Bab II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Kondisi Perberasan Nasional
Sejak tahun 2004 sampai dengan 2010, jumlah produksi beras nasional terus mengalami peningkatan dengan rata-rata per tahun sebesar 3,10 %, sedangkan peningkatan rata-rata luas panen per tahun adalah 1,65 % dan peningkatan rata-rata produktifitas padi per hektar per tahun adalah 1,43 %. Peningkatan rata-rata produksi, luas panen dan produktifitas tersebut dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Data Perberasan Nasional 2004 - 2010 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Produksi (000 ton) 54.088 54.151 54.455 57.157 60.326 64.399 66.411 Luas Panen (000 Ha) 11.922 11.839 11.786 12.148 12.327 12.884 13.244 Produktifitas (Ku/Ha) 45,36 45,74 46,20 47,05 48,94 49,99 50,14 (Deptan, 2011a))
Jumlah produksi beras nasional tersebut, diperoleh dari seluruh propinsi di Indonesia, mulai dari propinsi Nangroe Aceh Darussalam sampai dengan propinsi Papua. Data produksi padi dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Produksi Padi 2006 – 2010 Menurut Propinsi (ton) No Propinsi Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 1. Nanggroe Aceh 1.350.748 1.533.369 1.402.287 1.556.858 1.582.468 2. Sumatera Utara 3.007.636 3.265.834 3.340.794 3.527.899 3.582.432 3. Sumatera Barat 1.889.489 1.938.120 1.965.634 2.105.790 2.211.248 4. Riau 429.380 490.087 494.260 531.429 574.864 5. Jambi 544.597 586.630 581.704 644.947 628.828 6. Sumatera Selatan 2.456.251 2.753.044 2.971.286 3,125.236 3.272.451 7. Bengkulu 378.377 470.469 484.900 510.160 516.869 8 Lampung 2.129.914 2.308.404 2.341.075 2.673.844 2.807.791 9 Bangka Belitung 16.506 24.390 15.079 19.864 22.249 10 Riau Kepulauan 332 343 404 430 1.246 11. DKI Jakarta 6.197 8.002 8.352 11.013 11.164 12. Jawa Barat 9.418.572 9.914.019 10.111.069 11.322.681 11.737.683 13. Jawa Tengah 8.729.291 8.616.855 9.136.405 9.600.415 10.110.830 14. DI Yogyakarta 708.163 709.294 798.232 837.930 823.887 15. Jawa Timur 9.346.947 9.402.029 10.474.773 11.259.085 11.643.773 16. Banten 1.751.468 1.816.140 1.818.166 1.849.007 2.048.047 17. Bali 840.891 839.775 840.465 878.764 869.161 18. N. T. Barat 1.552.627 1.526.347 1.750.677 1.870.775 1.774.499 19. N. T. Timur 511.911 505.628 577.895 607.359 533.268 20. Kalimantan Barat 1.107.661 1.225.259 1.321.443 1.300.798 1.343.888 21. Kalimantan Tengah 491.712 562.473 522.732 578.761 648.872 22. Kalimantan Selatan 1.636.840 1.953.868 1.954.284 1.956.993 1.842.089 23. Kalimantan Timur 541.171 567.501 586.031 555.560 588.112 24. Sulawesi Utara 454.902 494.950 520.193 549.087 583.458 25. Sulawesi Tengah 739.777 857.508 985.418 953.396 931.379 26. Sulawesi Selatan 3.365.509 3.635.139 4.083.356 4.324.178 4.374.432 27. Sulawesi Tenggara 349.429 423.316 405.256 407.367 454.644 28. Gorontalo 192.583 200.421 237.873 256.934 253.563 29. Sulawesi Barat 301.616 312.676 343.221 310.706 362.900 30. Maluku 49.833 57.132 75.826 89.875 83.109 31. Maluku Utara 59.215 48.531 51.559 46.253 55.401 32. Papua 68.319 28.204 39.537 36.985 34.254
33. Irian Jaya Barat 27.073 81.678 85.699 98.511 102.610
Indonesia 54.454.937 57.157.435 60.325.925 64.398.890 66.411.469
(Deptan, 2011b))
Sejak tahun 2005 sampai 2009, tiga propinsi yang paling banyak menghasilkan produksi beras nasional berturut-turut adalah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah walaupun pada tahun 2008 dan tahun 2009, jumlah produksi beras dari propinsi Jawa Timur sudah melampaui jumlah produksi beras dari propinsi Jawa barat.
Dalam hal pengadaan beras nasional, Badan Urusan Logistik (BULOG) telah membuat standar pembelian beras dalam enam jenis mutu yaitu BG I dan BG II dengan mutu masing-masing A, B dan C. BG I adalah beras giling dengan derajat sosoh 1/1, sedangkan BG II adalah beras giling dengan derajat sosoh 3/4. Mutu A, B dan C masing-masing menunjukkan persentase maksimum beras patah (Winarno, 2004). Pada tahun 1999 terbit SNI No. 01-6128-1999 tentang standar mutu beras giling yang meliputi definisi, istilah, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, penandaan, pengemasan dan rekomendasi. Beras giling digolongkan ke dalam lima kelas mutu yaitu I, II, III, IV dan V yang dinyatakan dengan persyaratan umum bebas hama dan penyakit, bebas bau apek, asam atau bau asing lainnya, bebas dari campuran bekatul dan bebas dari tanda- tanda adanya bahan kimia yang membahayakan, sedangkan persyaratan khususnya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut :
Tabel 7. Persyaratan Khusus Mutu Beras (SNI 01-6128-1999)
No Komponen Mutu MUTU
Satuan I II III IV V
1 Derajat Sosoh (min) % 100 100 100 95 85
2 Kadar Air (maks) % 14 14 14 14 15
3 Beras kepala (min) % 100 95 84 73 60
4 Butir utuh (min) % 60 50 40 35 35
5 Butir patah (maks) % 0 5 15 25 35
6 Butir menir (maks) % 0 0 1 2 5
7 Butir merah (maks) % 0 0 1 3 3
8 Butir kuning/rusak (maks) % 0 0 1 3 5
9 Butir mengapur (maks) % 0 0 1 3 5
10 Benda asing (maks) % 0 0 0.02 0.05 0.2
11 Butir gabah (maks) Btr/100 gr 0 0 1 2 3
12 Campuran varietas lain (maks) % 5 5 5 10 10
(Winarno, 2004)
Sentra Agribisnis Perberasan (SAP), adalah suatu gagasan yang mengemuka dari BULOG yang diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan seperti pola rantai distribusi gabah dan beras yang masih lemah, mutu beras yang cenderung lebih rendah dari mutu beras impor dan tingkat harga beras yang cenderung fluktuatif. SAP juga diharapkan mampu memperbaiki
kondisi ketahanan pangan yaitu mampu menyediakan tingkat produksi beras dalam upaya memenuhi jumlah konsumsi dan persediaan akhir (Gumbira-Sa'id dan Dewi, 2004). Selanjutnya menurut Gumbira-Sa'id dan Dewi (2004), untuk mengoptimalkan SAP diperlukan usaha integrasi atau keterkaitan antara fungsi pengolahan dan penanganan gabah/ beras di lini off-farm serta penyediaan bibit,
pupuk, alat/ mesin dan pestisida di lini on-farm dengan fungsi kegiatan pemasaran
(future trading), standarisasi dan sertifikasi serta pemanfaatan limbah terpadu.
Keterkaitan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Keterkaitan Kegiatan Yang Perlu Dibangun Untuk Pengembangan SAP di Indonesia (Gumbira-Sa'id dan Dewi, 2004).
Selain itu, menurut Gumbira-Sa'id dan Dewi (2004), dalam pengembangan SAP diperlukan juga integrasi antara unit-unit penggilingan padi dengan industri pengguna lainnya seperti dengan unit penyedia faktor produksi, industri pangan, industri pengguna limbah, penyedia jasa logistik, bank serta asuransi. Dengan demikian SAP tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani dan kelompok tani. Ilustrasi integrasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.
Industri Pangan (produk beras instant, nasi kaleng, produk kering beras, produk
fermentasi beras, dll.) Unit-Unit Penyedia Faktor
Produksi - Produsen Bibit - Produsen Alsintani - Produsen Pupuk, Kompos - Produsen Pestisida
Unit-unit Penggilingan Padi Terintegrasi
(Integrated Rice Milling Unit, RMU)
Industri Pengguna Limbah RMU
- Industri Pakan Ternak - Industri Kompos - Industri Bangunan - Produsen Hortikultura dll
Bank dan Asuransi Penyedia Jasa
Logistik
Petani/ Kelompok Tani
Gambar 3. Ilustrasi Rancangan SAP (Gumbira-Sa'id dan Dewi, 2004). Pada Tahun 2009 produksi beras dalam negeri mencapai 38,04 juta ton, di mana terjadi peningkatan sebesar 2,17 juta ton (6,04%) bila dibandingkan produksi tahun 2008. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 515,31 ribu hektar (4,18%) dan produktivitas sebesar 0,77 kwintal/hektar (1,57%) (Badan Pusat Statistik, 2009).
Berdasarkan analisa prospektif diketahui bahwa ada tujuh faktor kunci atau faktor dominan yang sangat berpengaruh dalam sistem ketersediaan beras yaitu produksi, produktivitas, konversi lahan, pencetakan sawah, kesesuaian lahan, konsumsi per kapita dan jumlah penduduk. Nilai Indeks ketersediaan Jawa 67,23 dan Sumatera 56,13 dengan status cukup, sedangkan Sulawesi 39,38 dan Kalimantan 36,79 dengan status kurang (Nurmalina, 2008).
Jumlah produksi beras di Indonesia selama ini lebih banyak dipasok oleh propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sentra produksi beras untuk Jawa Barat adalah kabupaten Cianjur, Karawang, Indramayu, Subang dan Cirebon. Sentra produksi beras untuk Jawa Tengah diantaranya adalah kabupaten Tegal, Brebes, Pemalang, Demak dan Kudus, sedangkan untuk Jawa Timur daerah sentra produksi berasnya disebut GERBANG KERTASUSILA yaitu
Gresik, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan (Badan Pusat Statistik, 2009).
Sebagian besar beras yang dikonsumsi penduduk Indonesia merupakan hasil produksi dari Pulau Jawa, yaitu Jawa Barat (6,77 juta ton), Jawa Timur (6,65 juta ton), Jawa Tengah (5,83 juta ton). Kemudian Sulawesi Selatan (2,72 juta ton), Sumatera Utara (2,1 juta ton), Sumatera Selatan (1,82 juta ton), Lampung (1,55 juta ton), Sumatera Barat (1,28 juta ton), Banten (1,1 juta ton), Nusa Tenggara Barat (1,04 juta ton), Bali (529,6 ribu ton), Nusa Tenggara Timur (296,9 ribu ton), Kalimantan Barat (74,2 ribu ton), Papua (55,5 ribu ton), dan Maluku (50,7 ribu ton). Sebagian daerah dari sentra produksi padi tahun 2009 di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 4 berikut :
Gambar 4. Peta Sentra Produksi Padi (Badan Pusat Statistik, 2009).
Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (2009) tentang pola distribusi perdagangan enam belas komoditas di lima belas Provinsi, pola saluran distribusi perdagangan beras menunjukkan beberapa pola, ada yang mempunyai rantai pendek atau sederhana dan ada pula yang mempunyai rantai yang cukup panjang atau kompleks. Semakin dekat dengan lokasi produsen maka rantai distribusi perdagangan semakin pendek, sebaliknya jika semakin jauh dari lokasi produsen maka rantainya semakin panjang.
Secara umum, pola distribusi perdagangan beras dari lima belas provinsi dapat dilihat pada Gambar 5. Pola distribusi perdagangan beras pada lima belas provinsi tersebut dimulai dari produsen beras kemudian didistribusikan ke eksportir, distributor, agen, grosir, supermarket, pengecer, konsumen akhir (rumah tangga, rumah sakit pemerintah, panti asuhan dan panti sosial), industri pengolahan (industri makanan seperti kue-kue basah, ketupat, krupuk dan industri tepung beras), serta didistribusikan kepada kegiatan usaha lain seperti rumah makan, hotel, restoran dan katering (Badan Pusat Statistik, 2009).
Gambar 5. Pola Distribusi Perdagangan Beras Pada 15 provinsi (Badan Pusat Statistik, 2009)
Menurut Perdana (2008), sistem rantai pasokan industri perberasan merupakan suatu siklus tertutup yang terdiri atas umpan balik aliran material berupa gabah, beras, uang dan aliran informasi berupa permintaan yang terjadi pada interaksi pelaku dari mulai petani, pedagang gabah, penggilingan beras (RMU), pedagang beras di sentra produksi sampai dengan pedagang beras di pasar induk perkotaan. Setiap aliran material dan informasi yang terjadi merupakan hasil keputusan yang dilakukan oleh setiap pelaku rantai pasokan industri perberasan.