19.1.1 Ketentuan dari Pasal 19 berlaku untuk struktur beton cangkang tipis dan pelat lipat, termasuk komponen struktur rusuk dan tepi.
ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s
tan
dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id
dan tidak untuk di komersialkan”
19.1.2 Semua ketentuan dari Standar ini yang tidak secara spesifik dikecualikan, dan tidak bertentangan dengan ketentuan dari Pasal 19, berlaku untuk struktur cangkang tipis.
19.1.3 Cangkang tipis — Struktur ruang tiga dimensi yang terbuat dari satu atau lebih slab lengkung atau pelat lipat yang tebalnya kecil dibandingkan dengan dimensi lainnya. Cangkang tipis dikarakteristikkan oleh perilaku pemikul beban tiga dimensinya, yang ditentukan oleh geometri dari bentuknya, oleh cara dimana cangkang tipis ditumpu, dan oleh sifat beban terapan.
19.1.4 Pelat lipat — Suatu kelas struktur cangkang yang dibentuk dengan menggabungkan slab-slab datar, tipis sepanjang tepi-tepinya untuk membentuk suatu struktur ruang tiga dimensi.
19.1.5 Cangkang berusuk— Struktur ruang dengan bahan yang ditempatkan terutama di sepanjang garis-garis rusuk tertentu yang diinginkan, dengan luas antara rusuk-rusuk tersebut diisi dengan slab tipis atau dibiarkan terbuka.
19.1.6 Komponen struktur pelengkap — Balok rusuk atau tepi yang berfungsi untuk memperkuat, memperkaku, atau menumpu cangkang, biasanya, komponen struktur pelengkap bekerja bersama-sama dengan cangkangnya.
19.1.7 Analisis elastis — Suatu analisis deformasi dan gaya-gaya dalam yang didasarkan pada kesetimbangan, kompatibilitas regangan, dan perilaku elastis yang diasumsikan, dan menggambarkan suatu pendekatan yang sesuai untuk aksi tiga dimensi cangkang bersama dengan komponen struktur pelengkapnya.
19.1.8 Analisis inelastis — Suatu analisis deformasi dan gaya-gaya dalam yang didasarkan pada kesetimbangan, hubungan tegangan-regangan nonlinier untuk beton dan tulangan, tinjauan retak dan pengaruh tergantung waktu, dan kompatibilitas regangan. Analisis ini harus menggambarkan pendekatan yang sesuai untuk aksi tiga dimensi cangkang bersama dengan komponen struktur pelengkapnya.
19.1.9 Analisis eksperimen — Suatu prosedur analisis yang didasarkan pada pengukuran deformasi atau regangan, atau keduanya, dari struktur atau modelnya; analisis eksperimen didasarkan pada baik perilaku elastis atau inelastis.
19.2 Analisis dan desain
19.2.1 Perilaku elastis harus merupakan sebuah dasar yang diterima untuk menentukan gaya-gaya dalam dan perpindahan cangkang tipis. Perilaku ini diizinkan untuk dihasilkan dengan perhitungan yang berdasarkan pada analisis struktur beton tak retak dimana bahan tersebut diasumsikan elastis linier, homogen, dan isotropis. Rasio Poisson beton diizinkan diambil sama dengan nol.
19.2.2 Analisis inelastis diizinkan untuk digunakan bila dapat ditunjukkan bahwa metoda tersebut memberikan suatu dasar yang amana untuk desain.
19.2.3 Pemeriksaan kesetimbangan tahanan dalam dan beban luar harus dilakukan untuk memastikan konsistensi hasilnya.
19.2.4 Prosedur analisis eksperimen atau numerik diizinkan bila dapat ditunjukkan bahwa prosedur tersebut memberikan dasar yang aman untuk desain.
19.2.5 Metoda analisis pendekatan diizinkan bila dapat ditunjukkan bahwa metoda tersebut memberikan suatu dasar yang sama untuk desain.
ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s
tan
dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id
dan tidak untuk di komersialkan”
19.2.6 Pada cangkang prategang, analisis harus juga meninjau perilaku akibat beban yang ditimbulkan selama prategang, pada saat beban retak, dan pada saat beban terfaktor. Bila tendon dilengkungkan (draped) dalam cangkang, desain harus memperhitungkan komponen gaya pada cangkang yang dihasilkan dari profil tendon yang tidak berada pada satu bidang. 19.2.7 Tebal cangkang dan tulangannya harus diproporsikan untuk kekuatan perlu dan kemampuan layan, menggunakan baik metoda desain kekuatan dari 8.1.1 atau metoda desain dari 8.1.2.
19.2.8 Ketidakstabilan cangkang harus diperiksa dan ditunjukkan dengan desain untuk dapat dicegah.
19.2.9 Komponen struktur pelengkap harus didesain menurut ketentuan yang sesuai dari Standar ini. Diizinkan untuk mengasumsikan bahwa sebagian dari cangkang sama dengan lebar sayap (flange), seperti ditetapka dalam 8.12, bekerja dengan komponen struktur pelengkap. Pada bagian cangkang tersebut, tulangan yang tegak lurus terhadap komponen struktur pelengkap harus paling sedikit sama dengan yang diperlukan untuk sayap (flange) suatu balok-T oleh 8.12.5.
19.2.10 Desain kekuatan slab cangkang untuk gaya-gaya membran dan lentur harus didasarkan pada distribusi tegangan dan regangan seperti ditentukan dari baik suatu analisis elastis atau inelastis.
19.2.11 Pada daerah dimana keretakan membran diprediksi, kekuatan tekan nominal yang sejajar dengan retak harus diambil sebesar 0,4fc.
19.3 Kekuatan desain bahan
19.3.1 Kekuatan tekan beton yang ditetapkan fc pada saat 28 hari tidak boleh kurang dari 21 MPa.
19.3.2 Kekuatan leleh yang ditetapkan dari tulangan bukan prategang fy tidak boleh melebihi 420 MPa.
19.4 Tulangan cangkang
19.4.1 Tulangan cangkang harus disediakan untuk menahan tegangan tarik dari gaya membran dalam, untuk menahan tarik dari momen lentur dan puntir, untuk membatasi lebar dan spasi retak susut dan suhu, dan sebagai tulangan pada batas-batas cangkang, penempatan beban, dan bukaan cangkang.
19.4.2 Tulangan tarik harus dipasang dalam dua arah atau lebih dan harus diproporsikan sedemikian hingga tahanannya dalam sebarang arah sama atau melebihi komponen gaya- gaya dalam dalam arah tersebut.
Sebagai alternatif, tulangan untuk gaya-gaya membran pada slab harus dihitung sebagai tulangan yang diperlukan untuk menahan gaya tarik aksial ditambah gaya tarik akibat geser- friksi yang diperlukan untuk menyalurkan geser sepanjang sebarang penampang membran. Koefisien friksi yang diasumsikan, , tidak boleh melebihi yang ditetapkan dalam 11.6.4.3. 19.4.3 Luas tulangan cangkang pada sebarang penampang yang diukur dalam dua arah ortogonal tidak boleh kurang dari tulangan susut atau suhu slab yang disyaratkan oleh 7.12.
ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s
tan
dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id
dan tidak untuk di komersialkan”
19.4.4 Tulangan untuk geser dan momen lentur terhadap sumbu-sumbu dalam bidang slab cangkang harus dihitung sesuai dengan Pasal 10, 11, dan 13.
19.4.5 Luas tulangan tarik cangkang harus dibatasi sedemikian hingga tulangan tersebut akan leleh sebelum salah satu dari kehancuran beton dalam kondisi tekan atau tekuk cangkang dapat terjadi.
19.4.6 Pada daerah tarik yang tinggi, tulangan membran harus, jika praktis, ditempatkan dalam arah umum gaya membran tarik utama. Bila hal ini tidak praktis, diizinkan untuk menempatkan tulangan membran dalam dua arah komponen atau lebih.
19.4.7 Bila arah tulangan bervariasi lebih dari 10 derajat dari arah gaya membran tarik utama, jumlah tulangan harus diperiksa dalam hubungan dengan retak pada saat beban layan.
19.4.8 Bila besaran tegangan membran tarik utama dalam cangkang sangat bervariasi sepanjang luas permukaan cangkang, tulangan yang menahan tarik total diizinkan untuk dikonsentrasikan dalam daerah tegangan tarik terbesar bila dapat ditunjukkan bahwa hal ini memberikan dasar yang aman untuk desain. Akan tetapi, rasio tulangan cangkang dalam sebarang bagian daerah tarik tidak boleh kurang dari 0,0035 berdasarkan pada tebal keseluruhan cangkang.
19.4.9 Tulangan yang diperlukan untuk menahan momen lentur cangkang harus diproporsikan terkait dengan aksi serentak gaya-gaya aksial membran pada lokasi yang sama. Bila tulangan cangkang diperlukan hanya pada satu muka untuk menahan momen lentur, jumlah yang sama harus dipasang di dekat kedua permukaan cangkang meskipun berbaliknya momen lentur tidak ditunjukkan oleh analisis.
19.4.10 Tulangan cangkang dalam segala arah tidak boleh dispasikan lebih jauh dari 450 mm atau lebih jauh dari lima kali tebal cangkang. Bila tegangan tarik membran utama pada luas bruto beton melebuhi 0,33 fc, spasi tulangan tidak boleh dispasikan lebih jauh dari
tiga kali tebal cangkang.
19.4.11 Tulangan cangkang pada pertemuan cangkang dan komponen struktur penumpu atau komponen struktur tepi harus diangkur ke dalam atau diteruskan melalui komponen struktur tersebut sesuai dengan persyaratan dari Pasal 12, kecuali bahwa panjang penyaluran minimum harus sebesar 1,2d tetapi tidak kurang dari 450 mm.
19.4.12 Panjang sambungan tulangan cangkang harus diatur oleh ketentuan dari Pasal 12, kecuali bahwa panjang sambungan minimum batang tulangan tarik harus sebesar 1,2 kali nilai yang disyaratkan oleh Pasal 12 tetapi tidak kurang dari 450 mm. Jumlah sambungan pada tulangan tarik utama harus dijaga sampai minimum secara praktis. Bila sambungan diperlukan sambungan tersebut harus diseling paling sedikit d dengan tidak lebih dari sepertiga tulangan disambung pada sebarang penampang.
19.5 Pelaksanaan konstruksi
19.5.1 Bila pembongkaran cetakan didasarkan pada modulus elastisitas beton tertentu karena tinjauan stabilitas atau lendutan, nilai modulus elastisitas, Ec, yang digunakan harus ditentukan dari pengujian lentur benda uji balok yang dirawat di lapangan. Jumlah benda uji balok, dan prosedur pengujian harus ditetapkan oleh insinyur profesional bersertifikat.
ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s
tan
dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id
dan tidak untuk di komersialkan”
19.5.2 Dokumen kontrak harus menetapkan toleransi untuk bentuk cangkang. Bila pelaksanaan konstruksi mengakibatkan penyimpangan dari bentuknya yang lebih besar dari toleransi yang ditetapkan, analisis pengaruh penyimpangan harus dilakukan dan sebarang aksi perbaikan yang diperlukan harus diambil untuk memastikan perilaku yang aman.
20 Evaluasi kekuatan struktur yang ada