• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGOPERASIAN ANGKOT KPUM TRAYEK 65 DAN

3.3 Kondisi Kerja Supir Angkot KPUM Trayek 65

Murniati (1995) menyatakan bahwa pada dasarnya supir angkutan umum dituntut untuk menjamin keselamatan banyak orang namun dilain pihak imbalan yang diberikan baik dalam bentuk materi (pendapatan) dan non materil (pujian dan penghargaan) sangatlah tidak memadai. Selain itu adanya sistem angkutan umum yang tidak efisien seperti pengajuan izin trayek, sistem peraturan, pembagian jalur yang tumpang tindih sehingga membuat tingkat kompetisi yang tinggi antar sesama supir angkutan umum. Terlebih adanya setoran yang mereka bayarkan pada pihak pemilik angkutan. Serta diperparah dengan tidak adanya hak supir untuk menaikan ongkos angkutan per penumpang karena hal ini di kontrol oleh pemerintah. Kondisi ini menyebabkan banyak supir angkutan melakukan berbagai tindakan untuk menambah pendapatan mereka tanpa memperdulikan keselamatan diri dan penumpang (Muluk, 1995).

Hal ini terlihat pada perilaku mereka yang ugal-ugalan di jalan, seperti menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi/ngebut, saling mendahului kendaraan umum lain dengan kecepatan tinggi, mengemudikan kendaraan bukan di jalurnya, menginjak rem dengan mendadak, menurunkan penumpang dan dipindahkan kekendaraan lain, menjejalkan penumpang walaupun sudah penuh, menurunkan penumpang walaupun kendaraan masih berjalan, seenaknya berhenti tanpa memperdulikan kendaraan lalu lintas disekelilingnya (Murniati, 1995). Tuntutan dan stress yang dialami oleh para supir angkutan ini lama kelamaan dapat mengarah pada perasaan apatis, tidak perduli dan tidak bertanggung jawab, karena mereka belajar dari pengalaman bahwa sistem tidak memihak pada mereka berlaku benar, disiplin dan teratur. Jadi mereka mulai berpikir mengapa harus bersusah payah untuk berlaku benar dan disiplin.

Supir angkutan belajar dari lingkungan mereka bahwa tidak ada gunanya bagi mereka untuk mentaati peraturan sementara jajaran penegak hukum dan birokrasi justru seolah-olah dibuat untuk mempersulit para supir angkutan umum tersebut. Persepsi yang terbentuk ini sebenarnya merupakan sumber stress yang potensial bagi supir angkutan ditambah dengan kenyataan dilapangan, sehingga salah satu usaha untuk mengatasinya adalah dengan melakukan tindakan ugal- ugalan seperti yang telah disebutkan sebelumnya karena mereka sudah frustasi dan tidak berdaya melakukan kontrol terhadap sistem yang dirasakan menghimpit mereka.

Kondisi kerja seperti itulah yang membuat supir angkot kadang merasa jenuh dan bosan, yang akhirnya mereka menggunakan jasa supir serep (supir cadangan) untuk menggantikan sementara pekerjaannya. Supir serep diberi imbalan sebesar Rp 20.000, disamping hasil yang dia peroleh selama beroperasi. Supir angkot tadi hanya menerima uang setoran dan uang yang telah ditentukan sebelumnya dengan supir serep (adanya perjanjian antar kedua belah pihak).

3.3.1 Perselisihan yang Terjadi di Lapangan

Supir-supir angkot KPUM trayek 65 juga pernah mengalami perselisihan atau permasalahan di lapangan. Kondisi fisik lingkungan pekerjaan para sopir angkot ini seperti jalan yang padat, panas, polusi udara, macet, dan adanya cacian oleh penumpang serta ulah pemerasan oleh aparat juga menjadi pemicu terjadinya perselisihan atau permasalahan.

Adapun perselisihan yang pernah dialami oleh supir angkot KPUM trayek 65 (berdasarkan wawancara dengan beberapa supir angkot), yaitu:

1. Perselisihan dengan angkutan kota lainnya (berbeda organisasi). Misalnya disebabkan serempetan kecil yang akhirnya memicu emosi atau amarah supir angkot yang menjadi korban, sampai terjadi kejar-kejara antar sesama angkot dan maki-makain pun keluar dari mulut para supir angkot. Hal ini juga terkadang menyebabkan kemacetan, dimana supir angkot kadang mau seenaknya menyelip angkot lain di tengah jalan dan berantem ditengah jalan.

tambah ongkos terkadang penumpang tidak mau dan tetap ngotot memberikan ongkos sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, sehingga terjadi percecokan mulut antara supir angkot dengan penumpangnya. Sikap ugal-ugalan supir angkot yang mengakibatkan penumpangnya pun tidak menyukai tindakan tersebut (supir angkot dimarah-marahi di dalam angkotnya) membuat supir angkot jadi emosi dan tidak terima akhirnya timbul percecokan.

3. Perselisihan supir angkot dengan aparat di lapangan. Supir angkot yang seenaknya saja mengoperasikan angkotnya, tidak memperdulikan peraturan lalu lintas, menerobos lampu merah yang akirnya supir angkot ditilang dan terpaksa mengeluarkan uang untuk jalan damai, menaikan atau menurunkan penumpang di tengah jalan yang akhirnya memicu emosi aparat dilapangan karena tindakan supir angkot itu membuat jalanan semakin macet. Akhirnya timbul percecokan atau perselisihan supir angkot dengan aparat dilapangan.

4. Supir angkot dengan mandor pun kadang mempunyai masalah sehingga mengakibatkan adanya perselisihan. Masalah pembayaran iuran atau masalah pribadi juga menjadi faktor timbulnya perselisihan. Masalah iuran maksudnya adalah ada supir angkot yang tidak membayar atau telat dari waktu yang telah ditentukan, maka mandor akan mengingatkan supir tersebut, kadang sampai timbul perselisihan di antara keduanya.

5. Pemilik angkot dengan supir angkot, seperti setoran yang tidak sesuai (setoran kurang), waktunya tidak disiplin (telat datang dan lama pulang

atau terlalu cepat pulangnya). Masalah ketidakdisiplinan supir angkot ini sering sekali membuat para pemilik angkot kesal dan harus menggantikan supirnya dengan yang baru.

6. Masalah tidak membayar iuran, tidak melunasi utang ke koperasi, ataupun tidak mematuhi peraturan KPUM juga menjadi penyebab timbulnya permasalahan bagi supir angkot.

3.3.2 Proses Mencari Penumpang. Keberadaan penumpang atau sewa17

Cara supir angkot KPUM 65 untuk mencari penumpang biasanya adalah supir angkot akan mengajak atau memberitahukan tempat yang akan dilaluinya tidak selamanya sama rata setiap hari, kadang di tempat tertentu bisa banyak memperoleh penumpang tapi kadang tidak ada sama sekali. Penumpang merupakan aset utama bagi supir angkot KPUM trayek 65 karena dari penumpanglah si supir angkot dapat memperoleh uang dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya, selain dari hasil Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran rumah Tangga (ART) yang ada di koperasi. Angkutan kota KPUM trayek 65 mencari penumpang dengan mempergunakan strategi dan biasanya sering juga dilakukan oleh angkutan kota lainnya. Supir angkot akan menguasai terlebih dahulu daerah-daerah yang akan dilaluinya dan supir angkot tersebut akan memperhatikan jalan-jalan atau tempat mana saja yang paling banyak penumpangnya.

17 Kata sewa sama maksudnya dengan penumpang. Supir angkutan di Kota Medan sering menyebut penumpangnya dengan panggilan sewa. Sewa adalah bahasa sehari-hari yang

kepada siapa saja orang yang sedang menunggu angkutan kota. Seperti yang diakatakan oleh informan penulis, Pak Pasaribu:

“kalau aku biasanya mencari penumpang itu dengan cara mengajak orang yang berdiri di jalan, seperti “ayoo Bu, aksara..akasara, masih banyak yang kosong”. Atau aku sengaja berhenti di depan orang itu, dan mengajak ayo dek, kemana gatsu..ayo…. Kadang pun aku biasanya berhenti atau ngetem beberapa menit di tempat-tempat keramaian yang biasanya dilalui oleh banyak orang, seperti di di kampung lalang, Medan fair, aksara, sekitar Jl.Letjan Sujono. Klo ga ada penumpang ku, kadang aku rayu-rayu orang yang sedang berdiri nggu angkot, samape marah itu orangnya karena bukan mau naik angkotku dia, tapi trayek lain. Kayak mana pula, susah juga nyari penumpang ini”. (T. Pasaribu, Agustus 2010)

Jaringan jalan juga mempengaruhi dalam proses mencari penumpang, bila terjadi perubahan arus jalan maka supir angkot KPUM tryek 65 akan mengalami kerugian dimana pengeluran tidak seimbang dengan pemasukan. Tadinya angkot

Dokumen terkait