• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis

Dalam dokumen Indikator Statistik Makro Pembangunan (Halaman 92-100)

adalah komposisi penduduk, antara lain komposisi penduduk menurut 102.72 102.74 102.76 102.78 102.80 102.82 102.84 2012 2013 2014 2015 2016

Rasio Jenis kelamin

Rasio Jenis kelamin

umur dan jenis kelamin. Informasi mengenai umur dan jenis kelamin sangat penting karena informasi mengenai demografi, sosial dan ekonomi sangat berbeda antar kelompok umur dan jenis kelamin. Misalnya, perbedaan jumlah kelahiran menurut jenis kelamin, pada saat dilahirkan umumnya jumlah bayi laki–laki lebih banyak dari bayi perempuan. Untuk kematian, terjadi perbedaan angka harapan hidup waktu lahir antara laki–laki dan perempuan, angka harapan hidup perempuan lebih tinggi dari laki–laki. Selain itu juga ditemukan perbedaan tingkat kematian menurut umur.Anak balita dan lansia mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dari pada kelompok umur lainnya. Perpindahan penduduk paling banyak dilakukan oleh penduduk kelompok umur 20 – 29 tahun daripada kelompok umur lainnya dan laki–laki cenderunguntuk melakukan perpindahan. Karakteristik sosial ekonomi penduduk juga berbeda menurut kelompok umur dan jenis kelamin, misal tingkat pendidikan dan partisipasi angkatan kerja.

a. Struktur Umur Penduduk

Struktur umur penduduk sangat penting untuk perencanaan pemerintah dalam segala bidang. Kebutuhan penduduk terhadap suatu pelayanan atau produk tertentu sangat bervariasi menurut umur. Misal fasilitas kesehatan untuk balita berbeda dengan lansia. Untuk balita cenderung pada peningkatan gizi dan imunisasi sedangkan untuk lansia cenderung ke arah perawatan penyakit kronis. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menggambarkan struktur penduduk menurut umur, diantaranya adalah dengan distribusi

frekuensi, distribusi persentase, rasio dan gambar batang atau piramida penduduk.

b. Piramida Penduduk

Cara lain yang biasa digunakan untuk menggambarkan komposisi penduduk adalah dengan piramida penduduk. Piramida penduduk menunjukkan dengan jelas distribusi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin. Tingginya setiap batang piramida menggambarkan kelompok umur dan panjangya dari setiap batang piramida menunjukkan jumlah penduduk dari kelompok umur tersebut. Untuk membuat piramida penduduk dapat digunakan persentase distribusi penduduk atau frekuensi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Persentase distribusi ini dihitung terhadap total penduduk. Piramida penduduk menunjukkan tingkat perkembangan penduduk untuk setiap kelompok umur yang berbeda, dalam beberapa kelompok umur bisa saja terlihat pertumbuhan yang menurun. Fluktuasi dalam piramida penduduk paling banyak dipengaruhi oleh tingkat kelahiran dari setiap kelompok umur (kohor penduduk) selain tingkat kematian dan migrasi. Suatu wilayah dengan tingkat kelahiran yang tinggi biasanya ditandai dengan bentuk piramida yang alasnya besar kemudian berangsur mengecil hingga ke puncak piramida.Berdasarkan Gambar 5.6 di bawah dapat terlihat bahwa komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kabupaten Wonosobo termasuk dalam kelompok ekspansif, dimana sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda.

Sumber :BPS Kabupaten Wonosobo, 2017

Gambar 5.6. Piramida Penduduk Kabupaten Wonosobo, 2016

c. Angka Ketergantungan (Dependency Ratio)

Angka Ketergantunganadalah jumlah orang yang secara ekonomi tidak aktif per seratus penduduk yang aktif secara ekonomi. Biasanya digunakan rasio antara penduduk kelompok umur 0–14 tahun dan 65 tahun keatas terhadap penduduk kelompok umur 15–64 tahun. DR secara umum dapat menggambarkan beban tanggungan ekonomi kelompok usia produktif (15 – 64 tahun) terhadap kelompok usia muda (kurang dari 15 tahun) dan usia tua (65 tahun keatas).

Dependency Ratio (DR) diformulasikan sebagai berikut : DR = ((P<15 + P65+) / P15-64) x 100 dimana: -10 -5 0 5 10 0 - 4 5 - 9 10-14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 - 64 65 – 69 70 – 74 75 + perempuan laki-laki

TAHUN 2016

P<15 = Jumlah penduduk dibawah usia 15 tahun P65+ = Jumlah penduduk 65 tahun keatas P15-64 = Jumlah penduduk usia 15 – 64 tahun

Tabel 5.4. Persentase Komposisi Umur Penduduk dan Dependency Ratio (DR) di Kabupaten Wonosobo,2012- 2016

Tahun Umur (tahun) Jumlah Dependensi

Rasio 0-14 15-64 65+ (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2012 27.06 65.58 7,36 100,00 52.47 2013 27.62 66,02 7,36 100,00 51.47 2014 26,29 66,19 7,52 100,00 51,08 2015 25,96 66,33 7,72 100,00 50,77 2016 25,63 66,44 7,93 100,00 50,51 Sumber :BPS, Wonosobo Dalam Angka 2017

Komposisi penduduk menurut umur Kabupaten Wonosobo pada tahun 2015 digolongkan penduduk produktif karena 66,33 persen penduduk berumur 15 – 64 tahun. Dengan komposisi umur penduduk seperti yang terlihat pada Tabel 5.4, angka beban tanggungan penduduk Kabupaten Wonosobo sebesar 50,51 persen pada tahun 2016, yang berarti setiap sejumlah 100 penduduk usia produktif harus menanggung 50 penduduk usia non produktif (usia anak-anak dan penduduk usia lanjut). Angka beban tanggungan di Kabupaten Wonosobo tersebut dapat digolongkan sedang.

Angka beban tanggungan pada tahun 2016 masih relatif menurun jika dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 52,49 persen. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat kelahiran dan kematian di

tahun 2012 masih cukup tinggi. Dengan artian bahwa di tahun 2016 makin sedikit penduduk non produktif yang ditanggung oleh penduduk usia produktif.

Gambar 5.7. Perkembangan DR di Kab. Wonosobo Tahun 2012-2016 52.49 51.47 51.08 50.77 50.51 49.50 50.00 50.50 51.00 51.50 52.00 52.50 53.00 2012 2013 2014 2015 2016

Dependensi Rasio

Depend ensi Rasio

Bab 6

KETENAGAKERJAAN

Salah satu dari lima prioritas program pembangunan yang dituangkan dalam Program Pembangunan Nasional adalah mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan yang berdasarkan sistem ekonomi kerakyatan. Berbagai kebijakan dan strategi telah ditempuh untuk mencapai tujuan pembangunan khususnya dibidang ekonomi, sesuai dengan kondisi dan sumber daya yang ada. Ketenagakerjaan mempunyai korelasi positif yang cukup erat terhadap suksesnya proses pembangunan. Sektor ketenagakerjaan merupakan salah satu sektor penting bagi pembangunan ekonomi nasional, khususnya dalam upaya pemerintah untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan tingkat pengangguran.

Dengan demikian titik sentral ketenagakerjaan adalah perencanaan tenaga kerja yang mencakup :

a. Penyusunan program penyediaan tenaga profesional untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan usaha atau kegiatan pembangunan yang direncanakan

b. Penyusunan program penciptaan kesempatan kerja supaya dapat menggunakan sumber daya manusia secara optimal

c. Terciptanya lapangan kerja baik dalam jumlah dan kualitas yang memadai

Oleh karena itu upaya pembangunan harus banyak diarahkan pada perluasan kesempatan kerja, sehingga penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan. Misalnya skala prioritas arah pertumbuhan antara sektor informal dan formal di perkotaan. Akhir-akhir ini sektor

informal di perkotaan semakin berperan penting dalam menyerap pertumbuhan angkatan kerja, maka menjadi kurang bijaksana jika kebijakan pembangunan perkotaan lebih diarahkan hanya pada sektor formal.

Program-program pembangunan sektoral maupun regional perlu ditingkatkan demi terciptanya perluasan kesempatan kerja sebanyak mungkin dengan imbalan jasa yang sepadan. Dengan perluasan dan pemerataan lapangan kerja serta peningkatan mutu lapangan pekerjaan,diharapkan akan dapat mengurangi perbedaan penghasilan diantara tenaga kerja yang berpenghasilan tinggi dan rendah, sehingga dengan demikian dapat ditingkatkan pemerataan pendapatan.

Dalam dokumen Indikator Statistik Makro Pembangunan (Halaman 92-100)

Dokumen terkait