PENCAPAIAN IKG DESA
4.2. Kondisi Infrastuktur
Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk mempercepat proses pembangunan nasional. Infrastruktur juga memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Ini mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak dapat pisahkan dari ketersediaan infrastruktur.
Infrastruktur selain merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, antara lain dalam peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran nyata dan terwujudnya stabilisasi makro ekonomi.
Pada komponen infrastruktur dan geografis terdapat beberapa hal yang cukup menarik untuk diamati diantaranya dari 165 desa yang ada, masih terdapat 42 desa yang jenis permukaan jalan terluas bukan aspal/beton, serta masih ada 25 desa yang pada saat tertentu khususnya ketika turun hujan kendaraan roda empat atau lebih tidak dapat melintasinya.
Keberadaan infrastruktur ekonomi tercatat sebanyak 62 desa atau sekitar 37,58 persen dari jumlah desa terdapat keberadaan kelompok pertokoan. Desa yang tidak ada keberadaan kelompok pertokoaan akan mengakses ke kelompok pertokoan terdekat, ada sebanyak 64 desa yang tidak terdapat kelompok
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 41 pertokoan wargana harus mengakses fasilitas ini cukup jauh yaitu: 19 desa jauh, 22 desa sangat jauh, dan 23 desa sangat jauh sekali. (Tabel 4.4)
Tabel 4.4.
Jumlah Desa dan Persentasenya Keberadaan Kelompok Pertokoan di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017.
Keberadaan Kelompok
Tidak ada, sangat jauh sekali 23 13,94
Jumlah 165 100,00
Selain kelompok pertokoan, fasilitas yang menjadi varabel penentu kesulitan geografis adalah keberadaan pasar. Pasar sangatlah berperan dalam kehidupan ekonomi, minimal ada 3 peran pasar, antaralain bagi konsumen, pasar memberikan kemudahan untuk memperoleh barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya, bagi produsen, pasar memberikan kemudahan untuk memperoleh bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi serta memberikan kemudahan untuk menjual barang dan jasa hasil produksi, dan terakhir bagi pemerintah, pasar juga memberikan kemudahan untuk memperoleh dan menjual barang dan jasa yang diperlukan oleh pemerintah. Selain itu, dapat menambah penerimaan pemerintah melalui penarikan pajak dan retribusi.
Desa di Kabupaten Bandung Barat yang terdapat pasar hanya berjumlah 54 desa. Keadaan ini sangatlah kurang bila dibandingkan dengan peran pasar yang cukup strategis bagi perekonomian.
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 42 Tabel 4.5
Keberadaan Infrastruktur
di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017.
Jenis Infrastruktur Desa yang Tidak Memiliki Jumlah Persentase
Pasar 111 67,27
Restoran, Rumah/Warung Makan 20 12,12
Hotel/Penginapan 143 86,67
Bank/BPR 133 80,60
Penerangan Jalan 54 32,72
Restoran, rumah/warung makan keberadaannya cukup menggembirakan dari 165 desa yang ada 145 diantaranya terdapat restoran, rumah/warung makan, sementara sisanya sebanyak 20 desa (12,12%) tidak terdapat restoran dan rumah makan.
Keberadaan bank memberikan manfaat bagi setiap orang yang ingin membuka usaha dengan memberikan pinjaman modal dalam membuka usaha, selain itu bank juga memiliki fungsi penyimpan uang yang dijamin keamanannya.
Keberadaan Bank di kabupaten Bandung Barat tercatat hanya sedikit, yaitu hanya 32 desa saja yang terdapat bank di wilayahnya, sisanya sebanyak 133 desa (80,60%) harus mengakses ketempat lain.
Fungsi dan peran hotel/penginapan dewasa ini sangat diakui mengingat keberadaannya memberi efek penting bagi perkembangan daerah, terutama jasa pemenuhan akomodasi wisata di daerah tersebut. Selain fungsi tersebut hotel/penginapan berdapak cukup signifikan dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan nilai tanah serta merangsang geliat bisnis di daerah tersebut.
Kabupaten Bandung Barat dikenal memiliki banyak hotel, sayangnya konsentrasinya masih berpusat didaerah wisata Lembang dan sekitarnya. Desa
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 43 yang terdapat keberadaan hotel hanya ada 22 desa, itupun hanya berada di Kecamatan Lembang, Parongpong, dan Cisarua.
Listrik terbukti menjadi sebuah bagian utama untuk kelangsungan hidup manusia. Seperti yang kita ketahui hampir seluruh wilayah di bumi ini sudah membutuhkan energi ini untuk menggerakkan roda kehidupan. Begitu pentingnya listrik bagi kehidupan. Berbagai hal, mulai dari perekonomian, transportasi, bahkan untuk dalam lingkup kecil pun, semisal alat rumah tangga, penerangan desa, dan lain sebagainya bergantung dari sumber daya listrik ini, untuk menjalankannya. Desa di Kabupaten Bandung Barat ada sebanyak 12 desa masih ada sebagian kecil masyarakatnya belum memiliki listrik. Faktor geografis dan kemampuan ekonomi menjadi penyebab masih ada keluarga tanpa listrik.
Fasilitas penerangan jalan utama desa juga mempunyai peran yang penting dalam meningkatkan aksesibilitas wilayah, dengan penerangan jalan utama desa yang memadai diharapkan para tingkat keselamatan pengguna jalan khususnya dimalam hari semakin meningkat yang pada akhirnya akan memperlancar arus lalulintas dari dan ke desa tersebut. Lebih dari separuh desa yaitu 54 (32,72%) desa belum ada penerangan jalan.
Hal lain yang menjadi penghitungan kesulitan geografis dari sisi infrastruktur adalah bahan bakar untuk memasak yang digunakan oleh sebagian besar keluarga, masih ada 10 desa (6,06%) yang sebagian besar keluarga menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak.
Desa Margaluyu Kecamatan Cipeundeuy merupakan desa yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi dalam menjangkau akses terhadap infrastruktur dari desa-desa lainnya di Kabupaten Bandung Barat. Lima desa dengan tingkat
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 44 kesulitan tertinggi terhadap akses ke infrastruktur adalah Desa Margaluyu Kecamatan Cipeundeuy (20,56), Desa Girimukti Kecamatan Saguling (18,29), Desa Jati Kecamatan Saguling (18,06), Desa Cikande Kecamatan Saguling (17,70), dan Desa Cipageran Kecamatan Saguling (17,59). Sebagian besar faktor yang menjadi penyumbang terhadap sulitnya akses ke infrastruktur adalah akses ke Pasar, Energi Listrik dan Bahan Bakar. Lebih jelas nya dapat dilihat pada tabel 4.5
Desa yang memiliki nilai kesulitan infrastruktur terendah adalah Desa Jayagiri Kecamatan Lembang dengan nilai sempurna yaitu 0,00, artinya Desa Jayagiri Kecamatan Lembang memiliki akses terhadap infrasruktur sangat baik, infrastruktur yang barada di desa tersebut lengkap dan memadai. Desa lain yang memiliki nilai ketersedian infrastruktur baik adalah Desa Lembang Kecamatan Lembang (0,54), Desa Kertamulya Kecamatan Padalarang (1,07), Desa Cibogo Kecamatan Lembang (2,66), dan diurutan ke lima ada Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua (3,00).
Tabel 4.6.
Desa dengan Nilai Terendah dan Tertinggi Untuk Akses ke Infrastruktur di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017
No
3 Padalarang Kertamulya 1,07
4 Lembang Cibogo 2,66
5 Cisarua Jambudipa 3,00
... ... ... ...
161 Saguling Cipangeran 17,59
162 Saguling Cikande 17,70
163 Saguling Jati 18,06
164 Saguling Girimukti 18,29
165 Cipeundeuy Margaluyu 20,56
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 45 4.3. Aksesibilitas/Transportasi
Akses akan sarana transportasi memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian. Hal tersebut dikarenakan transportasi berhubungan dengan kegiatan-kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Pemerintah daerah perlu mengedepankan pentingnya transportasi untuk memperlancar kegiatan perekonomian.
Berbagai aktifitas terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar memerlukan ketersediaan infrastruktur yang baik, sekarang transportasi berperan penting dalam mengakomodasi aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat. Peran lain pada tahap ini adalah sebagai fasilitas bagi sistem produksi dan investasi sehingga memberikan dampak positif pada kondisi ekonomi baik pada tingkat nasional maupun daerah. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi dapat membuka aksesibilitas sehingga meningkatkan produksi masyarakat yang berujung pada peningkatan daya beli masyarakat.
Komponen transportasi merupakan gambaran aksesibilitas desa ditinjau dari ketersediaan angkutan umum untuk mencapai suatu wilayah. Semakin mudah, murah, tersedia setiap saat dan waktu tempuh yang pendek akan menggambarkan semakin terbukanya aksesibilitas suatu wilayah.
Pada Tabel 4.7 terlihat bahwa di Kabupaten Bandung Barat tahun 2017 mngalami peningkatan di komponen transportasi, permukaan jalan terluas seluruhnya telah diaspal, dan sepanjang tahun sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda 4.
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 46 Tabel 4.7.
Jumlah Desa dan Persentasenya Menurut Kondisi Transportasi di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017
Kondisi Transportasi Jumlah Persentase
Kondisi Jalan Diperkeras 0 0,0
Sepanjang Tahun Kecuali Musim Hujan dan
Kondisi Tertentu 0 0,0
Tidak Ada Angkutan Umum 87 52,73
Salah satu hal yang penting tentang transportasi dengan perkembangan wilayah adalah aksesibilitas. Yang dimaksud aksesibilitas adalah kemampuan atau keadaan suatu wilayah, region, ruang untuk dapat diakses oleh pihak luar baik secara langsung atau tidak langsung. Pembangunan perekonomian suatu desa menjadi kian lambat dan terhambat hanya karena minimnya sarana transportasi yang ada (Hensi Margaretta, 2000), maka disinilah pentingnya transportasi (angkutan umum).
Pemerintah perlu.memkirkan agar memperluas aksek angkutan umum, karena masih ada 85 yang tidak dilalui angkutan umum roda 4. Angkutan ummum ini sangat penting karena menyangkut penyediaan transport murah yang pada akhirnya akan menekan pengeluaran rumah tangga sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat.
Sebagian besar Desa tidak memiliki angkutan angkutan umum, yaitu 87 desa (52,73%). Kondisi ini merupakan pekerjaan rumah (PR) yang cukup penting untuk dicari solusinya. Desa yang keberadaan angkutan umum diduga warganya menggunakan moda angkutan sendiri/pribadi atau mengguanan ojek sebagai alat tranportasinya.
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 47 Gambar 4.3.
Jumlah Desa yang Dilalui Angkutan Umum dan Persentasenya Menurut Operasional Angkutan Umum di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017
Geografis Kabupaten Bandung Barat yang sebagiannya tidak landai (berbukit) mengakibatkan waktu tempuh yang cukup lama, masih sebagian besar menempuh waktu ke ibu kota kabupaten diatas 1 jam perjalanan. Konsekuensi dari waktu tempuh yang lama adalah harga angkutan yang relatif tinggi.
Tabel 4.8.
Jumlah Desa dan Persentasenya Menurut Lama per Kilometer di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017
Lamanya keseluruhan dari kantor desa ke kantor kecamatan atau ke kantor kaupaten. Ada 76 desa waktu tempuhnya relatif lama (lama, sangat lama, dan sangat lama sekali)
Setiap hari/
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 48 ke kantor kecamatan dan ada 79 desa yang waktu tempuhnya ke kantor kabupaten relatif lama. Kantor kecamatan dan kabupaten merupakan simbol akan akses ke fasilitas yang lebih lengkap baik itu fasilitas ekonomi, kesehatan pedidikan dan yang lainnya.
Tabel 4.9.
Jumlah Desa dan Persentasenya Menurut Biaya Transportasi di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017
Biaya perkilometer kabupaten, berbanding lurus dengan biaya perkilometer. Desa dengan biaya relatif mahal ke kantor kecamatan sebanyak 87 desa, sementara untuk ke kantor kabupaten lebih dari setengahnya harus mengeluarkan biaya mahal, yaitu sebanyak 93 desa.
Secara keseluruhan untuk nilai terbesar kesulitan transportasi didominasi oleh dua kecamatan yang secara geografis cukup sulit dan jauh yaitu Kecamatan Rongga dan Gunung Halu. Diurutan tersulit secara transportasi adalah Desa Sukasari Kecamatan Gunung Halu (23,01) disusul secara berturut-turut, Desa Sindangjaya Kecamatan Gunung Halu (22,77), Desa Cilangari Kecamatan Gunung Halu (22,77), Desa Bojongsalam Kecamatan Rongga (24,54), Desa Cicadas Kecamatan Rongga (22,49). Bila diurutkan lebih lanjut maka 4 kecamatn cukup
Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017 49 mendominasi yaitu Kecamatan Rongga, Gunung Halu, Sindang Kerta dan Cipongkor. Kawasan ini memang memerlukan peningkatan untuk segala sisi yang menyangkut akses.
Tabel 4.10.
Desa dengan Tingkat Kesulitan Indeks Faktor Infrastruktur Terendah dan Tertinggi di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017
No
Urut Kecamatan Desa Nilai
Kesulitan Transportasi
1 Cisarua Jambudipa 3,10
2 Padalarang Padalarang 3,27
3 Lembang Jayagiri 3,37
4 Lembang Kayuambon 3,37
5 Cililin Cililin 3,70
... ... ... ...
161 Rongga Sukaresmi 20,96
162 Rongga Bojongsalam 20,96
163 Gununghalu Cilangari 22,77
164 Gununghalu Sindangjaya 22,77
165 Gununghalu Sukasari 23,01
Desa yang memiliki tingkat kesulitan transportasi terkecil adalah Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua (3,10), kemudian berturut-turut diikuti oleh Desa Padalarang Kecamatan Padalarang (3,27), Desa Jayagiri Kecamatan Lembang (3,37), Desa Kayuambon Kecamatan Lembang (3,37) dan Desa Cililin Kecamatan Cililin (3,70).