BAB II PERSEPEKTIF BISNIS ISLAM
E. Komponen Model
Menurut Muhammad Akram Khan, Terdapat tiga model penting dalam organisasi bisnis menurut ekonomi islam. Yang pertama adalah sole proprietorship, Partnership, dan Mudharabah.
1. Sole Proprietorship (Kepemilikan Tunggal)
Sole Proprietorships’ dapat digambarkan sebagai suatu usaha yang dijalankan sendiri oleh perorangan tanpa menggunakan bentuk usaha yang terpisah dan tersendiri.
Sole proprietorships adalah bentuk paling sederhana dari organisasi usaha. Hukum tidak menganggap bentuk usaha sole proprietorships sebagai badan yang terpisah dari pemilik haknya (pemilik). Dengan demikian, semua hak yang dimiliki usaha tersebut merupakan hak yang dimiliki oleh si pemilik. Demikian pula, semua kewajiban atau hutang yang ditanggung oleh usaha tersebut secara hukum merupakan kewajiban atau hutang dari si pemilik. Aset dan laba yang dihasilkan oleh usaha dimiliki oleh si pemilik yang secara pribadi berkewajiban membayar pajak apapun yang harus dibayar berkenaan dengan aset dan laba tersebut. Apabila si pemilik usaha meninggal, maka usahanya berhenti.
Dalam islam, sole proprietorship tidaklah dilarang selama tidak melanggar syariah.
2. Partnership
Partnership adalah hubungan antara dua orang atau lebih untuk mendistribusikan keuntungan dari hasil usaha yang dijalankan oleh mereka.
Implikasi dari definisi diatas adalah bahwa pihak yang menjalankan partnership sama sama mengeluarkan sumber daya yang dimiliki masingmasing. Selain itu dinyatakan bahwa kesepakatan yang tertulis dalam perjanjian adalah legal yang bertujuan untuk mendistribusikan keuntungan sesuai dengan perjanjian. Partner yang berkontribusi dalam perjanjian tersebut adalah agen dan principal, kecuali partner yang tidak melakukan apaapa. Pada bagian ini, mudharabah dan partnership hampir mirip satu sama lain yang akan dijelaskan kemudian.
Bagi hasil menjadi tujuan utama bentuk usaha ini, keuntungan akan didistribusikan pada proporsi yang sesuai dengan kesepakatan kedua
belah pihak sebelumnya. Selain itu kerugian juga akan ditanggung oleh semua pihak.
Pada prinsipnya Islam menghendaki keadilan dan kejujuran dalam bertransaksi. Tidak ada aturan baku yang menentukan dalam sistem bagi hasil apakah 50:50, 60:40, 70:30 dan seterusnya. Prinsipnya yang bekerja paling gigih harus menerima lebih banyak dari yang tidak berbuat.
Pada partnership, pihak pihak yang ikut berkontribusi dalam usaha memiliki hak berikut ini:
a. Setiap pihak memiliki hak untuk menjual barang secara kredit tanpa perlu mencari terlebih dahulu izin secara explisit dari pihak yang lain.
b. Setiap pihak memiliki hak untuk mempergunakan hak mereka dan menjalankan semua aktivitas dengan normal.
c. Setiap pihak memiliki hak untuk memperoleh uang lewat mudharabah untuk menjalankan bisnis independennya.
Sedangkan setiap pihak wajib meminta izin kepada pihak yang lainnya dalam halhal berikut ini:
a. Meminjamkan uang perusahaan kepada pihak ketiga atau kepada pihak yang lain.
b. Meminjam uang untuk perusahaan dari pihak ketiga. c. Membeli saham di bursa saham secara kredit.
d. Mengundang pihak ketiga untuk menjadi partner
e. Memperoleh lebih banyak bagian mudhorobah dari pihak ketiga. f. Memberikan modal perusahaan secara mudharabah kepada
pihak ketiga.
g. Menggunakan modal perusahaan kepada usaha yang lain. h. Menjalankan bisnis sendiri
i. Menjalankan bisnis independen yang dapat mengurangi kinerja di partnership.
Pembubaran Partnership
Partnership dapat dibubarkan jika:
a. salah seorang berkehendak untuk bubar dengan catatan tidak mendzalimi pihak lain.
b. Salah satu pihak meninggal c. Salah satu pihak menjadi gila
d. Salah satu pihak sakit sehingga tidak bisa melaksanakan tugas e. Periode kontrak habis
3. Mudharabah
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal. Bentuk ini menegaskan kerja sama dengan kontribusi seratus persen modal dari pemilik modal dan keahlian dari pengelola.
Transaksi jenis ini tidak mewajibkan adanya wakil dari shahibul maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hatihati dan bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi akibat kelalaian dan tujuan penggunaan modal untuk usaha halal. Sedangkan, shahibul maal diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba yang optimal.
a. Hak-hak pengusaha
Berdasarkan kesepakatan, pengusaha memperoleh hak berikut ini:
1) Memiliki hak untuk menginvestasikan modalnya dalam bisnis. 2) Meminjam modal dari pihak ketiga untukk mudharbah 3) Memiliki hak untuk masuk kedalam partnership dengan
pihak ketiga.
4) Memiliki hak untuk menjual dan membeli barang secara kredit
5) Memiliki hak untuk mengikuti segala alur perusahaan 6) Memiliki hak untuk memberikan capital kepada perusahaan
Sedangkan untuk hal hal berikut ini, pengusaha memerlukan izin secara eksplisit dalam hal berkut ini:
1) Meminjamkan uang kepada pihak ketiga 2) Membeli barang secara kredit
3) Meminjam uang untuk bisnis b. Konsep double-Mudharabah
DoubleMudharabah adalah ketika seseorang memperoleh uang dari mudharabah, setelah itu selain mempergunakannya sendiri, dia memberikan uang tersebut kepada pihak ketiga untuk melaksanakan bisnis. Pada hal seperti ini, penghusaha pertama memiliki dua fungsi. Dia adalah pengusaha untuk proprietor. Tetapi untuk pengusaha yang kedua, dia adalah proprietor. Dalam kasus ini, dua kesepakatan mudharabah terjadi. Sebagai contoh, A memiliki uang sebesar Rp.100.000.000, dan memberikannya kepada B dengan kesepakatan mudharabah. B akan memperoleh persentase profit. Pada hal ini, B merasa bahwa dirinya belum mampu dengan baik untuk memaksimalkan modal tersebut dikarenakan keterbatasan, akhirnya B memberikan sebagian uang tersebut ke C dengan kesepakatan mudharabah.
Hal ini merupakan sesuatu yang unik, tetapi hal ini sangat diterima oleh syariah.
1) Alokasi Profit dalam double Mudharabah
Dalam double mudharabah, profit dapat dibagikan dalam dua bentuk, pada bentuk yang pertama, dapat berupa total profit yang dibagikan secara penuh bagi B dan C. setelah itu, B dan A akan berbagai profit bagian B. pada metode seperti ini, A akan menganggap bahwa jumlah total profit yang sebenarnya adalah jumlah profit bagian B sebagai hasil dari bagi hasil dengan C.
Kasus yang kedua bisa jadi C bergerak sebagai subagen dari A, pada bentuk seperti ini, total profit akan didistribusikan terlebih dahulu antara A dan C setelah itu C akan berbagi dengan B.
2) Alokasi kerugian
Jika terjadi kerugian, maka akan ditanggung oleh proprietor sendiri. Sesuai dengan hukum syariah.
3) Double Mudharabah dan Perbankan Modern
Pada pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa double mudharabah dapat diaplikasikan pada perbankan syariah. Dengan basis prinsip seperti ini, B adalah Bank. Sekarang B memiliki hak untuk memperoleh uang dari mudharabah dari sebanyak apapun orang yang diinginkan. B juga memiliki hak untuk memberikan uang kepada pihak C dengan perjanjian mudharabah.
Pembubaran Mudharabah
Seperti partnership, mudharabah dapat dibubarkan kapanpun, kecuali jika hal ini mendzalimi pihak lain. Dan juga mudharabah dapat dibubarkan jika salah satu pihak meninggal, sakit, gila, atau karena hal lain sehingga tidak mampu untuk melakukan mudharabah.
Seperti partnership, kontrak mudharabah dapat dilaksanakan dengan sebagian orang yang tersisa, sebagai contoh ketika salah satu pihak meninggal, maka mudharabah dapat terus berlangsung pada pihak yang tersisa.