• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Komunikasi Antarpribadi

2.2.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi (interpersonal Communication) adalah

komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik

32

Ibid. Hlm. 380 33

verbal maupun nonverbal (Mulyana, 2004 : 73). Dari pemaparan tersebut, peneliti dapat menganalisis proses Interaksi antara kuncen dan pengunjung yang saling tanya jawab atau sekedar mengikuti apa yang diucapkan kuncen adalah bentuk komunikasi antarpribadi. Interaksi kuncen terjadi bertatap muka dalam jarak personal.

Selain itu, peneliti menemukan definisi lainnya yang mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara

terorganisasi maupun pada kerumunan orang banyak.34

Keberhasilan komunikasi menjadi tanggung jawab para peserta komunikasi. Kedekatan hubungan pihak-pihak yang berkomunikasi akan tercermin pada jenis-jenis pesan atau respon nonverbal mereka, seperti sentuhan, tatapan mata yang ekspresif, dan jarak fisik yang sangat dekat.

Hal tersebut menandakan komposisi pembicaraan atau pesan yang disampaikan meskipun setiap orang dalam komunikasi antarpribadi

bebas mengubah topik pembicaraan, kenyataannya komunikasi

antarpribadi bisa saja didominasi oleh suatu pihak.

Hal tersebut pula yang ditemukan peneliti ketika melakukan observasi awal, yaitu kuncen yang memimpin prosesi ziarah, pengunjung hanya sebatas mengikuti setiap apa yang dilakukan oleh kuncen, sehingga menjadi sebuah dominasi interaksi. Kuncen yang menjelaskan keadaan sejarah Situs dalam obrolannya banyak yang mendominasi, karena

34

pengunjung adalah orang baru yang mencari tahu, sehingga kuncen lebih dominan dalam menyampaikan aspek-aspek bahasanya dan budayanya.

Hal menarik dari komunikasi antarpribadi adalah terjadinya secara dialogis. Dialog adalah bentuk komunikasi antarpribadi yang menunjukkan terjadinya interaksi. Dalam proses komunikasi dialogis nampak adanya upaya dari para pelaku komunikasi untuk terjadinya

pergantian bersama (mutual understanding) dan empati. Dari proses ini

terjadi rasa saling menghormati bukan disebabkan status sosial melainkan didasarkan pada anggapan bahwa masing-masing adalah manusia yang berhak dan wajib, pantas dan wajar dihargai dan dihormati sebagai manusia. Dan komunikasi tatap muka ini membuat manusia merasa lebih

akrab dengan sesamanya.35

Seperti masalah komunikasi antarpribadi yang peneliti temukan antara kuncen dan pengunjung di situs budaya Banten Girang dan Banten Lama. Di mana kuncen yang berupaya mengajak pengunjung untuk ikut dalam pola pikir kuncen, dan mematuhi budayanya saat berada disekitar situs budaya. Interaksi di antara kuncen dan pengunjung yang berasal dari Demak, agar mensinkronkan perihal sejarah Banten dengan Demak yang menggunakan aspek emosi dan empati atas kesamaan sejarah leluhurnya. 2.2.2 Model Komunikasi Antarpribadi

Dalam proses komunikasi antarpribadi atau komunikasi

interpersonal arus komunikasi yang terjadi adalah sirkuler atau berputar,

35

artinya setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi komunikator dan komunikan. Karena dalam komunikasi antarpribadi efek atau umpan balik dapat terjadi seketika. Untuk dapat mengetahui komponen-komponen yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi dapat dijelaskan melalui gambar berikut:

Gambar 2.2

Siklus Komponen Komunikasi Antarpribadi

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa komponen-komponen komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut : (Devito, 2007 :10)

1. Pengirim-penerima

Komunikasi antarpribadi paling tidak melibatkan dua orang, setiap orang terlibat dalam komunikasi antarpibadi memfokuskan dan mengirimkan pesan sekaligus juga menerima dan memahami pesan. Komunikasi yang terjadi

antara kuncen dan pengunjung situs budaya Banten Girang dan Banten Lama merupakan salah satu bentuk interaksi antarpribadi, di sana banyak perilaku yang sifatnya berperan ganda antara menjadi penerima dan pengirim, seperti ketika pengunjung menanyakan tata cara ziarah di Makam Sultan Maulana Hasanudin, kuncen menerangkan jika peziarah itu berasal dari Demak dan ingin berziarah sendiri, silahkan membuat jamaah tersendiri yang terpisah dari jamaah umum, dan interaksi ini timbal balik sifatnya. Istilah pengirim-pengirim ini digunakan untuk menekankan bahwa, fungsi pengirim dan penerima ini dilakukan oleh setiap orang yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi, baik kucen maupun pengunjung memerankan diri mereka sebagai pengirim dan penerima, sehingga kedua-duanya bisa dikatakan pengirim-pengirim.

2. Encoding-Decoding

Encoding adalah tindakan menghasilkan pesan, artinya pesan-pesan yang akan disampaikan dikode atau diformulasikan terlebih dahulu dengan menggunakan kata-kata

simbol dan sebagainya. Sebaliknya tindakan untuk

menginterpretasikan dan memahami pesan-pesan yang

diterima, disebut juga sebagai Decoding. Dalam komunikasi

penerima, maka fungsi encoding-decoding dilakukan oleh setiap orang yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi.

3. Pesan-pesan

Dalam komunikasi antarpibadi, pesan-pesan ini bisa terbentuk verbal (seperti kata-kata) atau nonverbal (gerak tubuh, simbol) atau gabungan antara bentuk verbal dan nonverbal. Pesan yang disampaikan oleh kuncen maupun pengunjung meliputi pesan verbal, pertukaran pesan yang terjadi ketika kuncen menggunakan bahasa Jawa Serang untuk mempersilahkan pengunjung memulai ziarah dan pengunjung yang bersasal dari Demak mengiyakan dan akhirnya duduk berbaris membentuk jamaah, mereka dalam artian memahami perintah itu namun dalam sebuah generalisasi umum sehingga tanpa bannyak bicara langsung merespon pesan dengan membentuk barisan jamaah.

4. Saluran

Saluran ini berfungsi sebagai media di mana dapat menghubungkan antara pengirim dan penerima pesan atau informasi. Saluran komunikasi personal baik bersifat langsung perorangan maupun kelompok lebih persuasive dibandingkan dengan saluran media massa.

Hal ini disebabkan pertama, penyampaian pesan melalui saluran komunikasi personal dapat dilakukan secara langsung kepada khalayak. Fakta yang ditemukan dalam

komunikasi antarpribadi kuncen yang berbicara dan

pengunjung mendengarkan (saluran indera pendengar dengan suara). Isyarat visual atau sesuatu yang tampak (seperti gerak tubuh, ekspresi wajah dan lain sebagainya).

5. Gangguan atau noise

Seringkali pesan-pesan yang dikirim berbeda dengan pesan yang diterima. Hal ini dapat terjadi karena gangguan saat berlangsung komunikasi, yang terdiri dari :

a) Gangguan Fisik

Gangguan ini biasanya berasal dari luar dan mengganggu transmisi fisik pesan, seperti kegaduhan, interupsi, jarak dan sebagainya. Banyaknya para pengunjung yang membentuk jamaah berbeda dalam satu prosesi ziarah di Makam Sultan Maulana Hasanudin, membuat kegaduhan tersendiri, dan membuat pengunjung tidak terfokus pada sesi ziarahnya.

b) Gangguan Psikologis

Gangguan ini timbul karena adanya perbedaan gagasan dan penilaian subyektif di antara orang yang terlibat dalam komunikasi seperti emosi, perbedaan nilai-nilai, sikap dan

sebagainya. Banyak pengunjung yang berbeda latar belakang budaya membuat mereka juga memiliki

penafsiran tersendiri perihal makna simbolik ziarah.

c) Gangguan Semantik

Gangguan ini terjadi kata-kata atau simbol yang digunakan dalam komunikasi, seringkali memiliki arti ganda, sehingga menyebabkan penerima gagal dalam menangkap dari

maksud-maksud pesan yang disampaikan, seperti

perbedaan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi antara kuncen dan pengunjung, kuncen menggunakan bahasa Jawa Serang atau bahasa Sunda, sedangkan

pengunjung yang datang memiliki bahasa sub culture

sendiri. Karena pengunjung yang datang dapat berasal dari Sumatera yang berbeda sangat jauh.

6. Umpan Balik

Umpan balik memainkan peranan yang sangat penting dalam proses komunikasi antarpribadi, karena pengirim dan penerima secara terus menerus dan bergantian memberikan umpan balik dalam berbagai cara, baik secara verbal maupun nonverbal. Umpan balik ini bersifat positif apabila dirasa saling menguntungkan. Bersifat negative apabila merugikan.

7. Bidang pengalaman

Bidang pengalaman merupakan faktor yang paling penting dalam komunikasi antarpribadi. Komunikasi akan terjadi apabila para pelaku yang terlibat dalam komunikasi mempunyai bidang pengalaman yang sama.

Kuncen dan pengunjung adalah dua orang yang memiliki latar belakang berbeda-beda sehingga pengalaman mereka pun berbeda pula, apa yang dikatakan kuncen Banten Girang terkait sejarah situs budaya Banten yang lebih mistis tidak semuanya dapat dirasionalkan oleh pengunjung yang berbudaya modern.

8. Efek

Dibanding dengan bentuk komunikasi lainnya, komunikasi antarpribadi dinilai paling ampuh untuk mengubah sikap, perilaku kepercayaan dan opini komunikan. Hal ini

disebabkan komunikasi dilakukan dengan tatap muka.36

Makna yang disampaikan oleh kuncen terkait keberadaan Makam Mas Jong dan Agus Jo yang dianggap keramat kepada penziarah, nyatanya telah membuat banyak orang semakin lama tinggal di area Makam tersebut untuk memperoleh keberkahan dan ketenangan.

2.2.3 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi

36

Dari beberapa definisi komunikasi harus ditinjau manakah ciri-ciri yang menunjukkan perbedaan yang khas antara komunikasi

antarpribadi dengan bentuk komunikasi yang lain. Reardon

mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi mempunyai paling sedikit enam ciri, yaitu :

1. Komunikasi antarpribadi dilaksanakan karena adanya berbagai

faktor pendorong, pengunjung yang datang ke situs budaya memiliki maksud beragam, ada yang berwisata dan ada pula yang berziarah. Dan kuncen yang ada merasa memiliki hak untuk menjadi tuan rumah dalam interaksi dengan pengunjung sebagai keturunan Kesultanan Banten.

2. Komunikasi antarpribadi berakibat sesuatu yang disengaja

maupun tidak disengaja, pengunjung yang datang dengan beragam maksud dan tujuan, memiliki identitas yang berbeda, dan dalam interaksinya terkadang kuncen yang banyak mendominasi dengan logat yang sedikit keras, dan pengunjung pun sebagian ada yang banyak bertanya dan kadang mengernyitkan kening seperti tidak mempercayai penjelasan kuncen.

3. Komunikasi antarpribadi kerapkali berbalas-balasan.

Semua interaksi yang terjadi di antara kuncen dan pengunjung sifatnya berbalas-balasan baik secara verbal maupun nonverbal.

4. Komunikasi antarpribadi mensyaratkan adanya hubungan (paling sedikit dua orang) antarpribadi, kuncen menjadi individu yang berinteraksi dengan pengunjung yang datang dari berbagai daerah baik berkelompok maupun individu.

5. Komunikasi antarpribadi suasana hubungan harus bebas,

bervariasi dan adanya keterpengaruhan, dalam setiap lingkup situs budaya Banten Girang dan Banten Lama interaksi yang terjadi beragam bentuknya, jika di Sekitar peninggalan bangunan sifatnya lebih bebas sedangkan di sekitar komplek Makam Kesultanan Banten lebih dalam suasanan hubungan

informal namun terikat sacral.

6. Komunikasi antarpribadi menggunakan berbagai lambang yang

bermakna. 37Apa yang dimaknai sebagai Makam keramat oleh

kuncen, maka pengunjung akan tertuju pada Makam Kesultanan Banten. Dalam interaksinya banyak bertukar makna yang sifatnya dipengaruhi oleh budaya sekitar situs dan budaya pengunjung sebagai identitasnya.