• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.4. KONDISI INTUBASI RERATA PADA KEDUA KELOMPOK SETELAH

TERJADI BLOK (TOF<25%)

Pada penelitian ini, skor intubasi rerata kelompok rokuronium dosis 0.6 mg/kg iv 4 menit setelah pemberian efedrin 70 µg/kg iv yakni 8,83 kurang lebih sama baik dengan rokuronium 1 mg/kg iv yakni 9. Dengan menggunakan uji t tidak terdapat perbedaan bermakna dengan nilai p= 0,052

Tabel 4.4. Kondisi intubasi rerata pada kedua kelompok

Kondisi Intubasi Kriteria Cooper Kelompok A (n=30) Kelompok B (n=30) p

Skor Intubasi Rerata 8,83 (SD 0,461) 9 (SD 0) 0,052*

* Uji t independen

Kelompok A : Kelompok. Efedrin 70µg/kg iv+Rokuronium 0,6 mg/kg iv Kelompok B : Kelompok Rokuronium 1 mg/kg iv

4.5. RENTANG KONDISI INTUBASI PADA KEDUA KELOMPOK SETELAH TERJADI BLOK (TOF<25%)

Pada kelompok rokuronium 1 mg/kg iv, kondisi intubasi sangat baik pada 30 pasien ( 100 %). Tidak ada kriteria baik, sedang maupun buruk. Sedangkan pada

kelompok rokuronium dosis 0.6 mg/kg iv 4 menit setelah pemberian efedrin 70 µg/kg iv kondisi intubasi sangat baik pada 29 pasien (48,3 %), baik pada 1 pasien

( 1,7%), tidak ada kriteria sedang dan buruk. Melalui uji x2 dengan nilai p= 0,313 tidak terdapat perbedaan bermakna proporsi antara kedua kelompok.

Tabel 4.5. Rentang kondisi intubasi pada kedua kelompok

Kondisi Intubasi Kriteria Cooper Kelompok A (n=30) Kelompok B (n=30) p 0-2 (buruk) 0 0 0,313* 3-5 (sedang) 0 0 6-7 (baik) 1 0 8-9 (baik sekali) 29 30 Total 30 30

* Uji Chi Square

Kelompok A : Kelompok Efedrin 70 µg/kg iv +Rokuronium 0,6 mg/kg iv Kelompok B : Kelompok Rokuronium 1 mg/kg iv

BAB 5

PEMBAHASAN

Dari data karakteristik umum subjek penelitian terlihat bahwa umur, jenis kelamin, indeks massa tubuh, temperatur, status fisik ASA, dan skor mallampati (tabel 4.1), pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik yang berarti subjek penelitian yang diambil relatif homogen dan layak untuk dibandingkan. Juga tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara kedua kelompok pada jenis tindakan operasi (tabel 4.2).

Pada penelitian ini, terdapat perbedaan mula kerja rokuronium dosis 0.6 mg/kg iv 4 menit setelah pemberian efedrin 70 µg/kgiv dan rokuronium 1 mg/kg iv

yang bermakna secara statistik, dimana mula kerja rokuronium dosis 0.6 mg/kg iv 4 menit setelah pemberian efedrin 70 µg/kgiv 109,47 detik (SD 23,11 ) dan rokuronium 1 mg/kg 97,97 detik (SD 16,06) dengan p= 0,029.

Kecepatan mula kerja suksinilkolin merupakan standar emas obat-obat pelumpuh otot, namun beberapa efek sampingnya menghalangi pemakaiannya untuk setiap pasien. Hal ini menyebabkan banyaknya penelitian untuk mempercepat mula kerja obat pelumpuh otot non depol sehingga mendapat obat yang cepat dan teknik baru cara pemberian, seperti misalnya pemberian priming dose sebelum dosis intubasi, penambahan dosis obat, dan kombinasi obat. Meskipun berbagai alternatif ini dapat mengurangi mula kerja obat, namun beberapa dapat menimbulkan efek samping, misalnya kesulitan untuk bernafas, kehilangan refleks perlindungan terhadap jalan nafas, bahkan aspirasi paru sebelum induksi anestesi, dan penambahan durasi obat pelumpuh otot.13

Mula kerja dan durasi obat pelumpuh otot non depol ditentukan oleh waktu yang diperlukan untuk konsentrasi obat tersebut mencapai tempat kerjanya, dan kembali dibawah level kritis. Untuk lama kerja, level ini ditentukan terutama oleh konsentrasi plasma setidaknya untuk obat yang bekerja durasi sedang dan panjang. Bagaimanapun, mula kerja obat terjadi 2 sampai 7 menit setelah konsentrasi plasma tercapai. Keterlambatan ini menunjukkan waktu yang diperlukan obat untuk bergerak diantara

plasma dan neuromuscular junction dan ditunjukkan secara kuantitatif dengan konstanta. Konstanta ini berhubungan dengan waktu paruh, dimana pada umumnya 5 – 10 menit untuk obat pelumpuh otot non depol dan hal ini ditentukan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi tempat dan cara masuk obat ke neuromuscular junction. Hal ini termasuk potensi obat, dosis obat, curah jantung, jarak otot dari jantung, dan aliran darah otot. Sehingga, mula kerja obat tidak sama pada seluruh otot, karena perbedaan aliran darah.11,13,21

Bila dibandingkan dari dua penelitian sebelumnya, dimana dari penelitian Solihin GM tahun 2007 di RSHAM Medan, menyatakan bahwa mula kerja rokuronium bromida 1 mg/kg iv lebih cepat untuk mencapai kondisi intubasi yang baik daripada rokuronium bromida 0,6 mg/kg iv. Dari penelitian ini, didapatkan hasil rata-rata mula kerja rokuronium 1 mg/kg iv tercapai dalam waktu 97,6 detik sementara mula kerja rokuronium 0,6 mg/kg iv tercapai dalam waktu 143,7 detik. Dan dari penelitian DW Han et all, tahun 2008 di Korea menyimpulkan bahwa dengan pemberian efedrin 70 µg/kg iv dapat mempercepat onset kerja rokuronium 0,6 mg/kg iv bila diberikan 4 menit setelah injeksi efedrin, yakni dimana rata-rata mula kerja rokuronium 0,6 mg/kg iv yang didahului pemberian efedrin 70 µg/kg iv 4 menit sebelumnya,

tercapai dalam waktu 64 detik hal ini lebih cepat daripada pemberian rokuronium 0,6mg/kg iv yang pada penelitian ini rata rata mula kerjanya tercapai dalam waktu 80 detik.

Maka, dari penelitian ini didapatkan bahwa penambahan dosis lebih mempercepat mula kerja obat, dibandingkan penambahan adjuvant. Hal ini kemungkinan disebabkan dosis pemberian rokuronium kurang sebanding, dimana terdapat perbedaan rentang dosis antara dosis rokuronium 1 mg/kg dengan rokuronium 0,6 mg/kg iv. Pada penelitian ini, meskipun didapatkan hasil mula kerja rokuronium 0,6 mg/kg iv dengan pemberian efedrin 70 µg/kg iv 4 menit sebelumnya 109,47 detik, namun bila dibandingkan dengan penelitian Solihin GM, dimana dosis rokuronium 0,6 mg/kg iv mencapai mula kerja rata rata 143,7 detik, maka terdapat perbedaan waktu yang bermakna, yakni dimana pada penambahan efedrin, untuk dosis rokuronium yang sama ( 0,6 mg/kg iv) dapat mempercepat mula kerja obat tersebut.

Selain itu, keaslian produk obat juga kemungkinan memberi pengaruh terhadap penelitian ini. Dimana dalam penelitian ini, peneliti menggunakan produk Roculax. Meskipun dari penelitian Solihin GM pada tahun 2007 di RSHAM telah melakukan penelitian awal membandingkan produk asli dan sintetis, dimana didapatkan hasil mula kerja dan durasi obat yang hampir sama.

Pada penelitian Munoz HR et all, tahun 1997 di Santiago, dengan judul The effect of Ephedrine on The Onset Time of Rocuronium, membandingkan pemberian

efedrin 70 µg/kg iv dan plasebo (NaCl0.9%) terhadap mula kerja rokuronium dosis 0,6 mg/kg iv, dimana didapat kesimpulan bahwa efedrin dapat mempercepat mula kerja

rokuronium hampir 30 detik.(13)

Peneliti telah melakukan penyimpaan obat sesuai yang direkomendasikan di dalam monograph roculax drug prescription, dimana penyimpanan obat sebelum dipakai adalah pada suhu 2-8˚ C untuk mempertahankan potensi dan struktur kimiawi obat dan bila berada di ruang suhu kamar (25˚C) dengan penggunaannya sebelum 60 hari.

Pada penelitian ini skor intubasi rerata (Skor Cooper) kelompok rokuronium 1 mg/kg bb iv 9 (SD 0) lebih baik dari kelompok rokuronium dosis 0.6 mg/kg iv 4 menit setelah pemberian efedrin 70 µg/kgiv 8,86 (SD 0,46 ) namun secara statistik tidak bermakna. Dengan keterangan pada kelompok rokuronium 1 mg/kg iv, kondisi intubasi baik sekali 28 pasien (100%) tidak ada kriteria baik, sedang maupun buruk. Sedangkan kelompok rokuronium dosis 0.6 mg/kg iv 4 menit setelah pemberian efedrin 70 µg/kg iv kondisi intubasi baik sekali 27 pasien (96,4%), baik 1 (3,6%), tidak ada kriteria sedang dan buruk.

Penelitian ini tidak mengukur curah jantung, sehingga kami tidak dapat mengkonfirmasi waktu puncak efedrin yang tercapai dalam 4 menit. Efek hemodinamik dari efedrin dapat berbeda tergantung keadaan klinis begitu juga dengan pemilihan dosis dari efedrin. Respon hemodinamik juga dapat berbeda antara pasien yang dianestesi dan yang tidak dianestesi, selanjutnya juga bergantung dengan pemilihan obat induksi dan jalur pemberian.

BAB 6

Dokumen terkait