BAB III LANDASAN TEORI
3.13 Komponen Struktur Gedung
Bangunan gedung adalah wujud fisik dari hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian (tempat tinggal), kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus (pasal 1 angka 1 UU Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung). Adapun bagian-bagian dari struktur bangunan gedung, dimana ketiga komponen ini merupakan komponen yang sangat penting yaitu:
1. Kolom
Kolom adalah komponen struktur bangunan yang berfungsi menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang ditopang paling tidak tiga kali dimensi laterial terkecil (Dipohusodo, 1994). Kolom merupakan salah satu pekerjaan beton bertulang. Kolom beton (tiang beton) adalah beton bertulang
yang diletakkan dengan posisi vertikal. Kolom berfungsi sebagai pengikat pasangan dindng bata dan penerus beban dari atas menuju sloof yang kemudian diterima oleh pondasi.
Langkah teknis pada pekerjaan kolom adalah sebagai berikut:
a. Pembesian kolom proses pekerjaan pembesian sebagai berikut:
1) Pemasangan tulangan utama.
2) Selanjutnya adalah pemasangan sengkang, setiap pertemuan antara tulangan utama dan sengkang diikat oleh kawat dengan sistem silang.
3) Setelah tulangan selesai dirakit, untuk besi tulangan precast diangkut dengan menggunakan Tower Crane ke posisi yang akan dipasang.
b. Pemasangan bekisting kolom Pemasangan bekisting kolom dilaksanakan apabila pelaksanaan pembesian tulangan telah selesai dilaksanakan. Berikut ini adalah uraian mengenai proses pembuatan bekisting kolom:
1) Bersihkan area kolom dan marking posisi bekisting kolom.
2) Marking sepatu kolom sebagai tempat bekisting.
3) Pasang sepatu kolom pada tulangan utama atau tulangan sengkang.
4) Pasang sepatu kolom dengan marking yang ada.
5) Atur kelurusan bekisting kolom dengan memutar push pull.
6) Setelah tahapan diatas telah dikerjakan, maka kolom tersebut siap dicor.
c. Pengecoran kolom, langkah-langkah kerja pekerjaan pengecoran kolom adalah sebagai berikut:
1) Persiapan pengecoran Sebelum dilaksanakan pengecoran, kolom yang akan dicor harus benar-benar bersih dari kotoran agar tidak membahayakan konstruksi dan menghindari kerusakan beton.
2) Pelaksanaan pengecoran Pengecoran dilakukan dengan menggunakan bucket cor yang dihubungkan dengan pipa tremi dengan kapasitas bucket sampai 0,9 m3. Bucket tersebut diangkut dengan menggunakan Tower crane untuk memudahkan pengerjaan. Penuangan beton dilakukan secara bertahap, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya segregasi yaitu pemisahan agregat yang dapat mengurangi mutu beton. Selama proses pengecoran berlangsung, pemadatan beotn menggunakan vibrator. Hal
tersebut dilakukan untuk menghilangkan rongga-rongga udara serta untuk mencapai pemadatan yang maksimal.
2. Balok
Balok adalah salah satu pekerjaan struktur. Balok merupakan bagian struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan pengikat kolom lantai atas.
Fungsinya adalah sebagai rangka penguat beban horizontal bangunan. Apabila suatu balok bentangan sederhana menahan beban yang mengakibatkan timbulnya momen lentur akan terjadi deformasi (regangan) lentur di dalam balok tersebut (Dipohusodo,1994).
Tahapan-tahapan pekerjaan pada balok yaitu:
1) Tahap awal merangkai scaffolding pada bagian bawah balok yang akan dilakukan pembuatan bekisting dan penulangan, ketinggian scaffolding disesuaikan dengan ketinggian balok berdasarkan gambar kerja. Setelah scaffolding terangkai maka dilakukan pemasangan alat bantu memasang tulangan dan dilakukan penyusunan hollow sebagai penumpu bekisting balok.
2) Kemudian dilakukan pemasangan bekisting menggunakan papan kayu multiplex, lalu disusun sejajar dengan tinggi sisi balok di kedua sisi balok, tanpa menutup bagian atas bekisting agar pekerjaan pengecoran bisa dilakukan. Pada kedua sisi balok diberi beton tahu yang dipasang pada tulangan terluar, agar tulangan tidak menempel dengan bekisting dan tebal selimut beton terpenuhi.
3) Pada sisi luar bekisting balok dipasang penyangga agar tidak terjadi deformasi ukuran balok saat pengecoran karena berat dari beton.
4) Setelah pemasangan bekisting selesai maka dilakukan perangkaian besi tulangan balok yang telah dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan gambar kerja. Setiap penyusunan tulangan, antara tulangan pokok dan tulangan sengkang diikat dengan kawat bendrat agar susunannya tidak berubah. Jarak antar sengkang disesuaikan dengan gambar rencana
berdasarkan spesifikasi jenis balok. Pada bagian bawah tulangan balok diberi beton tahu untuk menjaga jarak selimut beton dengan tulangan balok.
5) Setlah tulangan dirangkai lalu selanjutnya dilakukan pengecoran balok bersamaan dengan pelat lantai, akan tetapi pengecoran dilakukan pada bagian balok terlebih dahulu. Kemudian digetarkan menggunakan vibrator agar tidak terjadi segregasi.
6) Pada balok yang sudah selesai dicor dan sudah didiamkan selama ± 7 hari kemudian bekisting dan scaffolding penyangga balok dilepaskan.
3. Pelat
Pelat beton bertulang merupakan sebuah bidang datar yang lebar, biasanya mempunyai arah horizontal dengan permukaan bawah dan atasnya sejajar atau mendekati sejajar. Pelat beton bertulang berfungsi untuk memikul beban yang merata yang bekerja pada seluruh luas permukaannya, pelat ditumpu oleh balok.
Adapun tahapan pekerjaan pelat adalah sebagai berikut ini.
a. Tahap awal untuk pekerjaan pelat lantai adalah dengan merangkai scaffolding pada bagian bawah pelat lantai yang akan dilakukan pembuatan bekisting dan penulangan, ketinggian scaffolding disesuaikan dengan ketinggian pelat lantai berdasarkan gambar kerja. Setelah scaffolding terangkai maka dilakukan penyusunan hollow untuk penumpu bekisting pelat lantai. Hal ini dimaksudkan agar bekisting pelat lantai kuat untuk menahan beban beton cor pada pelat lantai.
b. Kemudian dilakukan pemasangan bekisting (multiplex ketebalan 12mm) sesuai dengan ukuran pelat lantai. Setelah itu dilakukan pemasangan tulangan pelat lantai sesuai dengan gambar kerja. Pada bagian bawah penulangan pelat diberi tahu beton untuk selimut beton.
c. Setelah tulangan pelat lantai selesai dirangkai sesuai dengan gambar rencana maka dilakukan pengecoran. Pengecoran beton disalurkan menggunakan concrete pump truck. Setelah beton tertuang ke dalam area pelat kemudian digetarkan menggunakan alat vibrator agar tidak terjadi segregasi.
d. Pembongkaran bekisting pada pelat lantai dilakukan setelah pelat lantai berumur selama ± 7 hari, sehingga beton yang dicetak tidak mengalami kerusakan pada saat pembongkaran.
42