• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

C. Komunikasi Perawat Pasien

Komunikasi terapeutik yaitu komunikasi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang dilakukan secara sadar, tujuan dan kegiatan difokuskan untuk kesembuhan pasien (Afnuhazi, 2015). Komunikasi terapeutik yaitu pengalaman interaktif perawat dengan pasien dalam komunikasi dengan tujuan untuk memecahkan masalah yang dialami pasie (Machfoedz, 2009). Komunikasi terapeutik merupakan hubungan timbal balik antara pasien dengan perawat dalam pelayanan keperawatan, yang merupakan komunikasi

12

profesional perawat (Puwaningsih, Karlina, 2010). Menurut Intan dalam (Damaiyanti, 2010), Komunikasi terapeutik yaitu segala sesuatu yang membantu proses penyembuhan. Yang dilakukan secara sadar untuk kesembuhan pasien.

Teori yang dikembangkan Hildegard E. Peplau adalah Psychodynamyc Nursing yaitu merupkan kemampuan untuk memahami perilaku seseorang untuk membantu mengidentifikasi kesulitan yang dirasakan guna mengaplikasikan prinsip-prinsip kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah-masalah yang muncul dari semua hal atau kejadian yang telah dialami. Model konsep dan teori Hildegard E. Peplau menjelaskan tentang kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral :

1. Pasien

Sistem yang berkembang yang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman. Pasien adalah subjek yang langsung dipengaruhi oleh adanya proses interpersonal.

2. Perawat

Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat parsipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Hal ini berarti dalam hubungannya dengan pasien, perawat menjadi mitra kerja, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.

3. Masalah Kecemasan

Kecemasan disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman interpersonal yang lalu dengan yang sekarang, kecemasan terjadi apabila komunikasi dengan oranglain mengancam keamanan psikologi dan biologi individu. Dalam model peplau ansietas merupakan konsep yang berperan penting karena berkaitan langsung dengan kondisi sakit.

4. Proses interpersonal

Perawat dan pasien menggambarkan metode transpormasi energi atau ansietas pasien oleh perawat yang terdiri dari 4 fase. Peplau mengidentifikasi empat tahapan hubungan interpesonal yang saling berkaitan yaitu orientasi, identifikasi, eksploitasi, resolusoi. Setiap tahap saling melengkapi dan berhubungan sebagai satu proses untuk penyelesaian masalah.

Prinsip dasar komunikasi terapeutik Menurut (Afnuhazi, 2015) yaitu hubungan perawat dengan klien merupakan hubungan terapeutik yang saling menguntungkan satu sama lain. Perawat wajib menghargai keunikan pasien. Komunikasi yang dilakukan dapat menjaga dirinya dan mampu menjaga perasaan penerima. Dan mampu menciptakan hubungan saling percaya sebelum memulai menggali informasi mengenai permasalahan yang ada pada pasien untuk mencari dan memberikan alternatif solusi.

Menurut Purwanto (dalam (Damaiyanti, 2010)), Tujuan komunikasi terapeutik yaitu pertama, membantu pasien untuk memeperjelas dan mengurangi beban perasaan pasien dan pikiran dan dapat mengambil

14

keputusan dengan tepat. Kedua, mengurangi keraguan, membantu untuk mengambil keputusan yang tepat dan mempertahankan kekuatan egonya. Ketiga, mempengaruhi lingkungan fisik, orang sekitar, dan dirinya sendiri.

Menurut (Suryani, 2015), karakteristik perawat yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan terapeutik yaitu :

1. Tidak membingungkan dan ekspresif, dalam berkomunikasi dengan pasien, perawat sebaiknya menggunakan bahasa atau kata-kata yang mudah dipahami oleh pasien. Komunikasi nonverbal harus mendukung komunikasi verbal. Karena ketidak sinambungan akan beraktibat pasien mengalami kebingungan.

2. Kejujuran merupakan modal utama dan sangat penting, karena apabila tidak kejujuran tidak dibentuk maka mustahil untuk terbinanya hubungan saling percaya pasien dengan perawat. Sebagai perawat harus dapat menjaga kejujuran karena apabila melakukan suatu kesalahan atau kejujuran tidak dapat dilakukan maka pasien kan merasa dirinya dibohongi, pura-pura patuh, benci dengan perawatnya.

3. Bersikap positif, sikap yang hangat, perhatian, dan menghargai orang lain merupakan cara yang dapat ditunjukan untuk bersikap positif.

4. Empati bukan simpati, empati dapat memberikan alternatif pemecahan masalah, karena perawat dapat merasakan apa yang dirasakan pasien, tetapi tidak sampai ikut larut Dalam masalah tersebut.

5. Mampu melihat permasalahan pasien dari kacamata pasien, perawat memberikan asuhan keperawatan harus berorientasi pada pasien, melihat

masalah yang dihadapi pasien dan memahami bagaimana pasien memandang masalahnya tersebut. Perawat harus mendengarkan dengan aktif, berbicara dengan aktif dan kesabaran.

6. Menerima pasien apapun kondisinya, seseorang akan merasa aman dan nyaman dalam menjalin hubungan jika seseorang mampu menerima dengan tulus.

7. Sensitif pada perasaan pasien, jika perawat tidak sensitif pada pasien, perawat dapat menyinggung perasaan pasien, privacy.

8. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu pasien ataupun dirinya sendiri, apabila seorang perawat larut dalam masala lalunya maka sangat mustahil untuk dapat membantu pasien, jika dalam dirinya memiliki banyak masalah. Menurut (Keliat, 2011), Fase dalam komunikasi terapeutik ada empat yaitu fase pre interaksi, merupakan tahap persiapan, dimana perawat harus mengekspolasi diri terhadap perasaan-perasaan cemas, takut, ragu dan kemampuan dirinya. Fase orientasi, fase dimana perawat pertama kali bertemu dengan pasien. Dengan terbinanya hubungan saling percaya akan membentuk keterbukaan dalam berkomunikasi. Fase kerja, tahap inti dimana akan banyak dilakukan komunikasi terapeutik. Perawat pada fase ini betugas melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan. Pada fase ini perawat dan pasien mengatasi masalah yang dihadapinya. Fase terminasi, fase dimana perawat mengakhiri interaksinya dengan pasien. Terminasi merupakan tahap yang sulit namun penting, pada tahap ini merupakan fase dimana dapat merubah perasaan dan mengevaluasi kemajuan pasien.

16

Menurut (Afnuhazi, 2015), hambatan komunikasi terapetutik antara lain resisten, usaha yang dilakukan pasien untuk tidak menyadari penyebab cemas yang dialaminy. Sikap perilaku resisten ditunjukan saat fase kerja. Transferens, respon tidak sadar dimana pasien mengalami perasaan dan sikap pada perawat karena berkaitan dengan tokoh dalam masa lalunya. Kontertransferens, kebutuhan terapeutik mengarah pada respon emosional spesifik yang tidak tepat dalam isi konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi.

Teknik komunikasi terapeutik meliputi mendengar aktif, proses aktif menerima informasi dan mempelajari respons seseorang terhadap pesan yang diterima. Pertanyaan terbuka, memberikan pertanyaan yang pasien dapat mengungkapkan masalahnya. Restating, mengulangi apa yang difikirkan pasien yang diekspresikan dengan kata-kata sendiri. Refleksi, mengulang kembali apa yang di pikirkan pasien. Validasi, perawat berusaha menjelaskan kata-kata atau ide yang tidak jelas dikatakan oleh pasien. Focusing, metode yang digunakan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga menjadi lebih spesifik dan dipahami. Sharing persepsi, meminta pasien untuk memastikan apa yang dipahami perawat sesuai dengan apa yang difikirkan pasien. Diam, memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengutarakan pikirannya. Dengan diam pasien dapat berkomunikasi dengan diri sendiri, mengatur pikiran dan memproses informasi. Identidfikasi tema, Menyatakan masalah yang sering terjadi. Humor, pengeluaran energi memlalui candaan. Kenyataan hasil observasi, menjelaskan kesan yang timbul oleh isyarat non verbal pasien.

Memberi penghargaan, memberikan pujian atas usaha kerasnya. Namun jangan sampai klien berusaha terlalu keras dan melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan pujian. Memberi kesempatan kepada kalien untuk memulai pembicaraan. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan. Memberikan kesempatan pada klien untuk menguraikan persepsinya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik yaitu Perkembangan, agar komunikasi dapat efektif seorang perawat harus memahami pengaruh perkembangan usia, baik bahasa maupun pola pikir. Persepsi, cara pandang seseorang pada suatu peristiwa atau kejadian yang dibentuk berdasarkan harapan dan pengalaman individu. Nilai, Standar yang mempengaruhi perilaku. Nilai tersebut dianggap penting dan dipengaruhi oleh pemikiran dan ide. Latar belakang sosial budaya, budaya mempengaruhi cara komunikasi karena mengandung unsur cara berfikir, berbuat, merasakan, bahasa, pembawan, nilai dan gerak tubuh sesuai daerah atau budaya masing-masing. Emosi, perasaan subjektig yang dimiliki seseorang ketika menghadapi sebuah peristiwa. Jenis kelamin, cara berkomunikasi lelaki dan perempuan berbeda dan satu sama lain mempengaruhi proses komunikasi secara unik. Pengetahuan, mengelompokan suatu kelompok masyarakat atau individu berdasarkan cara berfikir, berbuat sebahagi hasil dari unit pengetahuan yang sudah diberikan. Pengetahuan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, seperti mengirim pesan. Pendidikan, seseorang yang memiliki pendidikan tinggi akan semakin besar keinginannya untuk Meningkatkan produktivitas kerja dan mengembangkan kemampuannya. Seseorang yang

18

berpendidikan tinggi akan lebih mampu dan bersedia menerima posisi dan tanggung jawab yang diberikan. Peran dan hubungan, gaya komunikasi disesuaikan dengan lawan berbicaranya. Cara perawat berkomunikasi dengan pasien akan berbeda dengan cara berkomunikasinya dengan perawat. Lingkungan, lingkungan akan mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi, situasi atau kondisi yang tidak nyaman akan menimbulkan ketidaknyamanan. Jarak, sangat berpengaruh dalam komunikasi karena jarak akan memberikan rasa aman dan kontrol.

Dokumen terkait