BAB IV Paparan Data dan Hasil Penelitian
B. Gambaran Lokasi Penelitian PDAM Tirta Binangun Kabupaten
4. Kondisi ekonomi
Perekonomian Kabupaten Kulon Progo sampai tahun 2017 ini masih digerakkan oleh sektor pertanian. Menyikapi hal tersebut, pemerintah daerah terus berupaya membangun alternatif seraya mengembangkan komoditas-komoditas unggulan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Hal ini dapat ditunjukkan dari perkembangan
nilai ekspor komoditas unggulan hasil industri ke beberapa negara eksportir seperti Jepang, Belanda, dan Australia.
Sektor pertanian di Kabupaten Kulon Progo terdiri atas 6 subsektor, yaitu tanaman pangan, tanaman hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Tanaman pangan meliputi komoditas padi (padi sawah dan ladang) dan palawija Yang termasuk tanaman palawija antara lain: komoditas jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedelai serta kacang hijau. Tanaman hortikultura meliputi buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman obat, serta tanaman hias.
Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah pasal 34 poin (3) menjelaskan bahwa persyaratan dasar kapasitas daerah adalah kemampuan daerah untuk berkembang dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dimana dalam pasal 36 poin (1) disebutkan bahwa parameter potensi ekonomi daerah menjadi syarat dasar kapasitas daerah. Sedangkan parameter potensi ekonomi daerah tersebut adalah merupakan potensi unggulan daerah. Pembangunan daerah yang sesuai dengan potensi dan sumber daya lokal yang dimiliki dapat dijadikan sebagai icon bagi desa tersebut. Oleh karena itu, pembangunan potensi unggulan yang dimiliki oleh suatu daerah dapat berbeda dengan desa yang lain. Hal ini dikarenakan setiap desa memiliki keanekaragaman yang khas, baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan geografis.
Model Triple Helix yang digunakan dalam penelitian ini melihat inovasi sebagai hasil dari jaringan kerja sama antara Pemerintah, Akademisi dan Bisnis. Dimana dunia akademik berperan sebagai pemasok konwlodege, pihak industri sebagai lokus dari produksi menjadi pemanfaat knowlodge, sementara pemerintah bertugas sebagai fasilitator yang memungkinkan interaksi stabil antara pemasok dan pemanfaat konwlodge.
Pihak industri dalam model inovasi pada penelitian ini fokus pada program pemerintah melalui BUMD. Dimana BUMD yang dimaksud dalam penelitian ini adalah PDAM Tirta Binangun yang mana kegiatan tersebut memanfaatkan potensi daerah yang dimiliki oleh Kabupaten Kulon Progo.
Pemerintah daerah Kabupaten Kulon Progo saat ini serius dalam menggerakkan ekonomi rakyat, masyarakat Kulon Progo harus mampu berdiri dikakinya sendiri (berdikari). Karena menyadari bahwa potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki oleh Kabupaten Kulon Progo sangat potensial. Hal ini dilakukan karena atas dasar keprihatinan Bupati Kulon Progo Bupati Kulon Progo, Bapak Hasto Wardoyo terhadap perilaku masyarakat Kulon Progo yang dianggap boros. Menurut Bapak Hasto Wardoyo hampir setiap hari ada puluhan ribu warga masyarakat Kulon Progo mengkonsumsi air minum kemasan produk luar. Keuntungannya pun banyak lari keluar Kulon Progo, Padahal daerah ini memiliki
sumberdaya air yang masih murni. Dengan demikian mendorong untuk lebih inovatif dalam meningkatkan daya beli produk lokal.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Bupati Kulon Progo Bapak Hasto Wardoyo
Bagaimana bisa Perusahaan air minum tidak produksi air minum, air minumnya dibiarkan diproduksi oleh prancis. Kemudian harus memikirkan bagaimana caranya kita bisa membuat air minum dalam kemasan. Mari kita kuasai sumber dayaair karena sepenuhnya harus dikuasai Negara dan keseluruhan hasil atau keuntungan untuk kesejahteraan rakyat. Inti dari bela kita beli air kulon progo adalah kalau anda patriot sejati minum airku, minum air sendiri, kalau tidak mendukung bela beli kulon progo berarti anda tidak mempunyai national states (keberpihakan kepada Negara) itu tidak ada itulah AIRKU air kulo perogo, bukan air-mu. drink water.
1 4 3
Hal ini juga didukung oleh Direktur PDAM Tirta Binangun Bapak Jumantoro
Pada saat bapak Hasto dilantik sebagai Bupati kemudian beliau membuat program 100 hari kerja, program 100 hari itu masing-masing SKP di dalam BUMD harus mempunyai program, didalam mengabdi ke masyarakat dalam hal pelayanan tidak hanya sekedar bekerja, tetapi harus berkarya, kemudian hal ini harus diwujudkan dalam mata integritas dalam 100 hari kerja. Kemudian PDAM Tirta Binangun harus memunculkan karyanya, memunculkan idenya, kemudian atas saran Bapak Bupati, PDAM akan memproduksi air
minum dalam kemasan.1 4 4
Hasil wawancara menunjukkan bahwa model inovasi yang dilakukan oleh Kabupaten Kulon Progo difokuskan pada pemanfaatan potensi daerah Kabupaten Kulon Progo. PDAM Tirta Binangun didorong untuk mengolah dan memanfaatkan potensi daerah menjadi berkualitas dan mempunyai nilai lebih.
1 Hasto Wardoyo, wawancara (20 Oktober 2018) 4 3
Salah satu gerakan pembangunan ekonomi daerah yang dilakukan oleh Bapak Hasto Wardoyo, selaku Bupati Kulon Progo adalah dengan membuat program 100 hari kerja yang lebih dikenal dengan program “bela-beli Kulon Progo”. Program tesebut bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah itu sendiri. Salah satu yang berperan dalam mensukseskan program “bela-beli Kulon Progo”, yaitu PDAM Tirta Binangun. Dimana selama ini PDAM hanya bisa menyediakan saluran air bersih kepada masyarakat sekitar. Kemudian pada tahun 2012 PDAM mulai berinovasi untuk menciptakan produk air minum dalam kemasan.
Model inovasi yang dilakukan oleh PDAM Tirta Binagun adalah model triple helix yang kemudian di tambah satu poin yaitu masyarakat, dimana masyarakat berperan penting dalam model inovasi tersebut. Karena memang masyarakat yang dijadikan tolak ukur keberhasilan inovasi yang dilakukan oleh PDAM Tirta Binangun, tolak ukur tesebut dapat dilihat pada tingkat kesejahteraan dan perekonomian masyarakat apakah meningkat atau stagnan.
Berikutnya penulis akan memaparkan data-data yang diperoleh selama penulis melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi berkaitan dengan model inovasi PDAM di Kabupaten Kulon Progo.