• Tidak ada hasil yang ditemukan

KoMuNITAS CINA BENTENG DALAM REKAM JEJAK SEJARAH

JeJak seJaraH kOmunitas Cina benteng

B. KoMuNITAS CINA BENTENG DALAM REKAM JEJAK SEJARAH

Rekaman sejarah komunitas Cina Benteng Kampung Sewan telah terdapat dalam sebuah catatan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19. Pada tanggal 9 Oktober 1871, Gubernur Jenderal P. Mijer memberlakukan ketentuan mengenai penunjuk-an tempat-tempat bagi golongpenunjuk-an Timur Asing dengpenunjuk-an Lembarpenunjuk-an Negara No.146 tentang Orang Timur Asing yang menyatakan bahwa Gubernur Jenderal menetapkan tempat-tempat berupa kampung-kampung yang dibuka sebagai tempat bermukim warga keturunan Timur Asing di Hindia Belanda. Khusus kawasan Bata-via tempat-tempat yang dibuka meliputi:

Batavia, sebagai ibukota Karesidenan, Meester Cornelis

(af-deling Meester Cornelis), Bekasi (af(af-deling Meester Cornelis),

Puloga-dung (afdeling Meester Cornelis), Tangerang (afdeling Tangerang), dan Buitenzorg (afdeling Buitenzorg). Selanjutnya diperintahkan agar peraturan ini dibuat dalam bahasa pribumi dan Cina dan agar setiap pihak mematuhinya.1

Beberapa peristiwa hukum yang terjadi pada masyarakat Cina Benteng yaitu terjadinya peristiwa pembunuhan. Surat Asisten Re-siden Tangerang kepada ReRe-siden Batavia tertanggal 2 Juni 1913

PRENADAMEDIA GROUP

menjelaskan terjadinya peristiwa ini.

“Korban pembunuhan ini bernama Goedel (seorang Cina mualaf) penduduk Kampung Tegalkunir Tangerang. Pelaku pembunuhan dilakukan oleh empat orang Cina penduduk Kampung Kebonbaroe, tetapi pelaku berhasil melarikan diri. Salah satu pelaku pembunuh diduga bernama Lie Dji Toen yang saat itu melintas di Kampung Ke-bonbaroe, dan dugaan tersebut tidaklah tepat mengingat para pe-laku sebelumnya telah berhasil ditangkap oleh aparat keamanan dan dijebloskan ke dalam penjara distrik Mauk. Lie Dji Toen adalah kor-ban salah sasaran yang dikejar oleh warga Tegalkunir karena diduga pelaku pembunuhan. Lie Dji Toen berteriak meminta tolong tetapi kemudian warga Tegakunir berhasil menangkapnya serta mem-bunuhnya. Aparat keamanan kemudian menangkap dua puluh orang pelaku pembunuhan dengan korban Lie Dji Toen serta empat orang pelaku pembunuh Goedel. Pokok persoalannya adalah bahwa orang-orang Cina dari Keboenbaroe menyuruh menggarap sawah mereka di Kebonbaroe dengan bagi hasil bersama orang-orang pribumi dari Te-galkunir, sehingga selama pemotongan padi yang kini masih berlang-sung, kedua kelompok itu (Cina dan pribumi) saling bertemu. Ketika saya berangkat ke Keboenbaroe. Ketika saya berangkat ke Kebonba-roe, terbukti orang-orang Cina berada di sana yang segera setelah peristiwa pembunuhan rekan mereka Lie Dji Toen bersama istri dan anak-anak korban telah meninggalkan kampung itu karena ketaku-tan terhadap orang-orang pribumi dari Tegalkunir, dan hanya seba-gian kecil yang kembali ke rumah mereka. Saya bersama modin tetap menunggu yang lain, yang bisa kita panggil kembali. Juga beberapa wanita dan anak-anak kembali ke rumah; yang lain lagi pada petang atau pagi keesokan harinya bersedia kembali. Baik di Kebonbaroe maupun di Tegalkunir, saya membangun pos polisi yang kuat, dengan tenaga diambil dari daerah lain. Sementara itu, saya telah meme-rintahkan Wedana Mauk dan Mantri Polisi Pasilian (Distrik Balaraja) yang untuk sementara ditempatkan di sana. Selama panen padi di Kebonbaroe masih berlangsung, untuk hadir dan mengatur pemo-tongan ini sehingga orang-orang Cina itu tidak bisa segera saling ber-temu dengan orang-orang pribumi di sawah. Semua orang Cina dari Kebonbaroe sejak itu kembali ke kampungnya. Juga keluarga mereka dibawa kembali dan sampai sekarang kedua kampung tersebut tidak lagi mengalami gangguan keamanan. Seperti yang terbukti dari ke-terangan di atas, tidak bisa dikatakan bahwa gerakan Sarekat Islam di afdeling ini berpengaruh secara langsung atas peristiwa tersebut.

PRENADAMEDIA GROUP

orang-orang pribumi dari Tegalkunir belum menunjukkan minatnya memasuki organisasi ini”.2

Berdasarkan keterangan yang tertera dalam Surat Asisten Resisden Tangerang kepada Residen Batavia tersebut, terdapat konflik antara golongan Cina dan Pribumi di Mauk Tangerang. Konflik dan insiden pembunuhan terhadap warga Cina tersebut tampaknya tidak berkaitan dengan adanya kebencian etnis, mela-inkan lebih pada pembagian hasil panen padi yang dilakukan oleh golongan pribumi dan Cina di Mauk Tangerang. Dijelaskan pula bahwa pengaruh Sarekat Islam tidak begitu kuat memengaruhi konflik keduanya. Dapat kita lihat bahwa berdasarkan keterangan tersebut di atas, Sarekat Islam memiliki pengaruh dalam bebera-pa peristiwa konflik etnis yang tambebera-paknya mendukung kelompok pribumi.

Penduduk Cina Benteng Kampung Sewan bukanlah kelas pengusaha, mereka adalah para petani yang pada saat awal abad kedua puluh mencoba untuk membuka hutan yang cukup luas di daerah Kampung Sewan. Pada sekitar tahun 1920, penduduk Cina Benteng Kampung Sewan umumnya adalah petani dan mereka diberi hak oleh aparatur desa untuk membuka hutan. Kampung Sewan pada saat itu masih berupa hutan dan tanah lapang di be-berapa bagian. Tanah-tanah tersebut kemudian dipatok oleh bebe-rapa warga Cina Benteng untuk dijadikan sawah dan perumahan. Pada saat itu Kepala Desa umumnya dijabat oleh seorang yang memiliki ilmu bela diri yang tinggi, disebut sebagai Jawara. Sui menjelaskan:3

“Di sini duhulunya hutan, masih banyak pohon besar-besar, sebagi-annya tanah lapang. Saya lahir persis selesainya pembangunan Pin-tu Air 10 tahun 1932. Dulu di sini penduduk masih sedikit, dan mulai rame sekitar tahun 1940-an dari daerah-daerah seperti Mauk, Kam-pung Melayu, dan lain-lain. Pada saat itu tanah masih sangat luas, kalau ada yang mau buka tanah tinggal lapor aja ke lurah. Saya dulu 2 Surat Asisten Residen Tangerang G.J.P. Vernet kepada Residen Batavia H. Riffsnijder tanggal 2 Juni 1913 dalam Mailrapport nomor 1331513.

PRENADAMEDIA GROUP

juga staf administrasi kelurahan karena diajak temen saya yang jadi lurah di sini sekitar tahun 1950. jaman itu pegawai kelurahan gak di-gaji. Kita dapet duit dari biaya-biaya perijinan aja. Kalo dulu yang jadi lurah pasti para jawara atau jagoan, artinya mereka para jagoan-jagoan silat yang terpandang. Namaya juga belum Kelurahan Mekar-sari, kalo saat itu namanya Kampung Sewan Parung Kuda.”

Peristiwa pembantaian masyarakat Cina Benteng terjadi aki-bat adanya isu bahwa seorang penduduk Cina Benteng melakukan penurunan bendera merah putih, dan peristiwa itu menurut komu-nitas Cina Benteng disebut Peristiwa Dunia Kiamat. Isu tersebut membuat massa bergolak dan kemudian bergerak untuk memban-tai setiap orang Cina yang ditemui. Oey Tjin Eng menuturkan:

“Dulu ada isu kalo di sini ada orang Tionghoa nurunin bendera merah putih, nah semua pada gak terima, akhirnya terjadi deh peristiwa itu. Memang ada beberapa orang Tionghoa yang ikut KNIL.”4

Pada 3 Juni 1946 terjadi pembunuhan besar-besaran di Tange-rang terhadap penduduk TangeTange-rang yang berdiam di sebelah barat Sungai Cisadane. Ratusan orang Cina yang tidak berdosa dibantai, mayatnya ditumpuk, hartanya dijarah lalu rumah-rumah mereka dibakar. Orang Cina Benteng dituduh bekerja sama dengan Belan-da, mereka semua dianggap sebagai pengkhianat, dibantai dengan kejam. Beberapa orang Cina dianggap bekerja sama dengan Belan-da, telah menurunkan bendera merah putih dan sekaligus menjadi mata-mata tentara Belanda di Tangerang guna menangkap tenta-ra Republik. Pada 3 Juni 1946 di Desa Panggang (Cilongok), Lim Tjiauw Hie yang berusia 71 tahun, Lim Tjoen Nio seorang gadis berusia 20 tahun, dan Lim Tiang Tjeng, seorang anak berusia 3 tahun dibakar hidup-hidup.5

Van Mook segera melakukan inspeksi ke Tangerang untuk me-lakukan pemeriksaan atas terjadinya peristiwa pembantaian terse-but, yang dalam hal ini dilaporkan oleh surat Kabar Sin Po sebagai berikut:

4 Oey Tjin Eng, wawancara, Tangerang, 24 Juni 2008.

PRENADAMEDIA GROUP

”Kamis pagi sekali Lt.Gouverneur-Generaal van Mook dengan dianter oleh Generaal Spoor dan bebrapa adviseurnja telah brangkat ke bi-langan Tangerang boeat preksa keadaan di sana.”6

Laporan Letnan Gubernur van Mook kepada Menteri Urusan Seberang Jonkman tertanggal 9 Juli 1946 menjelaskan mengenai adanya aktivitas yang membahayakan warga Cina di Tangerang berupa pembakaran atas perkampungan di kawasan timur dan utara Tangerang. Laporan tersebut menyatakan:

”Daerah di sekitar Tangerang menunjukkan peningkatan aktivitas kaum ekstremis. Melalui Cisadane, kembali para pelarian Cina tiba. Kaum ekstremis membakar kampung-kampung di sebelah timur dan utara Tangerang. Di sebelah barat Batavia, daerah yang diduduki oleh tentara India-Inggris diganggu oleh penduduk. Tentara Inggris telah menggagalkan usaha segerombolan orang menyebarangi sungai Ci-sadane.”7

Berdasarkan laporan tersebut di atas, maka terdapat adanya peningkatan aktivitas kelompok-kelompok ekstremis, tentunya yang dimaksud ekstremis adalah pejuang kemerdekaan, dan pri-bumi. Para pejuang yang umumnya pribumi melakukan tindakan berupa pembakaran di kawasan pinggiran Tangerang. Dapat kita lihat bahwa kegiatan pembersihan etnis ini dimulai dari daerah pinggiran Kota Tangerang dan bukan berpusat di Kota Tangerang. Pembersihan dan penghancuran harta benda tersebut sudah tentu merugikan warga etnis Cina Benteng yang dituduh oleh kaum Re-publik berpihak kepada Belanda.

Pembunuhan tersebut menyebar hingga mencapai kawasan Mauk, Serpong, dan Karawang. Di daerah Mauk kaum laki-laki Tionghoa diminta membuka celananya kemudian disunat secara paksa. Demikian juga kaum perempuan banyak yang diperkosa. Pada tanggal 31 Mei 1946 di Karawaci telah terjadi pembunuhan terhadap sebelas orang Cina Benteng, di antaranya: Lim Pit Bang,

6 Lt. Gouverneur-Generaal ka Tangerang, “Sin Po”, tanggal 7 Juni 1946.

7 No. 325, S.L. van der Wal, Officiele bescheiden betrefende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen

PRENADAMEDIA GROUP

Liem Kian Hwie (80 Tahun), Liem Pit Tjeng (18 Tahun), Liem Rebo (16 Tahun) dan Sie Kiem Soe (15 Tahun). Pada tanggal 3 Juni 1946 di Kampung Karet telah dibunuh dengan kejam Tan Seng Bo (57 Tahun), Oey Hwee Nio (29 Tahun), Oey Kiem Lioe (7 Tahun). Di Bojongnangka dua puluh orang Cina Benteng ditangkap dan tidak diketahui nasibnya. Manurut laporan di Tangerang telah ter-jadi 28 pembakaran rumah-rumah orang Cina Benteng termasuk penghuninya dibakar hidup-hidup.8

Berdasarkan laporan yang diterima oleh Palang Merah Jang Seng Ie Jakarta sebanyak 653 (enam ratus lima puluh tiga) orang Cina Benteng tewas, terdiri atas 136 (seratus tiga puluh enam) perempuan, dan 36 (tiga puluh enam) anak-anak, 1.268 (seribu dua ratus enam puluh delapan) rumah warga Cina Benteng di-bakar, dan 236 (dua ratus tiga puluh enam) rumah warga Cina Benteng dirusak massa. Akibat pembantaian tersebut, sekitar dua puluh lima ribu warga Cina Benteng mengungsi ke Jakarta dan ditampung oleh perkumpulan Sin Ming Hui di Molenvliet (Jl. Ga-jahmada) No. 188.9 Oey Hok Tjan menuturkan:

“Pada hari kedua satu kandaraan mobil yang berbendera Yang Seng Ie Red Cross membawa barang-barang, makanan, pakaian dan obat-obatan segera berangkat ke Tangerang, penulis pun turut serta, sete-lah berada di gedung Chung Hua Chung Hui kita dapat melihat dengan dua mata menyaksikan penderitaan yang sangat memukul perasaan dan tak merasa lagi di mana kedua pelipis mata telah mengalir kedua pinggiran pipi air mata yang murni dan menangis dalam hati kecil saya, saya mengambil sapu tangan untuk menghilangkan air mata dan pergi keluar. Penulis menulis ini lantas berhenti sebentar, karena kedua mata telah mengalir air mata dan merasa sedih, seolah-olah lantas terbayang apa yang telah terjadi dunia kiamat terhadap tong pauw diperdalam sebelah selatan Kota Tangerang yang telah silam pada 36 tahun yang lampau, seolah-olah terbayang seperti baru saja terjadi begitu….”10

8 Benny G. Setiono, Loc. cit.

9 Ibid., hlm. 583.

PRENADAMEDIA GROUP

Terjadinya kerusuhan Tangerang tersebut menjadikan Loge-mann, Menteri Urusan Seberang meminta keterangan kepada Let-nan Gubernur van Mook tertanggal 6 Juni 1946. Dalam suratnya Logemann menyatakan:

”Karena Duta Besar Cina Tung Ling di sini ragu-ragu untuk meminta informasi lebih lanjut tentang pembunuhan massal atas orang-orang Cina di Tangerang, yang disebutkan oleh pers, saya meminta Anda untuk secepat mungkin memberikan informasi yang terlengkap ten-tang ini, mengenai tindakan apa yang perlu diambil. Selain itu saya mohon Anda menasihati saya apakah ada alasan untuk mengambil langkah-langkah tentang hal itu di London”11

Penjelasan Pemerintah Hindia Belanda atas surat Menteri Urusan Seberang Logemann menjelaskan bahwa jumlah korban dalam peristiwa kerusuhan di Tangerang tersebut tidak dapat di-pastikan. Menurut surat Pemerintah Hindia Belanda kepada Men-teri Urusan Seberang Logemann tertanggal 7 Juni 1946 dijelaskan:

”Selama kunjungannya, van Mook kemarin pagi juga mengunjungi tangerang di mana situasi itu dipantau bersama komandan dan oleh Ketua organisasi orang Cina informasi disampaikan. Sejak penduduk-an di Tpenduduk-angerpenduduk-ang oleh tentara kita tidak ada peristiwa ypenduduk-ang terjadi. Se-baliknya pada hari Selasa penyerangan berlangsung disertai dengan pembakaran terhadap penduduk Cina di sebelah barat Cisadane, semuanya tanpa alasan. Jumlah korban tidak bisa dipastikan. Saya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kondisi yang kita temukan.”12

Van Mook kemudian menjelaskan pula terjadinya peristiwa kerusuhan tersebut kepada Logemann. Kerusuhan tersebut menu-rut van Mook teror yang dilakukan oleh Laskar Rakyat, Tentara Republik Indonesia serta gerombolan perampok yang meneror warga Cina. Surat Gubernur Jenderal van Mook yang ditujukan kepada Menteri Urusan Seberang tertanggal 14 Juni 1946

menje-11 No. 206, S.L. van der Wal, Officiele bescheiden betrefende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen

1945-1950, vierde deel (’s Gravenhagen, 1974, Martinus Nijhoff).

12 No. 211, S.L. van der Wal, Officiele bescheiden betrefende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen

PRENADAMEDIA GROUP

laskan sebagai berikut:

”Mengenai telegram Anda nomor ZG 74 dan sehubungan dengan tele-gram saya nomor 410, penduduk Tangerang dan sekitarnya menurut laporan militer telah menderita akibat teror Laskar Rakyat, TRI, dan gerombolan perampok sebelum kedatangan pasukan Belanda. Ter-utama orang-orang Cina dalam hal ini menjadi sasaran. Sejak awal April orang-orang Cina ini tidak bisa meninggalkan Tangerang tan-pa izin dengan risiko akan ditangkap bersama keluarganya, selan-jutnya pemboikotan, penjarahan dan kerja paksa bagi TRI. Sebelum kedatangan tentara Belanda, Tangerang dikosongkan oleh Indonesia dan menurut berita-berita yang belum dibuktikan, mereka berenca-na melakukan pembakaran yang gagal kareberenca-na kedatangan tentara Belanda yang lebih awal, sehingga hanya beberapa bangunan saja yang hancur. Perlahan-lahan penduduk yang pada mulanya sebagian besar meninggalkan Tangerang, dengan perkecualian semua orang Cina, bisa kembali sebagian dan sibuk menungut panen padi. Berba-gai aparat pemerintah lama kembali menawarkan jasa-jasa mereka. Penduduk kembali tenang, tetapi masih takut dengan tindakan te-roris.

Banyak kerja sama dari penduduk dan terutama orang-orang Cina yang bisa diperoleh. Persediaan beras kira-kira 450 ton banyaknya digunakan di antaranya bagi pengungsi Cina, yang jumlahnya naik sampai 5.000 orang di Tangerang. Jumlah korban Cina tidak dikenal, tetapi ditafsirkan kira-kira 700 orang. Tentang aksi pembebasan Be-landa dan hasil-hasilnya saya akan mengirimkan telegram kemudian. Saya menyatakan bahwa dampak-dampak sekarang ini terjadi di luar daerah pendudukan dan kebebasan bergerak dari pasukan kita ma-sih dibatasi. Saya tidak melihat alasan langsung bagi langkah-lang-kah di London kecuali peristiwa itu bisa dinyatakan sebagai suatu motif bagi kebebasan bergerak selanjutnya, karena kini kita tidak bisa bertindak di luar lingkaran itu dalam kasus demikian dan tentara Inggris sehubungan dengan aksi demikian masih menahan diri. Juga masih bisa ditunjukkan kenyataan bahwa orang-orang di lingkung-an daerah kita menimbulklingkung-an bahaya dlingkung-an harus dibersihklingkung-an, seperti yang dipertimbangkan untuk Padang, selain dengan dampak-dampak yang sangat serius.

Saya telah meminta Konsul Jenderal di Singapura untuk menanggapi aksi pers yang kurang baik bagi kita setelah berbicara dengan Wright,

PRENADAMEDIA GROUP

di mana disampaikan bahwa pasukan Belanda berada di bawah pe-rintah Panglima Inggris dan kondisi tak terkontrol di luar garis batas itu bisa dicegah.”13

Awal kemerdekaan di tahun 1946 di mana masyarakat me-rasakan euforia pembebasan dan kemerdekaan, tampaknya siapa pun yang dianggap berpihak kepada Belanda, Inggris, dan penja-jah, maka akan dianggap sebagai musuh. Golongan Cina tentunya dalam hal ini adalah Cina Benteng turut menjadi korban karena ketidakberpihakannya kepada kaum Republik. Masyarakat Cina dianggap berpihak kepada penjajah akibat muncul isu yang tidak jelas adanya pengibaran bendera NICA oleh masyarakat Cina di Tangerang. Tampaknya luapan rasa kemerdekaan diungkapkan melalui cara yang destruktif berupa penghancuran dan pembu-nuhan terhadap siapa pun yang dituduh musuh kemerdekaan. Ma-syarakat Cina dianggap sebagai maMa-syarakat yang tidak berpihak kepada kemerdekaan. Kecenderungan untuk menghindari konflik dalam setiap kesempatan ditanggapi dengan cara yang salah oleh kaum atau kelompok pribumi. Masyarakat Cina Tangerang diang-gap berdiam diri, tentunya hal ini dapat dilihat dalam sudut pan-dang yang berbeda. Masyarakat Cina yang tidak berpihak karena masyarakat Cina akan menjadi sasaran kedua belah pihak yang bertikai, yaitu Republik dan Belanda. Ketika mereka menyatakan dukungan kepada kaum Republik berarti mereka akan menjadi incaran dan serangan Belanda, demikian pula sebaliknya. Untuk itu tampaknya mereka berpikir untuk diam atau tidak berpihak terhadap kelompok mana pun.

Peristiwa kerusuhan Tangerang tersebut membuat beberapa warga Cina di beberapa daerah memberikan bantuan kemanusia-an. Salah satu bantuan tersebut berasal dari Chung Hua Chung Hui Lombok. Dalam suratnya tertanggal 15 Juni 1946 yang ditujukan kepada Kepala Voedingmiddelenfond di Jakarta, Tio Tiong Swie me-nyatakan:

13 No. 231, S.L. van der Wal, Officiele bescheiden betrefende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen

PRENADAMEDIA GROUP

“Berhoeboeng dengan terdjadinja itoe pendjagalan, perampokan, dan berbagi2 kedjahatan dan kekedjaman terhadap pendoedoek Ti-onghoa di bilangan Tangerang baroe2 ini, hingga sebagai akibatnja riboean telah mendjadi korban dan riboean poela pelarian-pelarian Tionghoa dari itoe bilangan sedeng menderita seheibat-heibatnja, menoenggoe pertoeloeng pertoelong makanan, pakean dan seba-gainja. Maka tersoeroeng oleh perasaan kewadjiban dan kemanoesi-aan, pendoedoek Tionghoa di seloeroe poelou Lombok mengadakan gerakan menjoembang seriboe quintaal beras oentoek meringankan deritaan mereka itoe.14”

Peristiwa kerusuhan Cina di tahun 1946 berdasarkan lapor-an tersebut meliputi penjagallapor-an atau pemblapor-antailapor-an, perampoklapor-an, dan banyak bentuk kekejaman lainnya di mana ribuan warga Cina Tangerang mengalami penderitaan yang luar biasa berat. Solida-ritas terhadap penderitaan tersebut mengakibatkan beberapa war-ga Cina di lain-lain wilayah memberikan bantuan, seperti yang dilakukan oleh warga Cina Lombok dengan menyumbang seribu kwintal beras terhadap para korban.

Surat kabar Sin Po melaporkan bahwa terdapat lebih dari dua ribu pengungsi yang harus diselamatkan. Sin Po melaporkan:

“Ditambah dengan pengoengsi jang sampe koetika hari Djoemahat malam dan kemaren lohornja, sama sekali Chung Hua Chung Hui mo-esti memberikan makanan, pakean, dan sebaginja pada doea riboe pengoengsi lebih. Selainja itoe djoemlah masi diharap kedatanganja banjak pengoengsi lagi, teroetama diharap korban-korban jang se-dang ditjari oleh doea poeloeh anem orang jang seboetkan diatas. Sampe pada seboelanja kedatangannja pengoengsi jang kita seboet-kan blaseboet-kangan tiap-tiap hari moesti dikaloearseboet-kan ongkos anem riboe lima ratoes rupiah tiap-tiap hari, sehingga dengen bertambahnja ma-rika itoe ditaksir sedikitnja Chung Hua Chung Hui Tangerang moesti kaloearkan tiap-tiap hari sapoeloeh riboe roepiah.”15

Biaya yang harus dikeluarkan oleh organisasi kemanusiaan Cina, Chung Hua Chung Hui Tangerang, adalah sebesar enam ribu

14 Surat Lombok Hua Chung Hui Comite Fond Tangerang kepada Padoeka Toean Kepala Voedingmid-delenfond, Departement Van Economischezaken di Djakarta, Tanggal 15 Juni 1946.

PRENADAMEDIA GROUP

hingga sepuluh ribu rupiah perhari akibat bertambahnya jumlah pengungsi yang mengalir keluar Tangerang. Sebanyak dua ribu orang pengungsi mengalir memasuki wilayah-wilayah lain seper-ti Jakarta untuk menghindarkan dirinya dari pembantaian. Uang tersebut digunakan untuk pembelian makanan juga pakaian yang dibutuhkan oleh pengungsi tersebut.

Masyarakat Cina Benteng yang terdapat di beberapa kawasan seperti Mauk, Kampung Melayu, Tangerang, banyak yang melari-kan diri ke Kampung Sewan. Menurut Souw Sin Tjiang, 65 tahun, menjelaskan bahwa banyak warga yang melarikan diri ke Kam-pung Sewan untuk menyelamatkan diri, karena Sewan dianggap oleh masyarakat Keturunan Cina merupakan daerah yang cukup aman. Souw menjelaskan:16

”Dulunya tanah Sewan masih jarang penduduk, rata-rata para penda-tang yang melarikan diri ke Sewan dari daerah-daerah seperti Mauk, Kampung Melayu, Tangerang Kota. Kita lari akibat adanya kerusuhan sekitar tahun empatluhan. Banyak orang Cina Benteng yang jadi kor-ban kerusuhan dibunuh sama pribumi. Bapak saya, dan kami seke-luarga lari ke Sewan sini untuk mencari perlindungan karena daerah sini termasuk aman.”

Pada tahun 1958, Jenderal Mayor Nasution selaku penguasa perang pusat mengeluarkan aturan larangan penggunaan huruf-huruf asing di Indonesia. Harian Sin Po mewartakan peristiwa ter-sebut:

”KSAD djenderal major Nasution, selaku penguasa perang pusat untuk