• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. AGAMA DAN BUDAYA DALAM KOMUNIKAS

2. Komunikasi Keluarga

Kathleen M Galvin (1986;10) dalam pendahuluan bukunya,

Family Communication: Cohesion and Change, mengisahkan cerita

masa kecilnya untuk menuju komunikasi keluarga;

Bagi saya, komunikasi berperan penting dalam per- kembangan hubungan dalam keluarga. Saya tumbuh di dalam keluarga yang mana masing- masing menjaga jarak

satu sama lain, baik secara fisik maupun secara emosional.

Dan ibukulah satu-satunya orang yang mengadakan komunikasi dengan orang lain. Ketika saya tumbuh dewasa, saya berjanji bahwa anak saya tidak akan pernah merasakan seperti yang dulu keluarga saya rasakan. Aku dan suamiku

berusaha keras untuk tetap menjaga kedekatan satu sama

lain, dan menyediakan kedekatan fisik dan emosional

dengan anak. Sering kali, kami mengalami saat-saat sulit tetapi kami selalu mengambil resiko dan kemudian kami berbagi satu sama lain. Sehingga kami mampu berkembang bersama dan tidak terpisah. Komunikasi menjaga kami untuk selalu bersama.”

Dari latar masa kecilnya ini kemudian ia mampu menjadi sosok akademisi yang memiliki perhatian secara khusus pada komunikasi keluarga. Bagi Galvin, keluarga sebagai sistem

komunikasi dengan pola yang teridentifikasi baik secara

kohesif maupun adaptif. Kohesi dalam artian membangun

pola keterpisahan dan keterhubungan. Kohesifitas yang terjadi

dalam komunikasi pada keluarga dilihat dari bagaimana menangani jarak atau kedekatan dapat secara langsung atau secara halus untuk terhubung atau terpisah dari anggota keluarga lainnya. Kohesi menyiratkan ikatan emosional yang dimiliki anggota keluarga satu sama lain dan tingkat otonomi yang dialami seseorang dalam jaringan keluarga karena setiap keluarga memiliki pola yang unik untuk berkomunikasi. Sementara adaptasi membangun komunikasi melalui seberapa baik antaranggota keluarga beradaptasi (Olson dalam Galvin

dan Brommel, 1986:12).

Selanjutnya Galvin dan Brommel (1986:46) menjelaskan

keseluruhan relasi dalam komunikasi keluarga akan membentuk pola komunikasi keluarga. Pola komunikasi keluarga

menekankan pada dua pola komunikasi, yaitu; pertama, aturan komunikasi yang mengharuskan suatu komunikasi terlaksana, berkaitan dengan tentang, siapa, apa, waktu, dan tempat komunikasi. Kedua, jaringan atau alur komunikasi yang melihat bagaimana cara anggota keluarga untuk berkomunikasi.

Keluarga adalah media untuk menyalurkan dan meluapkan aspirasi hati yang terpendam. Sebagai salah satu sarana untuk kontrol diri, cermin, inspirasi, motivasi, dan pembentukan pandangan. Untuk itu komunikasi dalam keluarga harus terjalin dengan baik dan terbuka untuk pencapaian karakter dalam pertumbuhan menjadi seseorang. Kualitas komunikasi anak sangat dipengaruhi oleh sejauh mana orang tua berkomunikasi kepadanya. Komunikasi akan sukses apabila orang tua memiliki kredibilitas di mata anaknya. Begitu pula komunikasi suami istri akan efektif bila keduanya telah saling percaya. Untuk mewujudkan efektivitas komunikasi keluarga diperlukan sikap respek (respectful attitude). Orang tua akan sukses berkomunikasi dengan anak bila ia melakukannya dengan penuh respek. Bila ini dilakukan maka anak pun akan melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan orangtua atau orang di sekitanya.

Dalam keluarga yang sesungguhnya, komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina, sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam serta saling membutuhkan. Keluarga merupakan kelompok primer paling penting dalam masyarakat, yang terbentuk dari hubungan laki-laki dan perempuan, perhubungan ini yang paling sedikit berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak- anak. Keluarga dalam bentuk yang murni merupakan kesatuan sosial yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak (Murdock

dalam Dloyana, 1995:11).

Pola komunikasi di setiap keluarga biasanya berbeda-beda tergantung pola mana yang paling sesuai untuk setiap keluarga.

Pola komunikasi keluarga menurut De Vito (2001:359-360) terdiri dari empat jenis yaitu; The Equality Pattern, The Balanced Split Pattern, The Unbalanced Split Pattern, dan Monopoly Pattern. Pada the equality pattern setiap pasangan atau anggota keluarga

memiliki peran yang sama dalam pengungkapan pendapat, mendengarkan atau meminta sesuatu. Pembagian peran tidak selalu sama dan satu sama lain dapat saling berganti peran. Meskipun dalam praktiknya yang disebut seimbang tidak selalu dapat dipraktikkan dan porsinya tidak selalu sama antara waktu ke waktu, namun pola ini masih dikatakan seimbang. The

balance split pattern adalah pola komunikasi yang memberikan peran seimbang pada setiap individu namun setiap individu memiliki porsi pada otoritasnya masing-masing. The unbalanced

split pattern adalah bentuk pola komunikasi di mana seorang pasangan atau anggota keluarga nampak lebih dominan. Individu tersebut menguasai lebih dari separuh keputusan dalam keluarga. Sedangkan pada pola the monopoly pattern, otoritas berada pada satu orang. Cara menyampaikan pesan cenderung bernada perintah atau mengajarkan dari pada berkomunikasi dan jarang bertanya kepada anggota keluarga yang lain, dan beranggapan selalu paling berhak menentukan keputusan akhir

Komunikasi dalam keluarga adalah bentuk komunikasi yang paling ideal. Karena walaupun terdapat hirarki antara orang tua dan anak, tapi tidak menyebabkan formalitas komunikasi di antara mereka. perbedaan latar belakang budaya, pendidikan, usia, kebiasaan dan kepribadian antar anggota keluarga khususnya suami istri tidak menjadi penghalang untuk berkomunikasi. Sejak sepasang insan menikah, komunikasi dua keluarga besar dimulai secara intensif.

Namun pada kenyataannya, tidak semua keluarga dapat

memenuhi gambaran ideal sebuah keluarga yang baik. Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya dewasa ini telah banyak memberikan hasil yang menggembirakan dan berhasil

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian

membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi keluarga. Kondisi ini dapat menyebabkan komunikasi dan interaksi antara sesama anggota keluarga menjadi kurang intens.

Hubungan kekeluargaan yang semula kuat dan erat, cenderung

longgar dan rapuh.

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Untuk belajar menghormati orang yang lebih tua serta membantu menyelesaikan berbagai masalah yang timbul. Orang tua diharapkan dapat membantu anaknya dalam menyesuaikan diri dengan lingkunganya untuk mengatasi masalahnya secara realistik dan simpati. Oleh karena itu, keluarga sebagai tempat untuk mengkondisikan pemberian nilai positif pada anak.

Pentingnya komunikasi anak dengan orang tua karena dalam komunikasi itu didapatkan kasih sayang, rasa aman, dan perhatian dari orang tua yang tidak ternilai harganya. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan anak, seperti kebutuhan pangan, sandang, dan pendidikan, dan lain sebagainya, karena semua itu adalah tanggung jawab orang tua yang telah melahirkannya.

Komunikasi keluarga tidak sama dengan komunikasi antaranggota kelompok biasa. Komunikasi yang terjadi dalam suatu keluarga tidak sama dengan komunikasi keluarga yang lain. Setiap keluarga mempunyai pola komunikasi tersendiri. Relasi antara anak dan orang tua menunjukkan adanya keragaman yang luas. Relasi orang tua dan anak dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap orang tua. Sikap yang berhubungan dengan afeksi dan dominasi karena ada orang tua yang mendominasi, yang memanjakan, acuh tak acuh dan ada orang tua yang akrab, terbuka, bersahabat. Sikap orang

tua yang berhubungan dengan ambisi dan minat yaitu sikap orang tua yang mengutamakan sukses sosial, keduniawian, suasana keagamaan dan nilai-nilai artistik. Sementara secara emosional pola komunikasi keluarga dapat berpengaruh pada perkembangan anak. Emosi anak akan bersifat positif apabila di dalam keluarga terdapat budaya komunikasi yang demokratis. Sikap demokratis dalam keluarga ditandai oleh adanya peraturan dan kebebasan, sehingga setiap anak akan mengetahui bahwa setiap tindakan mengandung konsekuensi. Jadi perkembangan emosi yang baik sangat memerlukan adanya suasana kebebasan individu yang bertanggungjawab, terbiasa hidup mandiri, dan kebiasaan yang mengikuti keteraturan dalam hidup bermasyarakat. Guna mencapai tahap tersebut, perlu dilakukan sosialisasi nilai dalam keluarga sejak dini mungkin.

Kemudian sikap empati. Sikap empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain. Syarat utama dari sikap empati adalah kemampuan untuk mendengar dan mengerti orang lain, sebelum didengar dan dimengerti orang lain. Orang tua yang baik tidak akan menuntut anaknya untuk mengerti keinginannya, tapi ia akan berusaha memahami anak atau pasangannya terlebih dulu. Ia akan membuka dialog dengan mereka, mendengar keluhan dan harapannya. Mendengarkan di sini tidak hanya melibatkan indra saja, tapi melibatkan pula mata hati dan perasaan. Cara seperti ini dapat memunculkan rasa saling percaya dan situasi yang saling keterbukaan dalam keluarga.

Komunikasi yang hangat adalah satu hal terpenting

dalam keluarga. Bahkan dalam situasi sulit. Tentu sangat

masuk akal, karena hampir sebagian besar waktu digunakan untuk berkomunikasi. Baik tidaknya sebuah keluarga, sangat

dipengaruhi baik tidaknya komunikasi yang ada di dalamnya. Komunikasi keluarga tidak hanya terbatas pada penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak lain, akan tetapi yang paling mendasar adalah proses lancarnya komunikasi itu sendiri dalam suasana saling percaya. Sebaik apapun materi komunikasi, bila tidak dilandasi rasa saling percaya, maka komunikasi akan menjadi sulit dan tidak efektif.

Secara empirik komunikasi keluarga yang memiliki masalah sosial dapat ditemukan dalam studi Oscar Lewis, dengan judul Five Families, Mexican Case Studies in the Culture of Poverty (Publishers New York 1959). Buku yang diterjemahkan

ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kisah Lima Keluarga; Telaah-telaah Kasus Orang Meksiko Dalam Kebudayaan Kemiskinan,

tahun 1988 ini adalah sebuah bentuk publikasi penelitian yang etnografis. Lewis dengan elegan menggambarkan kondisi

yang faktual tentang kemiskinan yang terjadi di masyarakat Meksiko dengan mengambil lima keluarga sebagai informan. Keterlibatan Lewis dalam dan bersama hari-hari informannya hampir tidak ada sektor kehidupan yang terlewatkan, terlebih tentang proses perputaran perekonomian keluarga-keluarga tersebut.

Adalah kemiskinan yang menjadi titik sentral dari penelitian Lewis. Akan tetapi melalui tulisan atau laporannya Lewis seakan tidak langsung menanyakan dan menafsir sendiri tentang nasib perekonomian setiap keluarganya, akan tetapi data dengan sendirinya keluar dari bentuk bahasa- bahasa interaktif dan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk menyokong kehidupan yang terjadi pada keluarga-keluarga tersebut.

Seperti biasa, pada kebanyakan peneliti, pada awal laporannya menggambarkan tentang setting penelitiannya. Begitu juga Lewis, dengan cermat mendeskripsikan keadaan

vecindad, patio, atau rumah yang sangat kecil yang terdiri dari dua petak ruangan dan satu kamar mandi. Rumah yang sangat sempit itu digambarkan oleh Lewis sebagi pusat kegiatan

keluarga; tidur yang kadang kala kaki salah satu anggota

keluarga berada di hidung atau kepala anggota keluarga

lainnya; makan di meja sehingga mengurangi luasnya ruang

dapur yang sudah sempit, sementara suara aktivitas di kamar

mandi yang kadang mengganggu selera makan; dan aktivitas

lainnya yang hadir dari setiap anggota keluarga.

Interaksi dan perilaku anggota dari setiap keluarga terbahasakan melalui kalimat-kalimat langsung dari percakapan sederhana, perselisihan, kegembiraan, prihatin, rasa kecewa, dan yang lebih mendominasi adalah ungkapan- ungkapan nilai harga dari sebuah barang dengan jumlah uang. Dengar ketika sang ibu menceritakan tentang harga sebuah gaun di pasar yang harganya selangit, tambah lagi keterasingan dari dunia modern yang tidak pernah mereka kunjungi.

“Dengar, nak,” lanjut Rosa, “tahukah kamu bahwa Angelica bahkan tidak mengenali jalan-jalan dibanding dengan mama? Mama selalu harus mengatakan, ‘mari kita pergi ke sini. Dan sekarang mari pergi ke sana.’ Angelica

hanya mengatakan, ‘ke mana kita pergi?’ Nah, dia

mengatakan bahwa dia ingin gaun yang bagus dan mereka memperlihatkan gaun yang sangat mahal harganya –

seharga 500 peso. Kami menawarnya 140 peso, kami hanya

mempunyai uang sebanyak itu, tetapi mereka menolak. Memang barang-barang di tokok itu mahal sekali. Gila mereka kalau mereka mengira mama akan mengeluarkan begitu banyak uang untuk mengenakan sepotong

busana gombal itu. Tidak mungkin! Tetapi Angelica –ia

mengatakan bahwa ia ingin sekali sebuah busana gaun yang bagus.”

Lalu akhirnya ia membeli atau tidak?” Tanya Hector. “Bagaimana bisa, gaun-gaun itu mahal sekali!” Rosa

beranjak sambil mengatakan, ” ayo, nak, mari kita sarapan.”

Hector duduk di dekat meja dan Rosa mulai memberinya

sisa-sisa huazontle (kembang dari tanaman liar yang telah digoreng oleh Rosa dengan diberi keju di dalam adonan telurnya).

Kemiskinan bagi masyarakat umum, begitu juga bagi beberapa keluarga di Meksiko adalah fenomena kehidupan yang sarat dengan problematika dan disadari sebagai bagian dari timbulnya persoalan-persoalan kehidupan lainnya. Privatisasi yang tidak terjaga karena struktur ruang rumah yang sempit yang disebabkan ketidakmampuan untuk memiliki hunian yang ideal atau layak, terganggunya hidup

sehat yang ditengarai oleh kurangnya asupan gizi, lingkungan

yang semraut, atau tidak tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan dalam kehidupan.

Kemiskinan bukan saja diukur dengan tidak memilikinya sama sekali akan materi atau uang. Kemiskinan dapat terjadi pada mereka yang memiliki materi atau uang, akan tetapi kepemilikan akan barang atau uang tersebut belum mampu menutupi secara menyeluruh apa yang dibutuhkan. Lewis

(1988:248) menuliskan;

Di dalam pasar Antonia pergi ke kedai-kedai tempat orang menjual viscera. Ia memutuskan untuk membeli satu kilo hati untuk makan malam, karena sekarang sudah agak terlambat, dan hati dapat cepat disiapkan dengan

menggorengnya bersama bawang merah. Hari ini telah

mengabil uang dari tabungan Francisco dan dapat membeli

daging; seringkali keluarga itu hanya makan nasi goreng

Antonia merasa capai dan mencoba mendirikan bayinya di depannya sambil berbelanja, tetapi anaknya itu yang masih setengah tidur, merengek dan ibunya menggendongnya lagi. Ia membeli kepala susu, dua kilo tomat, dan sekilo bawang merah. Di kedai buah-buahan ia membeli dua

potong nanas dam 1,5 kilo pisang. Keluarga itu biasanya

menggoreng pisang dan kepala susu. Mereka menyukai hidangan itu dan seringkali menggunakannya sebagai pengganti daging. Ia juga membeli minyak goreng, setengah kilo bakmi, dan di kedai mainan ia membeli dua keledai mainan yang hanya seharga 10 centavo. Belanjanya yang

terakhir adalah gula-gula untuk semua keluarg -40 centavo

coklat dan permen 20 centavo. Ia telah membelanjakan 11

peso dan 40 centavo.

Buku Kisah Lima Keluarga hubungannya dengan pe- nelitian saya adalah terletak pada metode penelitian dengan

pelaporannya yang etnografis dan subjek telitinya yang terfokus

pada keluarga. Disadari secara kasat mata memang konten atau temanya tidak ada kaitannya dengan penelitia yang akan saya lakukan. Lewis memotret fenomena

3. Keluarga dalam Komunikasi Antarbudaya: Pemeluk

Dokumen terkait