HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1) Komunikasi Verbal,
Adapun bentuk komunikasi verbal yang diterapkan di kelompok tani biring parang jaya ini yaitu:
a. Komunikasi langsung melalui Penjualan Langsung
Komunikasi langsung merupakan komunikasi yang dilakukan dengan langsung bertatap muka tanpa perantara atau tanpa adanya alat bantu komunikasi sebagai penghantar pesan atau informasi.
jadi, dalam hal penjualan langsung maka penjual dan pembeli bisa langsung bertatap muka untuk melakukan proses jual beli garam tanpa ada perantara antara keduanya. Berkaitan dengan hal ini, peneliti kemudian mewawancarai Bapak Yaris dg Nyangging selaku kepala kelompok tani Biring Parang Jaya. beliau mengatakan bahwa ;
“jadi dikelompok tani kita ini dalam memasarkan garam itu ada yang kita jual langsung di pinggir jalan jadi kalau ada pembeli bisa langsung beli mi dan transaksi jual belinya juga lebih mudah. Perhari kita biasanya terjual itu 20karung kalau yg ukuran kecil” (Yaris, 12 Januari 2021)
Jadi dalam penjualan garam dikelompok tani Biring Parang Jaya ini garam dijual secara langsung di sepanjang jalan poros Bangkala Jeneponto sehingga penjual dan konsumen bisa langsung
bertatap muka untuk melakukan transaksi jual beli garam. Penjualan perharinya bisa mencapai 20 karung ukuran kecil dengan harga 8.000 perkarung nya, sehingga jika di hitung keuntungannya dalam perhari bisa mencapai kurang lebih 160ribu dan untuk hitungan perbulannya bisa mencapai kisaran 4jutaan.
“adapun untuk pembagian keuntungan itu dibagi masing-masing 50%. Unttuk saya sebagai yg punya lahan 50% dan 50% nya lagi untuk pekerja mi tapi kalau harga garam bagus biasa juga saya kasi bonus atau tambah tambah dari penghasilan” (Yaris, 12 Januari 2021)
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka Untuk pembagian keuntungannya ditentukan dengan berapa jumlah penjualan dalam perbulannya. Sistem pembagiannya yaitu 50% untuk kepala kelompok tani dan 50% dari penjualan untuk masing-masing anggota dari kelompok tani. Adapun penjualan garam di kelompok tani biring parang jaya biasanya terjual 500-600 karung dalam perbulan tergantung pada harga garam yang sering berubah-ubah.
Wawancara berikutnya dengan Bapak Kareng Bulu’ selaku anggota dari kelompok tani Biring Parang Jaya. Saat ditanya tentang program-program apa saja yang dilakukan dalam kelompok tani ini untuk memperkenalkan atau memasarkan garamnya baik itu melalui kegiatan lainnya, informan mengatakan bahwa :
“dari awal kita berjualan garam hanya kita jual langsung di pinggir jalan saja sehingga kita lebih muda berkomunikasi dengan para pembeli, nah kalau untuk program sosialisasi kepada masyarakan sekitar atau sampai keluar daerah kita tidak pernah ada kegiatan seperti itu. kita ini usaha milik sendiri” (Kareng Bulu’, 15 Januari 2021)
Jadi berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu anggota dari kelompok tani ini maka dapat diketahu bahwa mereka tidak pernah melaksakan program-program untuk memperkenalkan garamnya baik itu melalui sosialisasi ataupun perencanaan lainnya.
Mereka hanya menekankan pada penjualan secara langsung dimana kepala kelompok tani maupun para anggota yang bergabung dalam kelompok tani ini harus mampu mempersuasi para pembeli agar calon konsumen ini bisa berbelanja lagi atau dengan kata lain bisa menjadi langganan. Seperti yang dikatakan oleh informan diatas bahwa penjualan garam ini merupakan usaha milik pribadi. Yang sebelumnya lahan kosong milik informan utama Pak Yaris ini diolah menjadi lahan tambak garam untuk bisnis jual beli garam yang berlanjut sampai sekarang.
b. Komunikasi dalam bentuk Kerjasama dengan distributor garam.
Dalam dunia bisnis tidak seorang pengusaha atau wirausaha yang sukses karena hasil kerja atau usahanya sendiri. Karena dalam kesuksesan usahanya, pasti ada peran orang lain atau pihak lain.
Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Yaris:
“kita juga jalin kerjasama dengan distributor garam di Makassar. untuk pembeliannya juga bisa melalui telfon misalnya ada yang dari luar daerah mau beli garam tinggal menelfon tanya harga, nah kalau sudah cocok harga biasanya kita kirim mi ke daerahnya atau biasa juga dia yang datang langsung kesini ambil garamnya” ( Yaris, 12 Januari 2021 )
Selain menjual garam secara langsung di pinggir jalan, penjualan garam kelompok tani Biring Parang Jaya juga dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan distributor garam di Makassar.
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka untuk pembelian garam bisa melalui telefon seluler dan untuk pengambilan garamnya biasanya diambil langsung ke kelompok tani biring parang jaya di kecamaan Bangkala ini.
“bentuk komunikasi saya dengan distributor yang akan membeli garam biasanya saya bilang kemereka kita coba mi dulu kalau soal harga berbanding lurusji sama kualitas itu, yang penting kita coba dulu. Dengan cara ini saya sudah menjalin hubungan dengan beberapa distributor di berbagai daerah seperti takalar,gowa,makassar, bahkan ada di daerah palopo juga ambil garam saya, cuman dipolopo agak kurang ambil garam tidak seperti di takalar dengan makassar, yang sekali ambil bisa 200 karung lebih dalam sebulan bahkan ada yang 2 minggu, rata-rata distributor dari takalar dengan makassar yang begitu. beda dengan distributor yang ada di palopo meraka biasanya ambil Cuma 50-70 karung saja untuk sebulan bahkan bisa lebih” ( Yaris, 12 Januari 2021 )
Meskipun demikian tidak jarang garamnya ditolak oleh para distributor yang iya tawarkan, namun Bapak Yaris memiliki cara tersendiri dalam memasarkan garam yang diproduksi dengan menunjukkan hasil secara warna tampak putih dan bersih, dan secara tekstur tampak kering.
“biasanya kita perlihatkan kepada distributor garam yang akan mereka ambil dan garam yang lain, kemudian dibandingkan, ketika dilihat yang pertama dilihat itu warnanya, yang kedua dilihat keringnya, jadi garam yang kotor itu tandanya lembab, berarti garammnya tidak bersih, dan biasanya kalau lembab berati ada campuran lainnya”
Dari pernyataan tersebut, dapat kita lihat bahwasanya Bapak Yaris memikat pelanggannya sejak pertama kali memasarkan dengan terus menonjolkan kualitas garam yang di produksi dan hal ini dilakukan oleh kelompok tani Biring Parang Jaya terhadap semua pelanggan atau konsumen, baik yang konsumen lama maupun yang baru-baru mengetahui garam miliknya. dikatakan bahwa garam yang bersih memiliki ciri-ciri garam yang putih bersih dan kering adapun untuk garam yang kotor yaitu memiliki tekstur yang lembab dan warnahnya agak kekuningan atau tidak putih bersih.
Adapun sistem kerja sama yang mereka lakukan dengan para distributor yaitu datang langsung ke tempat ketika sudah setuju, maka distributor ini pun mendatangi kelompok tani Biring Parang Jaya ini untuk menganbil garam kemudian memasarkan ke daerah mereka masing masing. Seperti wawancara yang dilakukan dengan salah satu anggota dari kelompok tani biring parang jaya yaitu bapak Dg Tumpu 60th beliau mengatakan bahwa :
“Distributor yang datang langsung ke sini untuk mengecek garam yang akan mereka beli ketika semua sudah cocok maka distributor itu membayar langsung sesuai dengan yang mereka ambil, jarang ada distributor yang minta DP dulu atau membayar belakangan ketika garam yang mereka jual itu habis, rata-rata mereka bayar langsung ketika menganbil garam ini” ( Dg Tumpu, 15 Januari 2021 )
Keuntungan yang didapatkan dari kerjasama dengan distributor ini yaitu penjualan sudah pasti perbulan masuk dan keuntungan penjualannya pun banyak dengan jumlah besar karena mereka
mengambil banyak. Adapun keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan garam ini diharapkan dapat meningkatkan volume pada penjualan garam di kelompok tani Biring Parang Jaya.
“kalau bicara soal untung yah sama-sama untung kalau lewat distributor atau yang harian, karena kalau yang dari distributor itu langsung banyak didapat dan itu bisa di putarkan lagi sebagai modal untuk menambah atau memperbaiki peralatan, sedangkan kalau harian itu untungnya sedikit, ini hanya di pakai untuk kebutuhan sehari-hari saja yang dari penjual harian ini. Tetapi menguntungkan yang mana tetap lebih untung ketika lewat distributor, semakin banyak disributor yang masuk semakin untung juga” ( Dg Tumpu, 15 Januari 2021 ) Keuntungan yang diperoleh dari hasil jual garam dikelompok tani Biring Parang jaya baik secara langsung ataupun kerjasama dengan distributor ini sama-sama menguntungkan. Untuk jumlah penjualan yang besar tentu menguntungkan kerjasama dengan distributor tapi untuk penjualan setiap hari dengan harga garam yang lebih tinggi lebih untung dijual secara langsung di pinggir jalan.
c. Komunikasi melalui Penjualan Jasa Titip di Warung/Toko
Sistem bisnis ini adalah sistem bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak, bagi penjual yang menitipkan barang dagangannya, maka dia hanya perlu menitipkannya saja dan pihak warunglah yang akan memasarkan produknya, sedangkan bagi pemilik warung atau toko, mereka untung karena bisa menjual barang dagangan tanpa modal dan mendapatkan hasil keuntungan dari hasil penjualannya tersebut
“ini garam juga ada yang saya titipkan ke warung-warung atau kios untuk dijualkan. Ada dua kios yang saya titipkan garam didaerah sini (Bangkala) terus juga ada yang saya kirim ke kios nya keluarga cuman kita beda kampung, biasanya sekali seminggu saya kesana untuk cek apa sudah habis atau masih ada. ”.
Jadi bentuk komunikasi bisnis lainnya yang diterapkan oleh kelompok tani Biring Parang Jaya ini adalah dengan menitipkan garamnya ke warung-warung sekitar. Yang tentunya sebelum menitipkan garam ini sudah ada kesepakatan kerjasama antara kedua belapihak. Seperti hasil wawancara diatas pak yaris mengatakan bahwa beliau menitipkan garam nya ke 2 warung sekitar tempat tinggalnya dan juga menitipkan garam ke kios keluarganya yang beda kampung. Dikatakan juga untuk keuntungannya yaitu satu karung garam ukuran kecil dikasi harga 6ribu per bungkus. Selanjutnya pemilik warung bisa jual 8ribu yang berari 6ribu nya masuk ke pemilik garam dan untuk pemilik warung mendapatkan 2ribu dari masing-masing penjualan perkarung.
d. Komunikasi melalui Penjulan dengan sistem pemasaran di lingkungan sekitar dan keluar daerah.
“untuk memasarkan bisnis garam ini kita pasarkan ke lingkungan sekitar saja, kita tidak punya media sosial apapun untuk menjual garam karena disini itu masih kurang orang yang paham media teknologi. Jadi biasanya kalau ada pembeli kita perkenalkan mi ini garam untuk beli nya bisa langsung bisa melalui telfon seluler juga sehingga ini garam bisa dikenal dari orang ke orang begitu”
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan peneliti terhadap kelompok tani Biring Parang Jaya ini bahwa dalam kelompok tani
ini tidak melakukan promosi melalui sosial media dan begitupun dengan proses transaksinya tidak melalui sistem transfer dalam poses jual beli produk dalam hal ini garam.
Jadi, dari bentuk komunikasi bisnis verbal yang diterapkan oleh kelompok tani biring parang jaya ini dalam memasarkan garamnya menggnakan empat cara yaitu dengan melakukan komunikasi langsung melalui penjualan langsung, menjalin kerjasama dengan distributor, komunikasi melalui pejualan jasa titip warung/toko, dan yang terakhir yaitu Penjulan dengan sistem pemasaran di lingkungan sekitar dan keluar daerah. Bentuk penjualan yang dilakukan atau yang diterapkan ini sama-sama memiliki peluang untuk meningkatkan penjualan garam karena berdasarkan dengan hasil wawancara yang dilakukan para informan mengatakan bahwa penjualan secara langsung, kerjasama dengan distributor, jasa titip di warung, dan penjualan disekitar sangat bermanfaat dan memudahkan dalam proses jual beli garamnya sehingga hal ini diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan yang berujung pada peningkatan pendapatan dari penjualan tersebut.