• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN

1. Kondisi Awal

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan survei awal. Survei awal dimaksudkan untuk mengetahui kondisi awal pembelajaran menulis ringkasan serta kemampuan awal siswa dalam menulis ringkasan. Kondisi awal ini menjadi acuan untuk menentukan tindakan apa saja yang akan dilakukan pada pembelajaran untuk siklus selanjutnya. Survei awal yang berupa kegiatan wawancara dilakukan pada hari Selasa, 6 Januari 2009, sedangkan kegiatan yang berupa observasi dilakukan pada hari Selasa, 12 Januari 2009 pukul 07.30 WIB.

Pada kegiatan pembelajaran sebelum tindakan, guru memulai Proses Belajar Mengajar dengan mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa agar mereka siap mengikuti pelajaran. Guru memulai pembelajaran dengan mengingatkan para siswa mengenai materi yang telah mereka terima minggu lalu dan mengantarkan siswa memasuki materi yang baru. Peneliti menempatkan diri di tempat duduk paling belakang, sehingga peneliti dapat mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar dengan leluasa tanpa mengganggu jalannya pelajaran

yang sedang berlangsung. Di kelas V guru menjelaskan mengenai materi menulis ringkasan buku. Guru mengawali penjelasan mengenai materi tersebut dengan menanyakan kepada siswa mengenai buku-buku yang pernah mereka baca dan menanyakan apakah mereka pernah meringkasnya. Selanjutnya guru menjelaskan mengenai langkah-langkah membuat ringkasan.

Saat proses pembelajaran berlangsung siswa terlihat pasif. Beberapa siswa memang tampak memperhatikan penjelasan guru, namun tidak sedikit siswa yang justru asyik dengan kegiatannya sendiri atau bahkan bercanda dengan teman sebangkunya. Siswa yang memperhatikan penjelasan guru hanya siswa yang duduk tepat di depan meja guru. Sebagian besar siswa juga tidak menujukkan adanya aktivitas mencatat di dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung.

Sebenarnya guru sudah berusaha untuk mengaktifkan siswa tetapi kurang berhasil. Guru sudah memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tetapi tidak ada siswa yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Karena tidak ada pertanyaan, guru menugaskan siswa untuk meringkas buku yang diberikan. Guru merasa yakin bahwa siswanya sudah memahami penjelasan yang telah disampaikan, terbukti tidak ada satu orang siswa pun yang mengajukan pertanyaan.

Pada saat mengerjakan tugas yang diberikan para siswa tampak saling bartanya satu sama lain. Mereka juga beranggapan jika ringkasan mereka semakin panjang akan semakin baik. Karena hal itu kelas menjadi sedikit gaduh, guru mengingatkan siswa agar tidak ramai dan segera menyelesaikan tugas mereka. Dalam kegiatan tersebut tampak ada beberapa siswa yang bertanya kepada guru ketika mereka menemui kesulitan dalam meringkas. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa, pada umumnya mereka kesulitan dalam menentukan pokok-pokok isi buku yang perlu diringkas.

Siswa mengerjakan tugas mereka hampir selama 40 menit. Mereka mengumpulkan tugas mereka saat bel istirahat berbunyi. Pembelajaran tersebut masih bersifat konvensional. Pembelajaran masih bepusat pada guru meskipun siswa diberi ruang untuk bertanya. Ceramah dan pemberian contoh yang abstrak membuat siswa masih kesulitan memahami penjelasan yang diberikan oleh guru.

Penugasan digunakan guru sebagai kegiatan evaluasi pembelajaran. Evaluasi yang dilakukan pada tulisan siswa lebih mengacu pada aspek mekanik berupa penggunaan ejaan dan tanda baca. Di samping itu, aspek kerapian tulisan sering mendapatkan porsi yang lebih besar dalam penilaian.

Meskipun dua aspek tersebut menjadi bagian dalam menentukan tingkat keterampilan siswa dalam menulis, masih ada aspek lain yang juga perlu diberi perhatian. Pemilihan kosakata, kesesuaian isi, pengembangan bahasa, dan pengorganisasian kata-katanya juga perlu diberi porsi yang berimbang dalam penilaian. Terhadap hasil evaluasi yang dilakukan guru, peneliti mengajukan model penilaian yang dinilai lebih komprehensif dalam mewadahi aspek penulisan karangan. Model penilaian tersebut mengacu pada pendapat Burhan Nurgiyantoro (2001: 307-308). Peneliti juga mengajukan penilaian terhadap kualitas proses pembelajaran kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajaran yang telah ada. Model penilaian tersebut berupa model penilaian sikap yang mengacu pada pendapat Sarwiji Suwandi (2008: 134-142).

Sehubungan dengan metode yang dipilih guru dalam pembelajaran, diakui oleh guru bahwa beliau belum menemukan metode yang tepat dan mudah untuk mengajarkan materi menulis. Lebih lanjut guru menjelaskan bahwa selama ini guru mengalami kesulitan untuk menemukan cara menyajikan kegiatan pembelajaran menulis yang menarik agar pembelajaran tersebut dapat berlangsung secara efektif. Berdasarkan penjelasan guru kelas tersebut juga diperoleh informasi bahwa selama ini prosedur kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut. (1) siswa diminta untuk membaca; (2) guru menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan pokok-pokok materi pelajaran (menulis); (3) guru memberikan kesempatan untuk bertanya jawab mengenai materi yang telah disampaikan; (4) guru membacakan contoh yang ada di buku teks Bahasa Indonesia, dan (5) guru meminta siswa untuk membuat tulisan sesuai dengan contoh dan materi yang telah disampaikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka tampak bahwa kegiatan pembelajaran menulis yang dilakukan masih terfokus pada guru dan belum memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengeksplorasi kemampuan

mereka secara optimal dalam kegiatan pembelajaran menulis yang dilakukan. Pengalaman belajar siswa terbatas, hanya pada tataran menyimak. Mungkin terdapat perkembangan proses berpikir,tetapi proses berpikir tersebut sangat terbatas dan terjadi pada proses taraf rendah. Melihat kenyataan tersebut tidak heran jika akhirnya siswa merasa bosan dengan model pembelajaran yang statis dan tidak variatif. Mereka hanya datang, duduk, mendengarkan, mengerjakan tugas dan akhirnya mengumpulkan tugas mereka. Berdasarkan pada nilai hasil ringkasan siswa pada survei awal diketahui bahwa kemampuan menulis ringkasan siswa di SD Negeri Dawungan I Sragen masih tergolong rendah. Rendahnya kemampuan menulis tersebut tampak pada indikator berikut ini:

1. sebagian besar siswa masih belum terbiasa dengan tradisi menulis dalam bentuk apapun;

2. sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan ide dengan baik;

3. sebagian besar siswa membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menghasilkan sebuah tulisan;

4. porsi waktu yang disediakan bagi siswa sangat terbatas sehingga mereka mengerjakan tugas menulis hanya semata-mata untuk memenuhi tugas dari guru;

5. siswa kurang bisa mengembangkan bahasa;

6. siswa kurang mampu dalam menggunakan ejaan yang benar.

Tabel 7. Perolehan Nilai Hasil Menulis Ringkasan pada Survei Awal

C1 C2 C3 C4 C5

1 Bagindo Utomo 17 14 10 7 2 50

2 Desi Dwi R 17 10 10 11 2 50

3 Desi Artidia Murti R 13 10 7 5 2 37

4 Dwi Mayasari 22 14 15 18 3 72 5 Endah Kusumawati 22 14 10 11 2 59 6 Erlina Novi I 22 10 10 18 2 62 7 Febri Istiyanti 17 14 14 18 2 65 8 Febrian Muhammad 17 10 10 7 2 46 9 Indra Wijayanti 17 10 14 18 2 61 10 Nur Indrayati 17 10 10 7 2 46 11 Nofiyanto 13 14 10 5 2 44 12 Romli Aji F 13 14 10 11 2 50

13 Selvia Ayu Pipin R 17 14 10 7 2 50

14 Tri Diyah Ayu P 17 14 14 18 2 65

15 Yuda Wahyu Febri A 13 14 10 7 2 46

Total 803 Nilai rata-rata 53,53 Keterangan: C1:Isi C2 :Organisasi C3: Kosakata C4: Pengembangan paragraf C5: Mekanik

Berdasarkan analisis di atas, peneliti dan guru merasa sangat perlu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta keterampilan menulis siswa, khususnya keterampilan menulis ringkasan mereka. Untuk itulah peneliti berdiskusi dengan guru untuk merencanakan langkah selanjutnya. Peneliti dan guru sepakat untuk melaksanakan tindakan pada hari Selasa, 20 Januari 2009.

2. Deskripsi Siklus I

Dokumen terkait