• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi NLOS (Non Line of Sight)

Dalam dokumen FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INFORMATIKA (Halaman 41-0)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Analisa Parameter

3.5.2 Kondisi NLOS (Non Line of Sight)

Kondisi N-LOS merupakan kondisi dimana antara pemancar (transmitter) dan penerima (receiver) terdapat halangan seperti pohon,pilar,rumah,bangunan,dll.

Skenario pengambilan data akan dilakukan dengan cara menempatkan 2 node di 2 lantai yang berbeda yaitu transmitter di lantai 1 dan receiver di lantai 9.

a) Perubahan BW (Bandwidth)

Tabel 3.4 Pengaruh perubahan parameter BW

BW RSSI SNR PDR ToA

125kHz 250kHz 500kHz

b) Perubahan SF (Spreading Factor)

Tabel 3.5 Pengaruh perubahan parameter SF

SF RSSI SNR PDR ToA

c) Perubahan CR (Coding Rate)

Tabel 3.6 Pengaruh perubahan parameter CR

CR RSSI SNR PDR ToA

4/5 4/6 4/7 4/8

23 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengujian Skenario LOS (Line of Sight) Tujuan

Tujuan dari pengujian ini yaitu menguji pengirim (transmitter) mengirimkan data serta merekap milis yang nantinya akan diterima oleh penerima (receiver) yang juga merekap nilai RSSI,SNR, serta merekap milis. Pengujian ini nantinya akan mencari nilai PDR,RSSI,SNR serta ToA dalam setiap setting parameter. Skenario LOS sendiri tidak terdapat halangan apapun. Pengambilan data dilakukan pada Arena Prestasi Lt.9 Universitas Dinamika.

Peralatan yang Digunakan

1. Black box berisi rangkaian ARDUINO Nano serta modul LoRa 2. Laptop

Cara Pengujian

1. Menyambungkan laptop dengan black box pada transmitter yang telah terisi ARDUINO Nano serta modul LoRa begitu pula pada receiver

2. Mengatur perubahan parameter BW,SF serta CR

3. Mengamati hasil pengiriman data antara transmitter dan receiver

24

Hasil Pengujian

Skenario pada kondisi LOS menggunakan panjang lapangan di arena prestasi dengan panjang 27.5 meter sesuai pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Denah Arena Prestasi

Gambar 4.2 Posisi Transmitter

25

Gambar 4.3 Posisi Receiver

Pengujian dilakukan dengan mensejajarkan antara transmitter dan receiver seperti pada Gambar 4.2 dan Gambar 4.3, selanjutnya antara transmitter dan receiver diatur parameter sesuai skenario pengujian. Pengaturan parameter antara transmitter dan receiver harus sama agar data yang terekap akurat.

26

4.1.4.1 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis PDR Tabel 4.1 Pengaruh perubahan PDR (%) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

Gambar 4.4 Pengaruh perubahan PDR (%) dengan parameter Bandwith 125kHz

Berdasarkan Tabel 4.1 dan Gambar 4.4, hasil pengukuran PDR terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan pengiriman data. Hal ini bisa dilihat pada setting parameter BW=125 dengan CR=4/8, dimana pada setting parameter tersebut didapatkan pada setiap perubahan parameter SF data dapat terkirim 100%. Hal ini dikarenakan kecepatan pengiriman data (bitrate) pada setting BW=125kHz dan CR=4/8 cenderung lambat, sehingga data dapat dikirmkan satu per satu tanpa ada data yang dikirimkan pada saat yang bersamaan.

27

4.1.4.2 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis RSSI

Tabel 4.2 Pengaruh perubahan RSSI (dBm) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

Gambar 4.5 Pengaruh perubahan RSSI (dBm) dengan parameter Bandwith 125kHz

Berdasarkan Tabel 4.2 dan Gambar 4.5, hasil pengukuran RSSI terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR sangat berpengaruh pada peningkatan nilai RSSI yang cukup baik. Dimana pada setting BW=125kHz dengan CR=4/5 nilai RSSI berkisar “-69.95”dBm hingga “-80.84”dBm, sedangkan pada setting parameter BW=125kHz dengan CR=4/7 nilai RSSI berkisar “-63.38”dBm hingga

“-72.39”dBm, begitu pula dengan setting parameter lainnya. Ditemukan bahwa setting SF 8 merupakan yang terbaik dalam skenario sesuai pada Gambar 4.5.

-90

NILAI RSSI (dBm) LOS BW125

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

dBm

28

4.1.4.3 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis SNR Tabel 4.3 Pengaruh perubahan SNR (dB) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

Gambar 4.6 Pengaruh perubahan SNR (dB) dengan parameter Bandwith 125kHz

Berdasarkan Tabel 4.3 dan Gambar 4.6, hasil pengukuran SNR terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR pada pengujian skenario LOS bernilai cukup baik sesuai kategori SNR dimana pada pengujian dengan setting BW=125kHz ditemukan SNR berkisar 8 hingga 12.

0

NILAI SNR (dB) LOS BW125

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

29

4.1.4.4 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis ToA Tabel 4.4 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

Gambar 4.7 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 125kHz

Tabel 4.5 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 500kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

NILAI ToA (ms) LOS BW125

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

30

Gambar 4.8 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 500kHz

Berdasarkan Tabel 4.4 dan Gambar 4.7, hasil pengukuran ToA terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR sangat berpengaruh pada jeda waktu pengiriman data. Semakin besar setting parameter SF dan CR maka akan meningkatkan nilai ToAnya, peningkatan parameter BW juga berpengaruh dalam mengurangi jeda waktu pengiriman data, semakin besar bandwith yang digunakan akan mempercepat waktu pengiriman data sesuai Tabel 4.5 dan Gambar 4.8, namun tidak menjamin keseluruhan data dapat terkirim secara baik.

Analisis Data

Perubahan tiap parameter pada skenario LOS berpengaruh pada pengiriman data yang dilakukan. Pada parameter bandwith (BW), semakin besar setting BW yang digunakan maka akan mempercepat pengiriman data. Pada parameter spreading factor (SF), semakin besar setting SF yang digunakan maka tingkat keberhasilan seluruh data terkirim (PDR) semakin baik namun dapat memperlambat waktu pengiriman data. Sedangkan pada parameter coding rate (CR), semakin besar CR maka PDR serta RSSI akan membaik juga, sedangkan untuk ToA akan meningkat. Pada pengujian skenario LOS setting parameter terbaik

0

NILAI ToA (ms) LOS BW500

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

31

yaitu dengan BW125kHz, SF8, CR4/7 dengan memperoleh PDR sebesar 100%

serta RSSI sebesar -63,38 dBm.

4.2 Pengujian Skenario NLOS (Non Line of Sight) Tujuan

Tujuan dari pengujian ini yaitu menguji pengirim (transmitter) mengirimkan data serta merekap milis yang nantinya akan diterima oleh penerima (receiver) yang juga merekap nilai RSSI,SNR, serta merekap milis. Pengujian ini nantinya akan mencari nilai PDR,RSSI,SNR serta ToA dalam setiap setting parameter. Skenario NLOS sendiri terdapat halangan berupa perbedaan lantai. Pengambilan data dilakukan pada lantai 1 untuk sisi transmitter sedangkan sisi receiver berada pada lantai 9 Universitas Dinamika.

Peralatan yang Digunakan

1. Black box berisi rangkaian ARDUINO Nano serta modul LoRa 2. Laptop

Cara Pengujian

1. Menyambungkan laptop dengan black box pada transmitter yang telah terisi ARDUINO Nano serta modul LoRa begitu pula pada receiver

2. Mengatur perubahan parameter BW,SF serta CR

3. Mengamati hasil pengiriman data antara transmitter dan receiver

32

Hasil Pengujian

Skenario pada kondisi NLOS menggunakan perbedaan lantai. Posisi trasnsmitter berada pada lantai 1, sedangkan receiver berada pada lantai 9 gedung biru Universitas Dinamika sesuai dengan Gambar 4.8 dan Gambar 4.10.

Gambar 4.9 Denah Posisi Transmitter Pada Lantai 1

33

Gambar 4.10 Posisi Transmitter di Lantai 1

Gambar 4.11 Denah Posisi Receiver Pada Lantai 9

34

Gambar 4.12 Posisi Receiver di Lantai 9

Pengujian dilakukan dengan posisi transmitter berada di lantai 1 gedung biru Universitas Dinamika dan receiver berada di lantai 9 gedung biru Universitas Dinamika seperti pada Gambar 4.9 dan Gambar 4.11, selanjutnya antara transmitter dan receiver diatur parameter sesuai skenario pengujian. Pengaturan parameter antara transmitter dan receiver harus sama agar data yang terekap akurat.

4.2.4.1 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis PDR Tabel 4.6 Pengaruh perubahan PDR (%) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

SF 7 87.24 98.05 98.57 99.22

SF 8 97.26 99.87 99.35 100

SF 9 82.29 100 100 100

SF 10 95.57 100 100 100

SF 11 99.48 100 100 100

SF 12 99.87 100 100 100

35

Gambar 4.13 Pengaruh perubahan PDR (%) dengan parameter Bandwith 125kHz

Berdasarkan Tabel 4.5 dan Gambar 4.12, hasil pengukuran PDR terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan pengiriman data. Hal ini bisa dilihat pada BW=125kHz dengan CR=4/8, dimana pada setting parameter tersebut didapatkan pada setiap perubahan parameter SF hanya SF=7 saja yang tidak bisa mencapai 100%. Ditemukan juga nilai PDR yang kurang stabil pada setting CR=4/5. Hal ini dikarenakan kecepatan pengiriman data (bitrate) pada setting BW=125kHz dan CR=4/8 cenderung lambat, sehingga data dapat dikirmkan satu per satu tanpa ada data yang dikirimkan pada saat yang bersamaan. Kurang stabilnya pengiriman data pada setting CR=4/5 disebabkan karena masih adanya interferensi terhadap pengiriman data.

0

NILAI PDR (%) NLOS BW125

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

36

4.2.4.2 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis RSSI

Tabel 4.7 Pengaruh perubahan RSSI (dBm) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

Gambar 4.14 Pengaruh perubahan RSSI (dBm) dengan parameter Bandwith 125kHz

Berdasarkan Tabel 4.6 dan Gambar 4.13, hasil pengukuran RSSI terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR sangat berpengaruh pada peningkatan nilai RSSI yang cukup baik. Dimana pada setting BW=125kHz dengan CR=4/5 nilai RSSI berkisar “-116.43”dBm hingga “-121.59”dBm, sedangkan pada setting parameter BW=125kHz dengan CR=4/8 nilai RSSI berkisar “-103.63”dBm hingga

“-108.99”dBm, begitu pula dengan setting parameter lainnya.

-125

NILAI RSSI (dBm) NLOS BW125

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

dBm

37

4.2.4.3 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis SNR Tabel 4.8 Pengaruh perubahan SNR (dB) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

Gambar 4.15 Pengaruh perubahan SNR (dB) dengan parameter Bandwith 125kHz

Berdasarkan Tabel 4.7 dan Gambar 4.14, hasil pengukuran SNR terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR pada pengujian skenario NLOS bernilai buruk sesuai kategori SNR dimana pada pengujian dengan setting BW=125kHz ditemukan SNR berkisar -5 hingga 5.

-8

NILAI SNR (dB) NLOS BW125

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

38

4.2.4.4 Hasil Perubahan Parameter LoRa terhadap Analisis ToA Tabel 4.9 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 125kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

Gambar 4.16 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 125kHz

Tabel 4.10 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 500kHz

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

NILAI ToA (ms) NLOS BW125

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

39

Gambar 4.17 Pengaruh perubahan ToA (ms) dengan parameter Bandwith 500kHz

Berdasarkan Tabel 4.9 dan Gambar 4.16, hasil pengukuran ToA terhadap perubahan parameter BW,SF serta CR sangat berpengaruh pada jeda waktu pengiriman data. Semakin besar setting parameter SF dan CR maka akan meningkatkan nilai ToAnya, peningkatan parameter BW juga berpengaruh dalam mengurangi jeda waktu pengiriman data, semakin besar bandwith yang digunakan akan mempercepat waktu pengiriman data sesuai Tabel 4.10 dan Gambar 4.17, namun tidak menjamin keseluruhan data dapat terkirim secara baik. Selisih antara ToA pada scenario LOS dan NLOS tidak terdapat perbedaan yang signifikan, hanya saja pada pengujian NLOS terdapat kesalahan kecil ketika pengujian salah 1 laptop mati sehingga memberi perbedaan waktu yang cukup signifikan, bisa dilihat pada Tabel 4.8 dimana seharusnya tiap makin besar setting parameter SF dan CR maka ToA akan semakin besar pula.

0

NILAI ToA (ms) NLOS BW500

CR 4/5 CR 4/6 CR 4/7 CR 4/8

40

Analisis Data

Perubahan tiap parameter pada skenario NLOS berpengaruh pada pengiriman data yang dilakukan. Pada parameter bandwith (BW), semakin besar setting BW yang digunakan maka akan mempercepat pengiriman data. Pada parameter spreading factor (SF), semakin besar setting SF yang digunakan maka tingkat keberhasilan seluruh data terkirim (PDR) semakin baik namun dapat memperlambat waktu pengiriman data. Sedangkan pada parameter coding rate (CR), semakin besar CR maka PDR serta RSSI akan membaik juga, sedangkan untuk ToA akan meningkat. Pada pengujian skenario NLOS setting parameter terbaik yaitu dengan BW125kHz, SF8, CR4/8 dengan memperoleh PDR sebesar 100% serta RSSI sebesar -103,63 dBm.

4.3 Pengujian PLE (Path Loss Exponent) Tujuan

Tujuan dari pengujian ini yaitu mengetahui karakteristik lingkungan pengujian sesuai dengan nilai Path Loss Exponent pada tabel Rappaport.

Peralatan yang Digunakan

1. Black box berisi rangkaian ARDUINO Nano serta modul LoRa 2. Laptop

3. Meteran

41

Cara Pengujian

1. Menyambungkan laptop dengan black box pada transmitter yang telah terisi ARDUINO Nano serta modul LoRa begitu pula pada receiver

2. Membagi jarak sesuai kebutuhan pengujian PLE untuk skenario LOS dan NLOS 3. Mengatur parameter terbaik dalam scenario LOS dan NLOS

4. Mengamati nilai RSSI pengiriman data antara transmitter dan receiver

Hasil Pengujian

Skenario pengambilan data PLE dilakukan melalui 2 skenario yaitu LOS dan NLOS. Dimana masing-masing skenario telah dilakukan pembagian jarak yang sama. Skema pengujian dapat dilihat melalui Tabel 4.11 dan Tabel 4.12.

Tabel 4.11 Skema Pengujian Skenario LOS

LOS 6.5m 13.5m 20.5m 27.5m

PLE (n)

Tabel 4.12 Skema Pengujian Skenario NLOS

NLOS Lantai 1-3 (6.5m) Lantai 1-5 (13.5m) Lantai 1-7 (20.5m) Lantai 1-9 (27.5m)

PLE (n)

Dengan menggunakan rumus :

𝑛 = 10

Parameter yang dibutuhkan didapatkan dari hasil percobaan pengambilan data dengan menggunakan parameter terbaik dari masing-masing scenario yaitu dengan LOS menggunakan BW125,SF8,CR4/7 dan NLOS menggunakan BW125,SF8,CR4/8.

42

Tabel 4.13 Hasil Rata-Rata RSSI Skenario LOS Rata-rata RSSI

6.5m -50.828 13.5m -56.836 20.5m -63.806 27.5m -65.584

Gambar 4.18 Grafik Perbandingan RSSI terhadap Jarak

Tabel 4.14 Hasil Rata-Rata RSSI Skenario NLOS Rata-rata RSSI

Perbandingan Nilai RSSI terhadap Jarak

Rata-rata RSSI

dBm

43

Gambar 4.19 Grafik Perbandingan RSSI terhadap Jarak

Tabel 4.15 Contoh Hasil Rata-Rata RSSI Percobaan LOS 6,5m COBA 1 -50.56

COBA 2 -51.21 COBA 3 -51.24 COBA 4 -50.4 <-Po COBA 5 -50.73 RATA-RATA -50.83 <-RSSIij

Pada Tabel 4.15 Ditemukan bahwa P0 = -50,24 dBm, pada percobaan ke-4 ditemukan bahwa nilai maksimal dari RSSI yaitu -49 dBm maka -49 diambil sebagai P0 dan RSSIij = -50,83 dBm dengan dij = 6,5m. Maka didapatkan :

𝑛 = 10

Perbandingan Nilai RSSI terhadap Jarak

Rata-rata RSSI

dBm

44

Tabel 4.16 Hasil Perhitungan PLE Skenario LOS Jarak PLE (n)

6.5m 1.68 13.5m 1.78 20.5m 1.15 27.5m 1.29

Gambar 4.20 Grafik Perubahan PLE Skenario LOS

Tabel 4.17 Hasil Perhitungan PLE Skenario NLOS

Jarak PLE (n)

45

Gambar 4.21 Grafik Perubahan PLE Skenario NLOS

Analisis Data

Perubahan nilai PLE (n) pada skenario LOS dan NLOS ditunjukkan berturut-turut sebagai berikut : pertama hasil pengujian PLE pada kondisi LOS dalam gedung (in-building LOS) sebesar 1,5 kedua untuk kondisi NLOS dalam gedung (obstructed in-building) sebesar 2,8.

Pengujian nilai PLE dilihat dari pengukuran RSSI terhadap variasi jarak.

Pengujian ini perlu dilakukan berulang kali untuk mendapatkan nilai RSSI terhadap jarak yang linier (semakin jauh jarak maka semakin rendah nilai RSSI yang didapatkan). Sehingga hasil dari perhitungan PLE ditentukan oleh hasil pengukuran RSSI, perubahan RSSI yang didapatkan tergantung dari lingkungan pada saat itu.

0

6.5m (Lantai 1-3) 13.5m (Lantai 1-5) 20.5m (Lantai 1-7) 27.5m (Lantai 1-9)

PLE Skenario NLOS

PLE (n)

46

4.4 Analisis Hasil Perhitungan Perubahan Parameter LoRa

Tabel 4.18 Perhitungan Ts, Rs, Rb menggunakan BW=125kHz CR=4/5

SF 7 8 9 10 11 12 Satuan

Ts 0.001024 0.002048 0.004096 0.008192 0.016384 0.032768 sekon Rs 976.5625 488.28125 244.140625 122.0703125 61.03515625 30.51757813 symbol/sekon Rb 5.46875 3.125 1.7578125 0.9765625 0.537109375 0.29296875 kbps

Tabel 4.19 Perhitungan Ts, Rs, Rb menggunakan BW=125kHz CR=4/6

SF 7 8 9 10 11 12 Satuan

Ts 0.001024 0.002048 0.004096 0.008192 0.016384 0.032768 sekon Rs 976.5625 488.28125 244.140625 122.0703125 61.03515625 30.51757813 symbol/sekon Rb 4.557291667 2.604166667 1.46484375 0.813802083 0.447591146 0.244140625 kbps

Tabel 4.20 Perhitungan Ts, Rs, Rb menggunakan BW=125kHz CR=4/7

SF 7 8 9 10 11 12 Satuan

Ts 0.001024 0.002048 0.004096 0.008192 0.016384 0.032768 sekon Rs 976.5625 488.28125 244.140625 122.0703125 61.03515625 30.51757813 symbol/sekon Rb 3.90625 2.232142857 1.255580357 0.697544643 0.383649554 0.209263393 kbps

Tabel 4.21 Perhitungan Ts, Rs, Rb menggunakan BW=125kHz CR=4/8

SF 7 8 9 10 11 12 Satuan

Ts 0.001024 0.002048 0.004096 0.008192 0.016384 0.032768 sekon Rs 976.5625 488.28125 244.140625 122.0703125 61.03515625 30.51757813 symbol/sekon Rb 3.41796875 1.953125 1.098632813 0.610351563 0.335693359 0.183105469 kbps

1. Semakin besar SF maka semakin besar Ts serta semakin kecil Rs dan Rb Keterangan : Setting parameter SF sangat penting untuk konfigurasi awal dari sebuah pengukuran LoRa karena nilai SF dapat mempengaruhi kecepatan data (bit rate/Rb) yang dibuktikan dengan nilainya yang semakin kecil. Hal ini membuat durasi transmisi data semakin panjang. Sehingga konfigurasi parameter LoRa dapat dipertimbangkan jika dilakukan pada jarak yang lebih jauh.

2. Semakin besar BW maka nilai Ts semakin kecil dan Rs semakin besar Keterangan : Setting parameter BW sangat penting untuk konfigurasi awal dari sebuah pengukuran LoRa karena nilai BW dapat mempengaruhi

47

periode waktu (Ts) yang dibuktikan dengan nilainya yang semakin kecil.

Dalam pengujian kali ini menggunakan 2048 symbol dimana 1 symbol memuat 3 bit yang didapatkan dari perhitungan :

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑦𝑚𝑏𝑜𝑙 =Jumlah bit yang digunakan 3

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑦𝑚𝑏𝑜𝑙 =6144 3

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑦𝑚𝑏𝑜𝑙 = 2048 symbol/detik

Semakin besar BW akan berpengaruh pada jumlah symbol yang dapat terkirim dalam satuan detik.

3. Semakin besar CR maka nilai Rb semakin kecil

Keterangan : Setting parameter CR sangat penting untuk konfigurasi awal dari sebuah pengukuran LoRa karena nilai CR dapat mempengaruhi kecepatan data (bit rate/Rb) yang dibuktikan dengan nilainya yang semakin kecil. Hal ini membuat durasi transmisi data semakin panjang. Kecepatan data (Rb) juga dipengaruhi oleh parameter SF yang semakin besar pula.

48 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari semua hasil pengujian yang telah dilakukan didapatkan beberapa kesimpulan, diantaranya:

1. Perubahan tiap parameter pada skenario LOS dan NLOS berpengaruh pada pengiriman data yang dilakukan. Pada parameter bandwidth (BW), semakin besar setting BW yang digunakan maka akan mempercepat pengiriman data namun semakin besar bandwidth tidak bisa menjamin setiap paket dapat dikirim dengan sempurna, dikarenakan pada saat pengiriman dilakukan dalam waktu yang sama transmitter dapat mengirimkan lebih dari 1 paket sedangkan yang dapat diterima oleh receiver hanyalah 1 paket saja. Penggunaan bandwidth besar juga dapat menurunkan sensitivitas receiver. Maka dari itu nilai PDR akan semakin memburuk apabila penggunaan parameter bandwidth tidak sesuai kebutuhan. Penggunaan parameter BW yang baik dari hasil pengujian LOS dan NLOS yaitu 125kHz.

2. Pada parameter spreading factor (SF), semakin besar setting SF yang digunakan maka akan meningkatkan sensitivitas receiver serta dapat memperlambat pengiriman data, maka dari itu tingkat keberhasilan seluruh data terkirim (PDR) akan semakin baik apabila menggunakan setting SF yang semakin besar.

Penggunaan parameter SF yang baik dari hasil pengujian LOS dan NLOS yaitu 8.

3. Pada parameter Coding Rate (CR), semakin besar CR maka PDR serta RSSI akan membaik juga, sedangkan untuk ToA akan meningkat. Penggunaan parameter CR yang baik dari hasil pengujian yaitu 4/7 untuk skenario LOS dan 4/8 untuk skenario NLOS.

49

4. Dari hasil pengujian PLE pada kondisi LOS dalam gedung (in-building LOS) sebesar 1,5 sedangkan pada kondisi NLOS dalam gedung (obstructed in-building) sebesar 2,8.

5.2 Saran

Berikut merupakan beberapa saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu:

1. Memakai spesifikasi antena yang dapat menjangkau jarak lebih jauh sehingga bisa menjangkau jarak paling optimal dari komunikasi LoRa.

2. Mencocokan jam pada laptop saat akan melakukan pengujian agar meminimalisir terjadinya delay yang terlalu besar.

3. Mencari lokasi pengujian PLE dimana lokasi tersebut minim aktivitas orang yang lalu lalang melintas agar didapatkan hasil RSSI yang lebih stabil.

50

DAFTAR PUSTAKA

A., R. D., Kristalina, P., & Sudarsono, A. (2016). Cluster-Based PLE Areas for Mobile Cooperative Localization in Indoor Wireless Sensor Network.

International Conference on Information Technology and Electrical Engineering (ICITEE).

Ayat, Agus, & Nas. (2008). MEDIA TRANSMISI. Retrieved from

http://jomka.tripod.com/: http://jomka.tripod.com/media_transmisi.htm

Dieng, O. (2017). A Study on IoT Solution for Preventing Cattle Rustling in African Context. ICC.

Djukarna. (2015, Januari 19). ARDUINO NANO. Retrieved from https://djukarna4ARDUINO.wordpress.com/:

https://djukarna4ARDUINO.wordpress.com/2015/01/19/ARDUINO-nano/

Hasan, A. I. (2010, April 27). Komunikasi Wireless. Retrieved from https://visilubai.wordpress.com/:

https://visilubai.wordpress.com/2010/04/27/komunikasi-wireless/

Haxhibeqiri, J., Karagaac, A., Abeele, F. V., Joseph, W., Moerman, I., &

Hoebeke, J. (2017). LoRa Indoor Coverage and Performance in an Industrial Environment: Case Study. ETFA.

Potokatu, F. (n.d.). PENGERTIAN,FUNGSI,JENIS-JENIS DAN MANFAAT MICROCONTROLER ! Retrieved from

https://freslypotokatublog.wordpress.com/:

https://freslypotokatublog.wordpress.com/xi-tkj-1/pengertianfungsijenis-jenis-dan-manfaat-microcontroler/

Qrimly, K. (2017, Juli 24). APA ITU LORA? Retrieved from www.logicgates.id:

https://www.logicgates.id/blogs/news/apa-itu-lora

51

Rappaport. (2002). Wireless communications: principles and practice. Prentice Hall, New Jersey.

Siswandari, N. A., Puspitorini, O., & Jati, A. S. (2011). ANALISA PATHLOSS EXPONENT DI AREA TERBUKA. Prosiding SNaPP2011 Sains, Teknologi, dan Kesehatan.

Triwidyastuti, Y. (2019). Performance Analysis of Point-to-Point LoRa End.

LONTAR KOMPUTER.

World, R. W. (n.d.). What is difference between Implicit header and Explicit header in LoRaWAN, LoRa. Retrieved from www.rfwireless-world.com:

https://www.rfwireless-world.com/Terminology/What-is-difference-between-Implicit-header-and-Explicit-header-in-LoRaWAN-packet.html

Yosef, M. (2018, Agustus 6). Spreading Factor, Bandwidth, Coding Rate and Bit Rate in LoRa. Retrieved from josefmtd.com:

https://josefmtd.com/2018/08/06/spreading-factor-bandwidth-coding-rate-and-bit-rate-in-lora/

Yudha, G. (2010, Juli 14). SNR ( Signal to Noise Ratio ). Retrieved from yudhagunawan.wordpress.com:

Dalam dokumen FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INFORMATIKA (Halaman 41-0)

Dokumen terkait