BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
A. Paparan Data
8. Kondisi Anak Didik
Melihat kondisi anak asuh, anak didik, serta masyarakat LKSA Keboharan Sidoarjo, memang tidak terlalu banyak, pada tahun ini tedapat 60 (25 asrama dan 35 non asrama) santri lembaga, 83 santri pada madrasaah diniyah, 50 jama’ah ibu-ibu pengajian rutinan hari Rabu, dan 50 jama’ah remaja pengajian (NGOPI-Ngobrol Perkara Iman) setiap awal bulan hari Sabtu. Yang selalu menjadi perhatian oleh pihak lembaga maupun pihak luar lembaga adalah perilaku dan moral anak asuh maupun anak didik.
“Kondisi anak asuh yang ada di LKSA ini ada bermacam-macam, ada dua anak yang harus direhabilitasi karena menggunakan narkoba. Sikap yang tidak bisa dikendalikan dan sering meraung-raung dengan mata memerah ketika membutuhkan obat. Hal ini yang perlu mendapatkan perhatian khusus agar mereka bisa normal kembali ke dalam syariat Islam, dengan berbagai upaya yang saya lakukan ini, semoga dapat membuahkan hasil”.63
Berdasarkan temuan penelitian selama peneliti melakukan observasi dan pengamatan tentang perilaku dan moral anak, remaja, dan orang tua LKSA Keboharan Sidoarjo dapat di tinjau dari tiga aspek utama yaitu :
a. Perilaku anak didik terhadap guru
Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan selama satu bulan dan dari kepala lembaga juga, bahwa masalah etika dan moral anak maupun remaja ataupun dewasa perlu mendapat perhatian, ada sebagian dari mereka
63 Abdul Munib, wawancara tanggal 20 April 2016, pukul 17.00 WIB di ruang tamu lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) Keboharan Sidoarjo
73
yang “menggangap” guru maupun orang yang lebih tua itu tidak perlu dihormati ataupun disapa. Cara bertutur kata maupun bersosialisasi dengan guru, teman, masyarakat agar dapat berbicara dan bertutur kata yang baik dan sopan. Rasa kepedulian, kejujuran, kepatuhan, dan tanggung jawab anak perlu dilatih dan didampingi oleh guru.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Ula, kedisiplinan dan keterlambatan anak didik masuk pembelajaran belum dikatakan baik. Alasannya untuk anak-anak, jam siang mereka capek karena baru pulang sekolah, jam sore mereka bangun terlambat dan kadang juga bermain. Untuk remaja, malas berangkat kalau proses pembelajaran belum dimulai, saling menunggu satu sama lain. Untuk ibu-ibu, berbincang-bincang terlebih dahulu. Hal ini yang menyebabkan tingkat kedisiplinan masih rendah.64
Disampaikan juga oleh kepala Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Keboharan Sidoarjo, Ustad. Abdul Munib :
“Tingkah laku anak maupun remaja saat ini menjadi problem yang harus dihadapi, dalam membentuk moral keagaaman anak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Di era globalisasi ini, gaya hidup, bergaul, berkomunikasi, dan bersosialisasi anak tidak terlepas dari produk perkembangan IPTEK. Sehingga saya berinisiatif membekali nilai-nilai Islam, dengan menanamkan kebiasaan positif maupun pembiasaan keagamaan yang diharapkan dapat membawa anak membentuk dan memiliki aqidah maupun iman yang kuat. Akan tetapi untuk saat ini saya masih berfikir bagaimana caranya membawa semua anak untuk bisa mengikuti program secara menyeluruh, soalnnya kadang kala awal-awalnya semangat tapi untuk hari-haari berikutnya sudah tidak ada yang mengikuti”.65
64 Khoridatul Aulia, wawancara tanggal 31 Maret 2016, pukul 16.00 WIB, di ruang serbaguna lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) Keboharan Sidoarjo
65 Abdul Munib, wawancara tanggal 30 Maret 2016, pukul 18.15 WIB, di kantor lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) Keboharan Sidoarjo
74 b. Perilaku anak didik terhadap teman
Berdasarkan pengamatan dan observasi peneliti bahwa memang tidak semua perilaku anak didik itu mencerminkan tingkah negatif akan tetapi banyak juga diantara anak didik yang memiliki kepribadian yang baik dan terpuji dalam proses kegiatan belajar mengajar, berinteraksi sosial sesama guru, teman-temannya dan siapapun. Akan tetapi salah satu diantara mereka memiliki tingkah yang sulit diatur dan selalu meremehkan.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Nur Roichanah yaitu bahwa: “Ada beberapa anak didik yang benar-benar memiliki kepribadian bagus, akan tetapi karena pengaruh dari pergaulan temannya sehingga berdampak pada si anak menjadi tidak fokus dan tidak bersemangat lagi dalam mencari ilmu. Tidak hanya faktor dari temannya, faktor keluarga juga berpengaruh besar dalam hal ini, ketika seorang anak tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya karena sibuk yang pada akhirnya berdampak pada psikologi anak. Jadi hal-hal yang seperti inilah menjadi perhatian khusus bagi pihak lembaga.”66
c. Perilaku anak didik terhadap lingkungan
Tidak dapat dipungkiri bahwa waktu yang dilakukan anak didik di sekolah, rumah atau lingkungan tempat dia tinggal, jauh lebih lama dari pada jumlah waktu di lembaga pendidikan non formal. Oleh sebab itu karakter yang di tampilkan anak didik di Lembaga pun berbeda-beda, ada yang sopan dan terlihat murah senyum pada setiap orang yang di kenal maupun tidak di kenal. Ada pula yang mempunyai karakter atau sikap yang cuek, juga tidak begitu sopan dengan guru maupun orang yang mereka rasa tidak begitu dekat dan kenal.
66 Nur Roichanah, wawancara tanggal 31 Maret 2016, 16.30 WIB, di ruang tamu lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) Keboharan Sidoarjo
75
Berdasarkan pengamatan dan observasi selama peneliti berada di Lembaga maupun di luar lingkungan Lembaga mendeskrpsikan bahwa secara mayoritas perilaku anak-anak diluar Lembaga memang bergaul dengan macam-macam teman. Jadi Kepala Lembaga juga guru-guru harus memberikan tameng atau pondasi yang kuat bagi para anak didik, agar tidak terbawa oleh teman-teman yang mempunyai perilaku menyimpang.
Seperti faktanya, pendidikan non formal ini memang bukan Lembaga favorit seperti Lembaga-lembaga maju. Namun, lembaga ini salalu berusaha untuk memikat hati masyarakat dengan nilai-nilai Islamnya dan cerminan keislaman yang dapat membawa Lembaga menjadi unggul dengan ciri khas islami dan mendorong kepercayaan masyarakat pada Lembaga ini.67