• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas air pada prinsipnya merupakan pencerminan dari kualitas lingkungan. Air merupakan medium bagi kehidupan organisme perairan. Oleh karena itu kualitas air ini akan mempengaruhi dan menentukan kemampuan hidup organisme perairan tersebut (Kartamihardja et al. 1987). Pengamatan untuk kondisi lingkungan (fisika, kimia dan biologi) secara umum menunjukkan hasil yang mendukung bagi kehidupan biota laut dengan kisaran nilai yang diijinkan menurut KepMen LH No. 51 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut (Tabel 5).

Tabel 5 Nilai kondisi lingkungan perairan

Sampling Point

Suhu Salinitas Kec. Arus

Keke- ruhan

Kece-

rahan NO3-N PO4-P Plankton

(OC) (PSU) (m/s) (NTU) (%) (mg/l) (mg/l) (Individu/m3)

Timur Pramuka 28 32 0.030 0.45 100 0.02 0.024 2,520 Utara Pramuka 29 30 0.070 0.40 100 0.06 0.015 2,240 Barat Panggang 29 32 0.048 0.50 100 0.09 0.024 3,640 Selatan Panggang 29 32 0.072 0.50 100 0.12 0.020 1,880 Utara Belanda 28 33 0.067 0.50 100 0.10 0.018 2,560 Selatan Belanda 30 33 0.061 0.43 100 0.09 0.018 3,680 Timur K. Angin 28 32 0.046 0.50 100 0.06 0.026 2,680 Barat K. Angin 28 32 0.031 0.50 100 0.09 0.029 2,880

Suhu

Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi organisme dalam melakukan aktivitas metabolisme, perkembangbiakan serta proses-proses fisiologi organisme karena suhu dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi perairan. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian sebaran suhu berkisar antara 28–30oC (Tabel 5).

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu di lokasi penelitian masih tergolong normal untuk kehidupan biota laut khususnya fitoplankton. Hal ini karena penelitian tersebut berlangsung pada saat musim peralihan dimana pergerakan massa air cukup stabil atau tenang. Sesuai dengan pernyataan Effendi (2003), bahwa kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20–30 oC. Kisaran tersebut masih termasuk dalam kriteria suhu dimana terumbu karang dapat tumbuh dan berkembang. Menurut Sukarno et al. (1983) suhu yang paling baik untuk pertumbuhan karang berkisar antara 25–30oC.

Huet (1971), menyatakan fluktuasi harian suhu perairan sangat mempengaruhi kehidupan oraganisme di dalamnya, fluktuasi suhu air yang terlalu besar dapat mematikan organisme perairan. Bihsop (1973) menyatakan suhu air dapat merangsang dan mempengaruhi pertumbuhan organisme perairan serta mempengaruhi oksigen terlarut untuk respirasi. Menurut Boyd dan Kopler (1979) suhu optimum untuk pertumbuhan ikan di daerah tropis adalah 25-300C.

Salinitas

Hasil pengukuran salinitas pada lokasi penelitian menunjukkan nilai yang homogen dengan kisaran nilai antara 30–33 PSU (Tabel 5) dengan nilai salinitas terendah terdapat di Utara Pulau Pramuka. Perbedaan nilai salinitas antar stasiun pengamatan sangat kecil dan masih dalam kategori normal untuk kehidupan biota laut, hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi (2003) bahwa nilai salinitas perairan laut berkisar antara 30-40‰ sedangkan menurut Nybakken (1988) dan Thamrin (2006) salinitas perairan dimana karang dapat hidup adalah pada kisaran 27-40 ‰ dengan kisaran optimum untuk pertumbuhan karang adalah 34-36‰.

Kecepatan arus

Kecepatan arus pada setiap stasiun umumnya tidak jauh berbeda dengan kisaran 0.030–0.072 m/s (Tabel 5), kecepatan arus yang paling tinggi terjadi di

Selatan Pulau Panggang dan paling rendah di Timur Pulau Pramuka, secara umum arah arus menuju barat. Hal ini berkaitan erat dengan musim tenggara dan angin musim (monsoon) timur yang berlangsung pada saat dilakukannya pengambilan data. Adanya arus ini diperlukan untuk tersedianya aliran air yang membawa makanan dan oksigen bagi biota karang serta menghindarkan karang dari pengaruh sedimentasi.

Kecerahan

Kecerahan dan kekeruhan merupakan parameter yang saling berkaitan. Peningkatan konsentrasi padatan tersuspensi akan meningkatkan kekeruhan perairan, sebaliknya akan mengurangi kecerahan perairan. Parameter-parameter tersebut marupakan indikasi tingkat produktivitas perairan sehubungan dengan proses respirasi biota perairan dan kualitas perairan.

Kecerahan (transparency) air adalah suatu ukuran untuk mengetahui daya penetrasi cahaya matahari ke dalam air dimana nilainya berbanding terbalik dengan nilai kekeruhan (Koesbiono 1980). Kemampuan daya tembus matahari ke perairan sangat ditentukan oleh kandungan bahan organik dan bahan anorganik tersuspensi dalam perairan, kelimpahan plankton, jasad renik dan densitas air Wardoyo (1981).

Kecerahan menggambarkan kemampuan cahaya menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Kecerahan sangat penting bagi perairan karena berpengaruh terhadap berlangsungnya produktivitas primer melalui fotosintesis fitoplankton. Hasil pengukuran (Tabel 5) menunjukan nilai parameter kecerahan merata sama di semua lokasi dengan kedalam 3-7 m.

Dalam ekosistem terumbu karang, kecerahan erat kaitannya dengan cahaya matahari. Cahaya matahari sangat diperlukan terutama oleh alga simbion karang

zooxanthellae untuk melakukan fotosintesis, selanjutnya hasil dari fotosintesis

dimanfaatkan oleh karang untuk melakukan proses respirasi dan kalsifikasi (Hubbard 1997). Kecerahan berbanding terbalik dengan padatan tersuspensi (TSS), dimana semakin meningkat TSS maka kecerahan dan penetrasi cahaya matahari semakin berkurang. Hal ini menurut Hubbard (1997) dapat berpengaruh terhadap morfologi karang. Kedalaman penetrasi sinar matahari mempengaruhi

kedalaman pertumbuhan karang hermatipik sehingga diduga hal ini juga mempengaruhi penyebarannya (Sukarno 1977).

Kekeruhan

Nilai kekeruhan yang diperoleh selama penelitian berkisar antara 0.40 NTU–0.55 NTU (Tabel 5), nilai terendah terdapat di Utara Pulau Pramuka. Secara umum nilai kekeruhan untuk semua stasiun pengamatan berada dalam kondisi normal dan nilai tersebut sesuai baku mutu air laut untuk biota laut yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara LH RI No. 51 Tahun 2004 yaitu < 5 NTU. Hal tersebut dimungkinkan sedikitnya partikel terlarut pada perairan tersebut sehingga sangat baik untuk mendukung kehidupan biota.

Nitrat (NO3-N)

Nitrat adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami, sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Nitrat merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Konsentrasi nitrogen dalam bentuk nitrat selama penelitian nilainya berkisar antara 0.02–0.12 mg/l (Tabel 5) nilai terendah di Timur Pulau Pramuka dan tertinggi di selatan Pulau Panggang. Menurut Effendi (2003) kadar nitrat di perairan alami hampir tidak pernah melebihi 0.1 mg/l. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/l menandakan telah terjadi pencemaran anthropogenik dari aktifitas manusia. Kadar nitrat lebih dari 0.2 mg/l berpotensi untuk dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi dan selanjutnya memicu pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat.

Secara alami terumbu karang mampu mengkonservasi keberadaan nutrien dengan memiliki katabolisme protein yang rendah serta mengkatabolis lipid dan karbohidrat. Dalam jumlah yang cukup banyak justru akan membahayakan bahkan dapat menyebabkan kematian terumbu karang. Terumbu karang tidak dapat beradaptasi pada saat pengkayaan nutrien terjadi, umumnya mereka tidak mampu berkompetisi dengan makroalga bentik. Pengkayaan nutrien juga dapat menurunkan laju kalsifikasi karena fosfat akan mengikat kristal aragonite pada saat proses kalsifikasi (Muler-Parker dan D’Elia 1997).

Phosphat (PO4-P)

Unsur P merupakan salah satu unsur hara yang penting bagi metabolisme sel tanaman. Unsur ini dalam perairan ditentukan dalam bentuk ortho-phosphat, poli-

phosphat dan phosphate-organik. Unsur P dalam bentuk ortho-phosphat dapat dimanfaatkan oleh organisme nabati karena senyawa ini merupakan senyawa yang larut dalam air. Di dalam air phosphat dapat ditemukan dalam berbagai bentuk senyawa Fe dan Ca dan bentuk ikatan dipengaruhi oleh pH.

Senyawa anorganik phosphat yang terkandung dalam air laut umumnya berada dalam bentuk ion ortho-phosphat. Hasil pengamatan menunjukkan nilai ortho-phosphat rata-rata berkisar antara 0.015–0.029 mg/l (Tabel 5) dengan nilai terendah di Utara Pulau Pramuka dan nilai tertinggi di Barat Pulau Kayu Angin. Kandungan ortho-phosphat di lokasi penelitian berada di bawah batasan optimum untuk pertumbuhan fitoplankton. Hal ini berarti kesuburan perairan berdasarkan kandungan phosphat di lokasi penelitian tergolong rendah. Kadar ortho-phosphat untuk pertumbuhan optimum fitoplankton sebesar 0.09–1.80 mg/l (Mackenthum 1969 dalam Basmi 2000). Pada umumnya kandungan phosphat dalam perairan tidak pernah lebih dari 0.1 ppm, kecuali bila penambahan dan pelimpahan air buangan pertanian ataupun rumah tangga (Krismono et al. 1987). Suatu perairan relatif subur bila kandungan total phosphat 0.06 – 10.00 ppm (Goldman dan Horne 1983).

Plankton

Kelimpahan Plankton bervariasi pada setiap stasiun pengamatan. Kelimpahan plankton rata-rata antara 1 880–3 680 individu/m3 (Tabel 5), dimana kelimpahan tertinggi di Selatan Belanda dan kelimpahan terendah di stasiun 4 Selatan Panggang. Perbedaan kelimpahan antara stasiun menunjukkan bahwa distribusi kelimpahan plankton tidak merata.

Dokumen terkait