BAB III KEBERADAAN PESANTREN
3.3 Kondisi PAI Tahun 1997 – 2000
73
Ikatan Alumni Pondok Pesantren At-Thoyyibah Indonesia (IKAPPAI) terbentuk pada tahun 1995
yang memiliki tujuan memelihara hubungan persaudaraan antara sesama warga pondok pesantren, menjadi perekat persatuan antar ummat, dan membantu usaha-usaha PAI.
menjadi surut atau mundur karena kiai telah meninggal dan digantikan oleh anaknya yang kurang atau tidak memiliki kualifikasi setaraf dengan ayahnya.74
74
Kafrawi MA, Pembaharuan Sistim Pendidikan Pondok Pesantren Sebagai usaha peningkatan
prestasi kerja dan pembinaan kesatuan Bangsa, Jakarta: Cemara Indah, 1978, hal 89.
Kondisi ini juga dialami oleh Pesantren At-Thoyyibah Indonesia sepeninggal H. Adenan Lubis pada tahun 1997. Pesantren At-Thoyyibah Indonesia yang mulai dikenal hingga ke berbagai daerah kemudian mengalami penurunan. Selain itu, pesantren ini seperti kehilangan seorang pemimpin walaupun setelah H. Adenan Lubis meninggal tongkat kepemimpinan kepada anaknya, yaitu H. Tamsil Lubis.
Kepemimpinan yang dilanjutkan oleh H. Tamsil Lubis ini cukup berbeda dengan kepemimpinan H. Adenan Lubis. H. Tamsil Lubis lebih memilih berdomisili di Medan dan tidak menyatu dengan masyarakat pondok (PAI). Oleh karena itu, menjadi hal yang sulit untuk melakukan pengurusan dan pembinaan di Pesantren At-Thoyyibah Indonesia. Kepemimpinan pesantren seharusnya menyatu dengan napas kehidupan sehari-hari di pondok pesantren. Kondisi ini yang menjadikan Pesantren At-Thoyyibah Indonesia mulai kehilangan kepercayaan dari masyarakat.
Di samping itu, H. Tamsil Lubis memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda dari ayahnya. Beliau lebih banyak mengenyam pendidikan umum dan kurang memperdalam pendidikan agama, seperti pendidikan yang telah dilaluinya sebagai seorang Sarjana Teknik di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sumatera Utara. Hal ini menunjukkan beliau lebih memilih menjadi seorang teknokrat dari pada ahli agama. Artinya, bobot ilmu juga mempengaruhi kelangsungan hidup pesantren.
Meskipun beliau seorang organisator yang baik, namun tugasnya sebagai Direktur dalam sebuah perusahaan di Medan menyebabkan kekurangan waktu untuk dapat memimpin Pesantren At-Thoyyibah Indonesia yang berada di Pinang Lombang.75
Faktor lainnya yang juga turut mempengaruhi menurunnya Pesantren At-Thoyyibah Indonesia setelah meninggalnya H. Adenan Lubis adalah mulai berkurangnya tenaga pengajar yang menguasai tiap-tiap bidang ilmu tertentu setelah pendiri pesantren meninggal. Hal ini disebabkan para tenaga pengajar atau pun guru yang menguasai bidang ilmu itu harus keluar atau pindah dari pesantren, sehingga bidang ilmu yang dikuasi oleh guru yang telah keluar tersebut digantikan dengan guru lain yang sebenarnya bukan bidang ilmu yang guru H. Tamsil Lubis mempercayakan kepada Kepala Madrasah, yaitu Hadlyn Yahmar beserta staf-stafnya. Jalan keluar yang dilakukan oleh H. Tamsil Lubis ini sepertinya cukup untuk memecahkan persoalan kepemimpinan di Pesantren At-Thoyyibah Indonesia, tetapi sebenarnya wewenang kepemimpinan hanya “sekedar pelimpahan” darinya. Hal ini dapat dikatakan bahwa H. Tamsil Lubis belum mampu mengembangkan kepemimpinan yang baik.
Selain karena kekurangan waktu dalam memimpin Pesantren At-thoyyibah Indonesia, H. Tamsil Lubis tidak dapat sepenuhnya memantau perkembangan pesantren di lapangan dan hanya menerima laporan-laporan dari orang-orang yang dilimpahkan wewenang darinya. Akibatnya situasi yang terjadi di lapangan tentunya berbeda jika tidak dipantau secara langsung.
75
Ir. H. Tamsil Lubis bekerja di salah satu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Medan, dan menjabat sebagai Direktur Perencanaan & Produksi. Karena alasan pekerjaan yang menyebabkan beliau memilih berdomisili di Medan (wawancara dengan Ir. H. Tamsil Lubis di Kantor PDAM Tirtanadi Medan pada tanggal 12 April 2013).
tersebut kuasai.76
Pada masa kepemimpinan H. Tamsil Lubis banyak kegiatan ekstra kurikuler yang sudah tidak lagi dijalankan oleh para santri, termasuk kegiatan bercocok tanam, berkebun, jahit-menjahit untuk para santri puteri, dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena terbatasnya guru-guru yang menekuni bidang-bidang ini. Kalau pun ada, para guru-guru ini hanya bertahan sebentar di PAI dan kemudian pergi lagi. Guru-guru yang sebelumnya berpengalaman dalam bidang ini, kebanyakan pindah dari PAI mencari kehidupan yang lebih mapan.
Keadaan ini kurang menjadi sorotan atau perhatian dari H. Tamsil Lubis, padahal kualitas lembaga pendidikan seperti pesantren ini dipengaruhi oleh para tenaga pengajar atau pendidik yang profesional. Boleh dikatakan H. Tamsil Lubis sebagai pimpinan pesantren kurang mengayomi terhadap bawahan (para guru) tersebut.
77
76
Pada masa kepemimpinan H. Tamsil Lubis banyak para guru yang memiliki tugas ganda, karena
mereka tidak hanya mengajarkan bidang ilmu yang dikuasainya, tetapi juga harus mengajarkan bidang ilmu lain. Seperti, guru yang mengajar mata pelajaran Qur’an Hadits, tetapi juga mengajar mata pelajar Sejarah. Hal ini disebabkan karena banyak dari para guru yang pindah dan tidak mengajar di PAI lagi (wawancara dengan Hadlyn Yahmar di Dusun Pinang Lombang pada tanggal 18 November 2012).
77
Selain faktor kepemimpinan yang menyebabkan berpindahnya para guru dari Pesantren At- Thoyyibah Indonesia Pinang Lombang, faktor lainnya adalah masalah ekonomi. Para guru PAI sering mengalami keterlambatan gaji dari yayasan dan harapan mereka adalah dari gaji tersebut, sedangkan di sisi lain mereka juga harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, seperti membayar biaya sekolah anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dan lain-lain (wawancara dengan Ja’faruddin di Dusun Pinang Lombang pada tanggal 18 November 2012).
Kondisi ini menunjukkan kurang adanya perhatian seorang pemimpin terhadap kehidupan para guru.
Terlihat berbeda, ketika almarhum H. Adenan Lubis memimpin Pesantren At- Thoyyibah Indonesia yang lebih banyak meluangkan waktu dan pekerjaannya di PAI untuk menangani kegiatan pimpinan pesantren. Selain pendidikan umum yang dipelajarinya, beliau juga memperdalam ilmu agamanya, sehingga dengannya beliau memiliki banyak santri yang datang dari berbagai daerah untuk mondok di PAI.
Para alumni yang telah menyelesaikan studinya di PAI dengan ikhlas mengajar sebagai guru jika diperintahkan oleh H. Adenan Lubis. Mereka tidak berani untuk melawan perintahnya. Hal ini bukan berarti mereka takut, tetapi inilah cara mereka mengormati H. Adenan Lubis selain sebagai seorang pemimpin tetapi juga sebagai seorang ayah. Beliau tidak hanya berhasil memimpin pesantren, tetapi berhasil menanamkan hubungan kekeluargaan di antara para santri-santrinya.
Pada intinya keberhasilan H. Adenan Lubis dalam membangun Pesantren At- Thoyyibah Indonesia adalah pengetahuannya yang luar biasa dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam, kemampuannya berorganisasi dan kepemimpinannya dalam mengembangkan pesantren.
Mulai menurunnya Pesantren At-Thoyyibah Indonesia setelah meninggalnya H. Adenan Lubis sangat disayangkan mengingat kontribusinya PAI yang begitu besar dalam menyumbangkan pendidikan Islam di Labuhan Batu khususnya, dan di Sumatera Utara, bahkan di Indonesia pada umumnya.