BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Kondisi Pada Saat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil penelitian pada setiap siklus dideskripsikan sebagai berikut.
a. Siklus I
1) Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti melaksanakan hal-hal sebagai berikut. a) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan. RPP disusun secara kolaborasi dengan guru kelas V SDN Bakalan kemudian dikonsultasikan kepada dosen pembimbing skripsi. RPP berisi rencana kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir tentang operasi penjumlahan pecahan. Kegiatan inti dalam RPP disesuaikan dengan langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika. RPP disusun untuk dua kali pertemuan. RPP yang telah disepakati digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran matematika di kelas.
53
Membagi siswa dalam 6 kelompok yang terdiri dari 5 orang siswa. Pembagian kelompok sesuai dengan nilai UAS semester gasal mata pelajaran matematika. Selain itu, antara siswa laki-laki dan perempuan disebar secara merata di setiap kelompok tersebut.
c) Mempersiapkan alat peraga dan perlengkapan yang digunakan saat proses pembelajaran.
Peneliti mempersiapkan satu timbangan kodok beserta bandulnya, buah jeruk, salak, dan beras. Alat peraga ini digunakan di depan kelas saat proses pembelajaran.
d) Mempersiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS).
Peneliti berkolaborasi dengan guru menyusum LKS yang disesuaikan dengan materi operasi penjumlahan pecahan. LKS pada pertemuan pertama mengenai penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa, penjumlahan dua pecahan campuran, dan penjumlahan pecahan campuran dengan pecahan biasa. Sedangkan LKS pada pertemuan kedua mengenai penjumlahan tiga pecahan berturut-turut dan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan.
e) Mempersiapkan lembar observasi guru dan aktivitas siswa
Peneliti menyusun lembar observasi guru dan aktivitas siswa yang digunakan sebagai instrumen penelitian. Lembar observasi guru digunakan sebagai pedoman pengamatan terhadap pelaksanaan Pembelajaran Matematika Realistik, sedangkan lembar observasi siswa digunakan sebagai pedoman pengamatan sikap siswa selama pembelajaran matematika (Lampiran 1).
54 f) Mempersiapkan soal post test untuk siswa
Peneliti menyusun soal post test dengan berkolaborasi bersama guru kelas V disesuaikan dengan materi penjumlahan pecahan. Pelaksanaan post test dilaksanakan setiap akhir pertemuan. Post test digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai materi yang baru saja dipelajari (Lampiran 2).
2) Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus I dalam penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 13 dan 17 Januari 2017, sesuai jadwal pelajaran matematika. Pada pelaksanaan, guru bertugas sebagai pengajar, pendidik, dan pembimbing siswa. Sedangkan peneliti dibantu rekan peneliti bertugas mengamati berlangsungnya proses pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran.
a) Siklus I Pertemuan 1
Pertemuan pertama pada siklus I dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 Januari 2017 pukul 07.00 – 08.10. Pembelajaran dilaksanakan pada jam pertama dan kedua dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang dideskripsikan sebagai berikut. (1) Kegiatan awal
Setelah bel masuk sekolah berbunyi, siswa kelas V dan guru masuk ke dalam kelas. Semua siswa berdoa bersama dengan bimbingan guru kemudian memberi salam kepada guru. Selanjutnya guru melakukan presensi menanyakan siapa yang tidak hadir. Guru memulai pelajaran dengan memberikan apersepsi dengan bertanya pada siswa, “Anak-anak sekarang sedang musim buah apa?”. Ada beberapa siswa menjawab musim salak,
55
jeruk, rambutan. Guru memberikan pertanyaan kembali, “Jika kalian membeli buah itu membeli per biji atau satuan?”. Beberapa siswa menjawab satuan Bu. Guru memberikan pertanyaan kembali, “Biasanya kalian membeli berapa kg buah?”. Beberapa siswa menjawab 1 kg bu. Setelah melakukan tanya jawab, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan siswa yaitu mempelajari penjumlahan pecahan.
(2) Kegiatan Inti
Kegiatan inti yang pertama yaitu tahap penggunaan konteks, siswa mendapatkan masalah kontekstual dari guru yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa, yaitu: Ibu pergi ke pasar membeli kg buah jeruk dan kg salak. Berapa kg jumlah buah yang ibu beli? (Guru menyediakan buah jeruk dalam plastik seberat kg dan menyediakan buah salak dalam plastik seberat kg salak). Kemudian Siswa kembali mendapatkan masalah kontekstual dari guru yang berkaitan dengan penjumlahan dua pecahan campuran, yaitu: Dini mempunyai beras sebanyak kg dan Safa mempunyai kg. Berapa kg jumlah beras mereka? (Guru menyediakan beras dalam plastik seberat kg dan menyediakan beras dalam platik seberat kg). Siswa kembali mendapatkan masalah kontekstual dari guru yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan campuran dengan pecahan biasa, yaitu: Bibi memiliki beras sebanyak 1 kg dan nenek memiliki beras
56
kg. Berapa kg jumlah beras mereka?. Secara bersama-sama siswa membaca permasalahan yang disajikan oleh guru.
Tahap matematisasi progresif, beberapa siswa maju berusaha menyelesaikan permasalahan dengan menimbang buah jeruk, salak, dan beras menggunakan alat peraga timbangan kodok dengan bimbingan guru. Siswa lain memperhatikan temannya yang sedang maju ke depan.
Tahap pemanfaatan hasil konstruksi siswa, guru membagi siswa menjadi 6 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Pembagian kelompok berdasarkan nilai UAS matematika semester gasal dan siswa laki-laki dan perempuan disebar secara merata di setiap kelompok tersebut. Guru meminta bantuan kepada siswa untuk membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. Setiap kelompok berdiskusi mengerjakan LKS yang telah diberikan guru. Guru berkeliling mengawasi jalannya diskusi.
Tahap interaktivitas, setelah diskusi selesai guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi. Anggota kelompok lain dapat memberikan tanggapan atas hasil diskusi temannya. Tahap keterkaitan, guru mengaitkan konsep penjumlahan pecahan dengan konsep Kelipatan Persekutuan Kecil (KPK) dalam menyamakan penyebut pecahan.
(3) Kegiatan akhir
Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa, penjumlahan dua pecahan campuran, dan
57
penjumlahan pecahan campuran dengan pecahan biasa yaitu dengan menyamakan penyebutnya terlebih dahulu. Semua siswa mengerjakan soal post test secara individu. Guru memperhatikan siswa mengerjakan dengan seksama. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan motivasi supaya siswa lebih rajin belajarnya.
a) Siklus I Pertemuan 2
Pertemuan kedua pada siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Januari 2017 pukul 07.00 – 08.10. Pembelajaran dilaksanakan pada jam pertama dan kedua dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang dideskripsikan sebagai berikut. (1) Kegiatan awal
Setelah bel masuk sekolah berbunyi, siswa kelas V dan guru masuk ke dalam kelas. Semua siswa berdoa bersama dengan bimbingan guru kemudian memberi salam kepada guru. Selanjutnya guru melakukan presensi menanyakan siapa yang tidak hadir. Guru memulai pelajaran dengan dengan bertanya pada siswa, “Kemarin kita telah mempelajari penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa, siapakah yang masih ingat cara penyelesaiannya?”. Ada beberapa siswa menjawab saya bu. Guru memberikan pertanyaan kembali, “Hari ini kita akan melanjutkan belajar penjumlahan pecahan, sudah siap belajar?”. Semua siswa menjawab siap Bu. Setelah melakukan tanya jawab, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan siswa yaitu mempelajari penjumlahan pecahan.
58
Kegiatan inti yang pertama yaitu tahap penggunaan konteks, siswa mendapatkan masalah kontekstual dari guru yang berkaitan dengan penjumlahan tiga pecahan berturut-turut, yaitu: Nenek memiliki gula pasir sebanyak 1 kg, kemudian membeli di pasar sebanyak kg, dan memperoleh gula pasir dari ibu sebanyak kg. Berapa kg jumlah gula pasir milik nenek?. Kemudian siswa kembali mendapatkan masalah kontekstual dari guru yang berkaitan dengan pemecahan masalah penjumlahan pecahan, yaitu: Ayah mempunyai tali merah sepanjang meter dan Andi mempunyai tali biru sepanjang meter. Berapa jumlah panjang tali mereka?. Secara bersama-sama siswa membaca permasalahan yang disajikan oleh guru.
Tahap matematisasi progresif, beberapa siswa maju berusaha menyelesaikan permasalahan dengan bimbingan guru. Siswa lain memperhatikan temannya yang sedang maju ke depan.
Tahap pemanfaatan hasil konstruksi siswa, guru memberi kebebasan siswa untuk menyelesaikan permasalahan dengan berdiskusi yakni membagi siswa menjadi 6 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Pembagian kelompok berdasarkan nilai UAS matematika semester gasal dan siswa laki-laki dan perempuan disebar secara merata di setiap kelompok tersebut. Guru meminta bantuan kepada siswa untuk membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. Setiap kelompok berdiskusi mengerjakan LKS yang telah diberikan guru. Guru berkeliling mengawasi jalannya diskusi.
59
Tahap interaktivitas, setelah diskusi selesai guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi. Anggota kelompok lain dapat memberikan tanggapan atas hasil diskusi temannya. Tahap keterkaitan, guru mengaitkan konsep penjumlahan pecahan dengan konsep Kelipatan Persekutuan Kecil (KPK) dalam menyamakan penyebut pecahan.
(3) Kegiatan akhir
Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi penjumlahan tiga pecahan berturut-turut dan pemecahan masalah penjumlahan pecahan yaitu dengan menyamakan penyebutnya terlebih dahulu. Kemudian semua siswa mengerjakan soal post test secara individu. Guru memperhatikan siswa mengerjakan dengan seksama. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan motivasi supaya siswa lebih rajin belajarnya.
3) Pengamatan
Observasi yang dilakukan pada siklus I meliputi dua pertemuan. Dari kedua pertemuan tersebut, guru telah melakukan semua aktivitas yang ada dalam lembar observasi (Lampiran 1, halaman 101). Observasi dilakukan bersamaan dengan berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat.
Pertemuan pertama adalah materi penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa, penjumlahan dua pecahan campuran, dan penjumlahan pecahan campuran dengan pecahan biasa. Pada kegiatan awal, guru memberikan apersepsi
60
dengan bertanya kepada siswa. Selanjutnya guru memberikan permasalahan-permasalahan kontekstual kepada siswa. Beberapa siswa menyelesaikan permasalahan tersebut menggunakan alat peraga. Kemudian guru membentuk siswa menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Setiap kelompok berdiskusi mengerjakan LKS. Semua kelompok menyampaikan hasil diskusi dan anggota kelompok lain menyampaikan tanggapan. Guru membimbing siswa dalam diskusi kelas namun ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan. Guru membimbing siswa untuk menemukan konsep matematika yang telah dipelajari.
Pada pertemuan kedua, materi yang akan dipelajari tentang penjumlahan tiga pecahan berturut-turut dan pemecahan masalah penjumlahan pecahan. Pada kegiatan awal, guru memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan tersebut mengenai pengulangan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Selanjutnya guru memberikan permasalahan-permasalahan kontekstual kepada siswa. Beberapa siswa menyelesaikan permasalahan tersebut menggunakan alat peraga. Kemudian guru membentuk siswa menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Setiap kelompok berdiskusi mengerjakan LKS. Semua kelompok menyampaikan hasil diskusi dan anggota kelompok lain menyampaikan tanggapan. Guru membimbing siswa dalam diskusi kelas namun ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan. Guru membimbing siswa untuk menemukan konsep matematika yang telah dipelajari.
61
Selain itu peneliti akan memaparkan hasil belajar kognitif dan afektif siswa. Hasil belajar kognitif berupa nilai matematika yang diperoleh siswa setelah mempelajari operasi penjumlahan pecahan. Sedangkan hasil belajar afektif berupa aktivitas siswa selama pembelajaran. Hasil belajar kognitif dan afektif siswa yang telah diperoleh pada siklus I sebagai berikut.
a) Hasil Belajar Kognitif
Perolehan hasil tes belajar Matematika setelah tindakan (post test) siklus I pada siswa kelas V SDN Bakalan sebagai berikut.
Tabel 8. Rekapitulasi Hasil Tes Belajar Matematika Setelah Tindakan (Post test) Siklus I pada Siswa Kelas V SDN Bakalan
No Nama Siswa Skor Pert 1 Skor Pert 2 Nilai Keterangan 1 AM 14 12 68,4 Belum Tuntas 2 CP 5 10 39,5 Belum Tuntas 3 MAA 5 8 34,2 Belum Tuntas 4 NAR 10 8 47,4 Belum Tuntas 5 PPW 10 8 47,4 Belum Tuntas 6 RBAS 16 13 76,3 Tuntas 7 ANM 20 15 92,1 Tuntas 8 ANP 16 13 76,3 Tuntas 9 ABCA 14 15 76,3 Tuntas 10 ASG 18 16 89,5 Tuntas 11 ARA 14 16 78,9 Tuntas 12 ADA 20 14 89,5 Tuntas 13 ASPR 20 10 78,9 Tuntas 14 ADA 19 12 81,6 Tuntas 15 BAS 18 12 78,9 Tuntas 16 CG 18 16 89,5 Tuntas 17 CED 16 15 81,6 Tuntas 18 FPA 5 8 34,2 Belum Tuntas 19 FH 20 10 78,9 Tuntas 20 MSA 10 12 57,9 Belum Tuntas 21 MINH 5 11 42,1 Belum Tuntas
62
No Nama Siswa Skor Pert 1 Skor Pert 2 Nilai Keterangan 22 NFM 20 12 84,2 Tuntas 23 NKA 10 8 47,4 Belum Tuntas 24 NN 17 15 84,2 Tuntas 25 NNH 15 16 81,6 Tuntas 26 NNM 16 15 81,6 Tuntas 27 RPS 18 13 81,6 Tuntas 28 RN 20 13 86,8 Tuntas 29 SH 10 8 47,4 Belum Tuntas 30 SYP 17 13 78,9 Tuntas 31 BNR 19 9 73,7 Belum Tuntas Jumlah 2186,80 Rata-rata 70,54 Nilai Tertinggi 97,4 Nilai Terendah 34,2
Berdasarkan tabel di atas, dapat disajikan persentase perolehan hasil tes belajar matematika setelah tindakan (post test) siklus I siswa kelas V SDN Bakalan sebagai berikut.
Tabel 9. Analisis Hasil Tes Belajar Matematika Setelah Tindakan (Postest) Siklus I Siswa Kelas V SDN Bakalan
No Kriteria Jumlah Siswa Persentase
1. Tuntas 20 64,51 %
2. Belum Tuntas 11 35,49 %
Jumlah 100%
Perolehan hasil tes belajar matematika siswa kelas V SDN Bakalan pada pra tindakan dan siklus I memiliki perbedaan sebagai berikut.
Tabel 10. Analisis Persentase Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar pada Pra Tindakan dan Siklus I
Kategori Pra Tindakan Siklus I Siswa % Siswa % Tuntas 7 22,58 % 20 64,51 % Belum Tuntas 24 77,42 % 11 35,49 % Jumlah 31 100 % 31 100 %
63
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebanyak 20 siswa atau 64,51% siswa dari seluruh siswa mendapatkan nilai ≥ 75 dibandingkan data nilai pra tindakan yang hanya 7 siswa atau 22,58%, sedangkan jumlah siswa yang belum tuntas adalah 11 siswa atau 35,49% siswa mendapatkan nilai < 75. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan terjadi peningkatan 41,93% jumlah siswa yang tuntas belajar dilaksanakan pada siklus I. Perbandingan hasil belajar pada pra tindakan dan siklus I diperjelas pada diagram batang sebagai berikut.
Gambar 5. Perbandingan Hasil Belajar Matematika pada Pra Tindakan dan Siklus I Siswa Kelas V SDN Bakalan
b) Hasil Belajar Afektif Berupa Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran Pengamatan dilakukan bersamaan pada saat pelaksanaan pembelajaran matematika pada pertemuan pertama materi penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan biasa, penjumlahan dua pecahan campuran, penjumlahan pecahan campuran dengan pecahan biasa, pada pertemuan kedua materi penjumlahan tiga
64
pecahan berturut-turut, dan pemecahan masalah penjumlahan pecahan. Dalam penelitian ini pengamatan dilakukan oleh peneliti bersama seorang observer pendamping bernama Puji Lestari (12520241002) pada pertemuan pertama dan Rafika Rahmi (1310824) pada pertemuan kedua. Pengamatan dilakukan dengan berpedoman pada lembar observasi yang telah dibuat sebelumnya. Hasil observasi aktivitas siswa pada mata pelajaran matematika siklus I pertemuan 1 sebagai berikut.
Tabel 11. Hasil Rekapitulasi Observasi Aktivitas Siswa pada Mata Pelajaran Matematika Siklus I Pertemuan 1
No Nama Siswa Skor
1 AM 2 2 3 2 3 1 1 3 2 CP 3 3 3 2 2 1 2 3 3 MAA 2 2 3 2 2 2 2 3 4 NAR 2 3 3 3 2 2 3 3 5 PPW 2 2 3 2 1 1 2 2 6 RBAS 3 3 3 2 2 2 2 3 7 ANM 3 3 3 3 2 2 3 4 8 ANP 4 3 3 3 2 2 2 3 9 ABCA 3 4 3 3 3 2 2 3 10 ASG 3 4 4 4 3 2 4 3 11 ARA 3 4 3 4 3 2 3 4 12 ADA 3 3 4 4 4 2 4 4 13 ASPR 3 4 3 4 2 3 4 4 14 ADA 2 3 3 2 3 2 2 3 15 BAS 2 2 3 2 2 2 2 3 16 CG 2 2 3 3 2 2 2 3 17 CED 3 2 3 3 2 2 3 3 18 FPA 2 2 3 3 2 2 1 2 19 FH 3 3 3 3 2 2 3 4 20 MSA 2 2 3 2 2 2 2 3 21 MINH 3 4 3 4 2 2 3 3 22 NFM 2 4 3 3 2 2 3 3 23 NKA 3 2 3 4 2 2 3 4 24 NN 3 4 3 4 3 2 2 3
65
No Nama Siswa Skor
25 NNH 3 3 3 4 3 2 3 3 26 NNM 3 2 3 3 2 2 2 3 27 RPS 3 3 3 4 3 2 2 3 28 RN 3 4 3 4 3 2 3 3 29 SH 2 2 3 2 2 1 2 2 30 SYP 3 3 3 4 3 2 3 3 31 BNR 2 2 3 3 3 2 2 3 Jumlah 80 76 73 83 77 83 88 86 Persen 64,5% 61,2% 58,8 % 66,9% 62 % 66,9% 70,9% 69 %
Sedangkan hasil observasi aktivitas siswa pada mata pelajaran matematika siklus I pertemuan 2 sebagai berikut.
Tabel 12. Hasil Rekapitulasi Observasi Aktivitas Siswa pada Mata Pelajaran Matematika Siklus I Pertemuan 2
No Nama Siswa Skor
1 AM 3 2 3 3 2 2 2 3 2 CP 3 2 3 3 2 4 3 4 3 MAA 3 2 2 3 2 2 3 4 4 NAR 2 3 3 2 3 2 4 3 5 PPW 3 3 2 3 2 3 2 3 6 RBAS 2 4 2 3 2 3 3 3 7 ANM 2 3 2 3 3 2 3 4 8 ANP 3 3 2 3 3 2 3 3 9 ABCA 3 3 2 3 3 3 2 4 10 ASG 4 3 4 3 3 3 4 3 11 ARA 2 3 3 4 3 3 3 3 12 ADA 2 4 3 3 4 4 4 3 13 ASPR 4 3 2 3 3 3 3 2 14 ADA 2 3 4 3 2 3 2 4 15 BAS 2 3 3 2 2 3 3 3 16 CG 3 3 2 3 4 3 3 3 17 CED 2 2 3 2 3 3 4 3 18 FPA 3 3 2 3 3 2 3 2 19 FH 2 2 2 3 3 4 3 2 20 MSA 2 3 3 3 2 4 3 3 21 MINH 3 2 2 3 3 3 2 3 22 NFM 3 3 2 2 3 3 3 2
66
No Nama Siswa Skor
23 NKA 3 2 3 3 3 2 3 3 24 NN 2 3 3 2 2 3 3 2 25 NNH 3 2 3 3 2 3 3 3 26 NNM 3 3 2 3 2 2 3 3 27 RPS 3 4 3 3 2 3 4 3 28 RN 3 2 2 2 3 3 3 4 29 SH 3 3 2 3 3 2 3 4 30 SYP 2 2 3 2 3 3 3 4 31 BNR 2 3 3 3 2 3 3 3 Jumlah 82 86 80 87 82 88 93 96 Persen 66,1 % 69,3 % 64,5 % 70,1 % 66,1 % 70,9 % 75 % 77,4 %
Berikut ini adalah tabel analisis dari hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada pelaksanaan pembelajaran Matematika siklus I.
Tabel 13. Analisis Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Siklus I
No Aspek yang di amati Rata-rata skor penyataan Pertemuan 1 Pertemuan 2 1. Siswa menanyakan mengenai masalah yang
diberikan oleh guru 2,58 2,65 2. Siswa menanyakan semua hal yang belum
dipahami selama pembelajaran 2,45 2,77 3. Siswa membentuk kelompok menjadi 6
kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan yang memiliki kemampuan beragam
2,35 2,58
4. Siswa mendiskusikan pengerjaan Lembar Kerja Siswa (LKS) mengenai operasi penjumlahan atau pengurangan pecahan yang diberikan guru
2,68 2,81
5. Semua kelompok menyampaikan hasil
diskusi 2,48 2,65 6. Kelompok lain menyampaikan tanggapan 2,68 2,84 7. Siswa menyampaikan kesimpulan materi
operasi penjumlahan atau pengurangan yang telah dipelajari
2,84 3
8. Siswa mengerjakan soal yang diberikan
guru 2,77 3,1
Jumlah Rata-rata 20,83 22,40 Persentase 65,1 % 70 % Rata-rata Maksimum 32 32
67
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran pada pertemuan pertama dan kedua terjadi peningkatan sebesar 4,9%. Hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan pertama yakni 65,1%. Sedangkan hasil observasi aktivitas siswa pada pertemyan kedua yakni 70%. Perbandingan hasil observasi aktivitas siswa pada pelaksanaan pembelajaran matematika realistik siklus I adalah sebagai berikut.
Gambar 6. Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Realistik Siklus I
4) Refleksi
Kegiatan refleksi ini dimaksudkan sebagai bahan masukan pada perencanaan siklus selanjutnya. Refleksi pada siklus I dilakukan oleh peneliti dan guru kelas V. Pelaksanaan refleksi dilakukan satu hari setelah pelaksanaan siklus I selesai dan dilaksanakan pada saat pulang sekolah di ruang kelas. Peneliti dan guru kelas V berdiskusi membahas hambatan apa saja yang terjadi selama pembelajaran,
68
kemudian mencari solusi terbaik. Tujuan dari kegiatan refleksi adalah untuk membahas hal-hal apa saja yang menjadi hambatan pada pelaksanaan siklus I. Setelah dilakukan refleksi diharapkan pelaksanaan siklus II dapat lebih baik dari pelaksanaan siklus sebelumnya. Adapun hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 14. Refleksi siklus I dan perencanaan siklus II
Refleksi Siklus I Perencanaan Siklus II Kesesuaian dengan PMR
Suasana kelas yang masih kurang kondusif penyebabnya adalah beberapa siswa tidak memperhatikan penjelasan guru.
Guru akan menyuruh beberapa siswa membaca permasalahan yang disajikan guru di depan kelas.
Penggunaan konteks
Ada beberapa siswa yang mengobrol sendiri saat temannya maju ke depan.
Guru akan lebih menegur siswa yang sedang
mengobrol dan memberikan sebuah pertanyaan kepada siswa yang mengobrol.
Matematisasi progresif
Beberapa siswa terlihat pasif dan tidak
mengikuti diskusi, ada yang mengobrol maupun sibuk dengan mainannya dikarenakan anggota kelompok yang terlalu banyak.
Guru akan membagi kelompok menjadi 8 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 siswa. Dan guru akan lebih memperhatikan setiap individu dengan mendekati siswa yang kurang aktif untuk diberi motivasi dan bimbingan.
Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
Ada beberapa anggota kelompok yang tidak memperhatikan saat kelompok lain menyampaikan hasil diskusinya.
Guru akan memberikan pertanyaan pada anggota kelompok lain yang tidak memperhatikan.
Interaktivitas
Siswa masih malu untuk menyampaikan
kesimpulan pembelajaran.
Guru akan langsung menunjuk beberapa siswa untuk menyampaikan kesimpulan pembelajaran.
69 a. Siklus II
1) Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti melaksanakan hal-hal sebagai berikut. a) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan. RPP disusun secara kolaborasi dengan guru kelas V SDN Bakalan. RPP berisi rencana kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir tentang operasi pengurangan pecahan. Kegiatan inti dalam RPP disesuaikan dengan langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika. RPP disusun untuk dua kali pertemuan. RPP yang telah disepakati digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran matematika di kelas.
b) Membagi kelompok heterogen siswa
Membagi siswa dalam 8 kelompok yang terdiri dari 3-4 orang siswa. Pembagian kelompok sesuai dengan nilai post test siklus I mata pelajaran matematika. Selain itu, antara siswa laki-laki dan perempuan disebar secara merata di setiap kelompok tersebut.
c) Mempersiapkan alat peraga dan perlengkapan yang digunakan saat proses pembelajaran.
Peneliti mempersiapkan satu buah meteran, gunting, kain biru, tali kuning, dan coklat. Alat peraga ini digunakan di depan kelas saat proses pembelajaran. d) Mempersiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS).
70
Peneliti berkolaborasi dengan guru menyusum LKS yang disesuaikan dengan materi operasi pengurangan pecahan. LKS pada pertemuan pertama mengenai pengurangan pecahan dengan penyebut tidak sama dan pengurangan pecahan dari bilangan asli. Sedangkan LKS pada pertemuan kedua mengenai pengurangan tiga pecahan berturut-turut dan Memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengurangan pecahan.
e) Mempersiapkan lembar observasi guru dan aktivitas siswa
Peneliti menyusun lembar observasi guru dan aktivitas siswa yang digunakan sebagai instrumen penelitian. Lembar observasi guru digunakan sebagai pedoman pengamatan terhadap pelaksanaan Pembelajaran Matematika Realistik, sedangkan lembar observasi siswa digunakan sebagai pedoman pengamatan sikap siswa selama pembelajaran matematika (Lampiran 1 halaman 96).
f) Mempersiapkan soal post test untuk siswa
Peneliti menyusun soal post test dengan berkolaborasi bersama guru kelas V disesuaikan dengan materi pengurangan pecahan. Pelaksanaan post test dilaksanakan setiap akhir pertemuan. Post test digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai materi yang baru saja dipelajari (Lampiran 2 halaman 152).
2) Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus II dalam penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 24 dan 31 Januari 2017, sesuai jadwal pelajaran matematika. Pada pelaksanaan, guru bertugas sebagai pengajar, pendidik, dan
71
pembimbing siswa. Sedangkan peneliti dibantu rekan peneliti bertugas mengamati berlangsungnya proses pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran.
a) Siklus II Pertemuan 1
Pertemuan pertama pada siklus I dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Januari 2017 pukul 07.00 – 08.10. Pembelajaran dilaksanakan pada jam pertama dan kedua dengan alokasi waktu 2 x 35 menit yang dideskripsikan sebagai berikut. (1) Kegiatan awal
Setelah bel masuk sekolah berbunyi, siswa kelas V dan guru masuk ke dalam kelas. Semua siswa berdoa bersama dengan bimbingan guru kemudian memberi salam kepada guru. Selanjutnya guru melakukan presensi menanyakan siapa yang tidak hadir. Guru memulai pelajaran dengan memberikan apersepsi dengan bertanya pada siswa, “Anak-anak siapakah yang pernah memberikan coklat atau roti kepada temannya?”. Ada beberapa siswa menjawab saya pernah Bu. Guru memberikan pertanyaan kembali, “Kalian memberikan berapa coklat atau roti?”. Beberapa siswa menjawab satu coklat Bu, setengah roti Bu. Setelah melakukan tanya jawab, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan siswa yaitu mempelajari pengurangan pecahan.
(2) Kegiatan Inti
Kegiatan inti yang pertama yaitu tahap penggunaan konteks, siswa mendapatkan masalah kontekstual dari guru yang berkaitan dengan pengurangan pecahan dengan penyebut tidak sama yaitu Rifqi mempunyai
72
tali kuning meter. Sebanyak meter tali diberikan kepada Dewi. Berapa sisa