BAB II DESKRIPSI PROYEK
2.4 Tinjauan Khusus
2.4.3 Kondisi Eksisting
Dalam sebuah proses perancangan maka hal peertama yang harus diketahui dan dipahami adalah kondisi eksisting. Pada kegiatan ini maka perancang melakukan survey lapangan langsung guna memahami kondisi lapangan dan mengetahui potensi apa saja yang bisa memajukan kawasan ini sebagai dasar dalam perancangan Permukiman Relokasi Masyarakat Gunung Sinabung. Tinjauan kondisi eksisting dibagi menjadi 3 bagian, yakni:
. 1. Kondisi Aksesibilitas
Hasil survey kondisi aksesibilitas yang dilakukan perancang ke Hutan Siosar, hanya terdapat satu jalur masuk yaitu jalur masuk dari dengan jarak tempuh ±5 Km. Setelah melakukan pengamatan, kondisi site yang terlihat
merupakan lahan berkontur yang masih dalam tahap pengerjaan dan memasuki tahap finishing dikarenakan kondisi jalan masih berupa tanah keras yang dilapisi agregat kasar sebagai bahan dasar dari jalan aspal.
Gambar 2 20 Kondisi Fisik permukaan jalan menuju hutan siosar Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
Gambar 2 21 Kondisi jalan yang berliku-liku dan naik turun Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
2. Kondisi Lingkungan
Melalui pengamatan perancang, lokasi site yang ada merupakan lahan kosong yang terkesan cukup tenang dan cocok bagi korban bencana gunung Sinabung. Jauh dari kehidupan perkotaan yang padat aktivitas masyarakat menjadikan udara pada lokasi site terasa masih sangat segar serta banyaknya pohon-pohon pinus disekitar lokasi site menjadi salah satu bagian hijau pada lokasi ini. Diluar faktor kondisi lokasi yang sangat layak bagi kehidupan korban bencana Sinabung, faktor pendukung lainnya juga sangat dibutuhkan seperti fasilitas umum, fasilitas sosial, dan lahan perkebunan yang dapat dijadikan sebagai mata pencaharian korban Sinabung.
Gambar 2 22 Signage Entrance Perkampungan Siosar
Gambar 2 23 Kondisi Lingkungan Perkampungan Siosar dalam tahap konstruksi
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
Gambar 2 24 Hunian yang sedang dalam tahap konstruksi
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
Pada proses survey yang lalu, kondsisi lingkungan di hutan Siosar tidak dapat ditemukan dikarenakan lokasi hutan Siosar sampai saat ini masih dalam tahap pengerjaan. Kondisi yang terlihat oleh perancang hanya kondisi fisik hunian dan sirkulasi. Untuk penempatan fasilitas tidak sepenuhnya dapat diidentifikasi
namun data yang didapat dari wawancara bahwa akan ada taman dan beberapa fasilitas umum yang disediakan di tengah perkampungan.
Gambar 2 25 Area tengah yang akan dijadikan daerah taman dan fasilitas umum
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
Hutan pinus yang terdapat di sekitar site dan beberapa yang sudah ditebang untuk pelebaran jalan merupakan lahan milik pemerintah. Beberapa hasil tebangan dimanfaatkan sebagai material proses konstruksi seperti papan jembatan sementara, bekisting, dan beberapa sisanya dikembalikan ke pemerintah. Dalam hal ini perancang mengambil kesimpulan bahwa hutan pinus bukanlah sebuah potensi yang harus digunakan pada perancangan ini karena kepemilikan kayu tebangan yang dimiliki oleh pemerintah.
Gambar 2 26 Hutan Pinus disekitar kawasan permukiman Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
Gambar 2 27 Papan Pinus yang digunakan untuk membantu proses konstruksi
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
3. Kondisi Fisik Hunian
Menurut hasil pengamatan, kondisi fisik rumah yang dibangun di Perkampungan Siosar sudah cukup baik terlihat dari segi tampilan maupun struktur dai rumah itu sendiri. Tipologi rumah di Perkampungan ini sama seperti tipologi perumahan pada umumnya yang memiliki orientasi yang jelas, pola
rumah yang dibuat mengikuti pola grid, dan sebagainya. Struktur dan konstruksi rumah juga sama seperti rumah-rumah pada umumnya yang menggunakan material babtu bata, pondasi batu kali, dan lainnya yang mengacu pada konstruksi yang aman.
Beberapa alasan yang menjadi dasar pemikiran mengenai hunian di perkampungan ini adalah persoalan kenyamanan dan apakah masyarakat dapat betah untuk tinggal di permukiman ini dengan lingkungan yang berbeda dari hunian sebelumnya. Faktor lain adalah perbedaan dari jenis material hunian dan karakteristik permukiman.
Dari alasan-alasan diatas maka dibutuhkan adanya kajian terhadap tipologi hunian awal masyarakat , penggunaan material dan karakteristik dari permukiman sebelumnya.
Gambar 2 28 Bentuk Hunian masyarakat Korban Gunung Sinabung Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
Gambar 2 29 Hunian bagi masyarakat korban bencana Gunung Sinabung Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
Gambar 2 30 Proses Konstruksi Perkampungan Siosar Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015
3. Tinjauan 3 Desa
Untuk peninjauan tiga desa (Desa Bekerah, Desa Simacem dan Desa Sukameriah) tidak dilakukan secara langsung disebabkan oleh ketiga desa ini masih dalam zona yang tidak aman untuk aktivitas manusia. Dengan kondisi ini
maka peninjauan 3 desa hanya ditinjau melalui media elektronik, media cetak, buku dan berita koran.
Peninjauan tiga desa ini dilakukan untuk menyesuaikan perancangan dalam kawasan perkumiman Siosar yang akan dirancang dengan aspek-aspek yang ada pada tiga desa tersebut sehingga warga akan merasa nyaman dan lebih mudah beradaptasi pada lingkungan hidup yang baru.
1. Jenis Desa
Tabel 2 2 Tabel Klasifikasi Desa Sumber : BPS Kab. Karo
Untuk memahami kondisi dan kehidupan masyarakat pada hunian sebelumnya maka mengetahui dan memahami jenis dari ketiga desa menjadi hal yang sangat penting. Pemahaman ini dapat membantu perancang untuk memahami kehidupan masyarakat dari segi ekonomi, kepengurusan desa, dan sistem kepercayaan.
2. Konteks Masyarakat
Gambar 2 31 Skema masyarakat bagian 1
Konteks masyarakat ditinjau melalui suku, agama, dan psikologi masyarakat didapat dari Pemerintahan Karo. Mengingat kawasan ini merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Karo, maka suku terbesar dari masyarakat kawasan ini 70% merupakan suku karo dan 30% sisanya merupakan suku lainnya.
Agama terbesar yang dianut masyarakat adalah agama Kristen dengan persentase 65% dan sisanay adalah agama Islam dengan persentase 35%.
Masyarakat digolongkan dalam 3 kelompok usia yakni dewasa, remaja dan anak-anak. Penilaian psikologi anak-anak akibat bencana vulkanik menyebabkan melemahnya motivasi belajar dan mereka membutuhkan figuritas serta kegiatan keagamaan yang bermanfaat sehingga anak-anak bisa kembali bersemangat dalam menjalakan aktivitasnya. Berbeda dengan anak-anak, kendala yang dihadapai oleh remaja adalah proses pencarian jati diri yang rusak dan kurangnya kegiatan yang bermanfaat. Untuk orang dewasa, penurunan psikologis yang harus dihadapi adalah trauma akan kehilangan keluarga, situasi tempat yang dirasa kurang nyaman dan ketidakjelasan dari aktivitas sehari-hari. Penurunan psikologis yang sudah pasti dihadapi oleh semua kalangan adalah trauma, sedih dan depresi.
Konteks masyarakat lainnya terlihat pada budaya masyarakat dalam hal mata pencaharian dan kehidupan sosial. Beberapa mata pencaharian masyarakat sebelumnya adalah bercocok tanam, beternak, berdagang, menganyam. Sebagian besar masyarakat bermata pencaharian yang berasal dari ladang maupun berkebun kopi, cokelat dan jagung. Untuk masyarakat yang berternak umumnya mereka berternak sapi, ayam, kambing dan babi. Dari beberapa mata pencaharian yang sebagian sudah hilang akibat bencana vulkanik, maka masyarakat membutuhkan mata pencaharian baru untuk kehidupannya.
Selain mata pencaharian, masyarakat sebagai mahluk sosial membutuhkan kehidupan dalam bersosial. Mereka membutuhlan ruang untuk berkumpul atau bersosialisasi, swadaya (bergotong royong), dan ruang besar untuk mengadakan pesta rakyat.
3. Kegiatan Ruang Luar Masyarakat
Selain membutuhkan ruang dalam untuk tempat beristirahat dan melakukan kegiatan yang bersifat lebih privat, masyarakat juga membutuhkan ruang luar sebagai tempat aktivitas dan interaksi sosial. Ruang luar yang dibutuhkan masyarakat memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Masyarakat membutuhkan ruang untuk ibadah, sosialisasi, tempat mata pencaharian yang dapat dijadikan untuk berkebun, berternak, dan anyam,tempat untuk hiburan seperti taman bermain dan sarana olahraga,tempat melakukan ritual tradisi,dan tempat yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk bidang pangan, edukasi, kesehatan.
Gambar 2 33 Skema kegiatan ruang luar masyarakat di tiga desa 5. Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial
a. Balai Masyarakat
Balai masyarakat umumnya digunakan sebagai tempat untuk pertemuan masyarakat, bersosialisasi dan sering digunakan masyarakat untuk acara adat. Balai masyarakat lebih dikenal dengan sebutan jambur.
Gambar 2 34 Balai Masyarakat Sumber : https://karonewsupdate.wordpress.com
b. Tempat Ibadah
Tempat ibadah merupaka tempat untuk memenuhi kebutuhan rohani setiap orang. Keberadaan tempat ibadah di kawasan ini tidak berdekatan satu dengan lainnya.
Gambar 2 35 Tempat ibadah Sumber : https://karonewsupdate.wordpress.com
c. Fasilitas Penididikan
Fasilitas pendidikan di kawasan ini hanya terdapat sekolah SD dan SMP namun hanya ada di beberapa desa tidak disemua desa. Untuk sekolah tingkat menengah atas tidak ada ditemukan di kawasan ini. Umumnya anak-anak yang
akan masuk di tingkat SMA akan bersekolah di Kota Medan. Beberapa diantaranya ada yang hanya bersekolah sampai tingkat SMP dan tidak melanjutkan ke tingkat SMA.
Gambar 2 36 Salah satu SD
Sumber : http://statik.tempo.co d. Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di kawasan ini hanya terdapat Pustu (Puskesmas Pembantu) yang terdapat di salah satu desa.