IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Kondisi Eksisting Tanaman Aren
Dari sebelas kecamatan di Kabupaten Gayo Lues, lima di antaranya menjadi sentra produksi aren, yakni: Kecamatan Putri Betung, Dabung Gelang, Pining, Terangon, dan Kecamatan Tripe Jaya. Tanaman aren menyebar di lima kecamatan tersebut seluas 190 hektar atau 82,25% dari 231 hektar di Kabupaten Gayo Lues, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Tabel 11. Luas Tanaman Aren dan Produksi di Sentra Produksi Gula Aren Kabupaten Gayo Lues.
No Kecamatan Luas Arel (Ha) Jumlah
(Ha)
6 Jumlah 5 Kecamatan 64 120 6 190 73.640
Total Kabupaten Gayo Lues 75 147 9 231 77.837 Persentase 5 Kecamatan 85,3 81,6 66,7 82,3 94,6 Sumber : Gayo Lues Dalam Angka 2014
Struktur produksi pohon aren di lima kecamatan ini sedikit menghawatirkan, karena sebagian besar tanaman tergolong tanaman menghasilkan. Tanaman belum menghasilkan masih relatif kecil, yakni 75 hektar dari 231 hektar keseluruhan tanaman.
Oleh karena itu diperlukan perluasan areal tanaman aren melalui berbagai prog perluasan areal. Di samping itu perlu upaya pewilayahan pengembangan pohon aren di buffer zone hutan di lima kecamatan sentra produksi ini. Seperti yang terlihat sebaran pohon aren tidak merata, setara dengan 36 pohon per hektar. Pada hal bila ditata dengan baik per hektar dapat ditanami paling kurang 200 pohon. Dengan demikian kesinambungan kerajinan gula aren di Kabupaten Gayo Lues dapat lebih terjamin.
Secara keseluruhan produksi produksi gula aren di Kabupaten Gayo Lues sebanyak 77.837 kg per tahun, dan di lima kecamatan sentra produksi ini sebesar 73.640 kg atau 94,6% dari produksi total. Dari lima kecamatan sentra produksi tersebut, Kecamatan Pining dan Terangon merupakan sentra produksi utama, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Tabel 12. Produksi dan Produktivitas Tanaman Aren di Kabupaten Gayo Lues
No Kecamatan Luas Areal
1 Putri Betung 20 6.970 697
2 Dabun Gelang 12 4.879 697
3 Pining 83 38.335 697
4 Terangon 53 15.092 419
5 Tripe Jaya 22 8.364 697
6 Jumlah 5 Kecamatan 190 73.640 614
Total Kabupaten Gayo Lues 231 77.837 530
Persentase 5 Kecamatan 82,3 94,6 Sumber : Gayo Lues Dalam Angka 2014
Pada Tabel 12 terlihat bahwa produktivitas terendah di Kecamatan Terangon, walaupun areal tanaman aren cukup luas, namun produksinya jauh lebih kecil dibandingkan Kecamatan Pining. Hasil survei menunjukkan bahwa tanaman aren di Kecamatan Terangon tidak tertata dengan baik. Tanaman aren menyebar di lembah atau di pinggir sungai kecil dalam keadaan yang kurang terawat. Oleh karena itu produktivitas per hektar relatif kecil dibandingkan produktivitas aren nasional.
Rendahnya produktivitas aren di daerah ini juga disebabkan kurang tertata pola produksi nira. Kemampuan petani menentukan tandan deres juga masih rendah, sehingga banyak tandan aren produktif yang tidak di deres. Secara umum dalam satu tahun terdapat paling kurang delapan tandan produktif yang di deres perhari dalam empat putaran produksi. Hal ini tidak dilakukan petani, karena keterbatasan peralatan dan tenaga penderes. Hasil pengamatan di lapangan petani hanya mampu menderes tiga sampai lima pohon per hari. Sehingga masih banyak tandan yang tidak terderes, dan akan mengalami keterlambatan produksi.
Sebagaimana yang kita pahami bahwa produksi tanaman aren dalam bentuk air nira bervariasi di antara kecamatan. Hasil survei menunjukkan bahwa jumlah petani dan produksi terbanyak di Kecamatan Pining dan Terangon. Jumlah produksi nira rata-rata per petani terbanyak di Kecamatan Tripe Jaya dan Pining, seperti yang ditunjukkan pada Tabel13. Ini artinya bahwa petani di dua Kecamatan ini lebih mampu menata putaran produksi pada masing-masing tandan deres. Di samping itu produktivitas petani juga lebih tinggi yang didukung oleh kemampuan menderes dan waktu yang digunakan dalam usaha ini.
Tabel 13. Produksi Nira Per Petani di Kabupaten Gayo Lues Per Putaran Produksi.
1 Putri Betung 34.850 72 484
2 Dabun Gelang 24.395 44 554
3 Pining 191.675 250 767
4 Terangon 75.460 132 572
5 Tripe Jaya 41.820 45 929
Jumlah 5 Kecamatan 368.200 543 678
Total Kabupaten Gayo Lues 389.185 673 578
Persentase 94,6 80,7
Sumber : Data Primer (diolah), 2015
Pada masa yang akan datang dapat dilakukan pembinaan yang lebh intensif kepada petani di Kecamatan lainnya dengan menggunaan petani Kecamatan Tripe Jaya dan Pining sebagai model di Kabupaten Gayo Lues.
2) Aceh Tenggara
Berbeda dengan kondisi eksisting Kabupaten Gayo Lues, keragaman pohon aren di Kabupaten Aceh Tenggara lebih merata di 12 kecamatan produksi. Dua belas kecamatan sentra produksi aren di Kabupaten Aceh Tenggara lebih dominan dengan struktur produksi yang lebih baik. Luas tanaman belum menghasilkan reatif besar, sehingga keberlangsungan produksi labih terjamin. Dari 537 hektar tanaman aren, 232 hektar adalah tanaman belum menghasilkan, seperti yang tunjukkan pada Tabel 14.
Sehingga bila ditata dengan baik, maka putaran produksi nira lebih terjamin.
Tabel 14. Sebaran Luas Areal dan Produksi Aren di Kabupaten Aceh Tenggara
No Kecamatan Luas (Ha) Jumlah
(Ha)
3 Lawe Sigala-gala 3 25 28 13
4 Babul Makmur 13 8 21 3,5
11 Darul Hasanah 30 31 61 16,5
12 Deleng Pokhisen 30 36 66 19,6
Jumlah Kecamatan 163 286 449 156,2
Jumlah Aceh Tenggara 232 305 537 159
Sumber : Aceh Tenggara Dalam Angka 2014
Dari 12 kecamatan sentra produksi tersebut, terdapat empat kecamatan yang menjadi sentra produksi utama, yaitu: Kecamatan Lawe Alas, Lawe Sumur, Badar, bambel, Darul Hasanah, dan Deleng Pokhisen. Kontribusi kelima kecamatan ini menghasilkan nira yang signifikan untuk produksi gula aren di Kabupaten Aceh Tenggara. Produksi nira di Kabupaten Aceh Tenggara yang terbanyak di Kecamatan Lawe Sumur, Badar, Bambel, dan Deleng Pokhisen. Sedangkan jumlah petani perajin terbanyak adalah di Kecamatan Badar dan Lawe Alas, seperti yang ditunjukkan Pada Tabel berikut. Rata-rata produksi nira per petani per minggu terbanyak di Kecamatan Bambel, Bukit Tusam dan Kecamatan Lawe Sumur. Untuk sentra produksi gula aren di Kecamatan Badar, Bambel, dan Deleng Pokhisenrata-rata produksi nira per petani relatif rendah. Pada hal jumlah pohon nira di daerah ini terbanyak. Rendahnya produksi per petani disebabkan pengusahaan pohon dan kemampuan menderes yang lebih rendah. Di samping itu putaran produksi nira per pohon juga lebih rendah. Akibatnya produksi nira petani lebih rendah.
Tabel 15. Produksi Nira Per Petani Per Tahun Kabupaten Aceh Tenggara
No Kecamatan Jumlah Petani Produksi
Nira (liter)
Produksi Nira Per Petani
(liter)
1 Lawe Alas 39 52.000 111
2 Babul Rahmah 18 45.000 208
3 Lawe Sigala-gala 14 65.000 387
4 Babul Makmur 23 17.500 63
5 Semadam 18 11.500 53
6 Bambel 5 91.000 1.517
7 Bukit Tusam 3 52.000 1.444
8 Lawe Sumur 28 115.000 342
9 Lawe Bulan 25 44.000 147
10 Badar 41 107.500 218
11 Darul Hasanah 25 82.500 275
12 Deleng Pokhisen 24 98.000 340
Jumlah Kecamatan 263 781.000 247
Jumlah Aceh Tenggara 271 795.000 244
Sumber : Data Primer (diolah), 2015
Hasil survei di daerah ini juga menunjukkan bahwa kemampuan petani menderes aren sangat bervariasi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produksi petani perlu dilakukan pelatihan di masing-masing sentra produksi. Kemampuan petani di Kecamatan Bambel dan Bukit Tusam dapat dijadikan model dalam pengelolaan putaran produksi nira.
4.3. Kondisi Industri Gula Aren dan Pengrajin