• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Utama Shared Christian Praxis

BAB II DINAMIKA KEHIDUPAN KAUM LANSIA

C. Katekese Model Shared Christian Praxis

1. Komponen Utama Shared Christian Praxis

Terdapat tiga komponen utama dalam katekese model SCP, yaitu shared,

christian, praxis. Berikut ini penjelasan ketiga komponen utama dalam katekse model SCP.

a) Shared

Istilah shared merujuk pada sebuah proses komunikasi yang terbangun secara timbal balik, artinya terdapat peran serta aktif dan kritis dari peserta. Istilah ini sekaligus menekankan aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan, dan solidaritas antarpeserta (Groome, 1997: 4). Dalam sharing peserta membagikan pengalaman, pengetahuan, perasaan mereka secara terbuka dengan sikap persaudaraan dan cinta kasih. Dengan demikian tampak jelas bahwa terdapat hubungan dilogis yang kuat dalam proses ini.

Dalam sharing setiap peserta, sesuai dengan gayanya, pengalaman konkret dan kepentingannya, memberikan sumbangan yang khas dalam proses katekese ini (Heryatno Wono Wulung, 1997: 4). Masing-masing peserta memiliki kedudukan yang unik sebagai subjek yang otonom dan bertanggungjawab. Oleh karena itu, seluruh peserta memiliki hak dan porsinya masing-masing untuk secara aktif dan kritis mengolah pengalaman hidup yang mereka rasakan dan situasi faktual yang terjadi dalam masyarakat. Pengalaman tersebut kemudian dikonfrontasikan dengan iman dan visi Gereja. Kemudian peserta didorong untuk membuat penegasan, penilaian, dan pengambilan keputusan untuk melakukan aksi konkret sebagai wujud

dari perubahan hidupnya. Dalam proses ini sungguh sangat dibutuhkan sebuah sikap hati yang jujur, saling menghargai, dan kerelaan untuk saling mendengarkan satu sama lain.

b) Christian

Katekese model SCP mengusahakan sebuah model katekese yang dapat merangkum kekayaan iman Kristiani beserta visinya dan relevan untuk menanggapi kebutuhan umat di jaman sekarang (Groome, 1997: 2). Harapannya, melalui proses tersebut kekayaan iman Gereja sepanjang sejarah dapat berkembang menjadi pengalaman iman umat pada zaman sekarang. Terdapat dua unsur pokok kekayaan iman yang ditekankan dalam model ini, yaitu pengalaman hidup iman Kristiani sepanjang sejarah (tradisi) dan visinya (Heryatno Wono Wulung, 1997: 3).

Dalam Gereja, tradisi bukan hanya sekedar sejarah naratif atau adat istiadat ritual masa lampau saja, tetapi seluruh pengalaman iman umat dalam bentuk apapun yang sudah terungkap dan sudah dibakukan oleh Gereja dalam rangka untuk menanggapi pewahyuan Allah di dunia (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 14). Dengan demikian, tradisi merupakan realitas iman yang dihidupi oleh Gereja dan sekaligus merupakan wujud tanggapan manusia atas pewahyuan Allah yang terjadi dalam hidup manusia. Tradisi tidak hanya sekedar pengajaran Gereja tetapi juga meliputi Kitab Suci, spiritualitas, refleksi teologis, sakramen, liturgi, seni dan nyanyian rohani, kepemimpinan, kehidupan jemaat, dan lain-lain (Heryatno Wono Wulung, 1997: 3). Sedangkan visi kristiani lebih menekankan pada tuntutan dan janji yang terkandung

dalam tradisi, tanggung jawab dan pengutusan orang Kristiani sebagai jalan untuk menghidupi semangat dan sikap kemuridan mereka (Groome, 1997: 3). Terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia merupakan wujud visi kristiani yang paling hakiki.

c) Praxis

Istilah praxis mengacu pada tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk tercapainya suatu transformasi kehidupan yang di dalamnya terkandung proses kesatuan dialektis antara praktik dan teori, yaitu kreativitas, antara kesadaran historis dan refleksi kritis, yaitu keterlibatan baru. Dengan demikian, praxis merupakan suatu praktik yang didukung oleh refleksi teoritis yang didukung oleh praktik dan merupakan ungakapan pribadi yang meliputi ungkapan fisik, emosional, intelektual, spiritual dari hidup manusia (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 14).

Terdapat tiga komponen pokok yang membentuk praxis, yaitu aktivitas, refleksi, dan kreativitas (Groome, 1997: 2; bdk. Sumarno Darmasuwarna, 2014: 15). Ketiga komponen ini saling terkait. Berikut ini penjelasan ketiga komponen tersebut. 1) Aktivitas

Aktivitas meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik yang semuanya merupakan medan yang dapat digunakan oleh sesorang untuk mewujudkan dirinya sebagai subjek. Aktivitas ini bersifat historis. Dengan demikian aktivitas harus ditempatkan dalam konteks ruang dan waktu.

2) Refleksi

Refleksi yang dimaksud di sini adalah refleksi kritis terhadap tindakan historis personal dan sosial, terhadap praksis pribadi dan kehidupan masyarakat, serta terhadap tradisi dan visi iman Kristiani sepanjang sejarah. Melalui refleksi kritis ini peserta dimungkinkan untuk menganalisis dan memahami tempat dan peran mereka. Selain itu, melalui refleksi kritis peserta juga dimungkinkan untuk memahami keadaan masyarakat dan permasalahannya, sekaligus mengalami perjumpaan dengan kekayaan refleksi iman kristiani sebagai sebuah sabda yang hidup dan menyentuh kehidupan mereka.

3) Kreativitas

Bentuk kreativitas yang di maksud di sini merupakan perpaduan antara aktivitas dan refleksi. Aktivitas berfungsi membangkitkan berkembangnya imajinasi yang direfleksikan untuk meneguhkan kehendak sehingga kreativitas mendorong praksis baru yang secara etis dan moral dapat dipertanggung jawabkan.

2. Langkah-langkah Katekese Model Shared Christian Praxis

Dalam katekese model Shared Christian Praxis, terdapat lima langkah pokok. Berikut ini penjelasan kelima langkah katekese model Shared Christian Praxis.

a) Langkah 0 (awal): Pemusatan Aktivitas

Hakikat atau maksud utama pada langkah 0 (awal) adalah menentukan topik atau tema yang bertolak dari pengalaman hidup konkret atau keadaan faktual yang terjadi dalam masyarakat. Tema atau topik itu dapat digali bersama melalui dialog. Dengan demikian tema atau topik yang dipilih sungguh bersumber dari keprihatinan, kebutuhan, dan permasalahan yang sungguh-sungguh mereka alami. Selain itu, perlu diusahakan juga sebuah lingkungan proses katekese yang mendukung, seperti membangun suasana persaudaraan, keterbukaan, dan saling percaya (Heryatno Wono Wulung, 1997: 10).

Terdapat berbagai sarana yang dapat digunakan untuk mencari dan menemukan tema atau topik yang relevan dengan situasi dan kebutuhan peserta, misalnya cerita, foto, film, video, surat kabar dan lain sebagainya. Sarana-sarana ini dapat sangat membantu peserta membangkitkan keterlibatan dan kesadaran untuk menemukan topik yang sesuai dengan keprihatinan dan kebutuhan mereka. Selain itu, penentuan topik melalui proses dialog diharapkan dapat membangun perasaan dalam diri peserta bahwa topik yang telah dipilih adalah milik bersama, bukan perseorangan.

Langkah 0 (awal) yang merupakan pemusatan aktivitas mau mengungkapkan mengenai keyakinan bahwa Allah selalu hadir dalam setiap pergulatan hidup manusia dan Allah senantiasa secara aktif mewahyukan diri-Nya. “Melalui refleksi, sejarah hidup manusia dapat menjadi medan perjumpaan antara pewahyuan Allah dan tanggapan manusia terhadap-Nya” (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 18).

b) Langkah I: Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta

Setelah tema ditemukan pada langkah 0 (awal), pada langkah pertama peserta kemudian diajak untuk mengungkapkan pengalaman konkret mereka. Pengungkapan pengalaman tersebut dapat dilakukan melalui sharing di antara para peserta sendiri. Selama peserta membagikan pengalamannya, tidak boleh ada yang menanggapi. Proses pengungkapan pengalaman ini dapat dibantu melalui sarana-sarana yang dapat dimengerti oleh peserta dan betul-betul mengungkapkan pengalaman hidup faktual, misalnya film, video, gambar simbol atau lambang, tarian, nyanyian, puisi, pantomim, dan sebagainya (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 19).

Pada langkah ini, pembimbing memiliki peran atau tanggung jawab sebagai fasilitator yang harus mampu memciptakan suasana pertemuan yang hangat dan saling mendukung di antara peserta untuk membagikan pengalaman konkretnya sesuai dengan tema yang telah ditetapkan. Pembimbing juga dapat membantu membagi peserta ke dalam kelompok-kelompok kecil, terutama jika pesertanya dalam jumlah banyak. Selain itu, pembimbing harus memiliki kemampuan untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang jelas, terarah, dan tidak menyinggung harga diri peserta. Dengan demikian, seorang pemimpin harus memiliki sikap ramah, sabar, hormat, bersahabat, dan peka pada latar belakang dan keadaan peserta (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 19).

c) Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta

Hakikat dan tujuan dari langkah ini adalah mendalami pengalaman hidup peserta melalui refleksi kritis. Peserta diajak untuk mendalami pengalaman faktual yang telah mereka ungkapkan pada langkah pertama. Dalam langkah ini terdapat tiga perspektif yang perlu diperhatikan agar dapat membantu menjelaskan hakikat dan maksudnya, yaitu refleksi kritis pada pengalamannya sendiri; intepretasi kritis dan kreatif pada komunikasi pengalaman faktual; dan komunikasi “tradisi” dan visi antarpeserta (Groome, 1997:5-6). Berikut ini penjelasan ketiga perspektif tersebut. 1. Pemahaman yang kritis dan kreatif

Pemahaman yang kritis dan kreatif dapat memberi arti dan nilai pada keterlibatan peserta dan kondisi sosial masyarakat. Selain itu, pemahaman ini juga dapat menjadi sarana untuk membangkitkan kesadaran peserta sebagai subyek yang dipengaruhi dan dibentuk oleh faktor-faktor sosial masyarakat. Peserta juga dimampukan untuk dapat melakukan analisa sosial yang secara sistematis memahami dan menganalisa keadaan masyarakat, permasalahan, jaringan, dan strukturnya, termasuk di dalamnya ideologi dan pranata sosial yang memengaruhi praksis mereka (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 17).

2. Kenangan kritis dan kreatif

Kenangan merupakan aspek yang penting karena dapat membantu peserta untuk menyadari sejarah hidupnya. Melalui kenangan, peserta dapat mengetahui keberadaannya sebagai subjek yang mendapat bentuk atau wujudnya dari perbuatan yang mereka lakukan. Kenangan kritis dapat menjadi sumber kekuatan baru bagi

peserta yang dapat mendatangkan penyembuhan dan pembebasan luka-luka pribadi. Kesadaran peserta sebagai subjek juga dibentuk oleh kondisi-kondisi sosial yang berlaku dalam masyarakat. Di sini kenangan kritis dapat medatangkan keberanian untuk memprotes ketidakadilan dan penderitaan sesama, serta memberanikan peserta untuk mengatasi masalah-masalah tersebut (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 17). 3. Imajinasi yang sosial dan kreatif

Dengan imajinasi peserta dapat semakin menyadari konsekuansi, kemungkinan, dan tanggung jawab dari praksis faktual baik yang bersifat personal maupun sosial. Imajinasi yang kreatif dapat sangat berguna bagi kepentingan personal atau pribadi, yakni untuk meningkatkan kesadaran pada sumber hidup yang meneguhkan identitas pribadi, memperkokoh harapan akan masa depan yang lebih baik, menyadarkan peserta pada tanggung jawab etis, serta menemukan visi dari pengalaman hidup yang telah diperoleh. Selain itu, pendamping juga dapat menyadarkan tanggung jawab sosial peserta mengenai bagaimana tradisi dan visi praksis konkret mereka dapat diarahkan demi terwujudnya kesejahteraan bersama (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 18).

Pada langkah ini, pembimbing memiliki tanggung jawab untuk dapat menciptakan suasana pertemuan yang saling menghormati dan mendukung gagasan dari peserta, mampu mengundang refleksi kritis, mendorong terjadinya dialog antar peserta. Selain itu, pembimbing harus memiliki kemampuan untuk membuat pertanyaan tanpa peserta merasa seperti diintrogasi serta memiliki kepekaan mengenai kondisi peserta. Kepekaan untuk membaca dan mengetahu kondisi peserta

ini sangat dibutuhkan, terutama apabila berhadapan dengan peserta yang tidak terbiasa melakukan refleksi kritis.

d) Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani

Pada langkah ini peserta diajak untuk mengkonfrontasikan atau mendialogkan “tradisi” dan visi hidup mereka dengan tradisi Gereja sepanjang sejarah dan visinya (Heryatno Wono Wulung, 1997: 19; bdk. Groome, 1997: 6). Hal ini bertujuan agar tradisi dan visi Gereja dapat lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta, sehingga dapat membangkitkan semangat keterlibatan baru dari peserta. Tradisi dan visi Kristiani ini mengungkapkan pewahyuan diri dan kehendak Allah yang memuncak pada misteri hidup dan karya Yesus Kristus serta mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan tersebut (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 20). Tradisi Kristiani hadir dalam Kitab Suci, liturgi, doa, kredo, sakramen, dan lain-lain. Tradisi Kristiani ini merupakan sumber utama bagi kehidupan dan penghayatan umat. Pada tahap ini pembimbing memiliki sikap hormat pada tradisi dan visi Kristiani sebagai yang otentik dan noratif. Cara dan isi tafsiran yang disampaikan oleh pembimbing haruslah dapat membantu peserta agar nilai-nilai dari tradisi dan visi kristiani dapat menjadi milik masing-masing peserta. Pembimbing perlu menggunakan metode yang tepat, misalnya dengan menggunaka diskusi kelompok atau memanfaatkan produk-produk audio. Pembimbing harus menghindari sikap menggurui atau mendikte peserta. Pembimbing dalam memberikan tafsiran harus

mengikutsertakan kesaksian iman, harapan, dan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, semuanya harus dipersipakan secara matang (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 21).

e) Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkret Langkah ini lebih menekankan pada intepretasi atau tafsir dialektis antara tradisi dan visi Kristiani dengan tradisi dan visi peserta yang menghadirkan nilai-nilai baru yang hendak dihidupi dan diperkembangkan. Peserta mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok langkah ketiga. Dengan demikian maksud utama pada langkah ini, yaitu “memampukan peserta untuk secara kritis mempersonalisasikan dan mengintegrasikan nilai-nilai tradisi dan visi kriatiani bagi kehidupan mereka sendiri” (Heryatno Wono Wulung, 1997: 30; bdk. Groome, 1997: 7).

Peran pembimbing adalah dengan menghormati kebebasan dan hasil peneguhan peserta, termasuk peserta yang menolak peneguhan dari pembimbing. Pembimbing harus meyakinkan kepada peserta bahwa mereka memiliki kemampuan mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai-nilai tradisi dan visi kristiani. Pembimbing harus selalu ingat bahwa tafsirannya bukanlah kata mati, sehingga harus selalu terbuka pada pengembangan tafsiran yang lain. Selain itu, pembimbing juga harus mampu mendorong peserta agar dapat menjadi pihak yang aktif serta mampu mendengarkan dengan hati setiap tanggapan ataupun pemikiran peserta.

f) Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkret

Maksud utama pada langkah lima adalah “mengritik visi-visi yang diwujudkan dalam tindakan masa kini peserta dari sudut Visi Kerajaan Allah dan untuk menentukan tindakan masa yang akan datang yang akan menjadi respon yang cocok terhadap Visi itu” (Groome, 2010: 325). Dengan demikian, pada langkah ini peserta diajak untuk sampai pada keputusan praktis sebagai tanggapan umat terhadap pewahyuan Allah yang terus berlangsung dalam sejarah kehidupan umat manusia dalam kontinuitasnya dengan tradisi Gereja sepanjang sejarah dan visi Kristiani. Keputusan praktis yang dimaksud adalah sebuah keterlibatan baru yang mengusahakan metanoia, yaitu pertobatan pribadi dan sosial yang terus berlangsun (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 22).

Pada langkah ini pembimbing harus menyadari mengenai hakikat praktis, inovatif, dan transformatif pada langkah ini. Pembimbing harus mampu merumuskan pertanyaan (tidak perlu muluk-muluk) yang membantu ke arah itu serta menekankan sikap optimis yang realistis kepada peserta. Pembimbing juga perlu merangkum hasil langkah pertama sampai keempat, supaya dapat lebih membantu peserta. Kemudian sebagai penutup, pembimbing mengajak peserta untuk merayakan liturgi sederhana untuk mendoakan keputusan (Sumarno Darmasuwarna, 2016: 22).

D. Program Pendampingan Katekese bagi Kaum Lansia Berdasarkan Surat

Dokumen terkait