HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Komposisi responden berdasarkan kebudayaan
a. Suku
Karakteristik responden berdasarkan suku menerangkan bahwa ada 4 (empat) jenis suku yang terdapat pada daerah penelitian yaitu Suku Jawa, Karo, Batak Toba dan Sunda. Konflik Aceh menyebabkan pengungsi datang ke daerah TNGL. Walaupun datang dari Aceh, eks pengungsi bukan merupakan suku asli Aceh. Masyarakat yang menjadi responden di dua daerah penelitian didominasi oleh suku Jawa. Dimana terdapat 12 orang (60%) di Dusun Damar Hitam dan 10 orang (50%) di Dusun Sei Minyak. Hal ini disebabkan karena Suku Jawa merupakan masyarakat yang pertama kali tinggal di daerah penelitian. Suku terbanyak kedua adalah karo sebanyak 6 orang (30%) di Dusun Damar Hitam dan 7 orang (35%) di Dusun Sei Minyak. Suku Batak Toba sebanyak 1 orang (5%) di Dusun Damar Hitam dan 3 orang (15%) di Dusun Sei Minyak, sedangkan suku selanjutnya adalah Sunda sebanyak 1 orang (5%) di Dusun Damar Hitam dan tidak ada Suku Sunda di Dusun Sei Minyak.
Tabel 11. Komposisi responden berdasarkan suku No.
Damar Hitam
Sei Minyak Suku Jumlah Persen
(%)
Suku Jumlah Persen (%) 1. 2. 3. 4. Jawa Karo BtkToba Sunda 12 6 1 1 60 30 5 5 Jawa Karo BtkToba Sunda 10 7 3 50 35 15 Total 20 100 20 100
Ketiga suku terakhir ini merupakan masyarakat pendatang di daerah penelitian yang memiliki daya adaptasi tinggi serta motivasi kerja besar sehingga saat ini telah banyak memiliki lahan pertanian. Meskipun masyarakat di daerah eks pengungsi terdiri dari berbagai suku, tetapi tetap memiliki tingkat kekerabatan yang masih erat serta tradisi yang sama seperti gotong royong. Adat istiadat atau kebudayaan merupakan perilaku, kepercayaan, nilai dan pemakain sumberdaya di masyarakat yang membentuk pola hidup bersama dan saling bertukar pengalaman dalam lingkungan tertentu.
b. Agama
Masyarakat di daerah eks pengungsi memiliki agama yang berbeda. Agama yang dianut adalah Agama Islam dan Kristen Protestan. Agama Islam sebanyak 17 orang (85%) di Dusun Damar Hitam dan 18 orang (10%) di Dusun Sei Minyak. Agama Kristen Protestan sebanyak 3 orang (15%) di Dusun Damar Hitam dan 2 orang (10)%) di Dusun Sei Minyak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas agama eks pengungsi adalah Agama Islam. Walupun demikian persaudaraan mereka sangat kuat walaupun mereka berbeda agama. Hal ini didasarkan oleh perasaan senasib sebagai eks pengungsi. Meskipun memiliki agama, tapi mereka merupakan masyarakat yang hampir jarang beribadah. Hal ini disebabkan belum adanya rumah ibadah di areal eks pengungsi penelitian. Pemerintah juga telah berupaya memberikan fasilitas rumah ibadah kepada mereka apabila semua eks pengungsi bersedia untuk direlokasi. Usaha pemerintah tersebut dianggap mereka kurang klimaks karena mereka hanya menginginkan semua tanaman pertanian diganti. Keadaan agama eks pengungsi dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Karakteristik responden berdasarkan agama
7. Kelembagaan
Masyarakat eks pengungsi memiliki kelembagaan dengan tujuan membuat hubungan mereka semakin erat. Kelembagaan tersebut adalah Organisasi Petani Asal Aceh (OPPAA) dan dipimpin oleh ketua bernaman Miswan. Lembaga ini didirikan untuk melawan segala ancaman yang ada dan membuat mereka satu suara. Organisasi ini merupakan wadah untuk melawan pihak pengelola. OPPAA menolak direlokasi dikarenakan luas lahan mereka sudah banyak dan kebanyakan komoditas yang ditanam sudah berproduksi dan menghasilkan. Lahan yang dimiliki merupakan lahan hasil dari perambahan secara berkelanjutan.
Organisasi lain selain OPPAA adalah PIPA (Petani Indonesia Pengungsi Aceh). Ini juga merupakan organisasi untuk melawan segala ancaman. Ada juga organisasi yang merupakan organisasi pendukung lingkungan Leuser. Diantaranya adalah KETAPEL (Kelompok Petani Pelindung Leuser). Organisasi ini banyak sedikitnya banyak membantu pemerintah dalam menjaga ekosistem Leuser.
Dalam setiap pertemuan dengan pihak pengelola, masyarakat eks pengungsi juga telah memilih orang yang tepat untuk dijadikan wakil mereka
menyampaikan aspirasi. Wakil dari mereka ini sering disebutkan sebagai kapala dusun. Dusun Damar Hitam dipegang oleh Muhtadin dan Dusun Sei Minyak dipegang kendali oleh Muhadi. Kepala Dusun memegang peran aktif dalam setiap pertemuan ataupun perjanjian yang akan disepakati antara pihak pengelola dan eks pengungsi.
Analisis Ekonomi dan Sosial Masyarakat
Untuk merumuskan akan ekonomi dan sosial masyarakat eks pengungsi di Dusun Damar Hitam dan Dusun Sei Minyak digunakan analisis SWOT. Analisis SWOT ini akan merumuskan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan tantangan).
Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari keadaan ekonomi dan sosial masyarakat eks pengungsi. Faktor internal ini meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dari pemerintah dan eks pengungsi. Kekuatan kelemahan ini dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Faktor internal ekonomi dan sosial masyarakat Dusun Damar Hitam. No. Kekuatan (Srength) No. Kelemahan (Weakness)
1. 2. 3. 4. 5. Pemerintah memiliki
kewenangan untuk berkoordinasi dan bekerjasama multipihak Pemerintah memiliki pendanaan untuk kegiatan setiap tahun mencukupi
Sebagian eks pengungsi setuju direlokasi
Desa sekitar mendukung merelokasi eks pengungsi Adanya sanksi hukum bagi perambah dan pelaku illegal logging
1. 2.
3.
4.
Tidak jelasnya pal batas TNGL Illegal logging yang didukung oknum militer dan tidak diproses secara hukum.
Lemahnya kepemimpinan di tingkat Balai, Seksi Wilayah Konservasi, Polhut.
Sistem kerja tertutup sehingga kurang terbuka
Faktor internal berupa kekuatan adalah sebagai berikut:
1. Memiliki kewenangan untuk berkordinasi dan bekerjasama multipihak.
Dalam pengelolaan kawasan TNGL, kemitraan mutipihak menjadi pokok bahasan yang sangat penting. Para mitra memilki akses pendanaan, jaringan kepakaran, dan pengalaman yang luas dan mendalam. Dalam hal TNGL misalnya, Yayasan Leuser International (YLI) yang telah bekerja selama 7 tahun di Ekosistem Leuser maupun di TNGL memiliki data dan informasi serta jaringan kepakaran yang luas. Demikian pula dengan beberapa LSM yang telah bekerja lama di Sumatera Utara maupun di beberapa kabupaten di sekitar TNGL, yang jelas telah memiliki komitmen yang kuat untuk upaya pelestarian lingkungan.
2. Pendanaan untuk setiap tahun mencukupi
Dengan adanya mitra kerjasama, akses pendanaan bisa teratasi setiap tahunnya. Dari berbagai LSM kerap memberi dana yang besar dalam penganganan eks pengungsi ini. Hal ini memudahkan pihak TNGL dalam mengadakan setiap kegiatan dalam usaha relokasi.
3. Sebagian eks pengungsi setuju direlokasi
Sebagian eks pengungsi setuju untuk direlokasi merupakan kekuatan. Masyarakat eks pengungsi yang setuju akan relokasi ini dapat membantu pemerintah dalam upaya pendekatan bagi eks pengungsi yang tidak mau direlokasi.
4. Desa sekitar mendukung
Adanya dukungan kepada pemerintah dari desa sekitar TNGL untuk merelokasi eks pengungsi. Masyarakat asli merasa terganggu dengan adanya eks pengungsi. Dengan adanya dukungan mereka, pemerintah juga akan terbantu dikarenakan adanya dukungan dari masyarakat di lingkungan sekitar. 5. Adanya sanksi hukum
Penegakan hukum dalam penyelesaian persoalan taman nasional melibatkan beberapa pihak kunci, yaitu TNGL, Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Efektivitas penegakan hukum sangat dipengaruhi oleh faktor komitmen dan tingkat sinergitas antar lembaga penegak hukum tersebut. Sanksi hukum akan diberikan secara tegas bagi siapa saja yang melanggar hukum tanpa terkecuali. Hal ini menjadikan kekuatan bagi pemerintah untuk menindak tegas masyrakat eks pengungsi apabila melawan petugas dalam menjalankan progaram pemerintah khususnya relokasi.
Faktor internal berupa kelemahan adalah sebagai berikut: 1. Tidak jelasnya pal batas TNGL
Tidak jelasnya batas TNGL disebabkan oleh tidak dilibatkannya masyarakat dalam proses tata batas di lapangan, pal batas yang digeser oleh perambah, dan lemahnya pengelolaan taman nasional di tingkat lapangan. Alasan ini
menyebabkan taman nasional dianggap sebagai lahan kosong, atau lahan tidur yang tidak bermanfaat, dan tidak dimiliki oleh siapapun.
2. Illegal logging yang didukung oknum militer dan tidak diproses secara hukum merupakan hal yang paling meyedihkan bagi bangsa ini. Oknum militer yang seharusnya menjaga keamanan negara dari setiap ancaman baik dari luar maupun dalam. Hal ini yang menjadi kelemahan bagi pemerintah bahkan negara ini.
3. Lemahnya kepemimpinan di tingkat Balai, Seksi Wilayah Konservasi, Polhut merupakan kelemahan tersendiri bagi pemerintah. Hal ini ditandai adanya sistem perencanaan yang kurang baik dalam siklus manajemen. Seorang pemimpin juga harus mampu membangun kapasitas kepemimpinan di tataran bawah, pada level Seksi Konservasi Wilayah dan di jajaran Polisi Hutan (Polhut). Kenyataan yang ada adalah kordinasi yang belum baik ditunjukkan dari setiap pemimpin di setiap bidang.
4. Sistem kerja tertutup sehingga kurang terbuka.
Pemerintah kurang terbuka memberikan data yang akurat kepada masyarakat luas. Hal ini merupakan salah satu kelemahan dari internal pemerintah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya kordinasi antar pihak. Kebutuhan lapangan seringkali tidak dapat diakomodasi dalam perencanaan. Inilah asal mula yang melatarbelakangi mengapa upaya pengelolaan taman nasional seringkali tidak dikenal atau diketahui banyak orang.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal meliputi peluang dan ancaman. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh faktor eksternal seperti pada tabel 14.
Tabel 14. Faktor eksternal pihak pengelola
No. Peluang (Opportunity) No. Ancaman (Threat) 1.
2.
Departemen Transmigrasi menyiapkan lokasi di sekitar
Sumatera
Dukungan Menteri Kehutanan dalam pemberantasan illegal logging dan perambahan di taman-taman nasional di tingkat Pusat yang konsisten.
1. 2.
Jual beli tanah oleh oknum tertentu Oknum eks pejabat yang sudah bebas
Faktor eksternal berupa peluang adalah sebagai berikut:
1. Departemen Transmigrasi menyiapkan lokasi relokasi di sekitar Sumatera yang mungkin dapat dijadikan untuk memindahkan eks pengungsi tersebut melalui skema transmigrasi. Pada saat ini, terdapat lokasi transmigrasi di Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Departemen Transmigrasi juga meminta Departemen Kehutanan untuk membantu pemilihan lokasi tersebut, agar dapat dihindarkan tumpang tindih dengan kawasan hutan. Upaya pemindahan eks pengungsi ini perlu dilakukan secara komprehensif dan tuntas.
2. Dukungan dari pemerintah dan LSM
Dengan adanya dukungan ini maka program relokasi diharapkan berjalan sesuai prosedur yang telah direncanakan. Apabila masyarakat ikut mambantu pemrintah dan LSM akan merasa tertolong.
Faktor Eksternal berupa ancaman adalah sebagai berikut: 1. Jual beli tanah oleh oknum tertentu
Adanya oknum tertentu menjual tanah dengan harga murah dengan cara membohongi masyarakat. Masyarakat eks pengungsi dibohongi dengan menyatakan bahwa tanah tersebut bukan tanah illegal. Dengan pendidikan yang minim, masyarakat pun percaya saja dengan bualan oknum tersebut. 2. Oknum eks pejabat yang sudah bebas dapat membahayakan. Mereka dapat
melanggar hukum lagi apabila telah bebas dari hukuman. Upaya yang paling tepat adalah memberikan sanksi hukum yang lebih ketat kepada meraka dan membatasi setiap gerak-gerik mereka.
Matriks SWOT
Matriks SWOT merupakan matriks yang mengkolaborasikan seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi ekonomi dan sosial masyarakat eks pengungsi meliputi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan tantangan) untuk menghasilkan strategi pengembangan ekonomi dan sosial masyarakat . Strategi yang dimaksud meliputi strategi SO, ST, WO, dan WT. Strategi yang dihasilkan disusun berdasarkan pandangan peneliti dan dengan bantuan data penunjang yang bertujuan mencapai ekonomi dan sosial masyarakat yang sejahtera. Matriks SWOT ekonomi dan sosial masyarakat dapat dilihat pada tabel 15.
Tabel 15. Penentuan strategi sosial dan ekonomi masyarakat berdasarkan matriks SWOT
Faktor Internal Faktor Eksternal Strength (S)
1. Memiliki kewenangan untuk berkoordinasi dan
bekerjasama multipihak 2. Pendanaan untuk kegiatan
setiap tahun mencukupi 3. Sebagian eks pengungsi
setuju direlokasi
4. Desa sekitar mendukung 5. Adanya sanksi hukum
Weakness (W)
1. Tidak jelasnya pal batas TNGL
2. Illegal logging yang didukung oknum militer dan tidak diproses secara hukum. 3. Lemahnya
kepemimpinan di tingkat Balai, Seksi Wilayah Konservasi, Polhut.
4. Sistem kerja tertutup sehingga kurang terbuka . Opportunity (O) 1. Departemen Transmigrasi menyiapkan lokasi di sekitar Sumatera 2. Dukungan dari pemerintah dan LSM Isu/Strategi SO 1. Dengan adanya kewenangan untuk bekerjasama multipihak, maka pemerintah dan LSM dapat bekerja sama dalam merelokasi eks pengungsi. 2. Dengan adanya pendanaan
yang cukup, maka dana lokasi bagi eks pengungsi dapat teratasi.
3. Dengan adnya dukungan dari sebagian eks pengungsi, maka pemerintah dan LSM beserta eks pengungsi tersebut dapat bekerja sama demi kelancaran relokasi.
Isu/Strategi WO
1. Pemerintah segera memberikan sanksi yang tegas bagi oknum yang mendukung illegal logging tanpa ragu-ragu.
2. Memperbaiki struktur kepemimpinan berbagai bidang demi kelancaran relokasi.
Threats (T)
1. Jual beli tanah oleh oknum
2. Oknum eks pejabat yang sudah bebas
Isu/Strategi ST
1. Memperketat sanksi hukum bagi oknum yang melakukan kegiatan jual beli tanah.
2. Segera menindak tegas bagi siapa saja melawan hukum
Isu/Strategi WT 1. Memberikan
penyuluhan akan batas-batas pal daereh TNGL
Strategi SO merupakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Dengan adanya kewenangan untuk bekerjasama multipihak, maka pemerintah dan LSM dapat bekerja sama dalam merelokasi eks pengungsi. Pemerintah dan LSM bersama-sama bekerjasama dalam upaya pelestarian lingkungan. Para mitra juga memilki akses pendanaan, jaringan
kepakaran, dan pengalaman yang luas dan mendalam. Namun demikian, dalam pengembangan kemitraan antara TNGL dengan para pihak bukanlah hal yang mudah. Banyak kendala yang dapat dipecahkan secara bersama-sama.
Srategi WO merupakan strategi yang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang dari lingkungan luar. Dengan adanya sanksi yang tegas dari Pemerintah, maka setiap oknum yang membantu kegiatan illegal logging akan merasa takut akan sanksi yang diberikan.
Strategi ST yaitu strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk menghindari ancaman yang dating dari luar. Adanya transaksi jual beli lahan tanah yang dilakukan oleh oknum tertentu memberi dampak yang negatif dalam upaya relokasi eks pengungsi. Dalalm hal ini diupayakan sanksi hokum yang tegas bagi oknum tertentu yang menyalahi aturan. Selanjutnya memberikan hukuman bagi siapa saja yang melawan hukum yang berlaku.
Strategi WT merupakan strategi yang memperkecil kelemahan internal dan menghindari ancaman dari luar. Dengan adanya penyuluhan dari pemerintah secara jelas, maka pal batas yang selama ini kurang jelas dapat dimengerti setiap orang. Tidak jelasnya batas TNGL disebabkan oleh tidak dilibatkannya masyarakat dalam proses tata batas di lapangan, pal batas yang digeser oleh perambah, dan lemahnya pengelolaan taman nasional di tingkat lapangan. Dengan demikian batas TNGL dapat diketahui bagi setiap orang. Apabila melanggar, sanksi tegas harus segera diberi.
Dari matriks SWOT tersebut dapat dilihat secara garis besar bentuk-bentuk alternatif strategi yang dapat dilakukan dalam upaya relokasi masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Leuser. Maka dibutuhkan dukungan dari setiap elemen
masyarakat untuk membantu pemerintah dan LSM yang terkait dalam upaya relokasi ini.
Kajian akan Usaha-usaha yang Dilakukan Pihak Pengelola
Penanganan pengelolaan TNGL sampai dengan saat ini dapat dinilai belum efektif, dan bahkan tidak efisien. Efektivitas terkait dengan seberapa besar investasi dapat memenuhi sasaran yang diharapkan. Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh Balai TNGL seperti:
1. Mengumpulkan data primer/sekunder eks pengungsi
a. Pendataan ulang jumlah eks pengungsi (investigasi) dan perambah lokal Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data akan jumlah KK, jumlah jiwa, luas garapan per KK, kesediaan untuk direlokasi. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh pihak pengelola secara maksimal. Dengan demikian semua masyarakat eks pengungsi sudah terdata dan siap direlokasi. Kendala dalam kegiatan ini adalah sikap masyarakat yang tertutup dalam memberikan data akan luas lahan yang mereka garap. Sehingga pihak pengelola kesulitan untuk mendapatkan total luas lahan garapan.
b. Pengukuran luas seperti citra satelit dan estimasi di lapangan.
Hal ini bertujuan untuk memperoleh data akan luas kerusakan kawasan, penajaman data dari hasil pendugaan citra. Pengukuran ini sudah dilakukan oleh pihak pengelola. Hal ini sangat berguna sebagai data bagi kegiatan relokasi selanjutnya untuk memperbaiki setiap lahan yang telah rusak. Kegiatan ini juga berguna sebagai bahan informasi berupa peta kepada semua pihak akan rusaknya Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan daerah konservasi.
a. Melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada eks pengungsi tempat yang mereka tempati merupakan kawasan konservasi dan memberikan penyuluhan akan relokasi. Penyuluhan sudah dilakukan secara berkelanjutan. Hambatan dilapangan adalah rendahnya daya serap masyarakat akan materi penyuluhan yang telah disampaikan oleh pihak pengelola. Hal ini sangat berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.
b. Memberikan sanksi hukum yang tegas bagi para perambah yang masih merambah kawasan konservasi di sekitar TNGL. Masyarakat tidak menghiraukan karena mereka mengganggap perlawanan terhadap pihak pengelola merupakan cara untuk melanjutkan hidup. Mereka tidak menghiraukan sanksi yang ada.
c. Instansi pemerintah yang terdiri dari Balai TNGL, PEMKAB (Dinas Kehutanan, Dinas Sosial, BPN) dan dari segi keamanan (TNI dan Polisi) bersama-sama mengkordinasi anggota dalam hal merelokasi eks pengungsi ke arah yang lebih baik dan memberikan keamanan bagi para eks pengungsi agar tidak terjadi bentrokan lagi. Karena selama ini bentrokan masih terus berlangsung antara eks pengungsi dan pihak pengelola.
d. Langkah akhir yang dilakukan yaitu mengangkat isu masalah perambahan kawasan TNGL ke dalam media massa agar masyarakat awam dapat mengetahuinya. Isu tersebut sudah lama beredar di media massa dan kebanyakan masyarakat lokal sudah mengetahui akan keberadaan eks pengungsi dan perambahan hutan yang sudah dilakukan mereka. Masalah yang dihadapi adalah perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat kepada
pihak pengelola. Hal ini merupakan hambatan tebesar yang dihadapi oleh pihak pengelola.
3. Melakukan pertemuan khusus dengan perwakilan eks pengungsi. Kegiatan tersebut sudah dilaksanakan pihak pengelola. Hasil yang diperoleh adalah pihak eks pengungsi menginginkan apabila di relokasi hanya ingin di Pulau Sumatera, dan apabila direlokasi harus dilibatkan dari awal. Banyaknya tuntutan mereka menyebabkan pihak pengelola merasa keberatan sehingga titik persetujuan tidak sepenuhnya diperoleh.
Persepsi Masyarakat Akan Taman Nasional Gunung Leuser
Masyarakat eks pengungsi sekitar TNGL pada dasarnya merupakan masyarakat yang kurang akan pendidikan. Dapat dilihat dari hasil jawaban yang diberikan oleh responden menyangkut masalah TNGL. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa TNGL merupakan tanah warisan dari nenek moyang dan bagi siapa saja bebas untuk menggarapnya menjadi lahan sendiri. Persepsi ini dapat dilihat dalam tabel 16.
Tabel 16. Persepsi responden akan taman nasional gunung leuser No. Ket. Damar Hitam Sei Minyak Frek.Tahu Frek. tdk tahu Frek.Tahu Frek. tdk tahu 1. 2. 3. Arti TNGL Fungsi TNGL Bentuk konservasi 7 5 10 13 15 10 6 7 9 14 13 11 ∑ Total 22 38 22 38
Sumber : Data Primer Penelitian (2010)
Berdasarkan hasil wawancara responden Dusun Damar Hitam, masyarakat yang mengerti pengertian taman nasional hanya 7 orang, fungsi TNGL hanya 5 orang dan yang mengerti akan bentuk kawasan konservasi hanya 10 orang. Sementara responden di Sei Minyak juga memiliki pemahaman yang kurang akan
TNGL. Masyarakat yang mengerti pengertian taman nasional hanya 6 orang, fungsi TNGL hanya 7 orang dan yang mengerti akan bentuk kawasan konservasi hanya 9 orang. Hal ini menunjukkan lemahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan fungsi kawasan konservasi. Sebagian masyarakat juga mengetahui bahwa perusakan ataupun perambahan merusak lingkungan. Ekosistem yang rusak mengakibatkan erosi, tanah longsor dan banjir. Akibat dari perusakan ini dirasakan langsung masyarakat setempat. Mereka beralasan bahwa kegiatan dilakukan demi pemenuhan kebutuhan hidup mereka.
Masyarakat memiliki anggapan bahwa hutan merupakan titipan nenek moyang tanpa perlu dijaga kelestariannya. Maka dengan demikian masyarakat berlomba membuka lahan pertanian sendiri demi kesejahteraan hidup pribadi dimana merupakan pengerusakan daerah konservasi secara global.
Persepsi Masyarakat akan Keamanan dan Sanksi Hukum
Keamanan di daearah eks pengungsi belum bisa dikatakan baik. Kurun waktu yang tidak menentu, ada satwa yang keluar masuk areal eks pengungsi. Walaupun kebanyakan masyarakat masih belum mengetahui hal ini. Hasil dari jawaban responden dapat dilihat pada tabel 17.
Tabel 17. Persepsi responden akan keamanan tempat tinggal
No. Keterangan Damar Hitam Sei Minyak
Adanya satwa yang masuk
Adanya satwa yang masuk 1. 2. 3. 4. 5. Sangat tahu Tahu Ragu-ragu Tidak tahu
Kurang memahami pertanyaan
1 2 11 1 5 - 2 13 2 3 Total 20 20
Berdasarkan hasil yang diperoleh di Dusun Damar Hitam, sebanyak 11 orang ragu-ragu dengan keadaan satwa yang keluar masuk, 1 orang tidak mengetahui dan 5 orang kurang memahami akan pertanyaan tersebut. Masyarakat yang mengetahui hanya 2 orang dan yang benar-benar mengetahui sekali hanya 1 orang. Berdasarkan jawaban masyarakat yang mengetahui keberadaan satwa, jenis satwa yang pernah masuk adalah gajah. Dan itu terjadi sangat jarang bahkan hampir tidak pernah.
Berdasarkan hasil yang diperoleh di Dusun Sei Minyak, sebanyak 13 orang ragu-ragu dengan keadaan satwa yang keluar masuk, 2 orang tidak mengetahui dan 3 orang kurang memahami akan pertanyaan tersebut. Masyarakat yang mengetahui hanya 2 orang. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat eks pengungsi pada umumnya merupakan masyarakat yang tidak memahami bentuk kawasan TNGL dan fungsi TNGL itu sendiri.
Penanganan masalah TNGL harus segera diselesaikan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perambah dan pengungsi semakin lama menimbulkan kerusakan ekosistem. Sanksi harus tegas diberikan bagi siapa saja yang melanggar hukum. Masyarakat pada umumnya mengetahui akan sanksi hukum bagi siapa saja yang melanggarnya. Keadaan ini dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Grafik persepsi masyarakat akan sanksi hukum
Berdasarkan hasil wawancara, masyarakat yang paham akan sanksi hukum perambahan hutan adalah sebanyak 11 orang (55%) di Dusun Damar Hitam dan 14 orang (70%) di Dusun Sei Minyak. Responden yang menjawab ragu-ragu