4 DATARAN TINGGI DIENG DARI MASA KE MASA
5. Kondisi Kesehatan Pada Rumah Tangga Miskin
Pada rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan 30 % terendah versi data TNP2K (2012) di Kecamatan Batur, terdapat beberapa fenomena kesehatan yang secara khusus berkait dengan masyarakat miskin yaitu kecacatan dan penyakit kronis. Jumlah penderita cacat dan penyakit kronis lebih tinggi pada penduduk
laki-laki dibanding perempuan. Penderita cacat laki-laki berjumlah 56 jiwa dan perempuan berjumlah 44 jiwa. Penderita penyakit kronis laki-laki berjumlah 112 jiwa dan perempuan berjumlah 87 jiwa.
Tabel 11 Jumlah individu yang menderita cacat dan penyakit kronis berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin berdasarkan status kesejahteraan 30 % terendah di Kecamatan Batur
Usia Penderita cacat Penyakit kronis
P L P L Usia 0 - di bawah 15 tahun 3 2 2 2 Usia 15 - di bawah 45 tahun 18 22 17 14 Usia 45 - di bawah 60 tahun 9 16 26 29
Usia di atas 60 tahun 14 16 52 67
Jumlah 44 56 87 112
Sumber: Data TNP2K (2012)
Jumlah rumah tangga dengan status kesejahteraan 30 % terendah memanfaatkan sumber air minum dari air ledeng dan sumber air tanah. Sejumlah 5 rumah tangga memanfaatkan sumber air ledeng, 3.108 rumah tangga memanfaatkan sumber air tanah yang terlindungi, dan ada 392 rumah tangga menggunakan air dari sumber air yang tidak terlindungi.
Sumberdaya Alam di Dataran Tinggi Dieng
Kawasan Dieng merupakan kawasan dengan potensi sumberdaya alam yang kaya, baik sebagai area konservasi, kehutanan, sumberdaya panas bumi, maupun pariwisata dan pertanian. Kawasan Dieng merupakan habitat bagi satwa dan tumbuhan yang dilindungi dan sebagian diantaranya terancam punah. Beberapa spesies yang tercatat masih hidup (Pemkab Banjarnegara 2012) antara lain Harimau Tutul (Panthera pardus), Babi Hutan (Sus verrcosus), Owa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), dan Lutung (Trachypthecus auratus), serta 19 spesies burung endemik Jawa termasuk diantaranya Elang Jawa (Spizaetus bartelsii). Tanaman yang ada di Dataran Tinggi Dieng merupakan tumbuhan endemik yang hanya hidup di pegunungan Dieng seperti Purwoceng (Pimplinea pruacen) yang merupakan tanaman obat, serta tanaman Carica (Carica candamarcensis).
Kawasan Dataran Tinggi Dieng juga merupakan kawasan yang potensial untuk sumber panas bumi. Khususnya di Kabupaten Banjarnegara, sumber panas bumi ini terletak di Kecamatan Batur. Pada tahun 1918 di masa pemerintahan Hindia Belanda, telah dimulai penyelidikan mengenai sumber panas bumi yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Pada tahun 1964/1965 UNESCO menetapkan Dataran Tinggi Dieng sebagai salah satu sumber panas bumi yang memiliki prospek sangat bagus di Indonesia. Saat ini, sumber panas bumi tersebut dikelola
oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Geo Dipa Energi (Persero). Pada tahun 1970 United States Geological Survei (USGS) melakukan survei geofisika serta mengebor 6 sumungkal pada kedalaman 150 meter dengan temperatur 92- 173 derajat celcius. Tahun 1976-1994 Pertamina telah menyelesaikan pengeboran sekitar 27 sumur uji. Pada tahun 2012, total kapasitas dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Dieng mencapai 110 megawatt. Selain sebagai potensi alam yang menjadi sumber energi, keberadaan kawah sumber panas bumi di Dieng juga perlu diwaspadai. Keberadaan kawah menghasilkan berbagai macam jenis gas, khususnya CO2. Pada tahun 1979 tercatat 142 penduduk menjadi korban gas beracun akibat erupsi Kawah Sinila. Bencana gas beracun ini tidak bisa diprediksi dengan mudah karena sifatnya tidak kasat mata. Bencana yang sama juga menimpa Dataran Tinggi Dieng pada tahun 2011 dan 2013 akibat erupsi Kawah Timbang.
Selain sebagai pusat panas bumi, Kawasan Dataran Tinggi Dieng juga merupakan wilayah tangkapan yang menjadi hulu Sungai Serayu. Dieng menjadi penyangga bagi kabupaten dan kota yang dilingkupinya serta kelestariannya berpengaruh terhadap ketersediaan pasokan listrik wilayah Jawa dan Bali melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Mrica di Banjarnegara. Kerusakan hutan di Dataran Tinggi Dieng menyebabkan sedimentasi waduk Jenderal Sudirman sebesar 4 juta ton/tahun dan telah tersedimen sebesar 40% dari kapasitasnya pada tahun 2012. Faktanya air Sungai Serayu telah megalami tingkat erosi yang cukup tinggi yaitu 4,2 juta m3/tahun. Angka erosi tersebut menurut PT Indonesia Power (2012) yang tercantum dalam dokumen Roadmap Pemulihan Kawasan Dieng Banjarnegara oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara (2012) diakibatkan oleh kegiatan pertanian manusia dan erosi alami tebing sungai Merawu. Data inflow PLTA UBP Mrica dinyatakan bahwa rata-rata inflow tahunan adalah 74,73 m3/detik. Kecenderungan laju inflow selama tahun 1988-2011 mengalami fluktuasi mulai dari 46,31 m3/detik sampai dengan 111,30 m3/detik.
Sumber panas bumi ini juga menjadi daya tarik wisata Dataran Tinggi Dieng. Berbagai kawah yang terdapat di kawasan tersebut menjadi destinasi wisata yang dikunjungi oleh banyak turis baik domestik maupun mancanegara. Selain kawah, kondisi keindahan alam dan udara yang sejuk juga menarik banyak pengunjung datang ke Dataran Tinggi Dieng. Situs-situs purbakala yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng juga menjadi daya tarik wisatawan. Saat ini, khususnya wilayah Dieng yang masuk ke area Kabupaten Banjarnegara mendapatkan perhatian khusus dari khalayak wisatawan apalagi sejak digelarnya festival tahunan yang dinamakan Dieng Culture Festival. Data yang dirilis oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara tahun 2014 menunjukkan bahwa jumlah wisatawan yang mengunjungi Dieng mencapai angka 500.000 pengunjung dan 5.000 diantaranya adalah turis asing.
Kekhasan sumberdaya utama yang menjadi andalan masyarakat di Dataran Tinggi Dieng adalah sumberdaya alam yang dimanfaatkan untuk pertanian. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa peruntukkan lahan untuk pertanian lebih luas dibandingkan dengan peruntukkan lahan untuk kepentingan lain (lihat kembali Tabel 1). Iklim yang sejuk menyebabkan kawasan ini cocok sebagai tempat budidaya komoditas hortikultura, terutama kentang (Solanum Tuberosum L.) yang banyak dibudidayakan oleh petani setempat. Usaha tani kentang merupakan usaha
pokok mayoritas petani di Dataran Tinggi Dieng dengan pola tanam kentang (musim 1)-kentang (musim 2)-kentang (musim 3) dalam satu tahun musim tanam. Berdasarkan Turasih dan Adiwibowo (2012), pada dekade 80-an, tepatnya sekitar tahun 1983, masyarakat Dataran Tinggi Dieng mulai beralih dari tanaman tembakau ke tanaman sayur-sayuran. Tahun 1985, kentang masuk secara intensif dan diperkenalkan oleh petani dari Pangalengan, Jawa Barat.
Boomgard (2002)1 menjelaskan bahwa sebelum kentang masuk menjadi komoditi yang bertahan ditanam hingga saat ini, jagung merupakan komiditi andalan bagi petani di Dataran Tinggi Dieng. Ketika sistem tanam paksa (cultuur Stelsel) mulai diperkenalkan sekitar tahun 1830, Dataran Tinggi Dieng merupakan daerah yang memproduksi jagung dalam jumlah yang cukup tinggi selain Jawa Timur dan Madura. Pada periode tahun 1830-1900, di Dataran Tinggi Dieng lahan tegalan dapat menghasilkan dua atau tiga kali panenan jagung dalam waktu satu tahun, sebagian karena beberapa varietas memiliki masa tanam yang sangat pendek. Biasanya, panenan jagung ke dua hanya akan menghasilkan tiga perempat dari hasil panenan pertama. Jagung hampir menjadi tanaman monokultur, juga sering ditanam bersama tanaman lain atau tumpangsari bersama padi, kacang- kacangan, atau tembakau. Selama abad ke-19 proporsi lahan yang ditanami jagung dan palawija meningkat sedikit demi sedikit dari sekitar 20% menjadi 35% pada tahun 1880. Kemudian pada akhir 1930-an, lahan yang dibudidayakan oleh petani untuk tanaman pangan (musiman) adalah 45% untuk padi, 23% untuk jagung, dan 11% untuk ketela pohon.
Selain jagung dan palawija, antara tahun 1900-1940 Dataran Tinggi Dieng juga menjadi pusat penanaman tembakau. Tembakau merupakan jenis tanaman perdagangan yang ditanam khusus untuk pasar lokal dan daerah lain. Hasilnya per hektar dalam bentuk uang tunai yang sangat tinggi dan dapat digunakan oleh petani untuk menyewa tenaga upahan dan membeli input lainnya seperti pupuk dan benih. Disebutkan bahwa, pupuk untuk tembakau juga dihasilkan dari kotoran manusia, juga pupuk kandang dari ternak dan kuda. Kondisi penanaman tembakau ini menunjukkan bahwa petani di Dataran Tinggi Dieng juga memelihara ternak. Persoalan kerugian mulai nampak dalam hal penanaman tembakau yang penyebabnya termasuk penggundulan hutan dan masalah yang berkaitan dengan kekurangan air. Konsumsi kayu bakar untuk mengeringkan daun tembakau di tempat yang tinggi mengurangi luas tutupan hutan. Meskipun di Dieng petani secara lokal telah menanam pohon seperti kemlandingan gunung (Albizzia montana) dan bahkan Eucalyptus yang diintroduksi dari luar dan disediakan oleh Dinas Kehutanan, namun kekurangan kayu bakar masih tetap terjadi. Daerah penanaman tembakau di Dataran Tinggi Dieng tidak dibuat dalam bentuk teras- teras, gambaran ini menunjukkan bahwa penanaman tembakau dilakukan di wilayah rawan dan menyebabkan ekspansi yang terus menerus.
Mata Pencaharian Penduduk di Dataran Tinggi Dieng
1 Dalam Li, Tania Muray, 2002, Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia, Bab 2.
Jagung dan Tembakau di Dataran Tinggi di Indonesia 1600-1900, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mayoritas Masyarakat di Dataran Tinggi Dieng menggantungkan hidupnya dari pertanian lahan kering. Sektor pertanian menyumbang 66,65 % dari total pendapatan Kecamatan Batur atau 66,48 persen menurut PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan 66,82 % menurut PDRB Atas Dasar Harga Konstan (Pemkab Banjarnegara 2012). Artinya lebih dari separuh kehidupan penduduk tergantung dan ditopang oleh sektor pertanian. Jumlah rumah tangga pertanian di kecamatan Batur sesuai dengan hasil Sensus Pertanian tahun 213 adalah 5.905 rumah tangga. Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding data yang disajikan dalam Kecamatan Batur Dalam Angka (2013) yaitu sebanyak 6.146 rumah tangga pertanian yang 1.276 diantaranya mengkombinasikan dengan peternakan, 15 mengkombinasikan dengan perikanan, dan 224 mengkombinasikan dengan tanaman perkebunan (Tabel 12). Komoditas utama yang menjadi tumpuan rumah tangga petani adalah komoditas kentang dan sayuran.
Tabel 12 Jumlah Rumah Tangga Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Perkebunan di Kecamatan Batur Tahun 2013
RT Tani Pertanian RT Peternakan RT Perikanan RT Perkebunan
Batur 1.955 842 13 45 Sumberejo 668 111 20 34 Pesurenan 240 107 0 0 Dieng Kulon 601 14 1 8 Karang Tengah 799 68 0 12 Bakal 799 21 0 6 Kepakisan 486 51 0 1 Pekasiran 598 62 0 118 JUMLAH 6.146 1276 15 224
Sumber: Diolah dari Kecamatan Batur Dalam Angka (2013)
Sesuai jenis komoditasnya, sebanyak 78 % rumah tangga pertanian di Kecamatan Batur merupakan rumah tangga yang bergantung dengan komoditas hortikultura semusim terutama kentang. Sisanya menanam palawija (8 %), tanaman pangan (7 %), dan jagung (7 %), sedikit sekali yang menanam padi, ubi jalar, gandum, hortikultura tahunan berupa tanaman buah, tanaman hias dan tanaman obat (Gambar 11).
8% 7%
7%
78%
Presentase Rumah Tangga Pertanian Sesuai Komoditas Padi Palawija Tanaman Pangan Jagung Ubi Jalar Gandum
Hortikultur buah tahunan Hortikultur semusim Tanaman hias semusim Tanaman obat semusim Tanaman kebun tahunan Tanaman kebun semusim
Sumber: Diolah dari Kecamatan Batur Dalam Angka 2013
Gambar 11 Presentase rumah tangga pertanian berdasarkan komoditas di Kecamatan Batur
Jumlah rumah tangga petani yang menanam hortikultura semusim seperti kentang dan tambahan sayuran terbesar ada di Desa Batur yaitu 1.522 rumahtangga (Tabel 13). Terdapat juga rumah tangga yang menanam tanaman perkebunan seperti cengkeh, kopi, teh, dan tembakau, namun jumlahnya sangat minoritas. Selain itu sebagian rumah tangga juga memiliki ternak berupa sapi potong, sapi perah, kambing, domba, ayam kampung (ayam lokal), ayam ras, itik, dan ternak lain seperti kelinci (Tabel 14).
Tabel 13 Kombinasi komoditas yang ditanam oleh rumah tangga petani di Kecamatan Batur A B C D E F G H I J K L Jumlah Batur 0 142 142 139 1 3 0 1.522 0 1 4 1 1.955 Sumberejo 0 23 23 21 0 2 2 590 2 1 2 2 668 Pesurenan 1 2 3 2 0 0 0 231 0 0 0 1 240 Dieng Kulon 0 0 0 0 0 0 0 598 2 0 1 0 601 Karang Tengah 1 0 0 0 0 0 1 795 0 0 1 1 799 Bakal 0 1 2 1 0 0 0 794 0 0 0 1 799 Kepakisan 0 0 0 0 0 0 0 486 0 0 0 0 486 Pekasiran 0 2 2 2 0 0 0 587 0 0 0 5 598 JUMLAH 2 170 172 165 1 5 3 5.603 4 2 8 11 6.146
Sumber: Diolah dari Kecamatan Batur Dalam Angka (2013) Keterangan:
A: Padi; B: Palawija; C: Tanaman Pangan, D: Jagung; E: Ubi Jalar; F: Gandum; G:
Hortikultur buah tahunan; H: Hortikultur semusim; I: Tanaman hias semusim; J: Tanaman obat semusim; K: Tanaman kebun tahunan; L: Tanaman kebun semusim
Tabel 14 Komoditas ternak yang dibudidayakan oleh rumah tangga petani di Kecamatan Batur Sapi potong Sapi perah
Kambing Domba Ayam Lokal Ayam ras pedaging Itik Lainnya Batur 223 97 11 463 43 1 0 4 842 Sumberejo 5 1 1 63 32 0 0 9 111 Pesurenan 8 0 4 83 8 0 2 2 107 Dieng Kulon 8 0 4 2 0 0 0 0 14 Karang Tengah 37 0 1 28 0 2 0 0 68 Bakal 1 0 16 3 1 0 0 0 21 Kepakisan 0 1 0 32 14 0 1 3 51 Pekasiran 10 0 4 26 20 0 0 2 62 JUMLAH 292 99 41 700 118 3 3 20 1276
Selanjutnya, mata pencaharian pada rumah tangga miskin di Kecamatan Batur sesuai dengan data TNP2K tahun 2012 tercantum pada tabel 15. Sebaran mayoritas pekerjaan adalah sebagai petani pada komoditas hortikultura. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa mata pencaharian sebagai petani pada rumah tangga miskin rata-rata sebagai petani penggarap atau bekerja pada penguasa lahan.
Tabel 15 Mata pencaharian individu di Kecamatan Batur berdasarkan tingkat kesejahteraan 30 % terendah di Indonesia
No Mata pencaharian Jumlah
1 Pertanian tanaman padi dan palawija 55
2 Hortikultura 6.726 3 Perkebunan 26 4 Perikanan budidaya 2 5 Peternakan 82 6 Kehutanan 1 7 Pertambangan/penggalian 5 8 Industri pengolahan 13
9 Listrik dan gas 8
10 Bangunan/konstruksi 63 11 Transportasi dan pergudangan 64 12 Keuangan dan transportasi 2
13 Jasa 128
14 Lainnya 130
TOTAL 7.690
Sumber: Data TNP2K (2012)
Pemukiman Masyarakat Dataran Tinggi Dieng
Masyarakat di Dataran Tinggi Dieng tinggal dalam satuan-satuan pemukiman yang rapat satu sama lain di daerah dengan lereng datar. Sebagaimana ciri masyarakat desa, penduduk di Dataran Tinggi Dieng Kecamatan Batur memiliki relasi sosial yang baik dengan tetangga. Rata-rata mereka saling mengenal satu sama lain. Rumah-rumah yang saling berdekatan memungkinkan penduduk untuk sering bertemu. Khususnya di Desa Batur wilayahnya yang terbagi menjadi 13 RW (Kadus) dan 53 RT, klasifikasi RW dan RT tersebut berdasarkan kedekatan wilayah dan lingkungan masyarakat. Secara rinci jumlah RT per masing-masing dusun disajikan pada Tabel 16.
Empat dusun pertama yang disebukan dalam Tabel 16 yaitu Dusun Batur Kidul, Batur Lor, Batur Tengah, dan Bujangsari, merupakan dusun dengan tingkat pendidikan masyarakat yang lebih baik dibanding dusun-dusun lainnya. Selain pada sektor pertanian, sebagian penduduknya juga masuk ke sektor formal sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dusun Bujangsari di RW 4 merupakan dusun yang terletak di wilayah pinggiran hutan karena bersentuhan dengan area Perhutani. Berdasarkan informasi yang diperoleh kondisi dusun-dusun yang masih terdapat banyak rumah tangga miskin adalah Dusun Tieng, Njlegong, Mbakalan, dimana wilayahnya memiliki kondisi kesehatan (sanitasi) yang masih perlu mendapatkan perhatian ketat.
Tabel 16 Jumlah Rukun Tetangga (RT) pada setiap dusun (RW/Rukun Warga) di Desa Batur
No Dusun (RW/Rukun Warga) Jumlah RT
1 Dusun Batur Kidul (RW 1) 6
2 Dusun Batur Tengah (RW 2) 7
3 Dusun Batur Lor (RW 3) 11
4 Dusun Bujangsari (RW 4) 6 5 Dusun Tieng (RW 5) 3 6 Dusun Njlegong (RW 6) 3 7 Dusun Mbakalan (RW 7) 2 8 Dusun Purwajiwa (RW 8) 2 9 Dusun Karanganyar (RW 9) 3 10 Dusun Kalianget (RW 10) 3 11 Dusun Majatengah (RW 11) 4 12 Dusun Mbandingan (RW 12) 2 13 Dusun Tlagabang 1 TOTAL 53
Sumber: Wawancara dengan perangkat Desa Batur (2014)
Sebagian rumah penduduk berada dekat dengan lahan pertaniannya. Kondisi suhu yang dingin menyebabkan arsitektur rumah dibuat dengan ventilasi yang sedikit dengan sebagian besar atap terbuat dari seng. Rumah penduduk rata- rata memiliki dapur yang sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk menghangatkan badan. Terdapat anglo atau tungku yang menggunakan bahan bakar arang yang digunakan sebagai alat untuk menghangatkan badan. Dibanding ruangan lain di dalam rumah, dapur memiliki fungsi sentral karena setiap pagi dan sore hari keluarga akan berkumpul sambil menghangatkan badan yang bersumber dari panas anglo.
Wiraprama, Zakaria, dan Purwantiasning (2014) menjelaskan bahwa pemukiman terbentuk karena adanya kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan akan berhuni. Pemukiman yang dibentuk karena adanya sekelompok rumah/tempat tinggal memiliki fasilitas penunjang baik fasilitas umum maupun sosial yang mendukung kegiatan bermukim dalam suatu kelompok masyarakat dengan jangka waktu yang cukup lama. Selain kegiatan bermukin dan berhuni suatu kelompok masyarakat, dalam sebuah pemukiman juga terdapat kegiatan sosial kemasyarakatan yang mendukung satu sama lain dalam kelompok masyarakat. Fasilitas-fasilitas yang terdapat di pemukiman di Desa Batur meliputi sumber air, fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, polindes, dan masjid.
Pembangunan di Dataran Tinggi Dieng
Arbangiyah (2012) menyebutkan bahwa pada tahun 1978 di kawasan Dataran Tinggi Dieng area jalan aspal meningkat dari 27 kilometer menjadi 62
kilometer, dan jumlah desa yang mampu mengakses jalan (aspal dan berbatu) meningkat dari kira-kira 10 persen menjadi 30 persen. Perbaikan jalan memungkinkan proses distribusi panen menjadi semakin mudah. Perbaikan jalan juga menekan biaya transportasi karena petani tidak perlu repot menjualnya ke kota sebab banyak pedagang pengumpul yang merupakan perpanjangan tangan pedagang dari Surabaya, Jakarta, dan Semarang akan membelinya langsung dari ladang.
Pada tahap selanjutnya eksistensi petani terhadap dinamika pembangunan di Dataran Tinggi Dieng tersebut menciptakan polarisasi yang mencolok antara petani kaya dan petani miskin. Sistem penghidupan dan nafkah dari pertanian kentang ini memberi konsekuensi pada semakin tajamnya potret kemiskinan di Dataran tinggi Dieng. Pembangunan pertanian ala modernisasi yang mengedepankan modal besar pada titik tertentu menghancurkan tatanan sosial serta menciptakan keserakahan untuk menguasai sebanyak mungkin modal lahan termasuk dengan merambah hutan sebagai area tangkapan. Eksploitasi terhadap daerah miring dan area hutan tersebut menghasilkan kehancuran pada aspek sosial, ekonomi, dan ekologi secara sistemik. Merujuk Wright (1978) dalam Sanderson (2010) modernisasi pertanian di Indonesia menunjukkan pembentukan struktur kelas kapitalis dimana terdapat petani kaya yang menguasai modal (tanah), dominasi terhadap akses teknologi dan kredit, serta kontrol bagi keberadaan usaha tani yang lebih leluasa dibanding petani kecil.
Perubahan yang kentara terlihat berikutnya adalah dari kentang pula muncul orang-orang kaya yang lazim disebut “haji kentang”, mereka bisa naik haji dan membangun masjid dari penghasilan usahatani kentang (Turasih dan Adiwibowo 2012). Pertanian modern semakin memunculkan rasionalitas di kalangan petani. Pada masa lalu, pertanian di Dataran Tinggi Dieng selalu diawali dengan ritual sebelum menanam. Ritual kebudayaan yang terkait dengan pertanian seperti nglekasi, wiwit, ruwat bumi, dan baridan yang tujuan utamanya untuk meminta berkah kepada leluhur supaya pada musim tanam diberikan kelancaran. Ritual tersebut dipengaruhi budaya Hindu yang pada saat itu masih kental di Dataran Tinggi Dieng. Pada perkembangannya saat kentang masuk ke Dataran Tinggi Dieng, nilai-nilai tersebut digantikan oleh rasionalitas bahwa orientasi pertanian kentang adalah keuntungan ekonomi. Sebagai komoditi yang bernilai tinggi, kentang mempengaruhi kebudayaan dan cara hidup baik individu maupun masyarakat.
Fenomena yang terjadi di Dataran Tinggi Dieng pasca masuknya komoditi kentang sebagai unggulan dan sumber matapencaharian petani memberikan dampak tidak hanya bagi komunitas petani di wilayah tersebut, namun merambah ke area di bawahnya. Mengingat Dieng merupakan hulu dari DAS Serayu yang memberikan suplai energi bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) wilayah Jawa dan Bali. Perhatian bagi isu kerusakan lingkungan akibat pertanian kentang di Dataran Tinggi Dieng mendapatkan perhatian dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, swasta, hingga LSM. Berbagai upaya penyelamatan lingkungan Dieng terkait dengan pola pertanian tanaman monokultur telah dicanangkan. Tahun 2005 dicanangkan pembentukan hutan sekolah di wilayah Wonosobo. Tahun 2006 dilakukan sosialisasi kepada penduduk dan petani Dieng yang selama ini memanfaatkan lahan untuk budidaya tanaman kentang. Selain itu, metode Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) juga dilaksanakan. Namun
hasilnya masih belum sesuai dengan harapan (Turasih et al 2010). Penyebabnya selama ini dibebankan kepada petani sebagai aktor yang berperan merusak lingkungan.
Pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Wonosobo membentuk Tim Kerja Pemulihan Dieng (TKPD) sebagai sebuah bentuk kepedulian terhadap kerusakan lingkungan di Dataran Tinggi Dieng, kelembagaannya dikukuhkan melalui SK Bupati Wonosobo tahun 2007 (www.savedieng.org). Bahkan Bupati Wonosobo memberikan larangan keras bagi petani untuk tidak menanam di lahan dengan kontur kemiringan yang sudah tidak bisa ditoleransi. Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mendapatkan bantuan dari UNDP (United Nation Development Programme) melalui proyek proyek Penguatan Komunitas Berbasis Hutan dan Manajemen Aliran Sungai (SCBFWM). Berbagai program yang terus digalakkan tersebut meskipun mengusung perhatian bagi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan pada kenyataan masih bersifat mekanistis dan lebih menekankan lingungan sebagai objek utama. Padahal permasalahan di Dataran Tinggi Dieng bukan semata-mata hancurnya lingkungan akibat usahatani kentang yang terlalu menekankan produktivitas, tetapi juga munculnya stratifikasi sosial akibat konsentrasi kepemilikan lahan.
Berdasarkan data penelitian Turasih dan Adiwibowo (2012) mengenai kepemilikan lahan di Desa Karang Tengah Dataran Tinggi Dieng adalah 77,42 persen petani pemilik dimana 31,23 persen merupakan pemilik dengan luas dibawah 0,3 ha, 35,48 persen petani dengan kepemilikan lahan 0,5-1 ha dan hanya 9,68 persen merupakan pemilik lahan 1-2 ha. Petani pemilik tersebut murni melakukan usahatani di atas lahan yang dimilikinya. Selain status milik, terdapat juga petani dengan status lahan sewa. Petani yang melakukan sewa tersebut adalah mereka yang tidak memiliki lahan sama sekali dimana jumlahnya 6,54 persen. Kategori penguasaan lahan lainnya adalah petani pemilik sekaligus penyewa lahan yang berjumlah 12,90 persen dari seluruh responden. Sejumlah 9,68 persen merupakan pemilik lahan 0,1 ha-0,3 ha dan 3,22 persen merupakan pemilik lahan 0,3 ha-0,5 ha. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa petani yang tidak memiliki lahan tidak melakukan penyewaan dan menyebabkan mereka menjadi buruh tani. Persentase petani yang memiliki lahan dibawah 0,3 ha relatif mendominasi di Dataran Tinggi Dieng ditambah dengan buruh tani.
5 STRATEGI ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM PETANI DI