• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

B. Analisis Data

1. Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik adalah proses hubungan antara klien dan konselor yang mempunyai nilai-nilai penyembuhan dan akhirnya dapat mencapai tujuan

konseling (Saam, 2013:11). Pembahasan mengenai konsep komunikasi terapeutik tidak dapat terlepas dari hubungan terapeutik. Hubungan terapeutik menjadi dasar bagi klien untuk merasa dimengerti, nyaman dalam mendiskusikan masalah, mengeksplorasi cara yang tepat dalam memenuhi kebutuhan emosional, dan mengembangkan hubungan yang memuaskan (Setyoadi dan Kushariyadi, 2011: 20).

Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling kebutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi diantara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Purwanto, 1994:20).

a. Fungsi

Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkapkan perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan. Proses komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien untuk dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan. Sedangkan pada tahap preventif kegunaanya adalah mencegah adanya tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien (hal 21).

b. Tujuan

Menurut Stuart, G.W. (1998) tujuan hubungan terapeutik difokuskan pada pertumbuhan klien yang meliputi: Pertama, realisasi diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri. Kedua, rasa identitas individu yang jelas dan peningkatan intergritas diri. Ketiga, kemampuan dalam membina hubungan interpersonal yang dekat dan saling tergantung dengan kapasitas untuk mencintai atau dicintai. Keempat, peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan individu yang realistis (Setyoadi dan Kushariyadi, 2011:19).

c. Teknik-teknik Komunikasi Terapeutik

Dalam menanggapi pesan yang disampaikan pasien, seorang terapis dapat menggunakan teknik komunikasi terapeutik. Adapun teknik-teknik komunikasi terapeutik menurut Heri Purwanto, 1994, dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Untuk Perawat menjelaskan bahwa ada beberapa teknik dalam komunikasi terapeutik. Teknik-teknik tersebut antara lain: 1) Mendengarkan dengan aktif

Menjadi pendengar yang baik merupakan ketrampilan dasar dalam melakukan hubungan perawat terhadap pasien. Dengan demikian perawat dapat mengetahui perasaan dan pikiran pasien. Selama mendengarkan, secara aktif perawat mengikuti apa yang dibicarakan pasien dan memperhatikan perhatiannya. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan pasien.

2) Memberi kesempatan kepada pasien untuk memulai pembicaraan Pasien yang terdorong melalui komunikasi terbuka tidak akan kehilangan kebebasannya sebaliknya mereka mendapatkan kebebasan untuk menghargai pandangan dan cara hidupnya dalam cara-cara baru (Abraham & Shanley, 1997:97). Bagi pasien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang peranannya dalam suatu interaksi, maka perawat dapat mengarahkan pasien.

3) Memberikan penghargaan

Memberikan salam kepada pasien dengan menyebutkan namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi, menghargai pasien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu.

4) Mengulang kembali

Menunjukkan bahwa pendamping sedang mendengarkan, memvalidasi, menguatkan, dan mengembalikan perhatian pada sesuatu yang telah diucapkan pasien (Setyoadi dan Kushariyadi, 2011:29). 5) Refleksi

Refleksi (reflection) adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan dan isi pembicaraan kepada klien. Tujuan refleksi adalah untuk melakukan validasi terhadap pengertian penerapi tentang apa yang diucapkan klien, serta melakukan empati, minat, dan penghargaan klien.

6) Klarifikasi

Teknik ini untuk menjelaskan upaya dalam membantu mengungkapan pikiran yang dikemukakan pasien yang kurang jelas bagi perawat, agar tidak terjadi salah pengertian.

7) Mengarahkan pembicaraan

Perawat membantu pasien untuk memfokuskan pembicaraan agar lebih spesifik dan terarah. Biasanya teknik ini diperlukan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang suatu masalah. 8) Membagi persepsi

Teknik ini digunakan perawat untuk mengungkapkan persepsinya tentang pasiennnya dan meminta umpan balik dari pasien. 9) Diam

Max Picard menyatakan bahwa diam tidak semata-mata mengandung arti bersikap negatif, tetapi juga melambangkan sikap positif. Banyak orang mengambil sikap diam karena tidak mau menyatakan sesuatu yang menyakitkan orang lain. (Cangara, 1998: 115).

10) Memberi informasi

Memberikan informasi kepada pasien mengenai hal-hal yang belum diketahuinya atau bila pasien bertanya memberikan informasi. Teknik ini juga sebagai suatu cara untuk membina hubungan saling percaya dengan pasien sehingga menambah pengetahuan pasien

yang akan berguna baginya untuk mengambil keputusan secara realistik.

11) Memberi saran

Bryne dan long menekankan pentingnya memberi saran pada pasien dan menjalin rasa percaya. Cara ini penting untuk mempengaruhi kesan pertama pada pendamping yang pada kebalikannya menentukan keinginan pasien untuk mendiskusikan masalahnya (Abraham & Shanley, 1997:106).

12) Eksplorasi

Teknik ini berguna untuk menggali lebih dalam ide-ide, pengalaman, masalah pasien yang perlu diketahui. Dengan menggunakan teknik-teknik komunikasi terapeutik, maka akan mengembangkan hubungan komunikasi yang terjalin antara pendamping dengan pasien, apa yang dialami oleh pasien, pendamping dapat mengerti serta memahaminya, sehingga pasien akan merasa dihargai sepenuhnya.

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2002:3). Penelitian ini bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat

fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu (Azwar, 2007:7). Dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk mendeskripsikan komunikasi terapeutik yang diterapkan oleh pendamping kepada pasien trauma di Rifka Annisa Yogyakarta. Berdasarkan pada definisi di atas, maka istilah pendampingan dalam penelitian ini lebih ditekankan pada kegiatan seorang pendamping dalam membantu pasien trauma pelecehan seksual sebagai yang didampingi dalam rangka pemulihan kembali kondisi pasien trauma sehingga pasien tersebut mampu untuk menjalani aktifitas seperti remaja normal lainnya.

2. Lokasi

Lokasi penelitian berada di Rifka Annisa WCC Jl. Jambon 4 No. 69A, Kompleks Jatimulyo Indah, Daerah Istimewa Yogyakarta.

3. Informan

Informan yaitu orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong, 2002:90). Teknik pengambilan informan menggunakan teknik bola salju (snowball sampling) yaitu pendekatan untuk menempatkan informan yang kaya dari informasi kecil atau kasus kritis (Puspo, 2009:89). Dalam penelitian ini informannya sebagai berikut:

a. Pendamping dipilih melalui beberapa tahap dan rekomendasi dari Rifka Annisa Yogyakarta. Informan pendamping I dalam penelitian ini adalah Novia Dwi Rahmaningsih, salah seorang pendamping yang sudah 2 tahun lebih menjadi pendamping di Rifka Annisa khususnya

mengenai pelecehan seksual terhadap remaja. Novia Dwi Rahmaningsih menjadi pendamping untuk pasien remaja perempuan karena usia beliau juga yang masih 24 tahun hingga lebih bisa mengajak pasien remaja berkomunikasi dengan baik. Cara yang sering dilakukan oleh Novia Dwi Rahmaningsih adalah berbicara dengan

bahasa „terkini‟ remaja tersebut dan juga tentang pengalamannya yang hampir sama dengan pasien (Wawancara Novia, pendamping di Rifka Annisa, 31 Mei 2016).

Informan pendamping kedua bernama Budi Wulandari yang biasa dipanggil Mbak Wulan, beliau merupakan pendamping yang sudah cukup lama bekerja di Rifka Annisa yaitu dari sejak mei 2011 sampai sekarang dan saat ini menjadi tahun ke enam bagi beliau. Mbak Wulan dipilih menjadi informan pada penelitian ini karena sudah mempunyai banyak pengalaman mengenai pendampingan bagi korban kekerasan seksual remaja khususnya dibidang psikologi. Wanita yang berusia 28 tahun ini juga lulusan di jurusan psikologi. Cara yang sering dilakukan oleh Wulan kepada remaja yang menjadi korban pelecehan seksual adalah menggunakan istilah curhat dalam pendekatannya, sehingga remaja lebih mudah untuk berdikusi (Wawancara, Budi Wulandari, pendamping di Rifka Annisa, 13 Juni 2016).

b. Merupakan klien perempuan korban pelecehan seksual dampingan Rifka Annisa dengan usia 15-19 tahun. Usia tersebut merupakan rentan terhadap berbagai tindak kekerasan maupun pelecehan seksual dalam

realitas kehidupan saat ini dan juga usia yang paling banyak ditangani Rifka Annisa dalam kasus pelecehan seksual.

No Pendamping Pasien

1. Novia Dwi

Rahmaningsih

Bunga (nama samaran)

2. Budi Wulandari Mawar (nama samaran)

Tabel 1. „Daftar nama informan penelitian‟

4. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara (interview)

Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara

(interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto,

1993:126). Data utama dari penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan. Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada subyek atau informan yang mengarah kepada fokus penelitian. Sebelum dilakukan wawancara peneliti terlebih dahulu menyusun garis besar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada informan. Dalam penelitian ini peneliti bebas menanyakan segala sesuatu hal kepada pendamping di Rifka Annisa secara langsung. Namun karena keterbatasan penelitian, untuk informan klien korban pelecehan seksual peneliti menggunakan tulisan yang berisi intervieuw guide yang akan diberikan oleh pendamping kepada klien tersebut. Jadi peneliti tidak bisa secara langsung mewawancarai klien yang

bersangkutan dikarenakan merupakan peraturan dari Rifka Annisa yang tidak membolehkan pihak luar bertemu dengan pasien guna menjaga keprivasian rahasia pasien, terlebih lagi peneliti yang seorang lelaki.

b. Studi Pustaka

Dalam pengumpulan data ini, teknik yang digunakan adalah studi pustaka, yaitu mengolah data yang diperoleh dari literatur-literatur seperti buku, majalah, surat kabar, internet, dan berbagai tulisan yang berhubungan dengan penelitian.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar (Moleong, 2002:103). Teknik analisis data menggunakan tahap-tahap sebagai berikut:

a. Pengumpulan data

Pengumpulan data yang dilakukan adalah pengumpulan hasil data penelitian yang diperoleh di lapangan pada saat dilakukan penelitian. Seperti hasil dari melakukan wawancara, arsip, atau dokumentasi yang diperoleh dari hasil penelitian.

b. Reduksi data

Setelah data terkumpul, kemudian data-data tersebut direduksi. Reduksi data yang akan dilakukan peneliti adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, dan memfokuskan pada hal-hal-hal-hal yang penting sesuai dengan

tema dan pola yang dicari. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti dalam pengumpulan data selanjutnya.

c. Penyajian data

Penyajian data dilakukan dengan menggambarkan fenomena atau keadaan sesuai dengan data yang telah direduksi terlebih dahulu. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat yang bersifat narasi.

d. Kesimpulan

Kesimpulan adalah hasil dari permasalahan penelitian yang telah diteliti di Rifka Annisa WCC mengenai komunikasi terapeutik pada pendampingan korban pelecehan seksual. Kesimpulan menjelaskan butir-butir temuan (hasil penelitian dan bahasan) yang disajikan secara singkat dan jelas.

6. Uji Validitas Data

Dalam melakukan uji validitas data, peneliti menggunakan triangulasi. Triangulasi yaitu teknik pengecekan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002:178). Teknik triangulasi yang digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya, jadi data yang dibutuhkan tidak hanya dari satu sumber saja, tetapi berdasar dari sumber lain yang terkait dengan subyek penelitian. Cara triangulasi ini juga memperoleh data dengan jalan membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara yang diperoleh dari penelitian.

BAB II

DESKRIPSI UMUM RIFKA ANNISA WOMEN CRISIS CENTER YOGYAKARTA

A. Sejarah Pendirian

Rifka Annisa Women Crisis Center yang berarti „Teman Perempuan‟

adalah Organisasi non pemerintah yang berkomitmen pada penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Didirikan pada 26 Agustus 1993. Organisasi ini berdiri karena keteguhan hati beberapa aktivis perempuan di Yogyakarta, Indonesia, diantaranya Suwarni Angesti Rahayu, Sri Kusyuniati, Latifah Iskandar, Desti Murdijana, Sitoresmi Prabuningrat dan Musrini Daruslan. Para perempuan aktivis ini bermaksud untuk menyediakan dukungan untuk perempuan korban kekerasan. Gagasan pendirian organisasi ini muncul dari kepedulian yang dalam terhadap kecenderungan budaya patriarkhi yang pada satu sisi memperkuat posisi laki-laki dan memperlemah posisi perempuan pada sisi yang lain. Sebagai akibatnya perempuan menjadi rentan terhadap kekerasan seperti perkosaan, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya.

Banyak perempuan korban kekerasan telah mengadu ke Rifka Annisa sejak awal pendirian organisasi ini. Selain menyediakan layanan untuk perempuan korban kekerasan (sebagai pusat krisis untuk perempuan), baru-baru

ini Rifka Annisa menetapkan untuk menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia

(Company Profile Rifka Annisa, hal 5).

B. Letak Geografis

Rifka Annisa Women Crisis Center Yogyakarta mereupakan organisasi non pemerintah yang berusaha dan berkomitmen mendampingi perempuan korban kekerasan serta membantu dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan yang saat ini memiliki kantor yang terletak di Jl. Jambon IV, Kompleks Jatimulyo Indah, Yogyakarta 55242 Indonesia.

Gambar 1. „Gedung Rifka Annisa Women Crisis Center tampak dari depan‟

Adapun batas-batas gedung kantor Rifka Annisa Women Crisis Center Yogyakarta adalah sebagai berikut:

Sebelah utara : Perbatasan Kota Yogyakarta Sebelah timur : Karangwaru

Sebelah selatan : Tegalrejo Sebelah Barat : Mlati

C. Visi dan Misi a) Visi

Mewujudkan tatanan masyarakat yang adil gender yang tidak mentolerir kekerasan terhadap perempuan melalui prinsip keadilan sosial, kesadaran dan kepedulian, kemandirian, integritas yang baik dan memelihara kearifan lokal.

b) Misi

Mengorganisir perempuan secara khusus dan masyarakat secara umum untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan menciptakan masyarakat yang adil gender melalui pemberdayaan perempuan korban kekerasan, termasuk di dalamnya anak-anak, lanjut usia, dan diffable, meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui pendidikan kritis dan penguatan jaringan (Company Profile Rifka Annisa, hal 07)..

D. Tujuan

1) Menyediakan layanan konseling untuk perempuan dan anak korban kekerasan.

2) Mengorganisir masyarakat untuk dapat menangani masalan kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di komunitas mereka sendiri.

3) Melakukan gerakan strategis untuk menciptakan perubahan kebijakan bai di tingkat nasional maupun daerah.

4) Memperkuat jaringan dengan menyediakan layanan yang lain untuk perempuan dan anak korban kekerasan serta organisasi-organisasi rakyat. 5) Memperkuat kapasitas internal dan eksternal.

6) Pemberdayaan ekonumi untuk perempuan korban (Company Profile Rifka Annisa, hal 08).

E. Layanan

Sebagai pusat krisis untuk perempuan dan pusat pengembangan sumber daya manusia Rifka Annisa Women Crisis center menyediakan beberapa layanan (Company Profile Rifka Annisa, hal 09). Diantara layanan yang disediakan adalah sebagai berikut :

1. Konseling atau konsultasi psikologis. Layanan ini dapat dilakukan melalui beberapa cara diantara tatap muka, melalui telepon, surat (baik elektronik maupun surat biasa), dan kunjungan rumah untuk perempuan korban kekerasan.

2. Pendampingan hukum yang meliputi konsultasi dan pendampingan hukum dalam proses-proses peradilan apabila klien memutuskan untuk membawa masalahnya ke pengadilan.

3. Penyediaan rumah aman untuk perempuan korban kekerasan apabila terancam keselamatannya atau tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan komunitas.

4. Outreach atau yang lebih dikenal dengan layanan pro-aktif. Yakni sebuah

cara yang dapat digunakan oleh konselor untuk melakukan konseling untuk perempuan korban kekerasan.

5. Konseling untuk laki-laki pelaku perkosaan. Sejak tahun 1997 Rifka Annisa menganggap bahwa laki-laki adalah mitra potensial dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sehingga Rifka Annisa melibatkan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap

perempuan. Program atau layanan ini dikenal dengan “program pelibatan

laki-laki”. Dan sebagai tindak lanjut dari program pelibatan laki-laki, sejak tahun 2006 Rifka Annisa telah memulai menyediakan layanan untuk laki-laki pelaku kekerasan (suami pelaku kekerasan). Penyediaan layanan ini berdasarkan data bahwa 90 persen perempuan yang menjadi korban kekerasan suami memutuskan kembali ke suami dan tidak ada penanganan untuk suami pelaku kekerasan.

6. Penguatan kapasitas untuk mitra eksternal. Layanan dilakukan dengan beberapa cara diantaranya dengan menyelenggarakan program training baik reguler maupun non reguler, menyelengarakan program magang serta menyelenggarakan kursus-kursus pendek.

7. Layanan konsultasi untuk beberapa program seperti assessment, penelitian, evaluasi atau penguatan kapasitas. Rifka Annisa memiliki kelompok ahli ahli diberbagai bidang seperti gender, isu perempuan dan anak, advokasi dan pengorganisasian masyarakat. Melalui program layanan ini memungkinkan Rifka Annisa untuk berbagi keahlian dengan organisasi-organisasi lain dan kelompok-kelompok masyarakat.

8. Layanan perpustakaan.

Gambar 2. „Ruang Konseling Rifka Annisa Women Crisis Center‟

(Sumber : Dokumen Penulis, 18/11/2016)

F. Program

Selain menyediakan layanan untuk perempuan dan anak korban kekerasan serta layanan penguatan kapasitas untuk mitra eksternal, Rifka Annisa juga menyelenggarakan beberapa program dalam rangka advokasi isu kekerasan terhadap perempuan di indonesia (Company Profile Rifka Annisa, hal 13). Di antaranya:

1. Kampanye anti kekerasan terhadap perempuan melalui berbagai media. Penerbitan buku, pameran photo tentang kekerasan terhadap perempuan, produksi film pendek, menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi, dan 2. menyelenggarakan dongeng untuk anak tentang kekerasan terhadap

perempuan dan anak.

3. Membangun sistem penanganan terpadu untuk perempuan dan anak korban kekerasan dengan melibatkan berbagai sektor atau stakeholder seperti rumah sakit atau penyediaan layanan kesehatan, kantor polisi, lembaga bantuan hukum, dan organisasi sosial lainnya.

4. Menginisiasi pusat krisis berbasis masyarakat melalui strategi pengorganisasian masyarakat. Program ini memiliki tujuan untuk membangun kemandirian masyarakat dalam menyediakan layanan untuk perempuan dan anak korban kekerasan. Program ini juga memiliki tujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat untuk terlibat aktif dalam gerakan anti kekerasan terhadap perempuan di indonesia.

5. Mendesakkan kebijakan responsif gender di tingkat lokal. Berkaitan dengan program ini pada tahun 2006 Rifka Annisa telah berhasil melakukan perubahan penting berkaitan dengan kebijakan ditingkat lokal. Inisiatif Rifka Annisa untuk membangun mekanisme penanganan terpadu untuk perempuan korban kekerasantelah diadopsi oleh pemerintah lokal (Pemerintah Kota Yogyakarta).

6. Menyelengarakan program penelitian tentang kekerasan terhadap perempuan serta menyelenggarakan berbagai program pelatihan seperti

7. pelatihan sensitifias gender, pelatihan konseling berperspektif gender dan lain sebagainya.

8. Menyelenggarakan Bussines Development Services, seperti pemberdayaan ekonomi perempuan korban dalam bentuk pelatihan dan pendampingan usaha, program beasiswa untuk anak-anak korban dan penggalian dana mandiri menuju kemandirian keuangan.

Penelitian Terdahulu

Beberapa skripsi yang hampir serupa dengan penelitian yang membahas tentang pendampingan trauma adalah : Penelitian yang dilakukan oleh Agung Prambudi mahasiswa Jurusan Komunikasi pada tahun 2010 yang berjudul

Keefektifan Komunikasi Interpersonal Konselor dengan Penderita HIV-AIDS

Pada Konseling di VCT RSUD Prof DR Margono Soekarjo Purwokerto”. Dari

penelitian tersebut dapat disimpulkan yaitu untuk menjelaskan efektifitas komunikasi interpersonal yang terjadi dalam pelayanan konseling, antara konselor dan pasien pada proses konseling di bagian VCT RSUD Prof DR Margono Soekarjo Purwokerto. Karena ODHA perlu mendapatkan konseling, agar mereka bisa mendapatkan informasi yang benar tentang HIV-AIDS, serta mendapatkan dukungan dalam menjalani kehidupannya. Aspek kajian teori yang digunakan adalah keefektifan komunikasi interpersonal yang menggunakan lima cara , yaitu: keterbukaan, empati, dukungan, kepositifan, dan kesamaan. Perbedaan penelitian ini dengan yang peneliti lakukan sekarang yaitu pada teorinya yang berfokus pada keefektifan komunikasi interpersonal.

Penelitian yang dilakukan oleh Widia Yuliani, mahasiswa jurusan ilmu

komunikasi pada tahun 2009, dengan judul: “Komunikasi Terapeutik antara

Psikolog dengan Pasien Depresi(Studi Deskriptif Komunikasi Terapeutik

antara Psikolog dengan Pasien Depresi di RSJ. Prof. dr. Soeroyo Magelang,

Jawa Tengah). Studi ini berusaha menganalisis mengenai komunikasi

terapeutik antara psikolog dengan pasien depresi yang mengacu pada proses komunikasi terapeutik antara psikolog dengan pasien depresi dalam proses penyembuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara rinci komunikasi terapeutik antara psikolog dengan pasien depresi di RSJ. Prof. dr. Soeroyo Magelang dan mendeskripsikan hambatan-hambatan yang terjadi antara psikolog dengan pasien. Kerangka teori dalam penelitian ini melihat pada proses komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh psikolog dengan pasien depresi. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa informan pasien depresi sama-sama melakukan proses komunikasi terapeutik dan informan pasien depresi diberikan terapi yang berbeda yakni, terapi keluarga dan terapi supportif.

Perbedaan penelitian yang peneliti lakukan sekarang yaitu pada permasalahannya yang berfokus pada pasien yang mengalami depresi gangguan kejiawaan, sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti sekarang yaitu pada kasus traumatik pelecehan seksual. Traumatik yang yang dimaksud peneliti adalah upaya pasien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin.

Pendampingan dalam kasus traumatik yang dilakukan peneliti juga jelas berbeda dengan depresi kejiwaan, perbedaan ini terletak pada waktu, fokus, aktifitas, dan tujuan. Dilihat dari segi waktu traumatik sangat butuh waktu yang panjang, kemudian dari segi fokus, pendampingan traumatik lebih memerhatikan pada satu masalah, yaitu trauma yang dirasakan sekarang.

Penelitian yang dilakukan oleh Mita Matinah, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi pada tahun 2011 yang berjudul “Komunikasi Interpersonal Antara ODHA (Orang Dengan HIV&AIDS)-Pendamping dan ODHA-Dampingan dalam mempersuasi ODHA-Dampingan di Kelompok Dukungan Sebaya

Metamorfosis Community (KDS Metacom) Yogyakarta”. Penelitian ini

menggunakan teori dalam komunikasi interpersonal yang difokuskan pada upaya persuasi dalam komunikasi interpersonal. Landasan konsep persuasi yang digunakan adalah sikap, kepercayaan dan perilaku. Perbedaan penelitian yang peneliti lakukan sekarang yaitu: pada teorinya yang berfokus komunikasi untuk mempersuasi.

Selanjutnya penelitian dari Annisa Nur Faizah jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam pada tahun 2016 yang berjudul “Komunikasi Efektif Pekerja Sosial Dalam Pelayanan Rehabilitasi dan Konseling Wanita Rawan Sosial Psikologis (WRSP) (Studi Kasus Di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Yogyakarta.” Penelitian ini berkaiatan dengan komunikasi efektif pekerja sosial dalam pelayanan rehabilitasi dan konseling Wanita Rawan Sosial Psikologis (WRSP) di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Yogyakarta. Tujuan

penelitian ini adalah untuk: mendeskripsikan model komunikasi pekerja sosial dalam pelayanan rehabilitasi dan konseling WRSP di PSKW Yogyakarta dan menggambarkan komunikasi efektif pekerja sosial dalam pelayanan rehabilitasi dan konseling WRSP di PSKW Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh pekerja sosial

Dokumen terkait