kepada responden yang menjawab tidak ingin datang ke Surabaya Suites Hotel karena nama brand baru. Responden yang bernama bernama Freddy, pria berusia 36 tahun menyatakan bahwa “Saya sih nggak tertarik untuk datang ke Surabaya Suites Hotel karena dulu pernah ke Surabaya Plaza Hotel. Eh tapi ternyata hotelnya tidak sesuai ekspektasi dan fasilitas kamarnya nggak memuaskan. Jadinya, saya sendiri juga nggak tertarik kesana lagi, kalau namanya ganti kan belum tentu dalamnya ganti juga” (Personal communication, May 27, 2016). Kemudian, responden yang bernama Fenny, wanita berusia 50 tahun menyatakan bahwa “Nggak mau ah datang ke Surabaya Suites Hotel, kata teman aku itu hotelnya seram. Sebenarnya nama hotelnya nggak seram sih, tapi ya gitu katanya berhantu, jadinya nggak tertarik datang kesana” (Personal communication, May 27, 2016).
Sesuai dengan deskripsi hasil kuisioner dimensi brand names, ditemukan bahwa terdapat sebanyak 33 responden yang menjawab netral, dimana jumlah tersebut sama dengan jumlah responden yang menjawab setuju. Bahkan terdapat 15 orang yang memiliki sikap negatif. Brand names sebagai pusat sebuah brand jika dibandingkan dengan elemen-elemen brand lainnya merupakan elemen brand yang paling sering disebutkan. Brand names ini dimunculkan melalui semua media promosi perusahaan, karena memang media memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk landasan kognitif seseorang yang kemudian dapat menjadi dasar terbentuknya afektif dan bila cukup kuat akan membentuk suatu arah sikap tertentu.Namun apabila masih terdapat banyak sikap netral maka bisa jadi stimulus yang disampaikan melalui media tidak cukup kuat untuk membentuk arah sikap tertentu responden. Selain itu, apabila masih banyak sikap netral dari responden, dapat disebabkan oleh adanya faktor lain di luar kendali perusahaan. Adapun faktor-faktor tersebut dapat berupa pengalaman pribadi terhadap hotel, adanya pengaruh orang lain seperti teman atau keluarga, ataupun hal-hal yang
102
Universitas Kristen Petra lebih diperhatikan oleh responden ketika memutuskan untuk datang, misalnya dari segi kualitas, harga, fasilitas, kebersihan, dsb. Salah satu penyebab adanya sikap netral juga karena responden memang tidak peduli atau bersikap biasa saja terhadap nama Surabaya Suites Hotel, sehingga ia merasa bahwa nama Surabaya Suites Hotel tidak bisa menjadi penentu keinginannya untuk datang ke Surabaya Suites Hotel.
b. URLs
Pembahasan kedua adalah pembahasan mengenai URLs atau yang sering dikenal dengan website. Berikut adalah tanggapan responden mengenai sikap terhadap brand baru Surabaya Suites Hotel dalam dimensi URLs pada komponen behavior:
Tabel 4.26. Deskripsi Tanggapan Responden Dalam Dimensi URLs Pada Komponen Behavior
Pertanyaan Tanggapan Responden Mean Kategori
STS TS N S SS
Memutuskan untuk datang dengan adanya
website brand baru
Surabaya Suites Hotel
1 21 29 32 17 3,43 Netral
Sumber: Olahan Peneliti, 2016.
Dari tabel 4.26 diketahui bahwa tanggapan responden terhadap website brand baru Surabaya Suites Hotel tertinggi menjawab setuju, yaitu sebanyak 32%. Jawaban tertinggi kedua dari responden adalah netral sebanyak 29%, disusul oleh tidak setuju sebanyak 21%, sangat setuju sebanyak 17% dan hanya 1% menjawab sangat tidak setuju. Mengacu pada tabel 4.12 mengenai kategori sikap, tanggapan terhadap URLs atau website dapat dikategorikan netral karena nilai berada di antara 2,34 dan 3,67 yaitu 3,45. Sikap yang tidak memihak atau netral tetap disebut sikap juga walaupun arahnya tidak positif dan tidak negatif. Dalam
103
Universitas Kristen Petra penelitian ini, sikap netral dapat dilihat dari jawaban netral atau ragu-ragu melalui kuisioner yang diberikan pada responden (Azwar, 2015, p. 88-89).
URL atau website digunakan untuk menentukan lokasi-lokasi yang lebih spesifik dari halaman sebuah web, dan biasanya juga dikenal sebagai daerah kekuasaan. Siapapun yang menginginkan untuk memiliki suatu URL yang khusus harus mendaftar dan membayar atas namanya ke penyedia jasa (Keller, 2003, p.181-217).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sikap, yang pertama adalah media. Media memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Pesan-pesan yang dibawa berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. Faktor yang kedua adalah pengalaman pribadi. Apa yang terjadi dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis akan cenderung membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut (Azwar, 2015, p.30-37).
Untuk mendukung analisis, dilakukanlah wawancara singkat kepada beberapa responden. Wawancara pertama dilakukan kepada responden yang menjawab ingin datang ke Surabaya Suites Hotel karena website brand baru ini. Responden yang bernama Siswandi, pria berusia 50 tahun menyatakan bahwa “Saya merasa informasi yang ada di website Surabaya Suites Hotel cukup lengkap dan menjawab kebutuhan, jadi kalau ditanya mau datang atau tidak karena website nya, saya sih setuju-setuju saja” (Personal communication, May 27, 2016).
104
Universitas Kristen Petra Wawancara kedua dilakukan kepada responden yang menjawab tidak ingin datang ke Surabaya Suites Hotel karena website brand baru. Responden yang bernama Erla, wanita berusia 40 tahun itu menyatakan bahwa “Website Surabaya Suites Hotel ini tidak sebagus website hotel lain, dan menurut saya tidak menarik. Jadinya, saya juga tidak tertarik untuk datang” (Personal communication, May 27, 2016).
Wawancara ketiga dilakukan kepada responden yang menjawab netral. Responden yang bernama Mintarti, wanita berusia 48 tahun menyatakan bahwa, “Saya tidak peduli sih sebenarnya, mau website nya bagus atau jelek, itu nggak jadi masalah. Menurut saya yang terpenting ya kamarnya nyaman dan harganya murah. Pokoknya fasilitas sama harga sebanding lah, baru saya mau datang” (Personal communication, May 27, 2016).
Sesuai dengan deskripsi hasil kuisioner dimensi URLs, ditemukan bahwa terdapat 29 responden yang menjawab netral dan 22 responden yang memiliki behavior negatif. Surabaya Suites Hotel memberikan kemudahan bagi masyarakat yang mencari nama hotel mereka dengan terus menjaga agar hotel mereka bisa bertahan di halaman pertama search engine. Website Surabaya Suites Hotel ini juga memberikam kemudahan dalam segi reservasi, sehingga masyarakat tidak perlu menelepon atau datang kesana untuk reservasi, cukup mengakses website dan melakukan reservasi disana.
Sama dengan elemen brand lainnya, website Surabaya Suites Hotel juga disebutkan di beberapa media promosi karena media memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk landasan kognitif seseorang yang kemudian dapat menjadi dasar terbentuknya afektif dan apabila cukup kuat dapat membentuk suatu arah sikap tertentu (Azwar, 2015, p.30-37). Dengan adanya kemudahan yang diberikan website dan pencantuman melalui beberapa media, seharusnya masyarakat menyukainya dan memutuskan untuk datang. Tetapi, apabila masih banyak yang bersikap netral dan negatif berarti kemudahan yang diberikan bisa jadi tidak dirasakan, dari segi design mungkin kurang menarik atau stimulus pesan dari media tidak cukup kuat untuk membentuk suatu sikap tertentu.
105
Universitas Kristen Petra Selain itu, apabila masih banyak sikap netral dan tidak setuju dari responden dapat disebabkan oleh adanya faktor lain yang berada di luar kendali perusahaan, misalnya pengalaman pribadi, pengaruh teman atau keluarga, atau adanya hal-hal lain yang lebih diperhatikan responden ketika memutuskan untuk datang, misalnya dari segi kualitas, harga dan fasilitas. Salah satu penyebab adanya sikap netral juga karena responden memang tidak peduli atau bersikap biasa saja terhadap website Surabaya Suites Hotel, sehingga ia merasa bahwa website Surabaya Suites Hotel tidak bisa menjadi penentu keinginannya untuk datang ke Surabaya Suites Hotel.
c. Logo & Symbols
Pembahasan ketiga adalah pembahasan mengenai Logo & Symbols. Berikut adalah tanggapan responden mengenai sikap terhadap brand baru Surabaya Suites Hotel dalam dimensi Logo & Symbols pada komponen behavior:
Tabel 4.27. Deskripsi Tanggapan Responden Dalam Dimensi Logo & Symbols Pada Komponen Behavior
Pertanyaan Tanggapan Responden Mean Kategori
STS TS N S SS
Memutuskan untuk datang dengan adanya logo brand baru Surabaya Suites Hotel
1 21 27 34 17 3,44 Netral
Sumber: Olahan Peneliti, 2016.
Dari tabel 4.27 diketahui bahwa tanggapan responden terhadap logo brand baru Surabaya Suites Hotel tertinggi menjawab setuju, yaitu sebanyak 34%. Jawaban tertinggi kedua dari responden adalah netral sebanyak 27%, disusul oleh tidak setuju sebanyak 21%, sangat setuju sebanyak 17% dan sisanya yaitu 1% menjawab sangat tidak setuju. Mengacu pada tabel 4.12 mengenai kategori sikap, tanggapan terhadap logo & symbols dapat dikategorikan netral karena nilai berada di antara 2,34 dan 3,67 yaitu 3,44. Sikap yang tidak memihak atau netral tetap
106
Universitas Kristen Petra disebut sikap juga walaupun arahnya tidak positif dan tidak negatif. Dalam penelitian ini, sikap netral dapat dilihat dari jawaban netral atau ragu-ragu melalui kuisioner yang diberikan pada responden (Azwar, 2015, p. 88-89).
Logo adalah suatu simbol brand, atau suatu desain grafis yang khusus digunakan untuk menandai sebuah perusahaan atau produk. Meski pada umumnya brand names adalah pusat elemen brand, unsur brand visual yaitu logo sering kali memainkan peran yang penting. Oleh karena sifat logo dan simbol yang visual, maka dapat diperbaharui jika dibutuhkan dari waktu ke waktu (Keller, 2003, p.181-217). Sama halnya dengan brand names, logo yang baik harus mengkomunikasikan citra dan positioning, harus sederhana, dan harus relevan (Duncan, 2002, p.51).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sikap, yang pertama adalah media. Media memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Pesan-pesan yang dibawa berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. Faktor yang kedua adalah pengalaman pribadi. Apa yang terjadi dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis akan cenderung membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut (Azwar, 2015, p.30-37).
Untuk mendukung analisis, dilakukanlah wawancara singkat kepada beberapa responden. Wawancara ini dilakukan kepada responden yang menjawab netral. Responden yang bernama Johny, pria berusia 50 tahun menyatakan bahwa, “Mau dia ganti logo atau tidak saya sih nggak ngurus ya, nggak ada pengaruhnya buat saya” (Personal communication, May 27, 2016). Pernyataan
107
Universitas Kristen Petra serupa yang dikemukakan juga oleh Andyka, pria berusia 54 tahun bahwa “Saya suka sih waktu tahu nama dan logo nya, tapi ya nggak mungkin lah saya mau datang hanya karena nama, logo dan lainnya ganti. Yah kecuali harganya tambah murah, mungkin saya mau datang” (Personal communication, May 27, 2016).
Sesuai dengan deskripsi hasil kuisioner dimensi logo & symbols, ditemukan bahwa terdapat 27 responden yang menjawab netral dan 22 responden yang memiliki behavior negatif. Sama halnya dengan elemen brand yang lain, logo juga dipromosikan melalui media karena media memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk landasan kognitif seseorang yang kemudian dapat menjadi dasar afektif dan bila cukup kuat akan membentuk suatu arah sikap tertentu. Pada setiap media sosial, logo Surabaya Suites Hotel ini dijadikan display picture. Dengan adanya logo yang selalu dicantumkan dan penggunaannya sebagai display picture media soaial seharusnya membuat masyarakat semakin sadar dengan adanya logo brand baru ini dan kemudian dapat makin menyukai sehingga mau datang. Namun, kebanyakan masyarakat hanya menyukai logo saja, tetapi memutuskan untuk tidak datang atau bersikap netral. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh stimulus pesan yang disampaikan melalui media tidak cukup kuat untuk membentuk suatu arah sikap tertentu.
Selain itu, apabila masih banyak sikap netral dan tidak setuju dari responden dapat disebabkan oleh adanya faktor lain yang berada di luar kendali perusahaan, misalnya pengalaman pribadi, pengaruh teman atau keluarga, atau adanya hal-hal lain yang lebih diperhatikan responden ketika memutuskan untuk datang, misalnya dari segi kualitas, harga dan fasilitas. Salah satu penyebab adanya sikap netral juga karena responden memang tidak peduli atau bersikap biasa saja terhadap logo Surabaya Suites Hotel, sehingga ia merasa bahwa logo Surabaya Suites Hotel tidak bisa menjadi penentu keinginannya untuk datang ke Surabaya Suites Hotel.
108
Universitas Kristen Petra
d. Slogan
Pembahasan keempat adalah pembahasan mengenai slogan. Berikut adalah tanggapan responden mengenai sikap terhadap brand baru Surabaya Suites Hotel dalam dimensi slogan pada komponen behavior:
Tabel 4.28. Deskripsi Tanggapan Responden Dalam Dimensi Slogan Pada Komponen Behavior
Pertanyaan Tanggapan Responden Mean Kategori
STS TS N S SS
Memutuskan untuk datang dengan adanya
slogan brand baru
Surabaya Suites Hotel
3 26 23 33 15 3,31 Netral
Sumber: Olahan Peneliti, 2016.
Dari tabel 4.28 diketahui bahwa tanggapan responden terhadap slogan brand baru Surabaya Suites Hotel tertinggi menjawab setuju, yaitu sebanyak 33%. Namun jawaban tertinggi kedua dari responden adalah tidak setuju sebanyak 26%. Kemudian, jawaban tertinggi ketiga adalah netral sebanyak 23%, disusul oleh sangat setuju sebanyak 15% dan 3% yang menjawab sangat tidak setuju. Mengacu pada tabel 4.12 mengenai kategori sikap, tanggapan terhadap slogan dapat dikategorikan netral karena nilai berada di antara 2,34 dan 3,67 yaitu 3,31. Sikap yang tidak memihak atau netral tetap disebut sikap juga walaupun arahnya tidak positif dan tidak negatif. Dalam penelitian ini, sikap netral dapat dilihat dari jawaban netral atau ragu-ragu melalui kuisioner yang diberikan pada responden (Azwar, 2015, p. 88-89).
Slogan bersikap ungkapan pendek dalam komunikasi informasi yang berbentuk deskriptif atau persuasi tentang brand. Slogan sering kali muncul dalam periklanan, namun dapat memainkan satu peran penting dalam kemasan dan dalam aspek yang lain dari program pemasaran. Slogan merupakan alat brand yang kuat karena slogan sangat efisien, yaitu memiliki makna yang persuasif. Slogan dapat dibuat dalam berbagai cara yang berbeda dan variatif untuk dapat
109
Universitas Kristen Petra membantu perusahaan. Beberapa slogan dibuat dengan cara memainkan brand names. Namun beberapa slogan lainnya digunakan secara tegas dalam membangun jaringan antara brand dan produknya (Keller, 2003, p. 181-217).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sikap, yang pertama adalah media. Media memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Pesan-pesan yang dibawa berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. Faktor yang kedua adalah pengalaman pribadi. Apa yang terjadi dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis akan cenderung membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut (Azwar, 2015, p.30-37).
Untuk mendukung analisis, dilakukanlah wawancara singkat kepada beberapa responden. Wawancara pertama dilakukan kepada responden yang menjawab netral. Responden yang bernama Wilson, pria berusia 39 tahun menyatakan bahwa “Saya sih netral-netral aja, paling ya kalau datang juga karena ada keperluan. Kalau nggak, ya biasa saja. Slogan sih nggak berpengaruh apa-apa” (Personal communication, May 20, 2016).
Wawancara kedua dilakukan kepada responden yang menjawab tidak setuju. Responden yang bernama Dody, pria berusia 51 tahun bahwa “Slogan menurut saya hanya untuk promosi, jadi saya nggak 100 persen percaya. Kalaupun benar, saya juga tetap tidak tertarik untuk datang. Kenapa? Tidak tertarik saja” (Personal communication, May 27, 2016).
110
Universitas Kristen Petra Sesuai dengan deskripsi hasil kuisioner dimensi slogan, ditemukan bahwa terdapat 23 responden yang menjawab netral dan bahkan 29 responden yang memiliki behavior negatif.. Sama halnya dengan elemen brand yang lain, slogan juga dicantumkan pada media promosi hotel karena media memiliki pengaruh yang besar untuk membentuk landasan kognitif seseorang yang kemudian dapat menjadi dasar afektif dam apabila cukup kuat akan membentuk suatu arah sikap tertentu. Namun slogan memang lebih jarang disebutkan daripada elemen brand lainnya, misalnya logo atau nama brand karena sifatnya yang berupa kalimat. Dengan jarangnya pemunculan slogan di media menyebabkan banyak orang