• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Perlakuan Akuntansi terhadap Aset Tanaman dan Aset Tetap sesuai dengan PSAK 16

Aset tanaman perkebunan dan aset tetap perusahaan dikatakan sesuai dengan standar yang berlaku apabila telah menerapkan hal-hal di bawah ini. a. Pada pengakuan awal perolehan tanaman perkebunan/aset tetap diakui

sebesar biaya perolehan.

Hal tersebut sesuai dengan paragraf 15 pada PSAK 16 Aset Tetap. Hal tersebut berlaku pada aset yang memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun seperti tanaman kelapa sawit dan aset tetap. Biaya perolehan

commit to user

yang dimaksudkan yaitu jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi atau jika diterapkan jumlah yang diatribusikan ke aset pada saat pertama kali diakui sesuai dengan persyaratan tertentu. Biaya perolehan aset tanaman perkebunan maupun aset tetap harus diakui apabila kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomik masa depan dari aset tersebut dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal seperti yang dijelaskan pada paragraf 7 PSAK No. 16 (IAI, 2011).

b. Aset tetap yang diperoleh melalui pertukaran dengan aset nonmoneter diukur sebesar nilai wajar.

Berdasarkan paragraf 24, PSAK 16 menyebutkan bahwa satu atau lebih aset tetap mungkin diperoleh dalam pertukaran aset nonmoneter, atau kombinasi aset moneter dan nonmoneter (IAI, 2011). Hal ini mengacu pada pertukaran satu aset nonmoneter dengan aset nonmoneter lainnya, tetapi hal ini juga berlaku untuk semua pertukaran. Dalam pertukaran tersebut suatu aset tetap harus diukur pada nilai wajar. Namun, pengukuran tersebut tidak berlaku apabila transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial, atau nilai wajar dari aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal.

c. Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan diakui sebesar harga taksiran atau harga pasar yang layak.

Sumbangan/hibah ini dapat mengurangi nilai tercatat aset (IAI, 2011). Sumbangan/hibah yang dimaksudkan berasal dari pemerintah

commit to user

yang ditujukan untuk menunjang kegitan perkebunan sesuai dengan PSAK No. 61 tentang Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah.

d. Harga perolehan aset tetap tanah yang dibangun sendiri merupakan akumulasi seluruh biaya perolehan dan pengembangan tanah.

Hal tersebut dikhususkan untuk aset tetap berupa tanah, sehingga tidak dimasukkan untuk komponen perlakuan akuntansi pada aset tanaman. Walaupun tanaman perkebunan merupakan aset yang tertanam di dalam tanah, tanaman dan tanah juga merupakan aset yang dapat dipisahkan dan harus dicatat terpisah meskipun diperoleh sekaligus. Jika biaya perolehan tanah yang di dalamnya termasuk biaya untuk membongkar, memindahkan dan memugar, dan manfaat yang diperoleh dari pembongkaran, pemindahan dan pemugaran tersebut terbatas, maka biaya tersebut harus disusutkan selama periode manfaat yang diperolehnya. Dalam beberapa kasus, tanah memiliki umur manfaat yang terbatas, sehingga disusutkan dengan cara yang mencerminkan manfaat yang diperoleh dari tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan PSAK 16 paragraf 60 (IAI, 2011).

e. Pengakuan setelah pengukuran awal.

Berdasarkan PSAK No. 16 (Revisi 2011), entitas diperbolehkan memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama. Oleh karena itu, tanaman perkebunan maupun aset tetap dapat menggunakan salah satu kebijakan tersebut.

commit to user

Prinsipnya, entitas dapat menggunakan model biaya apabila setelah diakui sebagai aset. Aset tersebut dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset sesuai dengan paragraf 30 (IAI, 2011). Entitas juga boleh menggunakan model revaluasi dengan mencatat asetnya sebesar nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi penyusutan sesuai dengan paragraf 31, dengan catatan nilai wajar dapat diukur secara andal (IAI, 2011). Jika tidak ada pasar yang dapat dijadikan dasar penentuan nilai wajar karena sifat dari aset tetap yang khusus dan jarang diperjualbelikan, kecuali sebagai bagian dari bisnis yang berkelanjutan, maka entitas perlu mengestimasi nilai wajar menggunakan pendekatan pendapatan atau biaya pengganti yang telah disusutkan (depreciated replacement cost approach).

f. Penyusutan.

Penyusutan dapat terjadi pada jenis aset yang memiliki masa manfaat lebih dari satu periode seperti tanaman perkebunan maupun aset tetap. Sesuai dengan paragraf 44, setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan yang cukup signifikan terhadap total biaya perolehan seluruh aset harus disusutkan secara terpisah. Pemilihan metode penyusutan ini memerlukan pertimbangan begitu juga pada estimasi umur manfaat aset tersebut. Oleh karena itu, pengungkapan metode yang digunakan dan estimasi umur manfaat atau tarif penyusutan memberikan informasi bagi pengguna laporan keuangan dalam me-review kebijakan yang dipilih manajemen dan memungkinkan perbandingan dengan

commit to user

entitas lain. Dengan demikian, entitas perlu mengungkapkan apakah penyusutan diakui dalam laba rugi atau diakui sebagai bagian dari biaya perolehan aset lain selama satu periode dan akumulasi penyusutan. Hal ini sesuai dengan PSAK No. 16 paragraf 76 (IAI, 2011).

g. Penurunan nilai diakui sebagai kerugian pada periode terjadinya.

Penurunan nilai aset tanaman maupun aset tetap dapat dialami oleh entitas. Penurunan nilai aset tanaman perkebunan dapat terjadi pada saat aset berada dalam kualifikasi TBM, TM maupun dalam bentuk hasil produk tanamannya. PSAK No. 16 mengatur bahwa penurunan nilai atau kerugian aset tetap merupakan peristiwa ekonomi terpisah dan dicatat secara terpisah diakui sesuai dengan PSAK No. 48 (Revisi 2009) tentang Penurunan Nilai Aset (IAI, 2011). Rugi penurunan nilai adalah selisih lebih jumlah tercatat suatu aset atas jumlah terpulihkan (IAI, 2011). Aset tanaman sangat rentan mengalami penurunan nilai dalam berbagai tahapan perkembangan vegetatifnya. Penurunan nilai aset tanaman biasanya dikarenakan ada sebagian bentuk aset tanaman yang cacat atau rusak sehingga tidak bisa lagi digunakan dalam operasional bisnis entitas dan otomatis mengurangikeseluruhan nilai tercatat dari aset tanaman, baik dalam akun TBM, TM maupun persediaan hasil panennya.

h. Penghentian pengakuan.

Aset tanaman perkebunan maupun aset tetap mungkin dilakukannya penghentian pengakuan. Aset tanaman dihentikan pengakuannya apabila sudah tidak dapat berproduksi atau tidak terdapat lagi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari penggunaannya. Penghentian

commit to user

pengakuan ini tidak berlaku untuk aset tetap tanah. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap dimasukkan dalam laba rugi pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan paragraf 68. Keuntungan atau kerugian tersebut tidak boleh diklasifikasikan sebagai pendapatan. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan suatu aset tetap ditentukan sebesar pendapatan antara jumlah hasil pelepasan neto dan jumlah tercatat dari aset tersebut (IAI, 2011).

i. Pengungkapan.

Setiap aset tanaman perkebunan dan aset tetap termasuk tanah harus mengungkapkan hal-hal berikut ini dalam laporan keuangan meliputi (IAI, 2011):

1) Dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan jumlah tercatat bruto.

2) Metode penyusutan yang digunakan.

Ada beberapa macam metode penyusutan yang dapat digunakan oleh entitas untuk mengalokasikan jumlah yang disusutkan secara sistematis dari suatu aset selama umur manfaatnya antara lain metode garis lurus (straight line method), metode saldo menurun (diminishing balance method), dan metode jumlah unit (sum of the unit method). Dalam CALK, entitas perlu mengungkapkan metode apa yang digunakannya. Metode penyusutan aset ditentukan berdasarkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomik masa

commit to user

depan dari aset dan diterapkan secara konsisten dari periode ke periode.

3) Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.

4) Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.

5) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode. 6) Perubahan metode penyusutan.

Dokumen terkait