• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

B. Hidup Berkomunitas dalam Kongregasi

3) Komunitas Bruder Budi Mulia

Bruder Budi Mulia merupakan komunitas religius laki-laki yang mempunyai pola hidup berkomunitas dengan berpedoman pada konstitusi kongregasi. Dalam konstitusi Bruder Budi Mulia yang disebut “Tata Hidup”, berisi berbagai macam aturan pokok dalam hidup bakti. Di dalam Tata Hidup, dengan jelas diuraikan tentang tiga kewajiban pokok sebagai religius (Hidup doa, hidup berkomunitas dan hidup merasul). Secara umum hampir sama dengan religius lainnya, namun ada penekanan-penekanan tertentu sesuai kharisma kongregasi.

Kekhasan yang ada dalam Bruder Budi Mulia adalah “Persaudaraan” maka segala bentuk penghayatan hidup membiara selalu dibawa dalam koridor hidup bersama. Contohnya dalam penghayatan trikaul. Yang tertulis dalam Tata Hidup selalu diawali dengan “Hidup Bersama”. Kaul Kemurnian (Hidup bersama tidak menikah demi Kerajaan Allah), Kaul Kemiskinan (Hidup kita dalam kemiskinan) dan Kaul Ketaatan (Hidup bersama dalam ketaatan). Dengan memberikan tekanan pada hidup bersama, tentu jelas bahwa para bruder wajib dan turut serta menjunjung tinggi hidup persaudaraan dalam komunitas. Ini bukan sebuah hal baru bagi para bruder karena kekhasan yang demikian telah diperkenalkan kepada para bruder semenjak menjadi calon.

Hidup berkomunitas dalam kongregasi Budi Mulia berdasarkan Tata Hidup kongregasi khususnya artikel 10. Keseluruhan makna dari persaudaraan dalam komunitas yang dihayati para bruder dirumuskan dalam doa khas para bruder. Doa itulah menjadi kekuatan dalam membangun hidup berkomunitas yang

harmonis dan bermakna. Berikut isi doa yang senantiasa didoakan pada waktu pagi hari yang dirangkum dari isi TH art. 10, 24, 36 dan 38:

Bapa surgawi, menjawab undangan cinta kasih-Mu, kami menyerahkan diri seutuhnya kepada-Mu, Hidup bersama sebagai saudara dan mengabdikan diri kepada sesama Dihidupi oleh-Mu dan diperdalam dengan doa, kami ingin saling mendahului dalam mengasihi dan menghormati, saling mengisi dan meneguhkan serta hidup bagi orang lain. Dengan cara-Mu sendiri Engkau menyapa dan menantikan kami untuk bersikap terbuka dan tanggap akan peristiwa, kebutuhan dan situasi di sekitar kami. Maka di bawah bimbingan Roh-Mu, bolehlah dalam doa, keheningan dan dialog secara terbuka, kami mencari jalan untuk menangkap dan mewujudkan kehendak-Mu seturut teladan Kristus Tuhan kami. Amin

Doa ini merupakan rangkuman dari isi Tata Hidup kongregasi. Intinya bahwa hidup dalam komunitas Bruder Budi Mulia harus tahu dan memahami arti sebuah persaudaraan khas kongregasi. Bruder Budi Mulia bukan sebuah kumpulan LSM biasa yang hanya sekedar kumpul bersama. Komunitas Bruder Budi Mulia harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai yang tersirat dalam doa tersebut. Nilai-nilai yang telah diinternalilsasikan akan menjadi milik yang menjadi kekayaan pribadi yang bermakna demi membangun persekutuan para bruder.

b. Komunikasi dalam Hidup Berkomunitas

Komunitas apapun tentu butuh berkomunikasi yang sehat untuk mengembangkan hidup komunitasnya. Dalam hidup berkomunitas, butuh banyak hal yang perlu dikomunikasikan. Komunitas akan menjadi rentan terhadap perselisihan jika tidak ada komunikasi yang sehat dan seimbang. Mengingat komunitas hidup religius bukanlah pribadi-pribadi yang dikumpulkan dari

hubungan sedarah melainkan mereka dipanggil secara khusus dari berbagai kalangan dan latarbelakang yang berbeda-beda.

Dalam sebuah komunitas, terutama komunitas religius, semua mempunyai tugas masig-masing. Bahkan ada yang berbeda tempat kerasulan. Jika demikian bagaimana bisa menjalin komunikasi yang baik antara anggota komunitas? Komunikasi paling konkret yang dilakukan anggota komunitas adalah ada waktu-waktu tertentu untuk berkumpul. Saat-saat tersebut ditentukan dalam rapat komunitas. Meskipun tempat tugas berbeda-beda, namun selalu kembali ke komunitas. Di sanalah rumah yang menjadi tempat melepaskan lelah setelah menjalani karya kerasulan di tempat masing-masing.

Seperti para murid Yesus yang diutus berdua-dua, setelah itu mereka kembali berkumpul dengan murid lainnya dengan gembira dan saling bercerita pengalaman mereka saat menjalani tugas perutusan (bdk. Luk 10:17). Begitu pula dalam hidup berkomunitas. Komunitas menjadi tempat untuk berbagi suka dan duka hidup bersama saudara sekomunitas. Banyak kesempatan yang untuk berkomunikasi tentang pengalaman. Dari dialog pengalaman yang biasa antara saudara sekomunitas, disanalah terlihat dialog cinta kasih yang menguatkan satu sama lain. Anggota komunitas yang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda menandakan bahwa dialog itu perlu untuk memadukan perberbeda-bedaan-perberbeda-bedaan menjadi keselarasan (KOPTARI, 2012:20).

Dialog yang terjadi dalam kesederhanaan dan saling mendengarkan merupakan bukti konkret sebuah komunikasi interpersonal. Misalnya dalam kegiatan bersama seperti doa harian bersama, makan bersama, pertemuan

komunitas mingguan atau bulanan, saat-saat santai atau kesempatan non formal lainnya. Di sana terjadi komunikasi yang sederhana, namun mendalam karena lewat berbagi pengalaman hidup sehari-hari, setiap anggota komunitas dapat mengenal dan memahami apa yang dikerjakan oleh saudara sekomunitasnya. Di samping itu dukungan dari angota komunitas lain menjadi kekuatan yang berguna demi tugas kerasulan yang diemban setiap anggota. Dengan komunikasi yang baik antara anggota, semua disadarkan atas tugas panggilannya masing-masing sebagai bagian dari komunitas sehingga tidak ada yang tenggelam dalam sikap egois, yang menonjolkan diri sendiri.

Untuk mencapai semua hal itu, setiap anggota komunitas perlu meneladani pola komunikasi Yesus. Komunikasi dalam hidup berkomunitas mengambil pola komunikasi Yesus (Iswarahadi, 2013:66). Semua bisa menjadi komunikator dalam komunitas, namun komunikator yang seperti Yesus, adalah orang yang kreatif dan penuh kerendahan hati. Hal ini yang selalu diperjuangkan dalam komunitas religius.

c. Komunikasi Interpersonal dalam Komunitas Bruder Budi Mulia

Pola komunikasi religius sekarang ini kemungkinan masih bersifat top

and down. Dengan pemahaman kaul ketaatan yang masih kaku dengan

aturan-aturan sehingga kesannya masih sangat tampak seperti taat secara buta. Pola komunikasi Yesus merupakan model yang tepat bagi komunitas religius. Yesus hadir mau menyapa manusia secara pribadi. Seperti sapaanNya kepada Zakheus. Di sana komunikasi interpersonal yang mengubah hidup Zakheus. Komunikasi

interpersonal dalam komunitas religius juga diharapkan demikian. Kehadiran saudara sekomunitas harus memberikan rasa nyaman. Misteri inkarnasi Yesus yang mau menjadi manusia dan hidup di tengah-tengah orang berdosa. Menanggapi hal ini, dalam Tata Hidup artikel 10, dengan jelas memaparkan sebagai berikut:

Kata Santo Paulus: “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat...hendaklah kamu sehati sepikir...” (Rom. 12:10-16). Ungkapan ini hendaknya menjadi pedoman bagi seluruh persekutuan kita. Keterikatan kita satu sama lain membuat kita berkembang dalam semangat persaudaraan yang diteladankan oleh Yesus dan yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian, kita berusaha mewujudkan Kerajaan Allah yaitu langit dan bumi yang baru.

Dari cuplikan artikel di atas, Tata Hidup ingin menyampaikan kepada seluruh anggota brudernya bahwa, penting menghayati hidup bersama sesuai pedoman yang menjadi arah dan tujuan persekutuan. Menjalin komunikasi interpersonal yang akrab dan sehat akan membuat pribadi seseorang menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain. Ungkapan “langit dan bumi yang baru” itulah arah dan tujuan hidup yang harus diperjuangkan. Demi tercapainya langit dan bumi yang baru para bruder perlu menjalin komunikasi interpersonal seperti yang tersirat dalam Tata Hidup artikel 10 di atas.

d. Pentingnya Komunikasi Interpersonal bagi Hidup Berkomunitas

Setiap orang membutuhkan komunikasi interpersonal. Menurut William Schutz, sebagaimana yang dikutip oleh Wood dalam bukunya: Komunikasi

Interpersonal Interaksi Keseharian (2013:12, mengutarakan tiga hal yang

hal ini menjadi kebutuhan dalam hidup berkomunitas. Setiap anggota komunitas tentu membutuhkan afeksi, entah untuk mengungkapkan kasih sayang kepada saudara sekomunitasnya. Dalam mengungkapkan afeksinya, orang butuh pergaulan yang lebih inklusif. Keinginan untuk menjadi bagian dari hidup orang lain atau sebaliknya.

Komunikasi interpersonal dalam komunitas juga hampir menyerupai komunikasi antara orang kebanyakan. Apabila di dalam komunitas, setiap anggota tidak menemukan apa yang mereka butuhkan sebagai kebutuhan dasar tersebut, maka bisa terjadi kemungkinan anggota mencari komunikasi di tempat lain yang mungkin memberikan peluang kepadanya untuk memuaskan kebutuhan akan penerimaan diri. Kepuasan afeksi setiap orang yang dewasa dan religius, tentu berkaitan dengan perasaan diterima dan diperhitungkan dalam komunitas. Terutama saudara sekomunitas yang penuh pengertian, saling mengasihi, ini semua merupakan tempat yang nyaman dan subur bagi setiap anggota, baik dalam hal hidup doa, hidup karya atau kerasulan. Hal ini terungkap dalam Tata Hidup artikel 38 yang berbunyi:

Rumah kita hendaknya menjadi “rumah yang sejati” tempat kita masing-masing merasa betah tinggal di dalamnya. Di situ kita mau menghayati persaudaraan sejati dengan saling berbagi suka dan duka. Kita hendak menciptakan suasana hidup yang memungkinkan kita dapat beristirahat dan memperoleh ketenangan setelah berjerih payah dalam pekerjaan. Untuk menemukan suasana ini, kita harus menciptakan suasana privacy tertentu. Sebagai persekutuan, kita membuat permufakatan dalam hal ini. Agar semua yang tercantum dalam artikel ini dapat terlaksana dengan baik, maka setiap bruder bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang nyaman dan harmonis. Mentaati aturan komunitas termasuk aturan pribadi agar

komunitas menjadi tempat yang nyaman untuk melepaskan lelah setelah berjerih payah dalam karya. Dalam menciptakan suasana Privacy tertentu perlu kepekaan dari setiap bruder melihat situasi saudaranya. Jangan sampai orang menjadi terganggu karena setiap anggota komunitas tidak menjaga privacy setiap anggota. Oleh karena itu komunikasi interpersonal menjadi hal penting untuk membangun situasi yang mendukung kehidupan berkomunitas.

Dokumen terkait