BAB V : PEMBAHASAN DAN HASIL
5.1. Identitas Responden
5.2.1. Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan seseorang, badan atau instansi untuk menyampaikan informasi kepada orang lain atau masyarakat dalam hal ini adalah suatu proses penyampaian informasi oleh pemerintah kepada masyarakat mengenai suatu kebijakan yang akan diterapkan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Komunikasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana pemerintah Kabupaten Bengkalis mensosialisasikan kebijakan tentang perlindungan hutan khususnya hutan mangrove kepada masyarakat yang ada di Kecamatan Rupat, sosialisasi ini sangat penting dilakukan karena dengan adanya sosialisasi masyarakat dapat mengetahui informasi yang jelas mengenai kebijakan yang akan diterapkan pemerintah daerah.
Disamping adanya sosialisasi, pemerintah daerah juga harus menyampaikan informasi mengenai pentingnya melestarikan hutan mangrove, karena dengan adanya informasi tersebut masyarakat jadi mengetahui betapa pentingnya manfaat hutan mangrove bagi kehidupan terutama bagi yang berdomisili disekitar garis pantai sehingga masyarakat akan berusaha semaksimal mungkin untuk melestarikan keberadaan hutan mangrove tersebut. Selanjutnya, dengan diberlakukannya kebijakan pemerintah tentang perlindungan hutan
tersebut maka bagi setiap masyarakat yang melanggar ketentuan yang telah ditetapkan akan dikenakan sanksi.
Sehubungan dengan kriteria penilaian tentang komunikasi yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Hutan khususnya hutan mangrove yang ada di Kecamatan Rupat, mencakup beberapa sub indikator yaitu :
1.Mengadakan Sosialisasi Terhadap Kebijakan Tentang Perlindungan Hutan
Mangrove
Sosialisasi merupakan unsur yang sangat penting dalam pelaksanaan suatu kebijakan. Karena sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Dalam hal ini adalah proses transfer nilai dan autran oleh pemerintah kepada masyarakat khususnya masyarakat yang ada di Kecamatan Rupat tentang peraturan yang akan ditetapkan. Untuk mengetahui tanggapan responden mengenai sosialisasi ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.5 : Distribusi Tanggapan Responden Mengenai Sosialisasi Yang
Dilakukan Pemerintah Kabupaten Bengkalis Mengenai Perlindungan Hutan Mangrove
No Tanggapan Responden Frekuensi ( F ) Persentase (%)
1 Sangat Baik 6 5,71 2 Baik 18 17,14 3 Cukup Baik 10 9,52 4 Kurang Baik 43 40,95 5 Tidak Baik 28 26,67 Jumlah 105 100%
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari 105 orang responden yang menyatakan sosialisasi yang dilakukan pemerintah kabupaten bengkalis mengenai perlindungan hutan mangrove berada pada kategori Sangat Baik adalah sebanyak 6 orang atau 5,71% dan yang menyatakan Baik 18 orang atau 17,14%. Selain itu, tanggapan responden yang menyatakan Cukup Baik berjumlah 10 orang atau 9,52% dan yang menyatakan Kurang Baik berjumlah 43 orang atau 40,95%. Adapun tanggapan responden yang menyatakan Tidak Baik adalah sebanyak 28 orang atau 26,67%. Jadi dari tanggapan responden diatas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi yang dilakukan pemerintah kabupaten bengkalis mengenai perlindungan hutan mangrove berada pada kategori Kurang Baik yaitu sebanyak 43 orang atau 40,95%.
Hasil tersebut sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Masyarakat di Kelurahan Tanjung kapal yaitu Bapak Ngaliman mengatakan bahwa :
“Masyarakat jarang diberitahu secara langsung akan adanya sosialisasi jikalaupun ada pemerintah kurang serius dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat, Selain itu sosialisasi hanya sebatas sosialisasi tanpa ada kegiatan secara langsung dilapangan sehingga hanya sebagian kecil yang peduli dan mengerti apa yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut.” (hasil wawancara dengan Bapak Ngaliman Pada Hari Senin Tanggal 13 Februari 2012).
Adapun hasil wawancara penulis dengan Sekretaris Camat Kecamatan Rupat yaitu Bapak Sapon, SH, MM, beliau mengatakan bahwa :
“Pemerintah daerah telah berupaya melakukan sosialisasi kebijakan yang akan dilaksanakan dengan cara mengadakan pertemuan atau acara sosialisasi di aula Kantor Camat Rupat dan juga menyebarkan surat edaran mengenai penerapan kebijakan tersebut yang disampaikan kepada seluruh Kepala Desa di Kecamatan Rupat untuk diteruskan kepada masyarakat banyak.” (hasil wawancara dengan Bapak Sapon, SH, MM pada Hari Selasa Tanggal 22 Februari 2012).
Dari hasil wawancara diatas sebenarnya pemerintah telah berupaya melakukan sosialisasi kebijakan tentang perlindungan hutan mangrove tetapi pemerintah kurang serius dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat sehingga proses sosialisasi yang dilakukan kurang berhasil sesuai dengan yang diharapkan, sehingga upaya pemerintah dalam implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Hutan khususnya hutan mangrove yang ada di Kecamatan Rupat kurang berhasil dengan baik.
2. Memberikan Informasi Kepada Masyarakat Mengenai Pentingnya Melestarikan Hutan Mangrove
Unsur yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melestarikan hutan mangrove. Dengan demikian masyarakat jadi mengetahui tentang fungsi dan manfaat hutan mangrove bagi kehidupan kita dan lingkungan sekitar sehingga masyarakat akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kelestarian hutan mangrove. Untuk mengetahui tanggapan responden tenatng pemberian informasi mengenai pentingnya melestarikan hutan mangrove oleh pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis kepada masyarakat dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.6 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Pemberian Informasi Tentang Pentingnya Melestarikan Hutan Mangrove
No Tanggapan Responden Frekuensi ( F ) Persentase (%)
1 2 3 4 5 Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik 6 15 10 46 28 5,71 14,28 9,52 43,81 26,67 Jumlah 105 100%
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari 105 orang responden yang tanggapan responden menyatakan bahwa pemberian informasi oleh pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis tentang pentingnya melestarikan hutan mangrove di Kecamatan Rupat berada pada kategori Sangat Baik adalah sebanyak 6 orang atau 5,71% dan yang menyatakan Baik 15 orang atau 14,28%. Selain itu, tanggapan responden yang menyatakan Cukup Baik berjumlah 10 orang atau 9,52% dan yang menyatakan Kurang Baik berjumlah 46 orang atau 43,81%. Adapun tanggapan responden yang menyatakan Tidak Baik adalah sebanyak 28 orang atau 26,67%. Jadi dari hasil tanggapan responden diatas, dapat disimpulkan bahwa pemberian informasi oleh pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis tentang pentingnya melestarikan hutan mangrove di Kecamatan Rupat berada pada kategori Kurang Baik yaitu sebanyak 46 orang atau 43,81%.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tanggapan responden tentang sosialisasi yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis tentang kebijakan perlindungan hutan mangrove di kecamatan Rupat, penulis melakukan wawancara dengan masyarakat dan Pegawai Dinas. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Camat Rupat yaitu Bapak Yusrizal S.Sos, beliau mengatakan bahwa :
“Semua proses komunikasi sudah dilakukan oleh pemerintah daerah baik dalam bentuk sosialisasi, pemberian informasi mengenai pentingnya hutan mangrove maupun mengenai sanksinya, semuanya sudah kita sampaikan kepada masyarakat.”(hasil wawancara dengan Bapak Yusrizal, S.Sos pada hari Selasa Tanggal 21 Februari 2012).
Berdasarkan wawancara penulis dengan Masyarakat di Kelurahan Batu Panjang yaitu Bapak Solihun mengatakan bahwa :
“Masyarakat jarang mendengar informasi yang berkaitan dengan adanya upaya dari pemerintah dalam memberikan informasi tentang pentingya menjaga kelestarian hutan mangrove, pemerintah hanya datang pada waktu tertentu saja dan kedatangannya selalu tidak diketahui oleh masyarakat luas hanya kalangan tertentu saja. Selain itu pemerintah hanya memberikan informasi hanya berbentuk pengumuman yang ditempel dan plang yang didalamnya berisi informasi tentang hutan mangrove.” (hasil wawancara dengan Bapak Solihun pada Hari Jum’at Tanggal 17 Februari 2012).
Berdasarkan hasil wawancara diatas, pemerintah memang sudah memberikan informasi mengenai pentingnya melestarikan hutan mangrove kepada masyarakat tetapi pelaksanaanya saja yang kurang berjalan dengan baik. Hal tersebut dilihat dari pemerintah yang jarang memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melestarikan hutan mangrove, baik itu tentang fungsi dan manfaat hutan mangrove bagi kehidupan dan lingkungan sehingga kerusakan hutan mangrove tetap saja terjadi. Maka dari itu agar hutan mangrove tetap terjaga dari setiap kerusakan pemerintah harus sering memberikan informasi mengenai pentingnya melestarikan hutan mangrove kepada masyarakat agar kelestarian hutan mangrove tetap terjaga dengan baik dan terhindar dari kerusakan.
3. Memberikan Informasi Kepada Masyarakat Mengenai Sanksi Bagi Yang Merusak Hutan Mangrove.
Dengan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai sanksi yang diberikan kepada siapa saja yang merusak hutan mangrove, maka masyarakat masyarakat akan mengetahui akibat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan diluar ketentuan yang berlaku sehingga masyarakat akan sangat berhati-hati dalam bertindak terutama menyangkut perambahan hutan mangrove secara illegal. Untuk
mengetahui tanggapan responden mengenai pemberian informasi tentang sanksi yang diberlakukan bagi pihak yang melanggar peraturan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.7 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Pemberian Informasi Sanksi Kepada Masyarakat Bagi Yang Merusak Hutan Mangrove.
No Tanggapan Responden Frekuensi ( F ) Persentase (%)
1 Sangat Baik 5 4,76 2 Baik 17 16,19 3 Cukup Baik 9 8,57 4 Kurang Baik 46 43,81 5 Tidak Baik 28 26,67 Jumlah 105 100%
Sumber : Hasil Penelitian 2012
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari 105 orang responden yang tanggapan responden menyatakan bahwa pemberian informasi mengenai sanksi yang diberikan kepada siapa saja yang merusak hutan mangrove di Kecamatan Rupat berada pada kategori Sangat Baik adalah sebanyak 5 orang atau 4,76% dan yang menyatakan Baik 17 orang atau 16,19%. Selain itu, tanggapan responden yang menyatakan Cukup Baik berjumlah 9 orang atau 8,57% dan yang menyatakan Kurang Baik berjumlah 46 orang atau 43,81%. Adapun tanggapan responden yang menyatakan Tidak Baik adalah sebanyak 28 orang atau 26,67%.
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa tanggapan responden yang menyatakan bahwa pemberian informasi mengenai sanksi yang diberikan kepada siapa saja yang merusak hutan mangrove di Kecamatan Rupat berada pada kategori Kurang Baik yaitu sebanyak 46 orang atau 43,81%.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkalis yaitu Bapak Drs. Ismail, MP beliau mengatakan bahwa :
“Pemerintah Kabupaten Bengkalis Melalui Dinas terkait yaitu Dinas Perkebunan dan Kehutanan sudah memberikan informasi akan sanksi yang diterima bila kedapatan merusak ekosistem dari hutan baik yang kecil maupun besar. Pemerintah sudah berkerja sama dengan media massa dan elektronik. Selain itu, pemerintah menempel pada papan-papan pengumuman seperti plang-plang dan pengumuman yang ditempel di tempat-tempat umum agar masyarakat bisa membaca dan mengerti akan adanya sanksi yang diterima bila kedapatan merusak ekosistem dari hutan”. (hasil wawancara dengan Bapak Drs. Ismail, MP pada Hari Senin Tanggal 5 Maret 2012).
Sedangkan melalui hasil wawancara penulis dengan Masyarakat di Desa Darul Aman yaitu Bapak Safuan mengatakan bahwa :
“Dalam memberikan informasi tentang sanksi, pemerintah tidak terjun secara langsung hanya sebatas plang-plang, dan mulut kemulut saja, tidak ada pemberitahuan secara langsung kepada masyarakat sehingga masyarakat awam yang tidak mengetahui akan adanya sanksi tersebut, masyarakat berfikir bahwa tidak ada peraturan yang mengharuskan mereka untuk tidak memanfaatkan hasil hutan mangrove untuk kepentingan mereka, selain itu bagi masyarakat yang mengetahui akan sanksi terlihat tidak perduli disebabkan mata pencaharian yang bergantung pada hasil dari hutan tersebut” (hasil wawancara dengan Bapak Safuan pada Hari Selasa Tanggal 15 Februari 2012)
Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pemerintah sudah memberikan informasi mengenai sanksi yang diberikan kepada siapa saja yang merusak hutan mangrove tetapi dalam memeberikan informasi tersebut pemerintah tidak langsung turun kelapangan hanya melalui media-media massa dan elektronik. Maka dari itu, pemerintah seharusnya selain dengan menggunakan media massa pemerintah juga harus turun sendiri kelapangan agar proses pemberian informasi mengenai sanksi bagi yang merusak hutan mangrove dapat
berjalan dengan baik. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam melakukan perlindungan hutan mangrove dalam rangka implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Hutan khususnya hutan mangrove yang ada di Kecamatan Rupat.
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang komunikasi yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis dalam rangka implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Hutan khususnya hutan mangrove di Kecamatan Rupat, penulis sajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.8 : Rekapitulasi Tanggapan Responden Mengenai Komunikasi Yang Dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis
Dalam
Rangka Implementasi PP Nomor 60 Tahun 2009
No Indikator Jawaban 105 Responden Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik 1 Mengadakan sosialisasi terhadap kebijakan tentang perlindungan hutan mangrove
6 18 10 43 28
2
Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
pentingnya melestarikan hutan mangrove
6 15 10 46 28
3
Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai sanksi bagi yang melanggar peraturan
5 17 9 46 28
Skor 17 (5) 50 (4) 29 (3) 135 (2) 84 (1)
Jumlah 85 200 87 270 84
Jumlah Skor 726
Interval skor 567 - 819 ( Kurang Baik )
Sumber : Data Olahan 2012
Dari tabel diatas,dapat diketahui bahwa 3 sub indikator yang diteliti dari indikator Komunikasi, tanggapan responden yang menyatakan Sangat Baik
berjumlah 85, kemudian yang menyatakan Baik sebanyak 200 dan yang menyatakan Cukup Baik berjumlah adalah 87, adapun yang menyatakan Kurang Baik adalah sebanyak 270 dan yang menyatakan Tidak Baik berjumlah 84. Kemudian bedasarkan penjumlahan dari 3 sub indikator yang diteliti, maka dapat diketahui bahwa indikator Komunikasi yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Bengkalis dalam rangka implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Hutan khususnya hutan mangrove di Kecamatan Rupat mendapat jumlah skor 726 dan dinyatakan dalam kategori
“Kurang Baik” (567 – 819).
Hasil tanggapan responden diatas sesuai dengan rangkuman hasil wawancara penulis dengan responden yaitu sebagai berikut :
1. pemerintah kurang serius dalam memberikan sosialisasi sehingga kerusakan dari ekosistem hutan mangrove tetap terjadi dan berkelanjutan,
2. jarangnya proses komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam memberikan informasi mengenai pentingnya melestarikan hutan mangrove,
3. pemerintah tidak langsung turun kelapangan hanya melalui media-media massa dan elektronik.